Hati yang Patah

Hati yang Patah
Berdamai dengan keadaan


Hana menunggu Revan dimejanya, namun sampai sekarang dia belum juga kembali dari toilet. Sedangkan Jihan, ia sedang bermain dengan anak anak dari tamu undangan yang lain. Ia duduk sendiri dimeja itu sekarang.


Hana celingak celinguk mencari Revan, siapa tahu dia ada diantara para tamu. Namun nihil, yang ia lihat malahan adalah si Indah, istri sah mas Arlan sekarang.


Hana tak sengaja menatap kearah Indah, namun ternyata Indah juga menatap kearahnya. Mereka saling tatap tatapan dalam beberapa saat hingga Hana mengalihkan pandangannya kearah lain.


Hana kembali celingak celinguk, tapi tiba tiba orang yang ingin dihindarinya sekarang sedang duduk dengan manisnya disampingnya.


Hana tak memperdulikan kehadiran wanita disampingnya yang tiba tiba menghampirinya. Hana tipe orang yang sangat tidak suka jika terus diperhatikan. Ia merasa sangat risih dipandang terus sama Indah, akhirnya ia berbalik badan kearah wanita itu.


" Ada apa nona Indah, daritadi anda memandang kearah saya. Ada yang salah, atau ada hal yang ingin anda katakan" Hana langsung to the point.


" Saya hanya mau sedikit memberi semangat kepada anda karena yang saya dengar, katanya anda sudah resmi menjadi seorang janda yah?"


Hana memandang kearah Indah, tatapannya sangat tenang dan santai, Tidak ada amarah dimatanya. Hana berusaha santai karena ia tahu pasti Indah berniat memanas manasinya dan membuatnya tersulut emosi dikeramaian ini. Tapi ia tidak bodoh, ia akan mengikuti permainan Indah.


Hana memberikan senyuman termanisnya kepada Indah sebelum menjawab pertanyaan wanita itu.


" Cepat sekali kabar itu tersebar yah nona Indah. Padahal suami saya menyembunyikan tentang kabar mengenai perceraian kami, karena waktu itu yang berstatus istri sah adalah saya dan anda hanya sebagai istri siri"


" Bagaimana ya kira kira reaksi orang orang kalau mengetahui kebenarannya, kalau anda hanya seorang istri siri dan perebut suami orang"


" Jangan asal bicara kamu" Indah berbicara pelan sambil menggertakkan giginya.


" Asal bicara apa maksud anda, dengar yah nona Indah. Saya tidak tahu atas kuasa apa sehingga anda bisa memanipulasi status anda yang hanya seorang istri siri, menjadi seorang istri sah. Tapi kira kira bagaimana reaksi orang orang yah kalau tahu ternyata anda..."


Hana mendekatkan dirinya kearah Indah dan berbisik ditelinganya.


" Seorang wanita perebut suami orang"


Indah langsung menggebrak meja dan menatap dengan tatapan penuh amarah kearah Indah.


Seketika tatapan orang orang beralih kearah mereka.


" Ada apa nona indah, jangan suka marah marah. Nanti cepat tua loh, kalau cepat tua nanti suami anda akan direbut sama pelakor lain"


" Kurang ajar" Indah mengatakan dengan suara pelan, ia baru menyadari kalau orang orang menatap kearahnya. Indah tak ingin reputasinya jadi hancur.


" Awas saja kau, kali ini aku akan membiarkanmu mengataiku. Tapi tidak lain kali, tunggu pembalasanku"


Indah berdiri dari duduknya dan kembali kemejanya. Hana tersenyum puas karena telah membalikkan keadaan, telah membuat Indah marah marah.


" Mas Revan mana sih"


Hana kembali fokus mencari cari Revan, tiba tiba Revan menampakkan dirinya diantara para tamu dan berjalan kearah Hana dengan tampang menahan amarah.


"Ayo kita pulang" Revan segera mengajak Hana pulang.


" Aku panggil Jihan dulu ya mas"


Hana berjalan kearah anaknya dan mengajaknya untuk pulang. Mereka langsung pulang tanpa pamit kepada rekan bisnisnya.


Selama perjalanan, Revan tak pernah mengeluarkan kata katanya. Ia diam seribu bahasa.


Hana dibuat heran akan perubahan sikap Revan yang tadi sangat ceria dan aktif, sekarang diam mematung.


" Mas Revan kenapa? kok kayak orang marah marah"


" Aku nggak kenapa napa"


Setelah mendengar jawaban Revan, membuat Hana tidak lagi banyak bertanya. Ia menatap lurus kedepan.


10 menit kemudian mereka sampai dihotel. Mereka segera menuju kekamar masing masing.


Pagi harinya, Hana bersiap siap karena hari ini Revan akan bertemu dengan rekan bisnisnya. Hana mengetuk pintu kamar Revan, tak lama kemudian Revan keluar dengan setelan lengakapnya.


