Hati yang Patah

Hati yang Patah
Lebih Baik Kita Akhiri Hubungan Ini


Arlan menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya, istirahat setelah seharian berkutat dengan berbagai laporan dan menandatangani berkas yang sangat banyak. Lelah setelah seharian ini.


Ia menarik nafas panjang dan kembali mengingat pertemuannya dengan anak dan mantan istrinya. Dengan tidak tahu dirinya ia merindukan wanita yang sudah menjadi milik orang lain. Sedangkan wanitanya tidak sama sekali hadir dalam benaknya, apalagi saat ia sedang sibuk seperti sekarang ini.


Entahlah, ia merasa sangat hambar dengan pernikahannya yang kedua. Semuanya hanya manis di awal saja. Kecantikan, kekayaan dan kekuasaan, ia sudah merasa bosan dengan itu semua. Ingin rasanya ia istirahat sejenak dan kembali lagi seperti dahulu, hidup dalam kesederhanaan, bahagia dengan orang-orang yang dicintai dan mencintai dengan sepenuh hati.


Ia sudah merasa muak dengan rutinitasnya. Tak ada lagi kebahagiaan di hari-harinya. Kesibukan sebagai direktur utama membuatnya semakin tenggelam dalam lelahnya dunianya. Arlan selalu membanding-bandingkan antara Indah dan Hana. Indah yang memiliki temperamen gampang marah, sibuk dengan kehidupan sosialitanya, tidak pernah menyiapkan keperluan suami, tidak pandai memasak dan masih banyak hal minus lainnya dari diri Indah. Sangat berbanding terbalik dengan sifat dan kepribadian Hana. Yang Arlan tahu, kelebihan Indah hanya terletak pada kecantikannya dan kekayaannya.


Namun ternyata dua hal itu tidak menjamin kebahagiaannya. Semua pandangannya di awal salah semua. Nol besar untuknya karena telah salah dalam menganalisa mengenai kehidupan. Padahal ia adalah lelaki cerdas, namun dibutakan oleh harta sehingga tersesat dan terjebak dalam nistanya kehidupan.


Acara piknik yang dilakukannya dengan istrinya kemarin sebenarnya bukan maunya. Indah sangat memaksa Arlan dengan merengek dan membuat Arlan tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan istrinya yang tiba-tiba itu. Telinganya panas mendengar rengekan istrinya yang semakin menjadi.


Arlan melirik jam yang melingkar di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 08 lewat beberap menit. Sangking sibuknya ia sampai-sampai lupa dengan waktu. Setelah merapikan meja kerjanya, ia pun mengambil jasnya yang ia gantung dan memasang di badannya. Berjalan keluar dari ruangannya dan menuju ke lift menekan tombol satu. Suasana perusahaan sangat sepi. Mungkin hanya tinggal dirinya yang berada di sini.


Saat sudah sampai di basement, segera ia masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang menuju rumah. Ia berharap saat pulang nanti istrinya itu telah menyiapkan makan malam untuknya karena tidak ada lagi orang lain di rumah selain istrinya. Pembantunya sedang libur karena anaknya sedang sakit di kampung. Alhasil, segala keperluannya Indah yang melakukannya.


20 menit kemudian akhirnya ia sampai di rumahnya. Namun yang ia lihat lampu di rumahnya itu tidak menyala. Apakah Indah sedang tidak ada di rumah, pikirnya. Ia berjalan memasuki rumah dan menyalakan semua lampunya. Diedarkannya pandangannya ke segala arah mencari sosok istrinya namun tak ia temukan.


Arlan berjalan menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Benar saja istrinya itu sedang tidak ada di rumah. Arlan duduk di tepi ranjang dan membuang nafasnya kasar. Mengusap wajahnya sampai ke belakang kepala, frustasi dengan sifat istrinya yang mengabaikannya.


Segera ia membuka jasnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri. Setelah selesai dengan ritual mandi dan berpakaian ia berjalan menuruni tangga menuju ke dapur.


Ia menghela nafas kasar saat tak mendapati makanan di meja makan. Sebenarnya kemana istrinya itu pergi dan tidak meminta izin terlebih dahulu kepadanya.


Dengan perasaan dongkol ia berusaha menahan rasa laparya dan menunggu kedatangan sang istri di ruang tamu.


Sejam, dua jam, istrinya itu belum juga pulang. Sedangkan sekarang sudah hampir pukul 11 malam. Ia berusaha menghubungi istrinya namun lagi-lagi hanya suara operator yang ia dengar. Ia menghempaskan ponselnya ke sofa, sudah sangat kesal dan jengah dengan perilaku istrinya.


Tiba-tiba saja pintu terbuka. Arlan menoleh ke pintu dan benar saja istrinya itu sudah datang dengan membawa banyak sekali paperbag di kedua tangannya.


