Hati yang Patah

Hati yang Patah
Pelaku Penabrak Lari


Revan yang tidak siap menerima pukulan tiba-tiba itu pun jatuh tersungkur ke lantai. Sudut bibirnya berdarah karena tinjuan keras tadi. Segera ia mengelap ujung bibirnya dan mendongakkan kepalanya menatap siapa yang berani memukulnya.


Ternyata yang memukulnya adalah Arlan. Dengan nafas yang memburu dan tangan yang terkepal menahan amarah berdiri di depannya.


Revan segera bangkit dan maju selangkah.


"Lo apain anak gue *******?" Ujarnya dengan penuh emosi menarik kerah leher Revan.


"Gue jelasin..." Belum sempat Revan menyelesaikan ucapannya, ia telah di beri pukulan lagi oleh Arlan.


Revan kali ini tidak melawan karena ia merasa bersalah atas kejadian yang menimpa anaknya. Ia hanya bisa diam diperlakukan seperti itu oleh Arlan.


Mama Ajeng dan Ana yang berada di sana berteriak histeris melihat kejadian di depannya.


Papa Surya berusaha meredam emosi Arlan dengan mencekal lengannya namun Arlan berhasil melepaskan diri dan seakan tidak perduli. Lagi-lagi ia maju selangkah ingin kembali menghajar Revan.


Arlan menarik kerah leher Revan dan ingin melayangkan tinjunya namun suara teriakan berhasil menghentikan aksinya.


Semua orang menoleh ke sumber suara. Ternyata orang itu adalah Hana. Hana segera keluar dari sana saat mendengar suara keributan dari arah luar. Sudah ada beberapa perawat yang keluar dari sana karena mendengar suara kegaduhan itu.


"Mas Arlan sadar sekarang ada di mana." Ujarnya penuh penekanan berbicara dengan Arlan. "Sekarang kita ada di depan ruangan ICU tempat anakmu sekarang di rawat, mas."


"Aku mohon kalau mas hanya mau datang buat keributan di sini, mending sekarang mas pulang saja. Jihan butuh istirahat!"


"Aku mau lihat bagaimana kondisi anak aku, Hana." Ucapnya dengan memelas menatap Hana.


"Kalau mas mau lihat kondisi Jihan bagaimana, kenapa buat keributan di sini. Jangan buat kondisi semakin sulit, mas. Sekarang Jihan butuh doa dari kita semua. Bukan dengan aksi sok heroikmu di sini. Mengerti!"


Arlan seketika bungkam mendengar ucapan Hana. Ia menatap kearah semua orang yang kini menatapnya dengan tatapan cibiran. Setelah keributan berhasil diatasi, perawat yang ada di sana kembali ke ruangan masing-masing.


Hana pun maju dan membantu suaminya untuk berdiri.


"Mas Revan enggak apa-apa?" Tanyanya khawatir melihat kondisi suaminya.


Hana membantu suaminya menghapus noda darah di ujung bibirnya menggunakan tisyu yang ia bawa.


Suasana kembali hening. Arlan masih diam mematung di depan ruangan ICU. Dibelakangnya ada Indah yang juga hanya bisa melihat pertengkaran suaminya.


Setelah meminta izin kepada perawat yang berjaga, Arlan pun masuk ke ruangan ICU melihat kondisi anaknya.


Setelah Arlan dan Indah pulang, kini tinggal Hana, Revan, Ana dan kedua orang tua Revan. Waktu sudah menunjukkan pukul 04 sore, tapi mereka masih setia menunggu di depan ruangan ICU.


"Mending sekarang Mama dan Papa pulang aja istirahat. Mama sama Papa pasti sudah capek setelah seharian ini."


"Mama sama Papa enggak apa-apa kok sayang. Mama sama Papa masih mau menemani kalian disini."


"Enggak usah, Ma,Pa. Hana tahu kalian pasti udah capek. Biar Hana sama Mas Revan saja yang jaga. Jangan sampai kondisi Mama drop hanya karena kurang istirahat."


"Yasudah kalau kamu memaksa, Mama sama Papa akan pulang. Kabari kami kalau sudah ada perkembangan ya, sayang. Mama sama Papa besok akan datang lagi."


"Iya, Ma."


