
Setelah Farah sudah keluar barulah Revan mempersilahkan Hana untuk duduk.
" Duduk dulu Hana" kata Revan memepersilahkan Hana duduk.
Hana duduk dan tidak menatap kearah Revan, Revan yang melihat tingkah Hana berusaha mencairkan suasana.
" Kamu kapan sampai di Jakarta, kenapa tidak menghubungi aku?"
Bagaimana Hana mau menghubungi Revan kalau saat Hana mengiriminya pesan, pasti ponsel Revan tidak aktif.
" Coba lihat di ponsel Mas Revan, aku sudah menghubungi Mas Revan dari semalam tapi tak pernah dibalas" Hana menjawab dengan ketus.
Revan segera mengaktifkan ponselnya, ia baru ingat bahwa memang ia tak mengaktifkan pinselnya dari semalam karena sangat sibuk mengurus proyek yang ada di daerah Jakarta Selatan. Saat ponselnya sudah aktif kembali, banyak sekali masuk notifikasi pesan di ponselnya.
Revan langsung tersenyum kearah Hana
" Maafkan aku, kemarin aku sangat sibuk makanya tidak sempat mengaktifkan ponselku"
" Mas Revan sibuk banget yah, sampai sampai tidak bisa menunggu aku sampai dikantor dan lebih memilih wanita yang tadi. Apa karena wanita tadi yang seksi sehingga Mas Revan lebih mau bersama dia dibanding aku"
Entah mengapa Revan merasa kalau Hana sekarang cemburu dengan wanita yang tadi, bukankah kalau cemburu berarti tanda...
Revan senyum senyum memikirkan itu, Hana lagi lagi dibuat kesal oleh Revan karena bukannya menjawab malah senyum senyum tidak jelas.
" Udah mau jam pulang kantor, mending aku beres beres dan segera pulang"
" Bicara sama Mas Revan hanya bikin kesel" Hana bergumam pelan namun masih bisa didengar oleh Revan.
Setelah itu Hana berdiri dari duduknya dan berjalan keluar.
" Hana tungguin Masmu ini, Mas akan antar kamu pulang" Revan berkata sambil senyum senyum melihat tingkah Hana.
Segera Hana menutup pintu dan kembali ke mejanya.
Setelah keluar dari ruangan Revan, Hana membereskan mejanya dengan memasang tampang kesal karena ulah Revan.
Sedangkan Revan senyum senyum sendiri didalam ruangannya ketika mengingat tampang kesal Hana saat membahas wanita tadi.
" Kamu menggemaskan sekali sih Hana, aku jadi suka kamu cemburu seperti tadi" Revan bergumam pelan sambil masih mengingat ekspresi Hana yang tadi.
Namun Lamunannya buyar ketika mengingat bahwa ia akan pulang bersama Hana, segera Revan mengambil kunci mobilnya dan berlalu dari sana.
" Kamu sudah selesai, aku antar kamu pulang yah"
Namun Hana tak menghiraukan kicauan Revan, ia sibuk dengan membereskan mejanya. Setelah selesai, Hana mengambil tasnya dan berjalan mendahului Revan.
Segera Revan mengikuti Hana di belakangnya dan memasuki lift, didalam lift Hana lagi lagi tak menghiraukan Revan. Revan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena tingkah Hana yang seperti itu.
" Hana lagi datang bulan kali yah" Revan bergumam didalam hati melihat tingkah Hana.
Saat lift sudah terbuka, segera Revan mendahului Hana dan menghadang jalannya.
" Aku anterin kamu pulang yah, dimobil aku bakalan jelasin mengenai wanita yang tadi"
" Wanita yang tadi, maksud Mas Revan?"
" Udah ah, nanti dimobil baru aku jelasin semuanya, hari juga semakin gelap, nanti Jihan nungguin kamu di rumah"
Hana langsung menganggukkan kepalanya, setelah itu ia mengikut Revan menuju mobil. Revan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik ke arah Hana.
Hana tampak masih kesal, ia menggerutu pelan sambil mengerucutkan bibirnya. Revan yang melihat tingkah Hana senyum senyum sendiri.
" Begini yah rasanya kalau dicemburuin " Revan bergumam di dalam hati sambil terkekeh.
Hana memutar bola matanya, melihat tingkah Revan.
" Mas Revan kenapa, sakit, udah minum obat?"
