Legenda Long Chu

Legenda Long Chu
Serangan pembuka


Raja Ye Niu mendirikan kemah di perbatasan wilayah mereka antara kerajaan Bai dan Ye. Mereka membawa setengah pasukan yang terlihat sesuai rencana dan setengahnya lagi berada berapa kilometer jaraknya. Itu sengaja dilakukan untuk menanggulangi pengkhianatan yang akan dilakukan oleh Bai Jing. Dia sama sekali tidak percaya dengan Bai Jing. 


Kerajaannya sendiri dikhianati apalagi dia. Jika  manusia berpikir sama dengan pemikiran Ye Niu mungkin penjilat atau penghianat akan musnah selamanya.


"Bagaimana perkembangannya. Apakah ada berita dari penyelidik?" Tanya Ye Niu di atas singgasana kebesarannya. Singgasana yang biasa dibawa untuk berperang. Tidak terlalu besar namun tidak juga kecil.


Dia kini menatap sang Jendral Perang Ye Hong yang berada didekatnya dalam satu kemah besar itu.


"Satu pun belum ada yang kembali raja. Aku juga belum mengetahuinya. Aku mengirim mata-mata yang paling ahli dalam menyembunyikan diri. Sulit untuk mengatakan jika mereka tertangkap. Tapi jika menarik waktu kebelakang keberangkatan mereka. Seharusnya mereka sudah kembali satu hari yang lalu dan akan bertemu dengan kita disini!"


"Bisa saja mereka tertangkap, Ratu Bai Lin itu orang yang cukup pintar jadi akan ada kemungkinan itu" kata Raja Ye Niu.


"Apakah kita akan menyerang kota kerajaan atau akan mengumumkan perang ditempat terbuka raja?" Tanya Ye Hong.


"Kita akan bergerak malam ini. Dan ketika fajar menyingsing. Seharusnya kita sudah bisa menguasai kota perbatasan mereka dan mengambil alihnya. Kota Dong itu adalah yang terdekat dengan ibukota Kerajaan Bai. Perintahkan ke semua pasukan yang kita bawa saat ini untuk bergerak sesuai waktu yang ditentukan dan juga kabari pasukan setengahnya untuk bergerak pula" Ye Niu menutup kalimatnya dengan mengambil segelas arak


"Baik raja, izin pamit!" Ye Hong perlahan berdiri dan membungkuk. Lalu dia keluar dari kemah yang cukup besar itu dan menghilang.


Kerajaan Ye sendiri termasuk dalam kekuatan yang diakui sebagai kekuatan yang terkuat di dunia siluman itu. Banyak yang takut terhadap kekuatan mereka dan mengalah untuk berada di bawah perintah mereka.


Pada awalnya dunia siluman itu dihuni oleh banyak kerajaan. Namun akibat perang. Kehancuran terjadi dimana-mana hingga hanya menyisakan enam kerajaan yang kini masing-masing dipimpin oleh kerajaan Bai dan Ye. Keduanya memiliki dua kerajaan di bawah komando mereka


Ini akan menjadi pertarungan besar, tapi Raja Ye yakin bisa menang melawan kerajaan Bai. Sebab ada pengkhianat yang membocorkan beberapa informasi berharga serta bantuan dari penghianat itu sendiri akan menjadi pukulan mental bagi kerajaan Bai sehingga dia sangat berkeyakinan dengan kemenangan itu.


"Tunggulah ratu Bai Lin. Aku sudah lama menginginkanmu. Bahkan kau menolak lamaranku yang ingin mempersuntingmu. Rasa malu ini takkan terobati jika tidak bisa menaklukanmu. Dan Kau menolak untuk menyatukan kerajaan dan menciptakan sebuah kekaisaran dunia siluman bersamaku" mengenang kenangan pahit hari itu. Raja Ye menggertakan giginya tangannya terkepal. Amarahnya memuncak dengan sendirinya.


Sedangkan di tempat yang lain. Lebih tepatnya di kerajaan Bai. Tidak ada yang mengetahui bahwa kerajaan mereka sudah di ujung tanduk.


Sore itu terasa sangat sepi. Seolah akan ada badai setelah ketenangan. Dan mungkin saja itu benar terjadi. Sebab sudah ada pengintai yang siap menyerang di perbatasan sana.


