
"Yasudah, Jihan boleh tidur sama Ayah dan Bunda."
Mendengar itu membuat Jihan berbinar dan segera berlari masuk mencari Bundanya. Revan menutup pintu dan menghela nafas
karena tidak jadi malam pertama. Kegiatan mereka tertunda oleh ulah gadis kecil.
Jihan berlari masuk ke dalam mencari Bundanya. Ia membuka pintu kamar dan mengintip mencari Bundanya. Matanya berbinar saat melihat Bundanya berada di atas kasur. Tapi mengapa penampilan Bundanya seperti itu? Tanya Jihan dalam hati memperhatikan Bundanya yang rambutnya agak berantakan.
" Bunda." Teriak Jihan dan berjalan masuk ke kamar.
Hana melihat anaknya masuk ke kamarnya dengan membawa boneka kesayangannya, boneka yang selalu menemaninya ketika tidur.
"Ada apa sayang? Jihan sama siapa kesini? kenapa belum tidur? Pertanyaannya beruntun kepada anaknya.
" Pertanyaannya satu-satu, Bunda!" Jawabnya sambil mengerucutkan bibirnya.
Hana terkekeh melihat respon anaknya.
" Yasudah, sekarang Bunda tanya kenapa Jihan belum tidur? Ini kan, sudah tengah malam, sayang."
Revan masuk kamar dengan wajah yang ditekuk. Hana memandang sekilas suaminya dan kembali memandang anaknya ingin mendengar penjelasannya.
" Jihan enggak bisa tidur, Bunda. Makanya Jihan kesini."
" Terus?"
" Jihan malam ini mau tidur sama Bunda, sama Ayah juga!"
Oh, Hana mengerti sekarang mengapa suaminya dari tadi saat Jihan masuk hanya bisa menekuk wajahnya malas. Ternyata karena ulah Jihan toh!.
Hana melempar senyum kepada Revan. Senyum yang menyiratkan pesan didalamnya. Revan hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah.
"Nenek tahu kalau Jihan kesini?" Tanyanya, jangan sampai anaknya pergi tanpa memberi tahu neneknya dan membuat neneknya khawatir.
Jihan pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Jihan lalu menguap pertanda bahwa ia sudah mengantuk.
" Yasudah, sekarang Jihan tidur yah!"
Namun bukannya menjawab, anaknya malah menggelengkan kepalanya yang membuat Hana jadi bingung.
" Loh, tadi katanya mau tidur. Sekarang malah nolak."
" Bukan karena itu, Bunda."
" Lalu karena apa, sayang?"
" Itu." Tunjuknya pada bunga-bunga yang bertebaran diatas kasur. Hana mengerutkan keningnya karena tidak mengerti dengan maksud anaknya.
" Iya, bunganya kenapa, sayang?"
" Ish, Bunda. Bagaimana caranya kita mau tidur kalau banyak bunga diatas kasur, Bunda. Nanti badan Jihan gatel-gatel."
Seketika itu juga Hana tertawa atas jawaban anaknya. Benar juga sih, kata anaknya. Revan hanya bisa geleng-geleng kepala.
" Yasudah, kita bersihin sama-sama bunga-bunganya."
Akhirnya mereka membersihkan kasur dari banyaknya taburan kelopak bunga mawar merah. Sungguh malang nasib Revan malam ini, tak jadi malam pertama dan juga riasan bunga mawar merah yang membuat kesan intim harus dibuang. Revan sungguh di buat gemas oleh tingkah anaknya. Ingin rasanya Revan mencubit pipinya.
Setelah selesai membersihkan kasur dari kelopak mawar, mereka pun bersama-sama naik ke atas ranjang. Jihan tidur di tengah-tengah pasangan pengantin baru.
Mereka tertidur sambil berpelukan layaknya teletubies. Tak butuh waktu lama anaknya segera tertidur.
Revan memperhatikan wajah istri dan anaknya. Betapa bahagianya ia karena akhirnya bisa menjadi sandaran untuk keduanya.
Tiba-tiba Hana membuka matanya dan seketika itu pandangan mereka berdua bertemu. Mereka hanya saling memandang dalam diam untuk waktu yang cukup lama.
" Kenapa belum tidur?" Katanya setengah berbisik takut mengganggu tidur anaknya.
" Belum mau aja, Mas." Jawabnya yang juga setengah berbisik.
" Aku tahu caranya supaya kamu bisa cepet tidur!"
" Apa itu?" Tanyanya penasaran.
Tiba- tiba Revan turun dari kasur dan memutarinya menuju kearah istrinya.
" Mas Revan mau ngapain?"
" Mau nidurin kamu!"
" Maksudnya?" Jangan sampai nidurin yang itu. Tapi kan Jihan ada disini, batinnya cemas.