" Nggak nggak, aku hanya lagi mikirin sesuatu yang lucu"
Setelah itu Hana tak lagi berbicara, Hana berdehem memberi kode kepada Revan agar dia menceritakan yang tadi, Revan melirik Hana mengerti dengan maksud Hana berdehem.
Segera ia menceritakan wanita yang tadi.
" Jadi wanita yang tadi namanya Farah, dia dari divisi keuangan yang menggantikan kamu selama seminggu ini"
Revan menghela nafasnya sejenak sebelum kembali bercerita.
" Alasan aku kenapa dia yang bersama aku kesana, karena aku harus pagi pagi datang ke lokasi proyek yang berada di daerah Jakarta Selatan. Sedangkan kamu waktu aku sampai belum datang, makanya aku ngajak Farah, kamu juga pasti masih capek habis dari perjalanan jauh kan"
" Aku minta maaf soalnya telat datang tadi"
" Nggak masalah, aku suka kok kalau kamu kayak gini"
Revan langsung melirik kearah Hana sambil tersenyum
" Kamu cemburu kan sama si Farah tadi" katanya menaik turunkan alisnya sambil senyum senyum kearah Hana.
" Siapa bilang kalau aku cemburu, aku nggak cemburu aku cuma...cuma nggak suka aja sama cewek yang tadi"
Muka Hana memerah dikatakan seperti itu oleh Revan, Hana langsung mengalihkan pandangannya kearah lain.
Revan terkekeh melihat perubahan sikap Hana
" Muka kamu kenapa Hana liat tuh dikaca " Revan langsung mengarahkan kaca kearah Hana
" Muka aku nggak kenapa napa" Hana masih memandang kearah luar, ia tahu saat ini wajahnya pasti memerah.
Melihat hal itu membuat Revan semakin tertawa terbahak bahak sampai sampai tak fokus menyetir.
" Mas Revan fokus " namun Revan masih saja tertawa, hal itu membuat Hana jadi bertambah kesal.
" Kalau Mas Revan nggak berhenti ketawa dan fokus nyetir, ini kali terakhir aku naik ke mobil kamu"
Mendengar hal itu membuat Revan seketika bungkam, kata kamu juga menandakan kalau Hana sedang marah sekarang, biasanya Hana selalu kalau berbicara dengannya menyebutnya dengan Mas bukan kamu.
" Iya ini lagi fokus "
" Good " Hana menyebutkan kata kata yang selalu dikatakan oleh Revan saat berbicara dengannya.
Tak lama kemudian akhirnya mereka sampai didepan rumah Hana, Revan memberhentikan mobilnya dan melepas sabuk pengamannya ingin ikut turun.
Melihat hal itu membuat Hana berhenti.
" Mas Revan mau kemana? "
" Aku mau ikut turun, pengen ketemu sama calon anak aku "
Mendengar hal itu membuat Hana memutar bola matanya jengah.
" Siapa calon anaknya kamu? "
" Si Ana "
" Ya jelas Jihan lah, kamu ini " Revan membuka pintu mobil dan ingin masuk kedalam.
Hana langsung membuka pintu dan mengejar Revan.
" Mas Revan "
" Ada apa? "
" Mas Revan boleh masuk asal nanti pas didalam jangan bicara sembarangan sama Jihan, ok "
" Ok "
" Tapi aku nggak janji jangan sampai aku keceplosan "
" Mas Revan mau masuk atau nggak " ancam Hana
" Iya iya, kamu bawel banget sih belum jadi istri aja udah kayak gini bagaimana kalau udah jadi istri nanti"
mendengar hal itu sontak membuat wajah Hana lagi lagi memerah, Hana langsung mengalihkan pandangannya.
" Kalau begitu.....jangan jadiin aku istrinya Mas Revan, aku nggak bakalan mau"
" Aku tahu kalau kamu mau, secara aku ini tampan, gagah, sholeh, baik hati dan dermawan lagi. Kurang apa coba aku ini " katanya membanggakan diri.
" Aku males ngomong sama Mas Revan, tingkat kepedeannya semakin tinggi " Hana kembali berjalan masuk, namun tiba tiba...
" Aku serius Hana, aku maunya kamu yang menjadi istriku, bukan orang lain. "
Hana langsung memberhentikan langkah kakinya mendengar hal itu, Hana berbalik badan dan menatap kearah Revan, mereka saling memandang dalam diam dan tiba tiba...
" Hana " suara Ibu memanggil Hana.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Happy reading guys nya😘
Jangan lupa like dan vote nya guys
Salam story from By_me