
Revan dan Hana berada dalam satu mobil sedangkan Jihan, ia ikut dengan Nenek dan kakeknya.
"Aku bilang juga apa, Mas. Mama jadi marah kan!" Hana mengatakan itu saat sudah menutup pintu mobil dan memasang sabuk pengamannya.
"Ya, mau gimana lagi, sayang. Udah terjadi juga." Ucapnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ini memang salahnya karena tidak ingat waktu.
"Gimana dong, Mas?"
"Santai aja. Nanti juga baik lagi. Mama kalau marah itu enggak pernah lama. Kan yang dimarahin sama Mama itu aku bukan kamu, sayang."
"Iya, juga sih."
Setelah mengatakan itu, Revan menghidupkan mobilnya dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang menuju ke rumah pamannya.
"Rumah paman masih jauh ya,Mas?" Tanya Hana karena ia belum pernah ke sana. Hana lalu menyenderkan punggungnya di sandaran mobil.
"Lumayan. Sekitar 20 menit lagi kita sampai kalau enggak macet, kalau macet yah agak lama, sayang."
Hana menganggukkan kepalanya mengerti. Setelah itu ia kembali bertanya seputar keluarga pamannya.
"Mama tadi bilang kalau anak sulung paman datang,yah? Emangnya sepupu Mas itu enggak tinggal sama mereka?"
"Enggak. Sepupu aku itu menetap di LA. Dia punya perusahaan sendiri di sana, makanya dia jarang pulang ke Indonesia. Dia orangnya sangat sibuk."
"Oh, begitu." Hanya itu jawaban Hana
"Heem. Tapi nanti kalau udah sampai di sana, jangan dekat-dekat sama sepupu aku."
"Emang kenapa, Mas?" Tanyanya penasaran. Aneh juga rasanya karena ia dilarang oleh suaminya dekat-dekat dengan sepupunya sendiri.
"Dia orangnya suka gigit." Candanya. Sebenarnya bukan itu alasannya dan ia tak mau istrinya dekat-dekat dengan sepupunya karena ada alasan tertentu yang tak ia ceritakan kepada istrinya.
"Ish, orang bertanya serius juga." Ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.
Revan terkekeh melihatnya lalu ia menyubit pipi tembem istrinya gemas.
Pembicaraan mereka pun berlanjut hingga tak terasa mereka telah sampai di halaman rumah paman dan bibi Revan.
Hana membuka sabuk pengaman dan keluar mobil bersama dengan suaminya. Hana memperhatikan rumah paman dan bibi Revan yang besar dan tak jauh beda dengan rumah Papa Surya. Dihalaman rumah sudah berjejer rapi beberapa mobil.
Mereka berjalan masuk di mana Mama Ajeng dan Papa Surya sedang berbincang dengan si pemilik rumah di depan pintu. Hana dan Revan menghampiri mereka.
"Sini, sayang." Panggil Mama Ajeng yang melihat anak dan menantunya berjalan ke arahnya.
Revan dan Hana melempar senyum dan menyalami tangan paman dan bibinya satu per satu.
"wah, wajah pengantin baru ini sangat cerah sekali." Tutur paman sambil melihat pengantin baru itu. Semua orang yang mendengarnya sontak tertawa, tetapi tidak dengan bibi Revan yang hanya menampakkan wajah datar sambil memandang Hana.
Revan dan Hana menanggapinya dengan tersenyum.
"Yasudah, sekarang kita langsung masuk saja, yuk." Ajak Bibi Revan dan membawa semua orang langsung menuju meja makan yang diatasnya sudah banyak tersaji makanan dan minuman. Saat sudah sampai, tuan tumah pun mempersilahkan semuanya untuk duduk.
Hana memandang lelaki yang duduk tepat berada di depannya. "Mungkin dia sepupu yang Mas Revan ceritakan." Gumamnya dalam hati menatap lelaki di depannya.
"Oh, iya. Nak, perkenalkan di depanmu namanya Hana, istri dari sepupumu." Ucap paman memperkenalkan Hana kepada anaknya yang tak sempat hadir di acara pernikahan sepupunya.
Lelaki itu hanya memandang Hana dengan wajah yang datar dan tak mengucapkan sepatah kata pun.
"Hana, perkenalkan anak paman, namanya Raga. Maafkan karena anak paman tidak sempat hadir di pernikahan kalian kemarin." Tutur paman lagi.
"Iya, Paman. Tidak apa-apa, kami mengerti kok." Ucap Hana. Hana merasa bingung harus bicara apa karena sepupu dari suaminya itu terlihat sangat dingin dan tidak bersahabat.
"Yasudah, lebih baik sekarang kita menyantap hidangan yang sudah dari tadi memberontak ingin dihabiskan." Tutur Paman mencairkan suasana. Semua orang sontak dibuat tertawa mendengarnya
Semua orang memulai menyantap hidangan makan malam di depan mereka yang terlihat sangat menggiurkan. Makan malam diisi dengan berbincang-bincang. Topik pembicaraan mereka kali ini lebih banyak membahas mengenai kepulangan sepupu Revan dan membahas pengantin baru itu.
Setelah makan malam selesai, tuan rumah pun mengajak semua orang menuju ke halaman belakang untuk bercengkerama dan sekedar minum teh hangat. Sudah lama mereka tidak melakukan itu mengingat semua orang sangat sibuk dan tak punya waktu untuk bertemu seperti malam ini.
