Hati yang Patah

Hati yang Patah
Ini Adalah Karmanya, dan Ia Harus Menerimanya


Revan melepaskan pelukannya dari istrinya. Ditatapnya wajah istrinya dengan tatapan penuh cinta. Kadar cintanya sekarang bertambah dengan kehadiran janin di dalam perut istrinya.


"Kapan kamu tahu kehamilanmu, sayang?"


"Sudah dua hari yang lalu, mas!"


Revan memanyunkan bibirnya mendengar jawaban istrinya. Kenapa kabar bahagia itu baru sekarang diberitahukan kepadanya. Kenapa tidak saat istrinya itu tahu saja Revan diberitahu juga. Kenapa baru sekarang, gumamnya di dalam hati.


Hana tersenyum melihat ekspresi suaminya. Segera ia mengelus pipi suaminya dengan lembut.


"Mas Revan, kenapa?" Ucapnya masih mengelus pipi suaminya.


"Kenapa baru kasih tahu aku sekarang, sayang?"


"Maafkan Hana, ya, mas! Hana hanya ingin sekalian memberikan surprise buat mas Revan di hari yang spesial untuk suami, Hana."


"Pasti semua ini pasti ide, Mama, kan?"


Mendengar pertanyaan suaminya membuatnya segera menggelengkan kepalanya.


"Bukan, mas! Malahan Mama belum tahu perihal kehamilan Hana. Hana sendiri yang berinisiatif mau memberitahukannya sekarang. Maaf, yah!"


"Iya, sayang. Berarti baru aku yang tahu tentang kehamilan kamu?!"


"Heem, baru mas Revan yang tahu!" Ucapnya sambil tersenyum.


"Yaampun, sayang. Sini, sini, aku mau peluk kamu!" Ujarnya sambil merentangkan tangannya. Dengan senyum masih menghias wajahnya, Hana dan Revan lagi-lagi berpelukan. Malam itu menjadi malam yang penuh makna untuk keduanya. Kira-kira bagaimana reaksi keluarganya saat tahu Hana sedang hamil?.


Keesokan harinya Revan dan Hana bersiap-siap untuk melakukan pemeriksaan kehamilan di rumah sakit terdekat. Revan sangat antusias ingin segera mengetahui kodisi janin yang masih dikandung istrinya. Ini adalah pengalaman pertamanya, oleh karena itu ia ingin menjadi suami siaga untuk istri dan anaknya di dalam perut. Ia tidak ingin melewatkan momen-momen bersejarah dalam hidupnya.


Hana dan Revan telah memberitahu perihal kehamilan istrinya kepada kedua orang tuanya semalam melalui telepon. Mendengar penuturan anak dan menantunya membuat mereka sangat bahagia dan antusias karena apa yang telah lama mereka nanti-nantikan akhirnya hadir juga. Mereka sangat ingin menemani anak dan menantunya untuk melakukan pemeriksaan kehamilan untuk yang pertama kalinya, namun niat mereka harus ditunda karena keesokan harinya mereka akan terbang ke Surabaya untuk menemui sanak saudara dan janji mereka tidak bisa dibatalkan. Akhirnya Mama Ajeng dan Papa Surya pun berjanji akan menemani menantunya untuk periksa kehamilan di kesempatan selanjutnya.


30 menit kemudian akhirnya mereka sampai di rumah sakit khusus ibu dan anak. Revan pun mengambil antrian dan bersama-sama menuju ruang tunggu.


Antrian mereka adalah antrian ke 18. Sudah ada sekitar 10 ibu hamil yang telah masuk memeriksakan kehamilannya. Revan dan Hana berbincang-bincang selama menunggu giliran antrian mereka untuk membunuh kebosanan. Banyak sekali ibu-ibu hamil yang memperhatikan Revan, sambil mereka mengelus-elus perutnya. Para suami merasa cemburu karena istri mereka secara terang-terangan memperhatikan lelaki tampan di depan mereka. Namun Revan tidak menyadarinya karena ia hanya fokus pada istrinya.


Setelah cukup lama menunggu akhirnya kini giliran mereka yang akan masuk.


Setelah melakukan anamnese (proses tanya jawab) Kini dokter melakukan pemeriksaan fisik (Head to toe). Setelah melakukan itu dokter pun melakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui berapa usia kehamilan dan kondisi janin.


Dokter mengoleskan gel pada perut Hana dan mulai menggerakkan alat itu di perut Hana. Terlihat di monitor gambar kantong janin.


Dokter pun tersenyum melihat gambar di monitor. Hana meneteskan air mata terharu melihatnya. Revan pun dengan mata berbinar sangat fokus melihat gambar yang ada di monitor.


"Bapak dan Ibu bisa lihat kan gambar di monitor. Di sini di dalam rahim ibu terdapat dua kantong janin yang berarti janinnya ada dua."


Hana yang memang sudah mengerti maksud dari dokter seketika menutup mulutnya, terharu dan sangat senang mendengar penuturan dokter. Namun berbeda dengan Revan yang masih mencoba mencerna ucapan dokter di depannya.


"Maksudnya apa ya, dok?"


