
Saat makanan telah datang, mereka pun mulai menyantap makanan pesanan mereka masing- masing.
Mereka menyantap makanannya dengan berbincang-bincang mengenai bisnis. Revan lebih banyak berbincang dengan sekertaris Arlan. Arlan hanya menanggapi sesekali.
Sorot mata Arlan tak pernah terlepas dari Hana. Ia memandang dengan tajam kearah Hana, namun yang dipandang seakan tak perduli dengan tatapan tajam dari suaminya.
Arlan menatap dengan tajam pemandangan di depannya. Bagaimana interaksi antara Revan dan Hana seakan mereka sudah menjalin hubungan yang lama.
Mereka berdua sangat akrab, ia merasa hubungan Hana dan Revan bukan sekedar bos dan karyawan, tapi ada hubungan lain.
Revan dan Hana sangat dekat, sesekali mereka berbicara sambil tertawa. Hana seakan tak memperdulikan Arlan yang memperhatikannya dengan sorot matanya yang tajam.
Arlan sangat marah, kesal, cemburu, semuanya bercampur aduk melihat kedekatan dua orang di depannya.
Revan yang dari tadi memperhatikan raut wajah Arlan yang tampak kesal, mencoba untuk memanas-manasinya dengan cara memberikan perhatian lebih kepada Hana dan yang mebuatnya menarik, Hana menyambut segala perlakuan Revan kepadanya.
" Gimana makanannya Hana, enak nggak?"
" Enak banget Mas, aku jadi ketagihan sama makanannya. Alhamdulillah kenyang."
Saat Hana mengatakan kata terakhir, ia mengelus-elus perutnya.
Revan yang melihat tingkah Hana, jadi senyum- senyum.
Revan yang melihat ada sisa saos di dekat bibir Hana berinisiatif untuk menghapusnya menggunakan sapu tangan.
" Kenyang sih kenyang, tapi jangan belepotan juga kali makannya. Kamu kayak anak kecil aja kalau lagi makan."
Revan berbicara sambil mengelap sisa saos di bibir Hana.
Hana yang diperlakukan seperti itu dengan Revan seketika diam mematung di kursinya.
Ia seperti anak kecil yang penurut.
" Udah, lain kali kalau makan tuh jangan belepotan."
Setelah di lihatnya Revan telah selesai dengan mengelap bibirnya, Hana kembali bersandiwara dengan menampakkan senyum manisnya kearah Revan
" Makasih yah, Mas Revan"
" It's okey."
Arlan menahan amarah dengan mengeraskan rahangnya melihat perlakuan Revan terhadap istrinya. Ia berkata dalam hati, " Berani- beraninya kau menyentuh istriku, kalau saja kau bukan rekan bisnisku sudah dari tadi aku meninjumu. Tapi lihat saja nanti, akan kubuat kau tak bisa lagi bertemu dengan Hana. "
Ingin rasanya Arlan berteriak di depan mereka, tapi ia berusaha untuk menahannya. Kemarahannya rasanya sudah mendidih sampai ke ubun-ubun.
Revan yang melihat tingkah Arlan yang seperti menahan amarah, meras puas karena sudah berhasil membuat Arlan cemburu. Ingin rasanya Revan tertawa jahat di depan wajah Arlan.
Revan sengaja melakukannya agar Arlan bisa juga merasakan sedikit sakit yang dialami Hana akan penghianatannya selama ini di belakang Hana.
Namun seketika pandangan Hana dan Arlan bertemu, mereka saling tatap-tatapan selama beberapa detik. Hana memandang Arlan dengan santai, sedangkan Arlan memandang dengan tatapan tajam menyiratkan akan kemarahan.
Namun segera Revan mengalihkan perhatian Arlan dengan membahas tentang beberap topik mengenai kehidupan pribadi Arlan.
" Oh iya, pak Arlan saya mengucapkan selamat atas pernikahan anda dengan nona Indah. Maaf kemarin sewaktu anda mengadakan pernikahan mewah saya tidak sempat hadir. Soalnya ada urusan bisnis di luar kota."
Arlan sangat tegang dengan penuturan rekan bisnisnya, karena Hana sekarang sedang ada di depannya. Apa yang harus ia lakukan. Akhirnya demi kesopanan ia pun menjawab,
" Te...terima kasih pak Revan. Saya maklum kalau anda tidak bisa hadir di pesta saya kemarin. Tidak masalah."