Revan asyik bermain kejar-kejaran dengan anaknya, sedangkan Raga ia duduk di bangku dekat Papa nya. Raga hanya duduk mematung sambil bersedekap menatap kearah para wanita sedang asyik berbincang-bincang.
Jihan ngos-ngosan karena berlari kesana kemari menghindari tangkapan ayahnya. Karena kecapean akhirnya ia menyerah dan duduk di atas rumput hijau sambil mengelap keringat yang bercucuran di dahinya. Revan duduk berselonjor di samping anaknya sambik menertawainya yang akhirnya menyerah juga.
Revan mengalihkan pandangannya menatap kearah sepupunya yang tampak sedang menatap kearah istrinya. Revan mengarnyitkan keningnya tidak suka melihat sepupunya sendiri menatap istrinya.
Raga orangnya sangat dingin, namun dibalik itu semua sepupunya itu terkenal dengan keplayboy-an nya dan suka mengganti-ganti pasangan. Walaupun sifat sepupunya seperti itu namun tak menyurutkan niat para wanita untuk mendekatinya. Bukankah ada penelitian yang mengatakan bahwa lelaki yang cool itu lebih menarik di mata para wanita.
Hana berjalan kearah suami dan anaknya. Saat sudah sampai di sana, ia pun duduk sambil menekuk lututnya di samping anaknya. Hana menatap suaminya yang masih menatap sepupunya dengan kening berkerut.
"Enggak apa-apa. Aku haus. Boleh ambilin minum enggak, sayang."
"Aku juga haus Bunda." Ucap Jihan menimpali.
Hana tersenyum kearah keduanya.
"Yasudah, Bunda ambilin minum dulu yah, untuk anak kecil dan anak besar, Bunda." Ucapnya sambil menyubit pipi anak dan suaminya bersamaan.
Hana terkekeh karena ulahnya sehingga membuat wajah anak dan suaminya memerah di bekas cubitannya. Setelah melakukan itu, Hana berdiri dan berjalan masuk menuju dapur.
Hana mengambil dua gelas dan menyimpannya di atas meja makan, setelah itu ia membuka kulkas dan mengambil air dingin di dalam botol
Hana menuangkan air ke dalam gelas namun tiba-tiba ada suara bariton yang berbicara di belakangnya. Hana menoleh dan mendapati Raga berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Oh, Mas Raga. Hana kira siapa! Mas mau minum juga?" Bukannya menjawab, Raga malah diam dan menatap Hana. Hana yang tak direspon dan malah ditatap seperti itu pun pamit untuk keluar. Namun ia dihadang oleh Raga yang langsung berdiri di depannya.
"Permisi, Hana mau keluar." Ucapnya tegas karena Hana merasa tidak aman di dekat lelaki itu, entahlah Hana juga tidak tahu mengapa.
"Kamu sudah tidak ingat dengan saya?"
Hana mengernyitkan keningnya mendengar penuturan lelaki di depannya. Bagaimana ia mau ingat kalau bertemu saja baru hari ini.
"Maaf, saya tidak mengerti maksud, Mas Raga apa?"
"Apa perlu saya mengingatkanmu siapa saya."
Hana tak merespon.
"Baiklah, akan saya beritahu. Apakah kamu masih ingat dengan lelaki sembilan tahun yang lalu saat malam tahun baru." Ucapnya dengan senyum miring.
Hana mencerna setiap ucapan dari Raga. Tiba-tiba ia tersentak kaget tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Raga. Hana melangkah mundur dengan keringat dingin yang mulai bercucuran di keningnya. Raga memajukan langkahnya mendekati Hana. Tubuh Hana bergetar dengan keringat dingin membasahi keningnya. Hana takut, sangat takut.
"Sayang, kenapa lama sekali." Suara Revan dari arah luar yang berjalan menghampiri istrinya.
"Mas Revan." Ucap Hana lirih. Hana segera berjalan dengan langkah cepat kearah suaminya.
Revan menatap istrinya yang terlihat sangat pucat dengan keringat dingin membasahi keningnya.
"Kamu kenapa, sayang? Kamu tidak enak badan?" Revan menyentuh kening istrinya menggunakan punggung tangannya namun ia merasa istrinya itu tidak demam sama sekali.
Hana menganggukkan kepalanya cepat. Ia ingin segera pergi dari sana.
"Aku mau pulang, Mas." Ucap Hana memegang tangan suaminya. Revan bisa merasakan tangan istrinya yang sangat dingin dan bergetar.
"Yasudah, kita pulang sekarang. Tapi kita pamit dulu sama semua orang."
Hana menganggukkan kepalanya cepat agar mereka segera pergi dari sana. Revan memegang pundak istrinya dan membawanya ke belakang ingin pamit kepada semua orang. Mama Ajeng yang mendengar apa yang dikatakan anaknya akhirnya juga ikutan pamit pulang karena khawatir dengan keadaan menantunya yang memang terlihat pucat.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Kira-kira siapa sebenarnya si Raga ini. Btw jangan lupa tinggalkan jejak yah dengan like, komen dan vote nya. Karena vote itu gratis kok. Jangan pelit"yah😊. Author tunggu
Salam story from By_me