"Papa akan segera kabari kamu." Ujar Papa pada Revan terkait pembicaraan mereka tadi.


Revan pun menganggukkan kepalanya dan mengantar kedua orang tuanya sampai di depan.


Tak lama kemudian Revan pun kembali dari mengantar kedua orang tuanya. Revan terlihat berbicara dengan seseorang di balik telepon. Setelah cukup lama menunggu akhirnya, orang yang dari tadi ia tunggu akhirnya datang juga.


Revan berdiri dan menghampiri lelaki itu dan menerima Paperbag dari lelaki tadi. Setelah cukup lama berbincang-bincang serius, lelaki tadi pun akhirnya pergi. Revan kembali duduk di samping istrinya.


"Siapa, mas?"


"Terus kenapa enggak disuruh duduk aja dulu, mas?"


"Dia buru-buru, makanya enggak sempat tinggal lama."


"Terus dia bawa apaan?"


"Dia bawain aku pakaian ganti, sayang. Aku mau ganti baju dulu, ya."


"Iya, mas."


Setelah pukul 19.20 Wib, Hana dan Ana pun pulang dari sana. Setelah berdebat cukup lama dengan suaminya ingin tinggal menemani anaknya, Hana pun kalah dan pulang dengan Ana ke rumah.


Setelah seminggu dirawat di ruangan ICU, Jihan akhirnya mampu melewati masa kritisnya dan kini sudah dipindahkan di ruangan perawatan.


Jihan di rawat di ruangan VIP. Sengaja Revan melakukan itu agar istrinya bisa istirahat sambil menjaga anaknya.


Revan tidak masuk kantor dan mempercayakan pekerjaannya kepada sekertaris barunya. Kalaupun ada pekerjaan yang mendesak, maka Revan akan mengerjakan tugasnya itu di rumah sakit. Ia tidak ingin meninggalkan istrinya sendiri menjaga anaknya.


Saat Revan sedang mengerjakan laporannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Segera Revan merogoh saku celananya dan mengangkat panggilan masuk itu. Saat ia melihat ID penelpon, segera ia mengangkatnya.


"Assalamualaikum, Pa."


"Waalaikum salam, nak. Papa ada berita buat kamu."


"Penabrak itu?"


"Betul sekali. Orang suruhan Papa sudah menemukan orang itu. Dan sekarang dia sedang disekap di gudang bekas pabik dekat perusahaanmu."


"Kirim lokasi, Pa. Aku kesana sekarang."


"Baiklah, Nak. Papa serahkan sama kamu orang itu."


"Ok, Pah. Terima kasih. Revan tutup dulu."


Setelah sambungan terputus, tak lama kemudian masuk notifikasi WA di ponselnya. Papa Surya mengirimkan share lokasi pabrik disekapnya benabrak Jihan.


"Sayang, aku ada urusan sebentar di luar. Aku enggak akan lama, kok. Kalau ada apa-apa cepat hubungi aku."


"Iya, mas. Hati-hati di jalan."


Revan menganggukkan kepalanya dan mencium kening istrinya sebelum ia pergi dari sana. Sebelum ia melajukan kendaraannya, lebih dulu ia menghubungi Ana untuk datang menemani istrinya di rumah sakit.


Revan pun melajukan kendaraannya dengan cepat membelah jalanan kota jakarta yang kala itu sedang sedikit lenggang. Pukul 19.35 tepatnya ia sampai di depan gedung tua bekas pabrik kertas yang digunakan orang suruhan Papanya untuk menyekap pelaku tabrak lari anaknya.


Saat ia turun dari mobil, sudah ada berdiri di depan dua lelaki berseragam hitam dengan tubuh besar dan berotot menunggunya. Ia pun dibawa sampai ke dalam menemui pelaku penabrak lari anaknya.


Dari jauh sudah dapat ia kenali siapa orang tersebut. Seringai menakutkan Revan tampakkan diwajahnya. Berani-beraninya orang ini mengganggu ketenteraman hidupnya dan membuat anaknya mengalami kesakitan yang lama.


"Kau akan merasakan yang lebih sakit dari apa yang anakku rasakan!" Cibirnya dalam hati menatap orang itu.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Happy reading guys nya😉😚


Jangan lupa like, komen dan vote nya yah kk❤


Salam story from By_me