
Hana keluar dari ruangan Revan saat telah selesai membereskan bekas makan mereka. Hana mendudukkan bokongnya dikursi dan kembali melanjutkan laporannya yang sempat tertunda.
Hana kembali mengerjakan laporannya, namun
Hana lagi lagi dibuat tak bisa fokus oleh perkataan Revan tadi. Apa yang harus ia lakukan sekarang, tidak mungkin juga ia harus selalu bergantung dengan keluarga Revan.
Hana menghentikan pekerjaannya dan menyandarkan punggungnya disandaran kursinya, Hana menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya.
" Aku harus mulai semuanya dari awal lagi, tinggal disini dan tetap bekerja dengan mas Revan agar aku bisa tetap melanjutkan hidup, semoga ini jalan yang terbaik"
Setelah itu Hana kembali melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Malam harinya setelah mereka semua selesai makan malam, semua orang berkumpul diruang keluarga menonton sambil bercengkerama. Hana, Mama dan Papa tertawa melihat keadaan Revan yang hanya bisa pasrah saat didandani oleh Jihan.
Jihan sangat asyik mendandani Revan dan sangat lihai memoles makeup diwajah Revan. Ditengah kegiatan Jihan, Papa menginterupsi dengan memberikan pertanyaan kepada Jihan.
" Jihan sayang kenapa harus om Revan, Kenapa bukan Bundanya Jihan saja yang didandani?" Papa bertanya sambil senyum senyum kearah Revan.
Revan yang melihat tingkah Papanya yang menertawakannya, hanya bisa diam dan pasrah dibawah kendali Jihan.
" Jadi alasannya Jihan pilih om levan bukannya Bunda, karena Jihan penasalan mau lihat wajahnya om levan kalau habis didandani Kakek, pasti om levan cantik kayak Jihan" Jihan menjawab dengan sangat antusias dan membayangkan jika Revan telah selesai didandani.
Semua orang tertawa saat mendengar jawaban Jihan, namun berbeda dengan Revan yang diam saja saat wajahnya sudah memerah sana sini karena ulah Jihan.
Revan sebenarnya sangat kesal karena jadi bahan tertawaan semua orang, tapi biarlah ia berkorban sekali ini saja karena Jihan sangat memaksanya.
" Nasib ya nasib mengapa jadi begini" Revan menyanyikan lagu dangdut yang mewakili situasinya saat ini. Mendengar nyanyian Revan, membuat semua orang yang ada disitu tertawa terbahak bahak.
Ditengah kegiatan Jihan mendandani Revan, Hana mengajak berbicara Mama dan Papa.
" Ma, Pa, ada yang Hana mau bicarakan"
" Mau bicara apa sayang" kata Mama
"Sebenarnya sudah lama Hana memikirkan ini, Hana mau cari rumah kontrakan untuk nanti Hana tempati sama Jihan. Hana mau mencoba hidup mandiri Ma, Pa"
" Kenapa harus cari rumah kontrakan sayang, kenapa kamu mau pindah, kami tidak masalah kalaupun Hana sama Jihan tinggal disini selamanya. Mama dan Papa bahagia dengan kehadiran Kalian, jadi Mama harap Kalian disini saja bersama Mama dan Papa" tutur Mama
" Maafkan Hana Ma, Pa, Hana sangat bahagia bisa bertemu dengan Mama, Papa dan mas Revan yang sudah sangat baik dan sudah membantu Hana selama ini. Tapi Hana tidak bisa terus menerus bergantung dengan kalian, izinkan Hana untuk hidup mandiri Ma, Pa"
Mama sebenarnya sedih mendengar Hana dan Jihan akan tinggal ditempat lain, namun apalah daya Hana sepertinya sangat berharap bisa hidup mandiri. Mama mendekat kearah Hana dan langsung memeluknya dengan sayang.
" Sebenarnya Mama tidak ingin kalian pindah dari sini, Mama sudah menganggap kalian sebagai keluarga. Tapi kalau memang itu kemauannya Hana, Mama hanya bisa mendukung apapun keputusanmu"
Mendengar penuturan Mama membuat Hana merasa terharu, Hanapun mengeratkan pelukannya.
" Makasih ya Ma, selama ini sudah sangat baik sama Hana dan Jihan. Hana janji kalaupun nanti sudah pindah rumah, Hana dan Jihan akan tetap berkunjung kesini"
" Iya sayang"
Mama pun melepaskan pelukannya dan menatap Hana dan Jihan bergantian.