" Iya pak Revan, akan saya sampaikan."
Setelah berbicara dengan Revan, Arlan memandang ke arah Hana. Ingin memastikan ekspresi Hana, namun yang dilihatnya, Hana terlihat sangat santai tidak menampakkan kemarahan ataupun kesedihan.
Arlan seketika berfikir mengapa sikap Hana jadi dingin begini terhadapnya?. Apakah selama ini Hana sudah tahu mengenai pernikahannya dengan Indah, sehingga ia tampak sangat santai menanggapi hal ini.
Arlan berkata dalam hati " semoga saja Hana dapat mengerti dengan keadaanku saat ini dan ia mau memaafkanku. Aku yakin Hana pasti akan memaafkanku, secara dia sangat mencintaiku sudah sejak dulu, jadi tidak mungkin Hana akan meninggalkanku."
Setelah mereka semua selesai dengan santapan makan siang, mereka semua berdiri dan berniat untuk kembali karena meeting juga sudah selesai.
Mereka berjalan beriringan untuk keluar dari area restoran. Saat sudah di luar, Arlan berinisiatif untuk mengantar hana ke kantor, sekalian ia ingin berbicara empat mata dengan istrinya berniat menjelaskan semuanya.
" Nona Hana kalau anda tidak keberatan bolehkah saya mengantar anda?"
Hana memandang Arlan yang berusaha untuk mengantarnya kembali ke kantor, namun segera Revan batalkan niat Arlan.
" Maaf pak Arlan, tapi sekertaris saya tadi datang sama saya, jadi pulang juga harus sama saya."
Arlan semakin marah dibuatnya, karena lelaki di depannya ini seakan tidak mengisinkannya untuk berada dekat dengan Hana.
Istrinya juga tidak meresponnya sama sekali sudah sejak tadi. Arlan sangat marah karena ia berniat mengantar Hana namun Hana hanya diam saja dan ia juga lebih memilih diantar oleh bosnya daripada Arlan suaminya sendiri.
Hana langsung berkata," Mohon maaf pak Arlan, saya sama bos saya saja, lagian juga kantor kita kan beda arah jadi lebih efektif kalau saya pulang bersama bos saya pak."
" Tidak masalah nona Hana, saya bi..." belum sempat Arlan selesai berbicara sudah di potong oleh Hana
" Tidak usah pak, saya sangat berterima kasih akan kebaikan bapak. Saya sama bos saya saja. permisi pak."
Segera Hana membalikkan badan dan berjalan menuju mobil dan langsung menutup pintu.
" Kalau begitu saya permisi pak Arlan."
Saat selesai mengatakan itu Revan segera berbalik dan meninggalkan Arlan yang masih diam mematung ditempat, dengan tangannya yang ia kepal kuat sampai sampai kuku jarinya jadi putih.
Arlan masih diam mematung sambil memeperhatikan mobil Revan yang semakin lama semakin jauh.
" Ayo, kita kembali kekantor."
" Siap pak."
Sekertaris Arlan dari tadi memperhatikan tingkah bosnya ia pun merasa heran, mengapa tingkah bosnya seperti itu. Apakah bosnya ini mengenali perempuan tadi, karena yang ia lihat dari tadi semenjak meeting dan saat makan siang mata bosnya ini tak Pernah lepas memandangi sekertaris dari rekan bisnis bosnya.
Di dalam mobil Arlan masih diam memikirkan akan perlakuan Hana terhadapnya. Ia mengeluarkan rokok dan menghisapnya.
Lama ia diam dan karena sudah tak bisa lagi ia tahan ia pun berteriak di dalam mobil,
" Arghhhhhhh sial."
Sekertaris Arlan kaget akan teriakan bosnya yang sangat keras. Ia tak berani menatap kearah bosnya. Ia semakin yakin bahwa yang membuat Arlan kesal adalah wanita tadi, sekertaris pak Revan. Ia akan memberitahukan ini kepada bosnya.
Ya, selama ini sekertaris Arlan juga bertugas mematai-matai setiap gerak gerik Arlan. Karena ia adalah orang kepercayaan Indah, jadi setiap ada hal aneh yang dilakukan oleh Arlan akan segera ia laporkan kepada Indah dan arlan tidak mengetahui bahwa sekertarisnya ini adalah mata mata dari istrinya.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Happy reading guys nya😘😘
Salam story from by_me❤❤