Hati yang Patah

Hati yang Patah
Hanya Seorang Lelaki Pecundang


Arlan berjalan mendekati meja mantan istrinya. Tatapan penuh tanda tanya Revan layangkan melihat keberadaan Arlan yang kini meminta izin padanya untuk ikut bergabung.


"Silahkan!" Ucap Revan pada akhirnya karena Arlan kini berada di depannya.


Arlan menarik kursi di depan Hana dan juga Revan. Mereka saling tatap-tatapan untuk sesaat sebelum Arlan memulai pembicaraan diantara mereka.


"Jadi, ada sesuatu yang ingin aku katakan kepada kalian." Arlan menjeda ucapannya, terlihat kali ini Arlan meremas kedua tangannya yang ia letakkan di atas meja.


"Katakanlah!" Ucap Revan dengan penuh rasa penasaran.


"Sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan ini, tapi aku menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakannya kepada kalian."


"Apa itu, katakanlah pak Arlan!" Tegas Revan lagi.


Hana fokus menyuapi satu persatu anaknya, namun telinganya ia pasang untuk mendengarkan pembicaraan Arlan dan juga suaminya.


"Sebenarnya aku ingin meminta sesuatu kepada kalian."


"Apa itu, pak Arlan. Kalau kami bisa, pasti akan kami berikan apa yang Anda inginkan!"


"Aku meminta agar Jihan bisa ikut tinggal bersama denganku dan juga Indah. Aku memohon dengan sangat agar kalian memberi izin agar Jihan bisa ikut bersama kami."


Mendengar ucapan Arlan membuat Hana memberhentikan kegiatannya menyuapi anak-anaknya. Hana menyimpan mangkok berisi bubur anak-anaknya di atas meja dan menatap Arlan dengan tatapan tajam.


"Untuk yang satu itu aku tidak bisa berikan." Ucap Hana tegas pada mantan suaminya. "Anda tidak mendengar ucapan hakim saat di pengadilan waktu itu! Hak asuh Jihan jatuh pada tanganku!" Hana mengatakannya dengan lantang dan penuh ketegasan. "Peraturan itu adalah hal yang mutlak dan Anda tidak bisa mengganggu gugat ataupun melanggarnya!"


Arlan menundukkan kepalanya sejenak. Mencerna setiap ucapan mantan istrinya. Arlan menghebuskan nafas kasar dan setelah itu ia kembali berbicara.


"Aku tahu itu. Tapi peraturan itu bisa diubah kalau kamu sendiri yang mengizinkan anakku bersama denganku."


"Peraturan dari mana itu! Setelah hakim telah mengetok palu, saat itu juga peraturan itu tidak bisa diganggu gugat." Hana mengatakannya dengan penuh amarah. Revan yang melihat ekspresi istrinya berusaha untuk menenangkannya.


"Sabar, sayang, sabar. Tarik nafas dulu. Bicarakan semuanya dengan kepala dingin."


Hana pun melakukan apa yang suaminya katakan. Ia mencoba menenangkan dirinya. Bagaimana bisa lelaki yang ada di depannya ini meminta sesuatu yang tidak akan mungkin ia berikan. Walaupun lelaki di depannya ini adalah ayah biologis dari anaknya, namun haknya sudah terlepas saat ia memilih jalannya sendiri.


"Maafkan aku kalau permintaan ku ini sangat memberatkan kalian. Tapi, kali ini saja aku mohon... Izinkanlah Jihan untuk tinggal bersama kami."


Hana hanya bisa mengepalkan tangannya mendengar setiap kata yang keluar dari mulut mantan suaminya. Diangkatnya pandangannya menatap mantan suaminya dengan alis yang bertaut.


"Aku mohon!" Ucap Arlan sekali lagi dengan penuh harap.


Hana lagi-lagi hanya menatap Arlan dengan begitu banyak kata-kata yang ingin keluar dari mulutnya.


"Kenapa... kenapa baru sekarang kamu datang dan mengacaukan semuanya. Bukankah dulu kamu sendiri yang meninggalkan tanggung jawabmu pada anakmu, hah!" Air mata Hana menetes ketika mengingat yang telah ia lalui dengan anaknya.