" Jadi, kapan rencananya Hana mau cari kontrakan?" kata Papa
" Hana rencananya akan cari kontrakan nanti saat hari libur Pa"
" Kalau begitu bagaimana kalau kamu cari kontrakan sama Revan saja, siapa tahu Revan punya kenalan yang mengontrakkan rumahnya"
" Nggak usah Pa, Hana nggak mau nyusahin mas Revan lagi"
" Aku yang akan menemani kamu nanti cari kontrakan" tutur Revan
Mendengar penuturan Revan barusan, Hana hanya bisa mengiyakan apa yang dikatakan oleh Revan. Karena Revan tipe orang yang pemaksa dan walaupun Hana menolak, Revan akan tetap melakukannya.
Saat sudah mengutarakan niatnya dan telah diberi izin oleh Mama dan Papa membuat Hana merasa lega.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Tibalah waktu akhir pekan, Hana merencanakan akan pergi mencari kontrakan bersama dengan Revan. Hana berniat mencari kontrakan yang dekat dengan perusahaan agar ia bisa cepat pergi dan pulang kantor. Apalagi nantinya, Jihan akan mulai masuk sekolah. Hana akan mencari tempat yang dekat dengan perusahaan dan dekat dengan taman kanak kanak. ia berharap semoga saja ia bisa dapat yang dicarinya.
Mobil Revan memasuki kawasan perumahan, Hana dibuat bingung mengapa Revan membawanya kedaerah perumahan.
" Kenapa kita kesini mas, mas mau ketemu sama seseorang?"
" Iya, ada seseorang yang mau kutemui"
" oh" setelah mendengar jawaban Revan, Hana tidak banyak bertanya lagi.
Tak lama kemudian sampailah mereka didepan perumahan yang tidak terlalu besar namun dari model arsitekturnya terlihat sangat nyaman ditinggali.
" Ayo turun" Revan membuka seatbeltnya dan membuka pintu mobil, diikuti oleh Hana disampingnya.
Didepan gerbang sudah ada menunggu seorang lelaki yang mungkin seumuran dengan Revan, Revan dan lelaki itu berjabat tangan dan kami pun diajak masuk kedalam.
Lelaki itu mengajak kami melihat lihat isi rumah itu, setelah selesai melihat lihat semua isi rumah, lelaki tadi mengajak kami menuju ruang tamu.
" Bagaimana menurut kamu sama rumahnya?"
" Menurut aku rumahnya sangat nyaman, memangnya mas mau tinggal disini?"
" Bukan aku, tapi kamu dan Jihan"
" Maksud mas?"
" Aku sengaja beli rumah ini untuk kamu sama Jihan, menurut aku disini sangat strategis, dekat dengan perusahaan dan juga didalam kompleks ini ada taman kanak kanaknya"
" Aku nggak bisa mas, aku kan sudah bilang aku mau hidup mandiri tanpa harus selalu dibantu.
Rumah ini juga terlalu besar kalau hanya untuk aku sama Jihan. Mending kita cari tempat yang lain saja"
" Nggak bisa Hana, rumah ini memang kebeli untuk kamu sama Jihan"
" Maafkan aku mas, tapi aku nggak bisa terima bantuan kamu yang satu ini"
"Yaampun kamu keras kepala sekali Hana, apa susahnya menerima bantuan aku" Revan bergumam dalam hati, setelah itu Revan berfikir sejenak untuk mencari jalan keluar.
" Ok kalau begitu mending begini saja, karena rumah ini sudah terlanjur kubeli kamu akan tetap tinggal disini, dan sebagai gantinya setiap bulannya kamu akan membayar untuk sewa rumah ini, aku akan memotongnya dari gajimu, bagaimana?
Hana berfikir untuk sejenak, setelah ditimbang timbang tawaran Revan yang terakhir adalah pilihan terbaik, daripada harus dikasi percuma dan membuat Hana merasa semakin berhutang budi.
" Ok kalau begitu, aku terima tawaran mas yang terakhir"
" Karena sudah disetujui oleh mbak Hana, maka secepatnya saya akan urus surat surat pemindahan kepemilikan rumah ini atas nama mbak Hana"
" Terima kasih pak sebelumnya" tutur Revan
" Sama sama pak Revan, tapi sebelumnya saya mau tanya. Kira kira kapan mbak Hana akan menempati rumah ini?"
" Mungkin lusa pak" tutur Hana
Lelaki itu tampak menganggukkan kepalanya
" Baiklah mbak Hana, besok saya akan membereskan tempat ini agar nantinya nyaman ditempati oleh mbak Hana"
" Terima kasih pak"
" Sama sama mbak"
" Kalau begitu kami pamit pak" Revan menjabat tangan lelaki itu dan diikuti oleh Hana setelahnya. Revan dan Hana berjalan keluar diantar oleh lelaki itu.
Setelah pamit, Hana dan Revan masuk kedalam mobil dan kembali menuju rumah.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Happy reading gyys nya😘
Jangan lupa like, komen, rate and vote
Salam story from By_me