Hati yang Patah

Hati yang Patah
Saya ini Ayahnya


Jihan memikirkan percakapannya semalam dengan Bundanya. Ia memiliki ide cemerlang. Jihan ingin menguji dulu calon ayahnya apakah dia bisa lolos seleksi dan menjadi ayah sambungnya.


Memikirkan itu membuat Jihan tersenyum miring. Proses seleksi akan dimulai, batinnya.


Jihan memikirkannya sambil senyum-senyum, hal itu tak luput dari perhatian Revan


Mereka sekarang bersama-sama berada di ruang keluarga. Revan mau mengajak mereka jalan-jalan namun Hana menolak karena ia ada urusan di luar.


Niat awal Revan mengajak mereka jalan-jalan akhinya gagal total. Hana baru saja pergi di jemput oleh mang Urip dan tersisa Revan, Jihan, Ibu Suri dan Ana saat itu.


" Untung Bunda pergi, jadi Jihan bisa memulai aksi hihihiww." Jihan tertawa dalam hati sambil melirik ke arah calon ayahnya.


" Om Revan sudah makan belum?"


Revan yang sedang berbincang-bincang dengan ibu Suri langsung mengarahkan perhatiannya ke arah Jihan.


" Belum, sayang."


" Gimana kalau om Revan masak buat Jihan. Jihan sebenarnya pengen banget coba masakannya om Revan. Pasti bakalan enak deh!"


Jihan memulai aksinya menguji calon ayahnya.


" Ayo, kita lihat apa om Revan bisa masak atau enggak." Gumamnya dalam hati.


Tiba-tiba neneknya menyela ucapan Jihan.


" Om Revannya kan, baru datang sayang. Biar nenek saja sama Ana yang masak, yah!"


Namun Revan langsung berbicara


" Enggak apa-apa bu!. Biar Revan saja yang masak."


" Kalau Jihan yang minta, om Revan nggak bisa nolak." Revan tersenyum dan mengacak-acak rambut Jihan.


" Yaudah, sekarang Jihan mau om masakin apa?"


" Terserah om aja deh, yang penting enak."


Katanya tersenyum menampakkan gigi ompongnya.


" Ok, siap princess." Setelah mengatakan itu


Revan berjalan ke arah dapur diikuti oleh Jihan di belakangnya.


Jihan duduk di kursi meja makan dan fokus memperhatikan Revan di dapur.


Revan membuka kulkas dan melihat bahan apa kira- kira yang bisa dimasak. ia mengambil satu persatu bahan makanan yang akan ia masak dan menaruhnya di dapur.


Sebelum memulai memasak, ia mengambil apron dan memakainya lalu setelah itu ia memulai aksinya memasak. Revan terlihat sangat lihai di dapur. Ia kesana kemari mengambil beberapa bahan yang ia butuhkan.


" Masak yang enak yah, om." Jihan setengah berteriak karena sekarang calon ayahnya itu terlihat sedang menumis sesuatu.


Revan yang mendengarnya langsung mengacungkan jempol sebagai jawaban. Ia sangat fokus memasak. Keringat bercucuran di dahinya karena berada di depan kompor.


Setengah jam kemudian akhirnya acara memasak dadakannya pun selesai. Ia melepas apron di badannya dan membawa satu per satu makanan yang sudah ia masak.


Revan memasak ayam tumis kecap, sayur soup, perkedel jagung dan tak lupa membuat jus jeruk untuk semua orang.


" Sudah, sekarang Jihan panggil nenek sama Ana di depan yah, sayang."


" Siap, om." Jihan segera memanggil neneknya dan Ana yang ada di ruang keluarga.


Tak lama kemudian akhirnya mereka pun datang dan langsung duduk di meja makan.


" Wah, nak Revan ternyata bisa masak. Sudah cocoklah untuk menikah." Ibu berusaha menggoda Revan.


Revan yang mendengarnya pun tersenyum.


" Iya bu. Saya sudah siap kok, lahir batin." Katanya, tapi hanya dalam hati.


" Ibu bisa aja. Mending sekarang kita makan mumpung masih anget."


Mereka pun memulai makan siang. Saat pertama kali mereka mencoba masakan Revan, mereka terkagum karena masakan Revan ternyata enak.


" Om Revan ternyata bisa masak. Ujian pertama om Revan lulus, Tapi tunggu ujian selanjutnya." Jihan bergumam dalam hati sambil memakan hasil masakan calon ayahnya.


" Gimana masakan om Revan, sayang?" Tanyanya pada Jihan yang sedang makan dengan lahap.


" Masakannya om Revan enak banget." Katanya sambil mengacungkan jempolnya.


Revan tersenyum menang karena masakannya dipuji oleh calon anaknya. Selangkah lagi maka ia akan mendapatkan restu dari calon anaknya. Semoga saja, batinnya.


Mereka makan siang dengan suasana hangat. Jihan dan Revan saling melempar candaan. Ibu dan Ana hanya bisa tersenyum melihat kedekatan mereka.


Setelah selesai makan siang, mereka kembali ke ruang keluarga. Ibu Suri yang saat itu sangat mengantuk akhirnya tertidur di sofa. Jihan kembali menguji calon ayahnya dengan memintanya agar mau didandani ala-ala barbie olehnya. Dengan terpaksa ia pun menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ia sedikit takut didandani oleh Jihan karena terakhir kali saat ia didandani, hasilnya itu sangat...hancur. Sampai-sampai ia menjadi bahan tertawaan saat itu.