Kota Dong adalah satu-satunya akses untuk masuk ke ibukota kerajaan Bai dari arah Kerajaan Ye.


Ketika matahari mulai tenggelam dengan perlahan. Dan bulan tertutup oleh awan. Ratusan tombak dilontarkan.


Akh!!!! Teriakan dari mulut ke mulut.


"Ada yang menyerang!" Tabuhan Gong langsung mengirim suara yang nyaring. Dua kali Gong itu berbunyi yang menandakan ada penyerangan.


Segera kabar tersiar. Kepanikan langsung terjadi di kota Dong itu, panik ingin menyelamatkan diri sendiri. Hanya sebagian saja yang berani menahan agar keluarga mereka bisa terbebas dari kematian. Setidaknya mereka mencoba daripada lari semua.


Namun itu pun tidak menahan terlalu lama. Sebelum fajar muncul kembali. Kota Dong sudah direbut oleh kerajaan Ye.


Banyak tubuh bergelimpangan mati. Banyak tahanan yang didapatkan, dari orang tua. Wanita muda, gadis belia bahkan anak kecil yang masih tak mengerti tentang dunia. Diantaranya pasti ada janda yang menggoda. Mereka menjarah harta dan memperkosa para wanita lalu berpesta. Setelah kemenangan itu dipastikan mereka dapatkan.


Satu orang yang berhasil selamat dari lari. Terus menerus menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang cukup cepat. setengah malam dia berlari hingga sampai pada tujuan. Dia sendiri sudah hampir tidak bisa lagi merasakan memiliki kaki. Sebab lari tanpa menoleh dan berhenti. Dia ditolong oleh penjaga gerbang ibukota.


Di dalam istana kerajaan, rapat dadakan diadakan untuk membahas suara Gong yang ditabuh dua kali.


"Sepertinya kerajaan Ye menyerang kota Dong. Dan kemungkinan sekarang mereka sudah menguasainya" kata Ratu Bai Lin.


"Lantas apa yang harus kita lakukan ratu?" Tanya Jendral Bai Jing yang tertawa dalam hatinya melihat ada jejak kepanikan dari wajah cantik ratu itu.


"Penasehat. Apa yang harus kita lakukan untuk mengantisipasi mereka agar tidak menyerang lebih kedalam?" Bai Lin menoleh ke orang di samping kirinya. Tanpa menjawab pertanyaan Bai Jing


Bai Du menoleh ke arah ratu Bai Lin dan berkata. "Pertama kita harus bertahan lebih dulu dan menguatkan penjagaan lalu mengirim orang untuk melihat keadaan di kota Dong sekarang"


"Mengapa kita tidak menyerang kota Dong lagi saja dan mengambilnya kembali. Aku yakin mereka tidak membawa semua pasukan untuk menyerang kota kecil itu" kata Bai Jing menimpali.


Dia akan membuat skema dari sana dan menghancurkan kedua belah pihak lalu dia yang akan menjadi raja satu-satunya di masa depan.


"Memang kemungkinannya mereka hanya akan membangun kemah disana dan akan menyerang kota kerajaan jika pasukan lainnya datang. Akan tetapi. Jika kita keluar dan menyerang sekarang. Takutnya itu hanyalah siasat" sahut Penasehat menatap Bai Jing. Dia merasakan sesuatu pada diri Bai Jing. Entah apa itu, namun dia tidak bisa mengungkapkannya. 'Tidak biasanya Jendral Bai Jing berpikir cepat seperti itu. Seolah dia bukanlah seorang jendral perang' penasehat membatin.


"Mungkin saja. Tapi itu hanya asumsi. Tapi aku tidak akan memaksa meskipun aku merasa ini demi kebaikan kerajaan kita" kata Bai Jing dia terlihat tidak suka dengan keputusan itu.


Mereka terus berdebat masalah menyerang atau bertahan. Seorang penjaga melapor kepada penjaga aula istana dan penjaga aula istana lapor lagi ke dalam dan mengatakan seseorang dari kota Dong izin bertemu.


"Suruh dia masuk!" Perintah Ratu Bai An.