
Selama perjalanan menuju mall yang akan dituju, tak henti-hentinya Hana dan Revan tertawa mendengar berbagai celotehan dari Jihan diikuti oleh kedua adiknya yang juga ikut berceloteh walaupun belum jelas apa yang mereka ucapkan.
Mereka bertiga benar-benar sangat menggemaskan. Membuat Hana dan Revan selalu dibuat tertawa oleh tingkah ketiganya.
20 menit kemudian kendaraan Revan pun memasuki basement mall xx. Revan memarkirkan kendaraannya dekat dengan pintu masuk mall agar mereka nantinya tidak jalan terlalu jauh. Mengingat mall itu cukup besar dan luas.
Revan membuka sabuk pengamannya dan berjalan membuka pintu belakang untuk mengambil salah satu anaknya. Sedangkan anak yang satu digendong oleh Hana. Jihan berjalan di samping Ayahnya sambil menggenggam tangannya.
Mereka berjalan beriringan memasuki mall. Tujuan utama mereka adalah menuju ke lantai atas menuju arena permainan anak.
Saat sampai di time Zone, Jihan dengan riangnya berlari masuk dan bermain permainan yang ia sukai. Sedangkan Bayi kembar, Dava dan Devan, mereka tak kalah antusiasnya dengan kakaknya. Hana dan Revan membawa kedua anaknya itu untuk bermain mandi bola dengan ditemani oleh mereka.
Dava dan Devan sangat senang karena untuk pertama kalinya mereka bermain di luar. Tawa riang tak pernah lepas dari mulut keduanya. Dengan begitu banyaknya bola warna-warni menenggelamkan setengah badan kecil mereka, membuat keduanya sangat bahagia.
Jihan mencoba satu per satu permainan di arena itu. Setelah cukup lama bermain dan menemani anak-anak mereka, mereka pun keluar dari sana dan menuju kearah restoran seafood untuk mengisi perut yang sudah dari tadi berbunyi minta untuk diisi.
Akhirnya mereka pun sampai di restoran seafood. Revan memesan banyak makanan untuk mereka. Tak lupa makanan pendamping bubur untuk kedua anak mereka telah Hana siapkan.
Di tengah-tengah kegiatan mereka, tiba-tiba Jihan memanggil ayahnya.
"Ayah!" Ucapnya dengan nada senang.
"Iya, sayang!" Jawab Revan karena mengira ia yang dipanggil oleh anaknya. Nyatanya mata anaknya ini bukan mengarah padanya, namun mengarah ke meja di ujung dekat jendela. Arah matanya pun menangkap sosok lelaki yang juga memiliki brewok tipis seperti dirinya. Lelaki itu adalah Arlan. Arlan terlihat duduk di meja bersama dengan istrinya, Indah.
Arlan terlihat sangat bahagia melihat kehadiran anaknya di sana. Arlan pun berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati meja anaknya. Tak membutuhkan waktu lama, Jihan sudah berada di dalam pelukannya.
"Apa kabar anaknya Ayah yang cantik?" Tanyanya saat pelukan mereka telah terlepas.
Jihan tersenyum senang dan sekali lagi memeluk ayahnya. Setelah dirasa cukup melepas rindu, Jihan pun melepaskan pelukannya. "Jihan sehat, kok, Yah. Sehat banget malahan. Ayah bisa lihat kan, dari badannya Jihan yang tambah gendut sekarang!" Ucapnya sambil mengembungkan pipinya.
Arlan tertawa senang melihat tingkah menggemaskan anaknya. Manik matanya pun melihat ke depan di mana, Hana, Revan dan dua bayi kembar yang saat ini duduk di kursi.
Sejenak matanya terfokus menatap ke arah Hana. Namun Hana mengalihkan pandangannya menatap kedua anaknya. Bukannya ia pendendam, tapi setiap kali melihat wajah Arlan seakan membuatnya kembali mengingat kenangan yang ingin ia kubur.
Rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat wajah wanita yang dulu sangat ia cintai. Perubahan pada diri Hana yang semakin cantik membuat penyesalan Arlan semakin meradang.
"Kamu ternyata sangat bahagia bersama dengan Revan, Han!" Gumam Arlan di dalam hati menatap cemburu akan kebahagiaan keluarga kecil mantan istrinya. Terlihat dari wajah Hana yang memancarkan kebahagiaan di sana. Ditambah dua jagoan kecil yang berada di samping Hana dan Revan.
