Hati yang Patah

Hati yang Patah
One step closer


Hari ini adalah hari ke 7 kedua anak kembar Hana dan Revan (baby Dava dan Devan). dan hari ini acara akikahan untuk kedua anak kembar mereka diadakan.


Acara aqiqah dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkapkan kebahagian dan memanjatkan syukur kepada Allah SWT. Dalam hukum islam, saat akikah maka wajib menyembelih 2 ekor kambing untuk anak laki-laki dan 1 ekor kambing untuk anak perempuan. Karena anak mereka kembar berjenis kelamin laki-laki, maka kambing yang akan disembelih nanti berjumlah 4 ekor. Masing-masing berjumlah dua untuk anak mereka.


Hampir semua keluarga dari Revan dan Hana menyempatkan diri untuk hadir. Hanya Raga yang tidak menghadiri syukuran dari sepupunya itu karena sedang berada di luar negeri. Raga juga tahu diri, ia tidak akan mungkin menampakkan dirinya setelah apa yang telah ia lakukan pada anak dari sepupunya sendiri.


Semua orang tampak bersukacika atas kehadiran bayi kembar di tengah-tengah mereka.


Akikahan kali ini, mereka mengundang rekan-rekan kerja, sahabat, teman dan tak lupa hadir di tengah-tengah mereka anak-anak dari panti asuhan.


Proses demi proses pun berlangsung. Setelah pemotongan kambing selesai, dilanjut dengan proses pemotongan rambut baby Dava dan Devan. Setelah selesai, Hana dan Revan pun membagikan amplop berisi uang dengan jumlah yang banyak kepada semua anak-anak panti yang hadir mendoakan untuk kedua anak mereka. Berbagai macam doa orang-orang panjatkan untuk kedua anak kembar mereka.


Setelah selesai, semua tamu yang hadir pun dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang telah disiapkan.


Baby Dava digendong oleh oma Ajeng dan Baby Devan digendong oleh oma Faradilla. kedua bayi Revan dan Hana sangat anteng di tengah banyaknya para tamu yang datang.


"Assalamualaikum!" Ucap Vano saat memasuki rumah kakaknya. Semua orang pun membalas salam dari Vano. Vano pun berjalan mendekati Mama dan kakak dan keluarga yang lain yang sedang berada di ruang tamu.


"Dari mana saja kamu, Vano? Ponakanmu ini sudah selesai akikahannya kamu baru sampai!" Ujar Mama Faradillah pada anaknya yang sangat sibuk sampai-sampai anaknya terlambat datang ke acara akikahan ponakannya.


Vano tersenyum membalas ucapan Mama nya,"Mama jangan suka marah-marahlah! Yang pentingkan, Vano datang. Iya enggak kak?" Ucapnya sambil menatap kakaknya. Hana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya yang tidak bisa dibilangin.


"Sudah makan kamu?" Tanya Hana pada adiknya.


"Belum, kak. Tapi Vano belum lapar! Nanti saja kalau aku mau makan aku akan ambil sendiri!"


"Yasudah, urus diri kamu sendiri ya! Jomblo dimana-mana harus urus diri sendiri!" Ejek Hana pada adiknya karena adiknya ini tidak mau dijodohkan olehnya.


Seketika semua keluarga yang berada di sana menertawakan Vano.


"Ck, enggak usah disebutin statusnya juga kak! Lagian kalau Vano mau nikah, banyak kok pasti yang ngantri!" Ucapnya penuh percaya diri.


Mama Faradillah yang mendengarnya pun seketika menjewer telinga anaknya,"Kamu ini kalau dibilangin selalu begini! Wanita mana yang mau nikah sama laki-laki yang kerjanya pacaran mulu sama laporan."


"Sakit, Ma!" Ringis Vano ketika jeweran Mamanya terlepas.


Tiba-tiba Devan terbangun dan menangis di gendongan oma nya. Mama Faradilla pun menimang-nimang cucunya agar tenang.


"Cup cup cup, tenang sayang. Cucu oma yang soleh, yang ganteng, tenang ya, sayang." Hal itu terus Mama Faradilla lakukan sampai cucu nya terdiam.


"Ma, sini, Vano juga mau gendong!" Ujar Vano memajukan kedua tangannya.


"Memang kamu bisa?" Tanya Mama. Jangan sampai Vano malah tidak bisa melakukannya.


"Dibisa-in, Ma! Sini, Vano juga mau gendong Baby ganteng ini!" Ucapnya dengan gemas menoel-noel pipi merah Devan.


"Hati-hati! Sini Mama ajarin!" Mama Faradilla pun mengajarkan anaknya bagaimana cara yang benar saat menggendong anak bayi. Dengan telaten Vano melakukannya dan kini baby Devan sudah berada di tangannya. Ia timang-timang baby Devan dengan mata yang berbinar sambil sesekali tersenyum senang kepada kakaknya.


Hana pun ikut tersenyum melihat pancaran kebahagiaan dari kedua mata adiknya. Dalam hati, Hana mendoakan agar adiknya ini segera mendapatkan jodoh terbaik untuknya.


