Hati yang Patah

Hati yang Patah
ICU


Revan dan Hana menangis sambil berpelukan. Berkali-kali Revan mengucapkan kata maaf pada istrinya dan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa anaknya.


Setelah cukup lama menumpahkan kesedihan dengan sama-sama berpelukan, kini Hana melepaskan pelukannya dan memegang tangan suaminya dan membawanya menuju kursi.


Hana duduk di kursi menghadap kearah suaminya. Revan menunduk tidak berani menatap mata istrinya. Yang ia takutkan jangan sampai istrinya itu akan marah besar dan akan mendiaminya.


Hening untuk sesaat. Setelah cukup lama hening, Hana pun mengangkat kedua tangannya dan menangkup wajah suaminya dengan kedua tangannya. Diangkatnya wajah suaminya dan mata mereka saling bertemu.


Hana menggelengkan kepalanya. "Jangan menyalahkan diri sendiri, mas. Semua sudah takdir Allah."


"Kamu enggak marah sama aku?" Tanyanya dengan lirih menatap mata istrinya.


Hana lagi-lagi menggelengkan kepalanya. "Tapi sebelum itu, mas cerita apa yang terjadi sehingga Jihan bisa seperti ini."


Revan memegang tangan istrinya dan menggenggamnya erat.


Revan pun mulai menceritakan kronologi kejadian yang menimpa anaknya. Hana yang mendengarnya tak mampu menghentikan air matanya yang lagi-lagi membasahi wajahnya. Ia sungguh tidak sanggup membayangkan kesakitan anaknya. Badan kecilnya pasti sangat kesakitan saat merasakan peristiwa itu.


Revan memeluk badan istrinya dan berusaha menenangkannya. Dielusnya pundak istrinya untuk menenangkannya.


Sudah satu jam lebih mereka menunggu di depan ruangan operasi, namun tanda-tanda operasi selesai belum juga ada. Mereka masih harap-harap cemas menunggu kabar anaknya di depan ruangan operasi.


Dari arah samping tiba-tiba datang Papa Surya dan Mama Ajeng. Mama Ajeng langsung memeluk menantunya.


"Bagaimana dengan anak kamu, sayang?" Tanyanya saat melepaskan pelukannya.


"Jihan masih di ruangan operasi, Ma." Ucapnya lirih dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sabar ya, sayang. Jihan pasti sembuh. Mama yakin karena Jihan anak yang kuat!"


"Aamiin. Makasih, ya, Ma."


"Iya, sayang."


Hana, Mama Ajeng dan Ana duduk di kursi menunggu kabar Jihan. Sedangkan Revan dan Papa Surya sudah berada jauh dari Hana dan Mama Ajeng.


"Kamu pakai ini dulu." Papa Surya menyodorkan jaket kulit yang ia kenakan di badannya untuk anaknya, melihat Revan tidak memakai baju.


"Makasih, Pa."


"Kamu melihat plat nomor mobil yang tadi menabrak anak kamu?"


"Aku enggak sempat merhatiin, Pa. Aku tadi panik banget liat Jihan yang sudah terkapar bersimbah darah di pinggir jalan. Aku sudah berusaha untuk menyeberang jalan mau nolongin anak aku, tapi mobil itu tiba-tiba aja datang dari samping."


Papa Surya mengerutkan keningnya mendengar penuturan anaknya.


"Papa sudah suruh orang bayarannya Papa untuk mengecek cctv di sekitar situ. Jangan sampai orang itu memang sengaja ingin nabrak anak kamu."


"Aku juga enggak tahu, Pa. Tapi kalau sampai memang orang itu sengaja nabrak Jihan, aku sendiri yang akan membuatnya setengah mati. Biar dia rasain apa yang Jihan alami."


"Kamu tunggu aja kabar dari Papa. Secepatnya pasti mereka akan menemukan siapa tersangkanya."


"Makasih, Pa."


Setelah cukup lama berbincang-bincang di sana, Papa Surya dan Revan pun kembali lagi ke depan ruangan operasi. Mereka duduk di kursi menunggu kabar mengenai kondisi Jihan.


Sudah tiga jam mereka menunggu di depan ruangan operasi, namun belum juga ruangan itu terbuka.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Lampu ruangan operasi mati dan tak lama kemudian pintu itu terbuka.


"Bagaimana kondisi anak saya, dok?" Tanya Hana dengan tidak sabaran ingin mendengarkan berita baiknya.


