Hati yang Patah

Hati yang Patah
Meyakinkan


Hana dan Andin berjalan keluar dari sana. Selama perjalanan tak henti-hentinya mulut Andin bercerocos mengumpat atas kelakuan Indah.


Hana yang mendengarnya Hana bisa menenangkan sahabatnya.


" Udah ndin, nggak usah di ladenin lagi orang kayak dia. Sebagai orang yang waras kita harus mengalah, daripada nanti jadi ribet."


" Tapi dia tuh udah bikin aku emosi tahu enggak Han. Heran deh aku sama dia. Dia udah ngerebut suami orang, masih aja suka cari gara-gara. Orang lagi bahagia dia malah sirik. Dia itu makhluk spesies apa sih Han? Kok ada yah orang kayak dia." Andin mendengus kesal.


"Jaman sekarang tuh pelakor tambah tidak tahu diri, bukannya sembunyi eh, malah ngajak ribut. Untung ceritanya nggak kayak di sosmed yang pelakornya di buat malu di depan umum."


" Udah ah, nggak semua keburukan itu harus dibalas dengan yang sama ndin. Kalau api ketemu sama api kira-kira bakalan padam nggak?"


Andin yang diberi pertanyaan seperti itu hanya bisa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


Hana tersenyum melihatnya


" Bener. Apinya nggak bakalan padam malah makin gede tuh si api. Jadi kalau mau apinya padam, maka harus disiram sama air."


" Bener banget tuh kata kamu, kayaknya si Indah itu sekali-sekali harus disiram pake air deh supaya dia bisa langsung mingkem." Setelah mengatakan itu Andin tertawa lepas diikuti oleh Hana di sampingnya.


" Ide kamu kayaknya bisa dicoba deh. Hahahaa." Mereka kembali tertawa. Setelah mengatakan itu akhirnya Andin tidak lagi bercerocos menumpahkan kekesalannya kepada Indah.


Mereka kembali ke meja masing-masing. Malam semakin larut, akhirnya acara pun selesai. Mereka semua bergegas untuk pulang.


Di dalam mobil tak henti-hentinya Revan tersenyum dan melirik ke arah Hana. Akhirnya lamarannya di terima, batinnya.


Hana melirik ke arah Revan yang sedari tadi curi-curi pandang kearahnya.


" Mas Revan fokus dong nyetirnya. Liat ke depan jangan liat Hana terus."


Namun Revan membalas dengan cengiran.


" Malam ini aku bahagia banget Hana."


" Akhirnya kamu menerima lamaran lelaki biasa ini." Katanya merendahkan diri.


Mendengar itu membuat Hana mengerutkan keningnya. Seharusnya yang berkata seperti itu adalah dirinya.


" Mas Revan terlalu merendahkan diri. Seharusnya Hana yang bicara seperti itu karena Hana hanya wanita biasa yang tidak punya apa-apa."


" Aku yang seharusnya bersyukur bisa dapatin calon istri kayak kamu. Udah penyayang, baik, cantik, sholehah lagi. Cocok banget sama aku. Paket komplit."


Hana menanggapi dengan senyum-senyum setelah itu barulah ia berbicara.


" Mas Revan cara ngomongnya udah kayak fansnya aja. Apaan paket komplit. Ada-ada aja." Hana geleng-geleng kepala setelah itu ia tersenyum.


Revan seakan terhipnotis melihat senyuman Hana.


" Sungguh indah ciptaanmu Ya Allah." Katanya dalam hati.


Setelah itu mereka kembali berbincang-bincang ringan.


" Mmm... Bagaimana sama Jihan? Kira-kira dia setuju nggak kalau nanti kita menikah?"


"Iya juga kata Mas Revan. Kira-kira Jihan mau menerima Mas Revan sebagai ayahnya?" Hana bergumam di dalam hati memikirkan perkataan Revan.


" Biar nanti aku tanya dulu sama Jihan. Semoga aja Jihan setuju."


" Kalau Jihan nggak setuju bagaimana?" Tanyanya sedikit takut.


Hana terdiam mendengarnya. Benar juga, bagaimana kalau Jihan menolak dan tidak terima kalau Revan menjadi ayah sambungnya.