"Sayang, Mama mau ke belakang dulu sama Mama mu," Ucap Mama Ajeng pada menantunya


"Iya, Ma. Sini, Hana yang gendong Dava!"


"Dava sayang! Oma ke belakang dulu ya!" Mama Ajeng mencium kedua pipi cucu nya setelah itu ia pun memberikan baby Dava pada menantunya.


"Kak!"


"Apa?"


"Vano juga mau baby kayak gini. Enggak usah banyak-banyak, satu aja!"


"Mau, kak!" Jawabnya dengan mata yang berbinar.


"Minta sama laporan sana!" Mendengar jawaban kakaknya, Vano hanya bisa berdecak sebal.


Hana dan Revan pun menertawai adiknya yang menanyakan hal bodoh seperti itu.


"Kalau mau punya anak, nikah sana! Biar nanti istrimu bisa kasih kamu bayi yang lucu-lucu. Kalau kerjaan terus yang difikirin, bagaimana kamu bisa dapat jodoh." Ucap Revan pada adik iparnya. Vano hanya bisa berdecak sebal pada kedua kakaknya.


"Kakak sama kakak ipar sama saja, ck!" Vano tak lagi menatap kedua kakaknya. Ia kini hanya fokus pada ponakannya.


Tiba-tiba dari arah belakang, datanglah seorang gadis berhijab membawa sebuah nampan berisi teh dan cemilan diatasnya. Ia pun menyimpan teh tadi di depan Vano.


"Diminum, kak!" Ucap gadis tadi. Vano pun mengangkat pandangannya. Pandangannya bertemu dengan gadis itu. Mata mereka saling bertemu untuk sesaat, namun gadis tadi segera memutuskan pandangan.


Gadis itu ingin kembali ke dalam namun langkahnya terhenti saat Hana memanggil namanya.


"Ada apa, mbak?" Tanyanya.


"Mbak minta tolong, gendong Dava dulu ya. Mbak mau ke belakang dulu!"


"Oh, iya, mbak. Biar Ana yang gendong baby Dava." Gadis tadi adalah Ana. Ana kini telah menggunakan hijab dan memantapkan hatinya untuk istiqomah. Setelah masuk perguruan tinggi dan banyak bertemu dengan teman-teman baru, Ana kini aktif di organisasi


LDK(lembaga dakwah kampus).


Ana hadir setelah mendapat telepon dari mantan majikannya. Ana yang memang sedang libur semester pun akhirnya mengiyakan ajakan mantan majikannya itu.


"Mbak titip Dava sama Devan, ya, An!"


"Iya, mbak!"


Hana pun memberikan Dava pada Ana. Setelah itu, Hana berdiri dari sana.


"Mas!" Panggil Hana pada suaminya. Memberi kode agar meninggalkan Ana dan Vano berdua di sana.


Namun Revan malah tidak peka akan kode dari istrinya. Memang dasar, suaminya tidak ada peka-pekanya sama sekali.


"Mas! Temani Hana ya, ke belakang!" Ujar Hana pada akhirnya karena ketidak pekaan suaminya.


Dan berhasil, Revan pun berdiri dan mengikuti istrinya ke belakang.


Kini, tinggal Ana dan Vano dengan masing-masing bayi di gendongan mereka.


Ana asyik menimang-nimang Dava di gendongannya. Melantunkan sholawat dengan nada pelan sambil menatap wajah baby Dava.


Pemandangan itu tidak luput dari perhatian Vano. Ia terpanah akan kelembutan sikap Ana pada ponakannya. Pemandangan itu sangat sejuk di pandang mata. Vano berlama-lama memandang Ana di sampingnya hingga kegiatannya memandang Ana buyar saat Devan menangis di dalam gendongannya.


"Cup cup cup sayang. Tenang ya!" Namun bukannya tenang, Devan malah semakin menangis di gendongan Vano. Vano pun gelagapan karena tidak bisa mendiamkan ponakannya.


"Mas! Sini, biar Ana yang gendong Devan." Ujar Ana menawarkan diri. Ana tidak tega melihat Devan yang mukanya sudah memerah karena menangis.


Vano pun memberikan baby Devan pada Ana dan beralih menggendong baby Dava di dalam gendongannya.


Ana pun mulai menimang-nimang baby Devan. Ana melantunkan sholawat berharap dengan melakukan itu baby Devan bisa anteng. Dan benar saja, Devan yang mendengarkan lantunan merdu sholawat dari mulut Ana pun menghentikan tangisannya. Mata bulat Devan berkali-kali berkedip menatap Ana. Ana yang gemas dibuatnya pun memberikan ciuman pada kedua pipi gembul Devan.


Lagi-lagi, Vano terpanah melihat kelembutan dan sikap Ana. Senyuman tipis ia ukir di wajahnya menatap pemandangan di depannya.


Pemandangan kedua insan itu tak lepas dari kedua kakak dan Mama nya. Diam-diam, Mama Faradilla, Hana dan Revan mengintip kebersamaan Ana dan Vano di ruang tamu. Mama dan Hana tertawa sambil menutup mulut melihatnya. Langkah mereka untuk mendekatkan Ana dan juga Vano dimulai.


ONE STEP CLOSER!