"Benturan keras di kepalanya membuat kulit kepalanya sobek dibagian , namun untung saja perdarahannya dapat kami hentikan. Dan beruntungnya juga karena stok darah untuk anak anda pun tersedia sehingga memudahkan kami dan operasinya berjalan lancar. Kami akan memindahkan anak Anda ke ruangan ICU untuk dilakukan perawatan secara intensif sampai pasien dapat melewati masa kritisnya."


Semua orang menarik nafas dalam mendengarnya.


"Tapi anak saya pasti sembuh kan, dok?"


"Kami sudah berusaha dan untuk hasil akhirnya kita serahkan kepada Yang Maha Kuasa. Semoga anak Anda dapat melewati masa kritisnya. Kita tunggu sampai beberapa hari, semoga saja akan ada keajaiban dan anak Anda dapat kembali sadar."


"Kalau begitu, kami permisi." Ucap dokter tadi dan diikuti oleh dua orang lagi dokter di belakangnya dan meninggalkan Hana serta yang lainnya.


"Terima kasih, dokter." Ucap Hana dan Revan.


Tak lama kemudian, Jihan pun dibawa menuju ke ruangan ICU. Di dalam ruangan steril itu, Jihan tertidur lelap di atas ranjang pasien dengan beberapa alat yang berada di badan dan wajahnya. Hana lagi-lagi meneteskan air mata melihat kondisi anaknya di pembatas kaca jendela. Kepalanya di perban, alat bantu oksigen dan beberapa alat lainnya yang terpasang di badan dan jari tangan anaknya.


"Boleh, saya melihat anak saya sus?" Tanyanya saat suster keluar dari sana.


"Boleh, bu. Tapi hanya bisa satu-satu orang yang boleh masuk mengunjungi pasien!"


"Terima kasih, sus."


"Sama-sama, bu. Sekarang ibu ikut saya."


Hana pun mengikuti suster tadi untuk masuk ke salah satu ruangan dan memakai pakaian steril yang sudah disiapkan untuk mengunjungi pasien di ruangan ICU.


Hana masuk dan mendekati anaknya yang tertidur di atas ranjang. Diciumnya kening anaknya lama.


"Maafkan, Bunda, sayang. Seandainya bisa diganti, biar Bunda saja yang menggantikanmu, sekarang. Bunda enggak sanggup melihat kamu seperti ini, nak." Hana menangis menatap anaknya yang harus melewati masa kritisnya.


Hatinya bagai teriris saat menyaksikan kondisi anaknya. Hatinya lebih sakit saat menghadapi kenyataan kondisi anaknya yang seperti ini dibanding saat mengetahui kebenaran tentang perselingkuhan suaminya. Jihan adalah segalanya untuknya. Entah bagaimana jadinya apabila sesutu yang buruk menimpa anaknya. Tapi semoga saja itu tidak terjadi.


Lama ia menangis menatap anaknya hingga ia menghapus air matanya dan menampakkan senyum di wajahnya.


"Cepat bangun ya, sayang. Bunda sudah buatin makanan yang enak-enak untuk anak Bunda yang ompong ini. Adek di perut juga sudah sangat rindu ingin dielus sama kakaknya."


"Bangun, ya, sayang. Bunda, Ayah, dedek dan yang lain sudah sangat rindu sama celotehannya Jihan. Baru sebentar saja, Bunda sudah rindu sama anak ompongnya Bunda." Ucapnya tertawa, namun orang yang mendengarnya pasti mengira Hana seperti orang menangis.


Hana kembali mengajak anaknya berbicara walaupun tidak ada respon sama sekali dari anaknya.


Dari luar ruangan, tepatnya di kaca pembatas, Revan menitikan air mata melihat istrinya yang terus mengajak anaknya berbicara. Revan tahu istrinya itu berusaha menutupi kesedihannya dengan melakukan itu, namun raut wajah kesedihannya itu lebih mendominasi.


Ia pun menundukkan kepalanya dan bersedekap dada memeluk badannya. Tiba-tiba dari arah samping tanpa ia duga, ada seseorang yang langsung meninju rahangnya sehingga membuatnya jatuh tersungkur ke lantai.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Happy reading kakak readers๐Ÿ˜š


Aku kemarin janji up dua eps, hari ini aku udah ngelunasin janji aku dan up dua eps. Smoga kk semua enggak pada bosan yah baca karya aku. Karya aku udah hampir tamat, aku sengaja mau cepetin karena mau lanjut nulis novel yg satu dan rencana mau buat novel yg baru.


But, kira-kira siapa yang udah nabrak Jihan?๐Ÿค”


Kalian pikir" aja dulu deh. (vote nya jangan lupa ya๐Ÿ˜๐Ÿ˜‰. Like dan komen juga).


Salam story from By_me