Arlan tidak menyahuti apa yang Hana katakan. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya mendengarnya. Meresapi setiap kata yang terucap dari mulut mantan istrinya. Matanya ikut berkaca-kaca menyesali apa yang dulu ia lakukan.


"Maafkan aku kalau aku sangat egois dan tidak mengizinkan Jihan untuk ikut bersamamu. Tapi asal kamu tahu, mulai saat kamu tidak ada kabar dan melepas tanggungjawabmu pada anakmu, mulai saat itu juga Jihan hanya anak aku!" Tegasnya. "Aku yang membesarkannya seorang diri, aku juga yang menggantikan peran seorang Ayah, disaat Ayahnya sendiri tidak memperdulikannya."


Itu ucapan terakhir yang Hana ucapkan untuk melepaskan segala unek-unek yang memang sangat ingin ia utarakan pada mantan suaminya.


"Kita pulang sekarang, mas!" Tegas Hana pada suaminya. Hana mengangkat Dava yang masih berada di kursi. Kedua anaknya yang tidak mengerti sama sekali harus memperhatikan segala yang terjadi.


Revan pun tak punya pilihan lain. Ia mengangkat Devan dari kursi setelah menyimpan tip di atas meja untuk makan malam mereka.


Sebelum berlalu dari sana, Revan berhenti di samping Arlan dan menepuk pundaknya pelan.


"Tenang saja, akan ada jalan keluar untuk semuanya." Setelah itu, Revan berjalan mengikuti istrinya dari belakang.


"Kita pulang sekarang, sayang!" Ucap Hana pada anaknya saat sudah berada di meja mantan suaminya.


Jihan mendongakkan kepalanya menatap Bunda dan Ayahnya.


"Bagaimana dengan Ayah Arlan, Bunda?" Tanyanya karena Ayahnya (Arlan) tidak ikut bersama Bunda dan Ayahnya(Revan). Ayah Arlannya masih diam duduk di sana.


"Ayah Arlan masih lama di sini, sayang. Sudah malam. Adek-adeknya Jihan juga sudah ngantuk."


"Yaudah, Jihan mau pamit dulu sama tante Indah." Hana pun mengizinkan anaknya untuk pamit kepada Indah.


Jihan pun menghadap kearah Indah dan menyalami tangannya. Indah mengelus rambut Jihan saat Jihan menyalami tangannya. Reaksi yang tidak biasanya Indah lakukan.


"Jihan pulang dulu, ya, tante. Sebelumnya, makasih karena tante udah traktir minuman enak untuk Jihan."


"Sama-sama, cantik." itu yang Indah katakan dengan senyum tulus ia berikan pada anak tirinya.


"Dadah!" Jihan melambaikan tangan pada Indah dan berlalu dari sana bersama dengan Ayah, Bunda dan kedua adiknya.


Sedangkan Indah yang masih berada di sana, matanya kini tertuju pada meja di mana suaminya sedang duduk. Walaupun Indah tidak mendengar apa yang mereka ucapkan, tapi Indah yakin sedang ada masalah serius yang tadi mereka bahas.


Indah bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati suaminya. Saat sudah sampai di sana, matanya menatap suaminya yang sedang meneteskan air mata.


Indah mengangkat kepala suaminya agar menatapnya. Terlihat di raut wajahnya sedih yang mendalam. Indah pun tidak banyak tanya, ia menghapus air mata suaminya.


"Kita pulang sekarang, yuk." Ajaknya dengan nada pelan. Arlan mencoba memperbaiki penampilannya dan setelah sudah rapi, ia pun bangkit dari duduknya.


Mereka berjalan keluar dari area restoran. Ucapan Hana tadi seakan langsung menikam hatinya. Hatinya sakit saat mendengar apa yang tadi Hana ucapkan tentang masa-masa sulit yang anaknya telah lalui atas perbuatannya sendiri. Mungkin memang ia tidak pantas untuk mendapat sebutan sebagai seorang Ayah. Ia hanyalah seorang lelaki pecundang. Tidak pantas disebut sebagai seorang Ayah.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Happy reading kakak. Jangan lupa like, komen dan vote nya yang kenceng. Sisa beberapa bab lagi novel ini akan aku tamatin, yak. Novel (Membalas perselingkuhanmu) juga akan aku usahain selesai bulan depan. Krn aku mau nulis novel baru🤗😚


Salam story from By_me