"Seandainya... Ah, bicara apa aku ini!" Cibirnya di dalam hati merutuki kebodohannya.
Kebahagiaan Hana kini telah lengkap dengan kehadiran gadis kecil dan dua jagoannya. Sedangkan dirinya, satupun tidak ia miliki. Sampai sekarang, istrinya itu belum hamil-hamil juga.
Arlan pun kini berjalan mendekati meja Revan dan Hana dengan menggandeng tangan Jihan.
"Hy, sudah lama tidak bertemu!" Ucap Arlan berusaha menekan ego nya dan mulai bersikap bersahabat pada dua orang di depannya.
"Benar sekali. Sudah lama kita tidak bertemu, pak Arlan." Revan berdiri dan menjabat tangan Arlan yang sudah menjulur di depannya. Setelah menjabat tangan Revan, Arlan beralih ingin menjabat tangan Hana, namun Hana tidak menyambut jabatan tangannya. Ia hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada sebagai pengganti jabatan tangannya. Dengan kikuk, Arlan menarik kembali tangannya.
"Iya, benar sekali, pak Revan." Arlan melihat makanan Revan belum habis. Ia pun tak mau mengganggu momen makan malam mereka
"Kalau begitu silahkan dilanjut makan malamnya, pak Revan dan...Hana." Ucapnya kikuk.
Revan dan Hana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dengan senyum tipis mereka berikan.
"Boleh kan, Jihan nemenin Ayah Arlan, Bunda?" Tanya Jihan meminta izin pada Bundanya.
"Habiskan makanannya dulu ya, sayang. Setelah makanannya habis, Jihan boleh nemenin Ayahnya."
Jihan tersenyum senang mendengar jawaban Bundanya. Dengan patuh, Jihan menghabiskan makanannya agar bisa menemani Ayahnya.
Setelah makanannya habis, Jihan pun beralih mendekati Ayahnya dan juga Ibu tirinya. Jihan menemani Ayahnya mengobrol dan sesekali terlihat mereka bercanda di sana.
"Jihan, ada yang ingin Ayah bicarakan bersama Ayah Revan dan Bundanya Jihan. Jihan duduk dulu di sini ya, sayang, temani Mama Indah." Jihan melirik kearah Indah sekilas. Dengan patuh Jihan menganggukkan kepalanya. Arlan membelai rambut anaknya, setelah itu barulah ia berjalan mendekati Revan dan Hana.
Dari jauh, terlihat mereka bertiga berbicara dengan serius. Indah tidak bisa mendengar apa yang mereka bertiga bicarakan karena jarak meja nya dan meja Revan yang jauh. Ditambah dengan suara bising para pengunjung lain membuat Indah tidak bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Namun tiba-tiba, fokusnya buyar saat Jihan menarik ujung bajunya. Indah pun menatap Jihan yang kini memasang puppy eyes nya.
"Ada apa?" Tanyanya pada anak tirinya.
"Jihan, mau itu, tante!" Tunjuknya pada minuman yang ada di depannya. Sebenarnya minuman itu adalah minumannya dan ia belum menyentuhnya sedikitpun. Namun melihat wajah memohon anak tirinya membuatnya tidak tega untuk menolak.
"Yaudah, minuman tante, Jihan aja yang minum." Indah memberikan minuman milk shake strowberry miliknya kepada Jihan. Warnanya yang sangat menggugah selera dengan es cream dan buah cherry diatasnya membuat Jihan sangat menginginkannya.
Setelah memberikan minumannya pada Jihan, Indah pun memanggil pelayan untuk kembali memesan minuman.
"Mbak, saya pesan satu lagi milk shake strowberry nya. Dan..." Indah menatap Jihan yang kini juga menatapnya. "Jihan mau pesan apa lagi?"
Namun Jihan malah menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Setelah mendapat jawaban dari Jihan, pelayan itu pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
Indah kembali fokus memperhatikan ketiga orang itu. Pembicaraan mereka pun masih berlangsung. Indah sangat penasaran kira-kira apa yang mereka bertiga bicarakan. Dilihat dari raut wajah ketiganya sepertinya pembicaraan mereka kali ini sangat serius.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Happy reading kakak😙
Menjelang tamat, kakak" vote dong😘🤗
Salam story from By_me