" Mas Revan mau ngapain?"
" Boleh kan, aku meluk kamu?"
Hana mengerjabkan matanya berkali-kali mendengar suaminya. Hana pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Tanpa menunggu waktu lama lagi, Revan segera memeluk istrinya dan menggunakan tangannya sebagai bantalan kepala istrinya.
" Walaupun enggak bisa malam pertama, tapi kalau meluk pasti bisa." Gumamnya dalam hati penuh kemenangan.
Hana membalas pelukan suaminya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Pelukannya terasa hangat. Revan mencium puncak kepala Hana berkali-kali lalu setelah itu mereka tertidur dengan saling memeluk.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Jihan terbangun dari tidurnya dan mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan sinar matahari yang masuk melalui celah gorden.
Ia melihat ke sampingnya dan mendapati Ayah dan Bundanya tidur saling berpelukan. Jiwa nakal Jihan terdorong untuk menjahili dua orang di depannya. Jihan tertawa pelan dan memulai aksinya.
Jihan berdiri dan langsung naik ke atas badan antara Ayah dan Bundanya sambil merentangkan kedua tangannya. Kelakuan Jihan seketika membuat pelukan Ayah dan Bundanya terlepas sehingga membuat Jihan sekarang berada di tengah antara Ayah dan Bundanya.
Revan dan Hana terbangun dan mendapati Jihan sudah berada di tengah-tengah mereka sambil tersenyum menampakkan gigi ompongnya.
"Kamu nakal yah, jahilin Bunda sama Ayah."
Jihan nyengir tanpa dosa.
" Maaf, Bunda. Jihan sengaja." Jawabnya dengan senyum-senyum.
"Kita kasih hukuman aja, anak ompong ini, Bunda." Kata Revan menimpali
" Setuju."
Jihan yang mendengarnya langsung menutup matanya, pasrah dengan hukuman yang akan didapatkannya.
" Satu, dua, tiga!" Revan dan Hana langsung menggelitiki anaknya hingga membuat Jihan tertawa terpingkal-pingkal tak kuasa menahan gelitikan Ayah dan Bundanya.
" Su-sudah. Ji-han minta maaf. Ampun!"
Bukannya berhenti, Hana dan Revan semakin menggelitiki anaknya dan tertawa puas. Namun
Melihat Jihan yang menyerah membuat Hana dan Revan menghentikan gelitikannya.
" Bagaimana? Masih mau jahilin Bunda sama Ayah?"
" Ampun Bunda, Ayah. Jihan kapok, enggak lagi-lagi deh!"
" Bener?" Kata Revan menimpali
" Beneran Ayah. Udah ah, sekarang kita bangun. Jihan udah lapar, cacing di perut Jihan udah dari tadi minta makanan."
" Cacing di perutnya Jihan atau Jihan yang mau?"
" Dua-duanya Ayah!"
Benar saja setelah mengatakan itu perut Jihan berbunyi minta untuk diisi. Jihan hanya bisa nyengir sedangkan Hana dan Revan tertawa dibuatnya .
Setelah drama di pagi hari selesai akhirnya setelah mereka semua selesai mandi, mereka menuju restoran untuk sarapan. Di sana sudah ada kedua orang tua Revan, Paman dan Bibi, kalista, Ibu Suri dan Ana.
Mereka duduk berdampingan. Semua mata memandang kearah pasangan pengantin baru yang terlambat datang untuk sarapan. Mereka pun memulai sarapan dengan berbincang-bincang ringan.
" Pengantin baru bangunnya terlambat, yah! Ngapain aja semalam? kupingnya udah jadi enggak?" Kata Kalista bertanya frontal kepada pasangan pengantin baru.
Mendengar pertanyaan frotal sahabatnya membuat Hana tersedak makanannya. Revan segera memberi minum kepada istrinya dan menepuk-nepuk punggungnya.
Sumpah demi apapun Hana sangat malu mendengar pertanyaan frontal Kalista di depan semua orang. Ingin rasanya Hana mengedipkan mata dan menghilang dari sana layaknya di film-film.
" Kalista! Apaan sih."
" Jawab aja yang jujur Hana." Sambil menaikturunkan alisnya menggoda sahabatnya.
" Udah, udah. Kalista kamu juga pertanyaannya ngawur aja. Enggak usah perduliin Kalista, sayang. Anggep aja Kalista itu hanya kentang. Lanjut aja makannya." Kata Mama Ajeng menimpali.
Semua orang sontak tertawa mendengarnya. Kalista yang mendengarnya tak perduli dan kembali menggoda pasangan pengantin baru di depannya.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Aku up lagi nih. Jangan lupa yak, kasi jempolnya, komen dan votenya agar author semakin semangat nulisnya😘
Bye-bye...