Tanpa memberi salam dan tanpa menyapa suaminya, Indah berlalu melewati suaminya dan berjalan masuk ke dalam.


Dengan amarah yang sudah memuncak, Arlan berdiri dan mengejar istrinya lalu memegang tangannya kasar sehingga Indah kini sudah menghadap kearahnya dengan paperbag sudah terlepas dari tangannya.


"Kamu kenapa, hah?" Tanyanya dengan nada tinggi dan tatapan tajam ia berikan kepada suaminya.


"Kamu yang kenapa, Indah. Sekarang sudah jam berapa? dan kamu baru pulang di jam segini? Kamu ini bukan lagi seorang gadis, Indah! Kamu punya tanggung jawab di rumah, ingat!" Ucapnya dengan nada tinggi tersirat ketegasan di dalamnya.


"Kamu kira aku betah kalau hanya tinggal di rumah mengurusi segala keperluan kamu, hah! Kamu bukan lagi anak kecil yang mesti di urusi. Apa susahnya melakukannya sendiri." Ucapnya lagi-lagi dengan nada tinggi.


Arlan mengepalkan kedua tangannya erat mendengar ucapan istrinya. Emosinya tidak bisa lagi ia tahan sampai-sampai urat-urat di wajahnya terlihat. Ia memang bisa melakukannya sendiri namun ia berusaha memberi kesempatan untuk istrinya agar istrinya bisa memerankan sosok seorang istri. Namun ternyata ia salah, istrinya itu keberatan melakukan tugasnya.


"Kamu sadar dengan yang kamu ucapkan tadi Indah! Apa perlu aku ingatkan posisimu sebagai seorang istri, hah?" Ucapnya dengan nada tajam.


"Kamu harus ingat ini. Aku disini seorang Nyonya, bukan pembantumu!"


Arlan mengusap wajahnya kasar.


"Asal kamu ingat, aku paling tidak suka di perintah. Apalagi oleh orang sepertimu."


Arlan membelalakkan matanya mendengar ucapan istrinya yang seakan merendahkannya dan menegaskan posisinya.


"Maksud kamu apa bilang seperti itu, hah?" Ucapnya dengan nada kesal. Amarahnya kembali memuncak setelah mendengar ucapan istrinya.


"Kamu tidak sadar dengan posisi kamu dahulu. Kamu hanya orang biasa sebelum bertemu denganku dan Ayahku. Ingat itu! Jadi aku harap jangan lagi pernah memperlakukan aku seperti tadi!"


"Asal kamu tahu Indah, aku dari awal memang tidak pernah mengharapkan belas kasihanmu. Malahan aku yang merasa dirugikan disini. Karena kamu, keluargaku hancur. Kamu yang membawaku masuk ke dalam kehidupanmu dan membuat aku sengsara!" Ucapnya dengan nada tinggi mengeluarkan segala unek-uneknya yang sudah lama ia pendam. Amarahnya sudah sampai di ubun-ubun.


"Jadi maksud kamu, selama ini kamu menyesal sudah menikahuku, mas?"


Arlan tak menjawab dan membuang wajahnya menghindari kontak mata dengan istrinya.


"Jawab aku, mas?"


Arlan tak kunjung menatap wajah istrinya. dadanya masih naik turun karena emosi.


"Jawab aku, mas!" Ucapnya dengan berteriak di depan wajah suaminya.


"Iya, Indah, aku menyesal telah memilihmu. Kamu yang membuatku berada di posisi ini. Dengan entengnya kamu merendahkan aku. Aku tidak pernah memintamu untuk memperbaiki taraf hidupku, Indah. Kamu yang menghancurkan hidupku dan sekarang kamu mau menegaskan posisiku. Sekarang aku tanya, apa maumu?" Ucapnya dengan nada tinggi


"Maksud kamu apa, mas?"


"Aku yang harusnya tanya maksud kamu apa. Kamu bilang tidak mau diperintah olehku. Kau seorang Nyonya di rumah ini. Dan aku hanya orang biasa yang beruntung bisa hidup di sini."


"Bukan itu maksud aku, mas."


"Jadi maksud kamu apa. Begini saja, lebih baik kalau kita pisah.! Hidupku sudah hancur, Indah, jadi lebih baik kita akhiri hubungan ini!"


Indah membelalakkan matanya mendengar penuturan suaminya.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Happy reading guysnya. Jangan lupa votenya mana. Like dan komen juga!


Author udah kasih part Arlan dan Indah yang ngenesin kan yah. Jadi semoga kk udah puas yah melihat penderitaan mereka.


Udah dulu yah, author udah ngantuk. Nih mata udah enggak bisa diajak kompromi.


Wassalam....


Salam story from By_me