" Om Revan cantik banget. Coba deh, liat di kaca hasilnya." Katanya yang berusaha menyembunyikan tawanya.


Revan mengambil kaca kecil dan dengan pelan-pelan mengarahkannya ke wajahnya. Sontak ia terkaget melihat wajahnya yang terlihat seperti habis ditabok. Wajahnya merah sana-sini karena hasil karya dari calon anaknya.


"Heem, hasilnya cantik banget sayang. Nggak mirip sama om Revan." Ia menjawab dengan nada pelan.


" Terus mirip siapa om?"


" Mirip Mimi peri."


"Pfttttt hahahahah" Tawa Jihan sudah tak bisa ia tahan lagi. Perkataan Revan sontak membuat Jihan tertawa terpingkal-pingkal.


Revan mendengus kesal sambil berusaha menghapus make up di wajahnya. Lagi-lagi ia jadi bahan tertawaan.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


" Unda kemana yah, om?"


" Bunda tadi ngirim pesan, katanya sekarang lagi sama nenek."


" Masih lama nggak pulangnya, om?"


" Om juga nggak tahu, sayang."


" Jihan sebenarnya mau minta izin sama Unda."


" Memangnya Jihan mau kemana?"


" Jihan mau jalan-jalan ke taman om. Disana banyak teman-teman yang main kalau sore gini."


" Ayo, kita ke taman. Nanti om yang bakalan izinin Jihan ke Bunda."


Mendengar itu membuat Jihan berbinar.


" Beneran, om?"


" Iya, sayang."


" Kalau begitu, kita pergi sekarang yah, om." Jihan langsung berdiri dari duduknya.


"Kita pamit sama nenek dulu baru pergi ke taman."


Jihan pun menganggukkan kepalanya dan mereka berdua pamit kepada Ibu Suri setelah itu, mereka menaiki sepeda menuju taman.


5 menit kemudian akhirnya mereka sampai di taman. Di sana banyak sekali anak-anak yang bermain di dampingi oleh orang tuanya.


Revan memarkirkan sepedanya dan mengikuti Jihan yang sudah berlari duluan menuju taman bermain. Revan duduk menunggu Jihan di kursi taman sambil memperhatikannya bermain.


Awalnya mereka bermain dengan tenang, tapi tiba-tiba ada anak yang seumuran dengan Jihan langsung mengejek Jihan dengan mengatakannya tidak punya ayah, karena tak pernah melihatnya bersama ayahnya. Dia mengatakan Jihan tidak seperti dirinya yang setiap datang bermain pasti diantar oleh orang tuanya.


Jihan yang diejek seperti itu berusaha melawan.


" Siapa bilang Jihan tidak punya Ayah. Ayahnya Jihan masih ada. Kamu saja yang tidak pernah lihat."


" Memang kamu itu tidak punya Ayah. Setiap kamu kesini, pasti tidak pernah diantar oleh Ayahnya kamu. Tidak seperti kami semua, setiap kesini pasti sama Ibu dan Ayah."


Skak mat. Benar kata mereka Ayahnya tak pernah mengunjunginya dan mengajaknya bermain seperti anak-anak yang lain.


" Tapi Jihan masih punya Ayah." Katanya lirih.


Jihan tak bisa lagi menyela. Ia menundukkan kepalanya dan setetes air mata bening mengalir di wajahnya. Jihan sangat sedih. Benar kata temannya, mereka tak pernah melihatnya datang bersama Ayahnya.


Revan yang melihatnya dari jauh merasa geram akan tingkah anak itu yang telah membuat Jihan menangis. Lebih geramnya lagi, karena para orang tua hanya menyaksikan tanpa membubarkan aksi bully-an anak itu.


Revan berjalan ke arah Jihan. Sontak membuat para orang tua melihat ke arah Revan. Mereka bertanya-tanya, siapa lelaki yang berjalan ke arah Jihan dan memandang dengan tajam kearah mereka saru per satu.


Revan langsung jongkok menyamai tingginya dengan Jihan. Ia menangkup wajah Jihan dengan kedua tangannya yang masih menundukkan kepalanya.


Ia menghapus air mata di wajah Jihan dan setelah itu ia menggendongnya. Jihan memeluk Revan dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Revan.


Revan sangat sakit melihat Jihan diperlakukan seperti itu. Demi apapun, ia tak terima Jihan mendapatkan bully-an dari temannya.


Revan memandang dengan tajam anak kecil di depannya. Sontak nyali anak itu menciut melihat tatapan Revan.


" Siapa bilang Jihan tidak punya Ayah hah? saya ini ayahnya. Sekali lagi saya lihat kamu mengejek anak saya, saya bikin dendeng kamu."


Anak itu sangat ketakutan. Ia langsung berlari kearah orang tuanya dan menyembunyikan wajahnya di sana. Revan kembali memandang dengan tajam kearah orang tua anak tadi.


" Saya harap Anda bisa mengajari anak Anda sikap yang baik. Jangan hanya bisa menonton tindakan salah anak Anda yang nantinya akan merugikan kalian sendiri."


Nyali mereka semua menciut melihat tatapan penuh amarah dari Revan. Setelah itu, Revan berlalu dari sana dan membawa Jihan yang berada di gendongannya untuk pulang.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Happy reading guys.


Author harap kk ninggalin jejak dan vote author agar lebih semangat lagi nulisnya. Part kali ini lumayan panjang, jadi Aku tunggu yah😘


Salam story from By_me