
Ibu mendengar isak tangis Hana dalam pelukannya, segera ia melepas pelukannya dan menatap wajah menantunya.
" Kenapa kamu menangis nak?"
Hana menghapus air mata di pipinya
" Hana nggak apa apa Bu, Hana cuma bahagia bisa ketemu sama Ibu lagi"
Ibu tersenyum mendengar jawaban menantunya yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.
" Ibu kirain kamu kenapa nak, yasudah ayo kita masuk"
" Nenek" Jihan berteriak dan berlari kearah neneknya.
Jihan memeluk neneknya sayang
Setelah kedatangan mereka sore itu, disinilah mereka didepan tv menonton sambil bercengkerama.
Jihan sudah menguap berkali kali, Hana yang melihatnya menyuruh Ana agar membawa Jihan kekamar. Tinggal Hana dan Ibu yang berada didepan Tv, tiba tiba ibu mengajak Hana berbicara.
" Bagaimana selama kamu di Jakarta nak?"
" Alhamdulillah selama di Jakarta, Hana dan Jihan bertemu dengan keluarga baru bu. Mereka Paman dan Bibi Kalista, mereka sangat baik sama kami. Hana sangat bersyukur bisa bertemu dengan mereka"
" Alhamdulillah kalau kalian baik baik saja disana. Terus, kenapa sumimu tidak ikut nak?. Kamu kan sudah janji sama Ibu, akan pulang bersama suamimu"
Hana terdiam mendengar perkataan Ibu
" Ya Allah hamba harus mulai dari mana, hamba takut nanti Ibu kenapa napa" Hana bergumam didalam hati
" Hana, kamu kenapa nak?"
" Hana tidak kenapa napa bu"
Hana terdiam sesaat sebelum kembali berbicara
" Ibu"
" Iya nak, kenapa?"
Hana meremas ujung bajunya
" Sebenarnya ada yang mau Hana beritahu tentang mas Arlan Bu"
" Suamimu kenapa nak"
" Sebenarnya...."
" Sebenarnya kami sudah bercerai Bu"
Mendengar penuturan Hana membuat Ibu terperanjat kaget.
" Maksud kamu apa nak?"
Hana menutup matanya sejenak
" Kami sudah bercerai Bu, dan mas Arlan sudah menikah lagi"
" Kenapa bisa jadi begini nak, ceritakan semuanya sama Ibu"
Hana menceritakan semuanya kepada Ibu, mulai dari saat ia mengetahui kebenarannya hingga mereka bercerai. Tangis Ibu seketika pecah mendengar cerita Hana.
" Maafkan Ibu nak, Ibu sudah salah dalam medidiknya. Anak Ibu sudah menyakiti hati kamu dan menghianati pernikahan kalian"
Hana mengangkat tangannya dan menghapus air mata diwajah Ibu.
" Kenapa Ibu harus minta maaf, Ibu tidak salah ini sudah takdir Allah Bu. Hana sudah menerima semua ini, walaupun awalnya sangat sakit tapi Hana mencoba untuk ikhlas dan mencoba menerima jalan takdir"
" Kamu sangat baik nak, Arlan pasti menyesal telah menyia nyiakan kalian. Ibu berdoa, semoga kamu nanti bertemu dengan lelaki yang lebih baik dan mencintai kalian sepenuh hati, tidak seperti anak nakal itu"
" Ibu jangan bilang seperti itu, bagaimanapun sikap mas Arlan dia tetap anak Ibu"
Ibu menganggukkan kepalanya, Hana memegang tangan Ibu
" Tapi Hana masih bisa kan menganggap Ibu sebagai Ibu Hana sendiri"
Ibu tersenyum mendengarnya lalu menganggukkan kepalanya
" Selamanya Ibu akan tetap menjadi Ibu mu nak, walaupun kalian telah bercerai tapi Ibu sudah menganggapmu sebagai anak kandung Ibu sendiri"
Hana berkaca kaca mendengarnya, segera Hana memeluk Ibu.
" Makasih ya bu"
" Iya nak"
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Sudah empat hari Hana di Surabaya tapi tak pernah memberi kabar kepada Revan. Hari ini Revan akan menghubungi Hana, ia akan berusaha mendekati Hana, ia sekarang sudah berani karena telah mendapat tips dari sahabatnya Rafael.
Rafael bilang kalau memang serius, dipepet terus sampai dapat. Jangan sampai si dia diambil orang, baru kau menyesal.
Mendengar hal itu, Revan jadi takut jangan sampai Hana benar benar akan diambil orang lain apalagi oleh Arlan.
