Hati yang Patah

Hati yang Patah
Sedih


Selama berada di hotel yang mereka lakukan hanya berada di dalam kamar. Revan selalu meminta ibadah dengan istrinya. Kebanyakan waktu mereka habiskan di dalam kamar. Hana kelelahan menghadapi kemauan suaminya, namun tak bisa menolak. Revan sudah seperti seorang yang ahli dalam hal itu, mungkin karena insting kelelakiannya sehingga ia selalu meminta hal itu.


Rencana awal mereka akan menginap selama sehari lalu mereka akan pulang ke rumah. Namun ternyata Revan menambah lagi sehari waktu menginap di hotel. Di tengah kebahagiaannya menikmati waktu bersama istrinya, Mama Ajeng menelpon berkali-kali karena Jihan merengek ingin bertemu dengan Bunda dan Ayahnya. Sebenarnya Revan masih ingin berada di sana, namun keinginannya itu harus ia urungkan karena Jihan katanya sudah sangat rindu dengan Bunda dan Ayahnya.


Mereka check out dari hotel pada pagi hari. Tujuan mereka kali ini yaitu langsung ke kediaman Papa Surya karena Mama Ajeng memboyong semua orang rumah Hana ke rumahnya. Saat menelpon tadi dengan Mamanya, Revan dibuat penasaran dikarenakan Mamanya mengatakan akan memberikan sesuatu kepadanya. Dengan penuh rasa penasaran Revan menuju ke rumahnya.


Tak berselang lama akhirnya mereka telah sampai di sana. Mereka berdua berjalan menuju ruang keluarga. Di sana sudah berkumpul semua orang sedang asyik bercengkerama. Jihan yang melihat Ayah dan Bundanya telah sampai, seketika itu langsung berlari ke arah dua orang yang dirindukannya dan memeluknya bergantian.


Revan mengangkat Jihan dan menggendongnya menuju ke arah sofa. Hana dan Revan menyalami tangan orang tuanya satu per satu. Setelah itu mereka ikut bergabung di sana.


" Ayah sama Bunda kok lama sih pulangnya. Jihan kan, jadi kangen!"


" Maafin Ayah sama Bunda yah. Ayah sama Bunda masih ada urusan, makanya baru pulang."


Dan urusan mereka ini tidak bisa diganggu karena sangat private.


Mama Ajeng yang mendengarnya hanya bisa geleng-geleng kepala atas alasan anaknya.


Mereka kembali bercengkerama dan tertawa bersama. Di tengah kegiatan mereka, Ibu Suri meminta izin dan pamit kepada semua orang karena ia akan kembali ke Surabaya. Sebenarnya Hana sangat ingin agar ibu tinggal saja bersamanya, namun Ibu Suri menolak secara halus karena rumahnya di kampung sudah lama di tinggal dan ia juga harus merawat tanamannya disana. Mau tidak mau akhirnya Hana menerima keputusan dari ibu.


Sebagai menantu yang baik, Revan yang akan membiayai semua biaya kepulangan Ibu Suri mulai dari biaya pesawat hingga biaya taksi menuju rumah Ibu Suri di kampung.


Jadwal penerbangan Ibu Suri adalah pada sore hari. Pukul 2.30 Hana dan Revan sudah berangkat dari rumah untuk mengantar Ibu Suri ke bandara karena mereka harus berada di sana satu jam sebelum keberangkatan. Tak lama kemudian mereka akhirnya sampai di bandara Soekarno Hatta.


Hana dan Revan mengantar Ibu Suri sampai ke dalam. Revan memberikan koper Ibu Suri yang di berada di tangannya.


"Kalau ada waktu, Ibu pasti akan datang lagi mengunjungi kalian."


" Ibu baik- baik yah, di sana. Jaga kesehatan. Jangan terlalu memforsir tenaga Ibu dalam bekerja." Hening sesaat, Hana menjeda ucapannya sebelum kembali berbicara. "Hana sebenarnya berat melepas Ibu untuk pulang ke kampung." Ucapnya seraya menyembunyikan kesedihannya.


Ibu Suri yang melihat perubahan ekspresi Hana juga ikut bersedih karena harus berpisah lagi dengan mantan menantu yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Tapi ia berusaha menyembunyikan kesedihannya di depan anaknya dengan berusaha tersenyum.