Dokter tersenyum mendengarnya. Dokter pun kembali berbicara dan menjawab segala tanda tanya dalam benak suami dari pasiennya tersebut.


"Jadi masud saya, istri Anda sedang mengandung bayi kembar. Selamat ya, pak, bu!"


Revan yang mendengarnya seketika membulatkan matanya dan menatap istrinya dengan sangat bahagia.


"Alhamdulillah!" Ucapnya mengadahkan kedua tangannya keatas dan mengusap wajahnya.


Revan dan Hana sangat bahagia mendengarnya. Mereka di beri rezeki yang sangat berlimpah dengan kehadiran anak kembar untuk mereka.


Tak henti-hentinya rasa syukur mereka berdua panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kata dokter, usia kehamilan Hana juga sudah memasuki minggu ke 7.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan dan konseling dengan dokter Obgyn mereka pun mengucapkan terima kasih dan keluar dari sana dengan perasaan bahagia.


"Duduk dulu, sayang!" Ujarnya dan membawa istrinya duduk di kursi koridor rumah sakit.


Revan menghapus keringat di dahi istrinya. Baru berjalan sebentar saja, Hana sudah merasa kelelahan. Kata dokter, hamil anak kembar maka bebannya akan dua kali lipat dari hamil anak tunggal. Ibu hamil akan mudah kelelahan, capek, badan juga jadi gampang sakit, dan tentu makannya juga biasanya akan lebih banyak.


"Tunggu dulu di sini ya, sayang. Aku mau beli minum dulu untuk kamu."


Hana menganggukkan kepalanya," Jangan lama, ya, mas!"


"Aku bakalan cepat, kok, sayang! Tunggu, ya."


"Heem."


Revan segera berjalan menuju kantin untuk membeli air mineral untuk istrinya. Setelah menunggu selama 5 menit, akhirnya Revan pun sampai dengan membawa air mineral di tangannya. Segera ia membukakan tutup botolnya dan memberikan kepada istrinya.


"Alhamdulillah." Ujar Hana setelah rasa hausnya bisa hilang.


"Kita jalan lagi?"


"Ayo, mas."


Mereka pun kembali berjalan dengan Revan terus menggenggam tangan istrinya. Di tengah jalan tiba-tiba mereka berpapasan dengan Arlan dan Indah. Penampilan Indah tidak seperti biasanya. Ia kini terlihat pucat dan berjalan dengan menggandeng lengan suaminya.


Mereka pun sama-sama berhenti saat sudah saling berhadapan.


"Hy." Sapa Hana pada keduanya.


"Hy, juga." Balas Arlan, sedangkan Indah hanya menganggukkan kepalanya.


"Kamu kenapa ada di sini? Bagaimana dengan Jihan, siapa yang jagaian?" Tanya Arlan penuh tanda tanya.


"Aku habis periksa di dokter kandungan."


Arlan dan Indah seketika menatap Hana dengan tatapan yang tidak dapat dibaca oleh Hana dan Revan.


"Kalau Jihan, ada Ana yang jagain, kok."


"Kamu hamil?" Tanya Indah penasaran.


"Iya, alhamdulillah. Usia kandungannya sudah menginjak 7 minggu. Bagaimana dengan, mbak? Apakah sudah isi?" Tanyanya, karena memang setahunya beberapa bulan yang lalu ia mendapat kabar bahwa istri dari mantan suaminya itu mengalami keguguran.


Lama Indah tidak menjawab pertanyaan Hana. Ia menunduk dan menghela nafasnya kasar.


"Belum." Ucapnya dengan cepat. Ingin segera pergi dari sana. Ia sangat iri dengan Hana karena baru beberapa bulan menikah tapi sudah diberi monongan, sedangkan ia, boro-boro hamil, disentuh oleh suaminya saja sangat jarang.


"Terus, mbak lagi apa di sini?"


"Aku kemarin habis dirawat selama dua hari di sini. Ya, begitulah." Ucapnya tak mau menceritakan detail keadaanya. Jangan sampai mereka akan mengejek ketidakharmonisan hubungannya.


"Oh, semoga, mbak cepat pulih dan fit seperti semula."


"Terima kasih." Ucap Indah singkat.


"Kalau begitu, kami duluan, ya. Assalamualaikum." Ucap Hana dan kembali berjalan bersama suaminya.


Arlan dan Indah masih berdiri di tempat mereka. Masih menatap dua orang yang di wajahnya terpancar kebahagiaan karena mendapatkan rezeki diberi momongan. Berbeda dengan Arlan dan Indah yang memasang wajah di tekuk dengan fikiran mereka masing-masing.


Arlan lagi-lagi merasa menyesal telah melepaskan Hana. Seadainya itu dia, maka dia akan kembali mendapatkan anak dengan wanita yang sangat ia cintai. Tapi itu dulu, sebelum negara api menyerang. Eh, salah deng, sebelum ia menghianati istrinya.


Penyesalan memang selalu datang di akhir. Tak ada lagi gunanya meratapi apa yang telah ia lakukan. Ini adalah karmanya dan ia harus menerimanya.