" Kamu pasti bisa Revan, fighting"
Ia mencoba menghubungi Hana, panggilan pertama tidak diangkat, Revan kembali mencoba menghubungi Hana dan berhasil, Hana mengangkat panggilan Revan.
" Assalamualaikum mas Revan"
" Ada apa mas Revan nelpon malam malam?"
" Nggak ada apa apa, aku cuma mau dengar suara kamu"
Hana mengernyitkan keningnya dibalik telpon
" Halo Hana, kamu masih disana kan?"
" I- iya mas, mas Revan kan udah dengar suara Hana, jadi Hana tutup yah"
" Kamu nggak kangen sama bos kamu yang tampan ini?" Revan berbicara dengan pede nya dibalik telpon
"Yaampun, mas Revan bicaranya tambah ngelantur" Hana bergumam dalam hati
" Nggak, Hana nggak kangen. Mas Revan aja kali yang kangen sama Hana" Hana mencoba untuk menggoda Revan
" Kalau aku bilang aku kangen sama kamu, kamu percaya?"
Hana terdiam mendengar penuturan Revan
" Mas Revan ini kenapa, lagi sakit atau lagi mabuk. Bicaranya jadi ngelantur"
" Aku serius Hana, aku Revandra Bramana dalam keadaan sadar mengatakan kangen banget sama seseorang yang bernama Farhana Almeera"
Hana lagi lagi terdiam mendengar jawaban Revan, entah mengapa mendengar Revan mengatakan itu membuat jantung Hana seperti berlari marathon.
Hana bingung mau menjawab apa
" Halo Hana"
" I-iya mas Revan, kenapa.... mas Revan bisa kangen"
" Bodoh, bodoh, pertanyaanmu sangat bodoh Hana" Hana berkata dalam hati
" Alasan seseorang kangen itu karena apa kira kira Hana?, aku tanya sama kamu"
" Mati aku, pertanyaannya menjebak" Hana lagi lagi merutuki kebodohannya.
" Jawab Hana"
" Karena.... karena lama tidak berjumpa makanya jadi kangen. Iya, karena itu"
" Tidak semua orang yang pergi dan menjauh darimu membuatmu merasa kangen. Hanya kepada orang tersayanglah, yang membuat kita merasakan hal itu. Kamu semakin nyaman sama dia, nggak pengen jauh dari dia, dan ingin selalu dekat dia"
" Jadi defenisi kangen menurut aku, ya itu yang tadi aku bilang"
Hana terdiam kaku mendengar jawaban Revan
" Mmm...Mama dan Papa sehat sehat saja kan?" Hana mencoba mengalihkan pembicaraan
" Hana"
" Hana titip salam ya sama Mama dan Papa"
" Hana dengar aku dulu"
" Oh yaudah Hana tutup telpon ya mas"
" Hana aku cinta sama kamu" Revan berkata dengan suara lantang.
deg...deg...deg....deg
Mendengar perkataan Revan membuat Hana jadi mematung dengan jantung yang berdeguk kencang.
" M-mas Revan tadi bilang apa?"
" Aku cinta sama kamu Farhana Almeera, aku tidak tahu kapan rasa ini ada, tapi aku sudah mencoba meyakinkan diriku, apakah ini cinta atau hanya kekaguman semata dan ternyata jawabannya, memang aku telah jatuh cinta kepada seorang Farhana Almeera"
" Mas Revan mungkin salah mengartikan perasaan mas selama ini"
" Aku tidak mungkin salah Hana, selama ini aku tidak pernah sekalipun jatuh cinta kepada orang lain. Tapi tidak setelah ada kamu, cinta ini tumbuh dan aku mencintaimu karena Allah"
" Apa yang harus aku lakukan mas, a-aku tidak pantas mendapatkan cintamu. Dengan status sosialku yang seperti ini, aku tidak pantas untuk kau cintai"
" Aku tidak pernah memandang status sosialmu Hana, aku tulus mencintaimu dan ingin membahagiakanmu dengan anakmu"
" Terimalah aku Hana, aku serius denganmu"
" Maafkan aku mas, tapi aku mohon beri aku waktu untuk memikirkannya. Kalau memang kita berjodoh maka kita akan dipersatukan oleh yang maha kuasa. Bukannya aku menolak, tapi aku ingin memantapkan hatiku dulu mas"
" Aku tunggu jawaban kamu Hana"
" Iya mas, kalau begitu Hana tutup dulu, assalamualaikum"
" Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh"
Telepon pun tertutup.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Happy reading guys nya😘
Jangan lupa like, komen dan vote nya kk
Salam story from By_me