" Kita berangkat sekarang?"


" Nggak, kamu tinggal aja sama Jihan dihotel. Aku biar pergi sendiri"


" Mas marah ya sama aku, makanya mas mau pergi sendiri"


" Nggak, aku nggak marah sama kamu. Tapi semalam kufikir fikir, lebih baik kalau kamu tinggal saja temani Jihan"


" Yaudah, mas hati hati yah"


Revan menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi. Hana kembali masuk kekamarnya, menemani anaknya.


Tak lama kemudian, pintu kamarnya kembali diketuk. Hana berjalan menuju pintu dan membuka pintu kamarnya.


" Mas Revan kenapa kembali" Hana kira Revan akan kembali lagi, namun ternyata orang yang mengetuk pintunya adalah mantan suaminya.


" Aku bukan Revan, aku Arlan" Arlan menjawab dengan geram.


" Aku mau ketemu dengan anakku"


" Tunggu dulu, mas tunggu dulu disini"


Arlan menganggukkan kepalanya, setelah itu Hana menutup pintu dan berjalan masuk kearah anaknya.


Jihan sedang bermain boneka diatas kasur, Hana segera menuju kearah anaknya.


" Sayang, bunda mau bicara sesuatu"


" Mau bicala apa unda?"


" Jihan mau nggak ketemu sama Ayah"


Jihan langsung berbinar mendengar penuturan bundanya.


" Ayah, Ayahnya Jihan unda? Ayah ada disini?"


Hana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


" Iya sayang Ayahnya Jihan ada disini, Jihan mau ketemu sama Ayah?"


Jihan tampak berfikir dan raut wajahnya menjadi tampak sedih.


" Jihan tidak mau ketemu sama Ayah unda"


" Kenapa sayang, didepan Ayahnya sudah nunggu"


" Jihan tidak mau ketemu sama Ayah unda, karena Ayah tidak pernah datang, Ayah tidak sayang sama kita"


" Bukan Ayah tidak sayang, tapi Ayah sibuk kerja jadi nggak sempat ketemu sama Jihan"


" Jihan mau kan maafin Ayah, Dengerin bunda sayang. Ayah pasti sayang sama Jihan, tidak ada Ayah yang benci sama anaknya sendiri. Jihan mau kan ketemu sama Ayahnya Jihan?"


Akhirnya Jihan menganggukkan kepalanya dan mengikuti bundanya berjala menuju pintu. Saat pintu sudah terbuka, Arlan segera berjongkok didepan anaknya.


Ia memperhatikan anaknya dengan mata yang berkaca kaca, ia sangat merindukan anaknya. Arlan merentangkan tangannya didepan anaknya, tak lama kemudian Jihan berlari kepelukan Ayahnya.


Arlan memeluk dengan erat anaknya dan menghujani rambut anaknya dengan ciuman.


" Maafkan Ayah ya sayang, maafkan Ayah"


Arlan masih memeluk anaknya dengan erat. Setelah cukup lama mereka peluk pelukan, Arlan perlahan melepaskan pelukannya.


" Ini Ayahnya Jihan?" Jihan memandang kearah Arlan, ia sudah lupa dengan Ayahnya sendiri. Karena Ayahnya pergi saat ia berusia 2 tahun.


" Iya sayang, ini Ayah. Maafkan Ayah karena tidak pernah datang, Ayah sangat sibuk jadi tidak sempat bertemu dengan Jihan"


" Dimaafkan" Jihan tersenyum kearah Ayahnya.


Jihan memegang wajah Ayahnya dan memandangnya dengan tatapan bahagia.


" Ayah telnyata mirip banget sama Jihan, mukanya Ayah sama kayak muka Jihan" Jihan tersenyum dan kembali memeluk Ayahnya.


"Jangan pernah tinggalin Jihan lagi ya Ayah"


Arlan terdiam mendengar permintaan anaknya.


" Untuk permintaan Jihan yang satu itu Ayah tidak bisa sayang. Ayah banyak kerjaan, jadi nanti Ayah akan kembali ke tempat kerja Ayah"


Jihan langsung murung mendengar penuturan ayahnya.


" Tapi, kalau pekerjaan Ayah sudah beres Ayah pasti akan datang lagi. Ayah Janji"


" Janji ya Ayah?" Jihan menaikkan jari kelingkingnya dan disambut oleh Arlan.


" Iya Ayah janji"


Hana hanya memperhatikan Ayah dan Anak didepannya dengan pandangan bahagia, karena ia telah menepati janjinya untuk mempertemukan Arlan dengan Jihan.


ia harus berusaha melupakan kenangan menyakitkan itu, agar ia bisa berdamai dengan keadaan.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Happy reading guys nya😘


Jangan lupa like, komen, rate dan vote ya


Salam story from by_me