
Sebulan setelah sidang perceraian Hana dan Arlan selesai, Hana kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa.
Pagi ini Hana mendampingi Revan yang sedang melakukan meeting dengan klien untuk membahas tentang proyek yang akan dikerjakan oleh perusahaan milik Revan.
Satu jam kemudian, meeting pun selesai dengan hasil yang memuaskan. Para klien keluar satu per satu dari ruangan rapat.
Hana dan Revan pun kembali keruangan mereka masing masing, Hana mengerjakan laporan
hasil rapat mereka tadi.
Sampai masuk waktu makan siang, akhirnya laporan yang dikerjakan oleh Hana pun selesai.
Hana membereskan berkas berkas dimeja kerjanya dan berjalan menuju ruangan Revan.
tok tok tok
Hana membuka pintu dan berjalan masuk keruangan Revan, sedangkan Revan masih sibuk dengan komputer didepannya, segera Hana duduk dikursi dan memandang kearah Revan.
" Mas aku mau keluar beli makanan nih, mas mau pesan makanan apa?"
Revan melepaskan kacamata yang melekat dihidungnya dan meletakkannya didekat laptopnya.
" Nggak usah, kamu ikut aku makan diluar soalnya aku ada janji makan siang sama sahabat aku didekat sini"
" Aku nggak usah ikut mas, nggak enak nanti teman mas keganggu sama kehadiran aku"
" nggak bakalan keganggu kok, lagian teman aku orangnya baik dan dia welcome sama orang baru"
" Tapi"
" Nggak ada tapi tapian, sekarang kamu ikut aku, ayo"
Akhirnya Hana mengikuti keinginan Revan untuk ikut makan siang diluar karena Revan sangat memaksa, jadi Hana tak punya pilihan lain.
Revan mengambil handphone dan kunci mobilnya setelah itu mereka jalan keluar menuju arah parkiran.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju kearah restoran chinese dimana sahabat Revan telah menunggu.
15 menit kemudian mobil Revan memasuki area parkiran depan restoran. Hana dan Revan berjalan masuk dan mencari dimana keberadaan sahabat Revan. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, dari arah pojok ada seorang lelaki yang melambaikan tangannya kearah Revan.
Revan berjalan kearah Sahabatnya dan diikuti oleh Hana dibelakangnya. Saat telah sampai disana lelaki itu berdiri dan menjabat tangan Revan.
Dia adalah Rafael sahabat SMA Revan.
Rafael memandang wanita berhijab yang datang bersama Revan, setelah itu ia kembali memandang kearah sahabatnya ingin meminta penjelasan.
Revan yang mengerti akan tingkah sahabatnya, segera memperkenalkan Hana kepada
Rafael.
" Perkenalkan namanya Farhana Almeera, dia adalah sekertarisku"
Rafael tersenyum kearah Hana dan mengulurkan tangannya berniat ingin berkenalan.
" Halo Farhana, perkenalkan saya Rafael Bagaskara. Senang bertemu dengan anda"
Hana membalas senyum Rafael
" Senang juga bertemu dengan anda pak Rafael"
" Nggak usah panggil Bapak aku serasa tua dipanggil gitu, panggil Rafa aja"
" Iya mas Rafa"
Setelah selesai berjabat tangan, mereka pun duduk.
" Lo udah lama nunggu?"
" Nggak kok, gue juga baru aja sampe"
" Terus lo udah pesan makanan?"
" Belum, kan gue nungguin lo"
" Yaudah, kita pesan makan aja sekarang"
Revan pun memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka.
" Lo ngapain lagi ke Jakarta? belum puas lo ngeliat gue waktu itu"
" Yaelah bambang, pede banget sih lo"
Revan terkekeh mendengar penuturan sahabatnya.
" Gue sebenarnya ada urusan penting makanya balik lagi kesini"
" Urusan apaan?"
" Mau tau aja, apa mau tau banget?"
" Gue balik aja deh, nggak asik lo"
Rafael terkekeh telah berhasil menggoda sahabatnya.
" Lo kayak anak gadis aja suka ngambek"
" ok gue bakalan cerita. Jadi alasan gue balik lagi kesini karena......"
Rafael menggantungkan kalimatnya
" Karena gue dijodohin sama mami gue"
Sontak Revan langsung tertawa mendengar penuturan Rafael. Seorang lelaki playboy yang akan berakhir dengan perjodohan.