"Ibu pasti akan baik-baik saja di kampung, nak. Jangan khawatir. Maafkan Ibu yang tidak bisa tinggal lama disini. Di sana kampung Ibu, tanah kelahirannya Ibu, tempat segala kenangan Ibu dengan bapak dan tempat Ibu mencari nafkah, jadi Ibu harus kembali."


Mata Hana sudah berkaca-kaca mendengarnya. Hana sangat sedih harus melepas Ibu kembali sendiri di kampung. Entah mengapa Hana merasa ucapan Ibu menyiratkan seakan Ibu tak akan kembali lagi.


"Ibu berdoa semoga kalian akan tetap bersama, kalau perlu sampai nanti di jannah, nak. Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian."


Hana sudah tak kuasa menahan air matanya. Ia menangis dalam diam.


"Ibu harap nak Revan bisa menjaga anak dan cucu kesayangan Ibu. Menerima segala kelebihan maupun kekurangannya. Jangan pernah kasar sama mereka. Ibu serahkan amanah sama nak Revan, semoga nak Revan bisa janji sama Ibu!"


"Dari awal ibu sudah percaya sama kamu, nak." Ucapnya dalam hati.


Ibu Suri beralih menatap Hana.


"Jadi istri yang patuh pada suami. Patuhi segala perintah suamimu, nak. Wanita adalah pakaian bagi suami dan suami juga pakaian bagi istri, kalian harus saling melengkapi dan saling memahami. Nak Hana harus janji sama, Ibu."


Hana dengan berurai air mata pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ia sudah tak kuasa menahan tangisnya. Sakit rasanya harus berpisah dengan Ibunya.


" Kalau begitu Ibu pamit yah, nak. Sehat-sehat selama di sini."


Hana kembali menganggukkan kepalanya. Setelahnya Hana berjalan mendekat dan mendekap tubuh Ibu memeluknya dengan erat. Hana meluapkan kesedihannya dan menangis di pelukan Ibu


"Hana sayang sama, Ibu!" Ucapnya tulus karena selama ini Ibu Suri lah yang menggantikan sosok seorang Ibu di hidupnya.


Ibu menepuk-nepuk punggung Hana pelan dan menganggukkan kepalanya. Air mata Ibu yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Ia berusaha menghapus air matanya, tak ingin di lihat oleh anak dan menantunya.


"Sudah, sudah. Jangan menangis lagi, kamu ini kenapa cengeng sekali. Ibu pasti akan datang lagi, nak. Sudah, jangan menangis lagi. Ibu mau pergi. Ibu tidak ingin melihat kamu bersedih."


Ibu pun melepaskan pelukannya dan menghapus air mata anaknya menggunakan kedua tangannya.


"Tuh, lihat muka kamu jadi jelek gara-gara menangis terus. Sudah, ah. Kamu kayak anak kecil saja." Hana tersenyum mendengarnya.


"Ibu pamit yah. Jaga Jihan selama Ibu di kampung." Hana menganggukkan kepalanya dan berusah tersenyum.


"Ibu pergi dulu, nak Revan. Ingat janji nak Revan tadi. Awas kalau sampai dilanggar!" Ucapnya lagi menegaskan


"Iya, Bu. Revan janji! Enggak bakalan dilanggar."


"Yasudah, Ibu harus masuk. Jaga diri kalian baik-baik. Assalamualaikum." Ucap Ibu untuk yang terakhir kali sebelum ia meninggalkan Revan dan Hana yang masih diam disana memperhatikan punggung Ibu Suri yang semakin lama tak lagi terlihat.


Revan memandang istrinya yang masih terlihat bersedih. Ia beralih memegang tangan istrinya lembut dan mengajaknya untuk pergi dari sana.


Saat sudah sampai di dalam mobil, Hana kembali menangis entah mengapa hatinya sangat sakit melepas kepergian Ibu untuk pulang ke kampung. Revan segera mendekap tubuh istrinya dan berusaha menenangkannya. Hana menangis tersedu-sedu di pelukan suaminya.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Part kali ini banyak sedihnya menurut aku. Enggak tahu deh menurut para readers. Tapi jangan lupa yak jempolnya, komen dan votenya agar author semakin semangat nulisnya dan bisa up tiap hari😊


Salam story from By_me