" Nanti dilihat ya Mas. Kita serahin sama yang di atas." Setelah mengatakan itu mereka mendadak terdiam. Suasana hening, hanya suara deru mobil yang mengisi kesunyian itu. Mereka sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.


Tak lama kemudian akhirnya mereka telah sampai di depan rumah Hana. Hana membuka sabuk pengamannya dan mengambil tasnya.


" Mas Revan makasih ya, sudah anterin Hana. Hana duluan. Hati-hati di jalan Mas."


Revan membalas dengan angukan kepala. Setelah itu, Hana membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya.


Mobil Revan belum menjauh dari sana. Di dalam mobil Revan menyandarkan punggungnya dan kembali memikirkan tentang pembicaraan mereka tadi.


Revan menarik nafas panjang dan mengusap-usap wajanya.


" Aku harus meyakinkan calon anak supaya dia mau menerima aku." Setelah mengatakan itu, Revan menghidupkan mesin mobilnnya dan berlalu dari sana.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Keesokan harinya di perusahaan, setiap yang berpapasan dengan Hana pasti mereka akan memberikan semangat dan dukungan karena sebentar lagi mereka akan menikah.


Hana pun membalas dengan senyuman. Saat ini Hana kembali melanjutkan aktivitasnya seperti biasa yaitu berkutat di depan komputer. Saat sedang mengerjakan beberapa file tiba-tiba ponselnya berdering. Hana menghentikan kegiatannya dan melirik pada ponselnya.


Ternyata itu adalah panggilan dari Mama Ajeng. Segera Hana mengangkatnya.


" Halo, assalamualaikum, Ma."


" Waalaikum salam, sayang. Kamu lagi apa?"


" Hana lagi di kantor Ma. Ada apa Mama nelpon Hana pagi-pagi?"


" Pulang kerja nanti kamu sibuk nggak sayang?"


" Nggak kok, Ma. Memangnya ada apa?"


" Kamu mau nggak temenin Mama nanti ke mall. Ada yang mau Mama beli sayang."


Hana menimbang-nimbang sebentar ajakan dari Mama Ajeng.


" Mmm iya, Ma. Pulang kerja nanti aku bakalan temanin Mama."


" Ok sayang, kalau begitu biar nanti Mama yang jemput kamu di kantor."


" Baik, Ma. Hana bakalan tungguin Mama."


" Ya sudah sayang, lanjut lagi kerjanya. Assalamualaikum."


" Waalaikum salam, Ma."


Hana menyimpan ponselnya di atas meja dan kembali mengerjakan tugasnya yang sempat tertunda.


Sore hari pada jam pulang kerja, Hana bersiap-siap merapikan meja kerjanya karena sebentar lagi ia akan di jemput oleh Mama Ajeng.


Setelah selesai, Hana berniat mengetuk pintu ruangan Revan namun ia urungkan karena ponselnya terus berdering. Mama menelephone dan mengatakan ia telah sampai di basement dan sedang menunggu Hana.


Niat ingin pamit ia urungkan karena takut nanti Mama Ajeng lama menunggu. Akhirnya ia hanya mengabari Revan melalui pesan.


Hana turun dan menuju kearah basement di mana Mama Ajeng menunggunya. Dari jauh Hana sudah melihat Mama Ajeng di atas mobil membuka kacanya dan tersenyum kearah Hana.


Hana segera masuk ke dalam mobil. Hana pun menyalami tangan Mama Ajeng.


" Mama udah lama nunggunya?"


" Nggak kok sayang, Mama baru aja sampai. Mang jalan sekarang yah." Katanya pada Mang Urip.


" Siap, Bu."


Saat mobil telah jalan barulah Hana bertanya


" Kita mau ke mall mana, Ma?"


" Kita ke mall yang dekat sini aja sayang. Kalau kita muter-muter entar kena macet lagi."


Hana pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


" Ada yang mau Mama omongin sama Kamu sayang."


" Mau ngomong apa, Ma?"


" Nanti aja Mama kasih tahu."


"Mama mau ngomong apa yah, Hana jadi penasaran kan!" katanya dalam hati.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Happy reading guys nya😘


Jangan lupa like dan komennya.


Vote nya juga kk jangan lupa. Supaya Author semakin semangat nulisnya. Ditunggu yah, Makasih😊


Salam story from By_me...