" Selamat yah Raf"
" Sialan lo"
Revan lagi lagi terkekeh melihat sahabatnya.
" Bagus kan kalau lo dijodohin, siapa tau dengan perjodohan ini lo bakalan insyaf"
" Si Alisya, cewek tomboy itu?"
Rafael menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Revan.
" Iya, gue sampe sekarang nggak bisa lupain Alisya"
" Saran gue sih, mending lo terima aja perjodohan ini. Jangan sampe selama ini lo nyari Alisya, tau tau dia udah nikah gimana?"
" Mending lo terima aja Raf, pilihan orang tua lo pasti yang terbaik buat lo. Nggak mungkin juga mereka ngejodohin lo sama orang yang salah, pilihan orangtua lo adalah yang terbaik buat lo"
Rafael terdiam mendengar penuturan sahabatnya, ia sangat dilema Tapi ia juga tidak bisa menolak permintaan orangtuanya.
Tak lama setelah itu, makanan pesanan mereka pun datang
"Akhirnya datang juga" tutur Revan
Mereka makan dengan mengobrol ringan sesekali mereka bercanda. Setelah beberapa menit akhirnya makanan mereka pun habis.
" Alhamdulillah" Tutur Hana
" Mas aku ketoilet dulu ya"
Revan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Setelah itu Hana berjalan menuju toilet.
Dimeja mereka, Revan dan Rafael kembali mengobrol.
" Gue mau tanya sesuatu sama lo van" Rafael bertanya sambil menyipitkan matanya
" Mau tanya apa?" Revan melipat tangannya didepan dada
" Lo punya perasaan kan sama sekertaris lo, ngaku lo?"
" Lo kalau ngomong suka ngaco yah, mentang mentang lo pusing mau dijodohin. Lo jadi ngomong ngaco"
" Lo nggak usah ngelak Van, orang orang bisa tahu itu dari tatapan mata lo ke Hana"
Revan terdiam mendengar penuturan Rafael.
" Nggak"
" Ngaku aja, gue ini sahabat lo jadi hal kaya gini gue pasti tahu"
" Emang jelas banget yah kalau gue suka sama dia"
Rafael langsung tertawa, karena Revan akhirnya mengakuinya.
Rafael menganggukkan kepalanya.
" Jelas banget malahan, Btw sejak kapan lo suka sama sekertaris lo?"
" Gue juga nggak tau, tapi gue ngerasa sakit kalau dia juga sakit, gue bahagia kalau dia juga bahagia"
" Dasar bucin lo bambang"
" Lo juga bucin tong"
Mereka tertawa terbahak bahak, menertawakan diri mereka.
Hana keluar dari toilet dan berjalan kearah mejanya tadi, dari jauh dia melihat Revan dan Rafael tertawa terbahak bahak sampai sampai semua pengunjung melihat kearah mereka.
Hana menggelengkan kepalanya, karena bukan kali ini saja Revan melakukan itu.
" Mas Revan sama sahabatnya sebelas dua belas, Kayak pinang dibelah banyak" Hana bergumam pelan sambil berjalan kearah Revan dan Rafael.
" Lagi bahas apa sih?"
Sontak mereka terdiam saat menyadari kedatangan Hana.
" Nggak ngebahas apa apa kok" Tutur Revan
" Oh, kirain kalian ngegosipin aku"
Sontak mereka berdua terdiam.
" Kok diam?"
Revan langsung mengelak
" Siapa juga yang ngegosipin kamu pede banget sih"
" Bercanda doang mas"
" Ehemm... yaudah kita langsung balik kekantor"
" Raf gue langsung balik yah, masih banyak kerjaan dikantor"
" Yaudah gue juga mau langsung ke hotel"
Revan memanggil pelayan ingin membayar tagihan makan mereka.
" Gue aja yang bayar van, kan gue yang ngajak lo kesini"
" Nggak usah biar gue aja, anggep aja sebagai ucapan selamat gue karena lo bentar lagi mau nikah"
" Dasar ya loh"
Setelah membayar tagihan, mereka berjalan keluar sampai di parkiran.
" Gue duluan ya Raf"
" Iya hati hati"
Setelah mobil Rafael telah pergi, Revan pun masuk kemobil dan kembali menuju kantor.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Gini aja dulu ya guys, part selanjutnya akan tambah seru ✌✌
Salam story from by_me