
Berada di acara ulang tahun perusahaan dan bisa duduk bersebelahan dengan orang nomer satu perusahaan membuatku merasa malu dan sedikit risih karena dari tadi banyak pasang mata yang seakan tidak suka melihatku duduk bersebelahan dengan direktur.
Aku sudah memohon kepada Mas Revan agar aku duduk dengan sahabatku saja si Andin, tetapi Mas Revan tidak memperbolehkanku berada di sana. Apa boleh buat ya, aku harus mengikuti perintahnya dan duduk di sebelahnya.
Aku mengedarkan pandanganku ke lain arah melihat sekeliling acara, tiba-tiba mataku tak sengaja melihat seseorang di ujung sana yang ternyata juga melihatku dengan pandangan yang tak bisa kubaca.
Ya, lagi-lagi aku melihat Arlan. Ia menatapku dengan tatapan tajamnya. Kucoba mengalihkan pandanganku kearah lain guna memutuskan pandangan mataku dengannya.
Tapi aku merasa sepertinya dia masih saja menatap ke arahku. Ah, bodo amatlah dia mau melakukan apa. Tugasku untuk mempertemukannya dengan Ibu dan memperbaiki hubungan mereka sudah aku laksanakan, jadi aku sekarang sudah merasa lega.
Aku kembali fokus memperhatikan acara malam itu. Mataku berbinar dan aku merasa sangat antusias saat mendengar MC menyebut nama artis idolaku si mbak cantik Raisa akan tampil. Wajahku yang awalnya datar akhirnya menampakkan senyum sumringah saat melihatnya naik ke atas panggung dan menyanyikan lagu hitsnya.
" Cantiknya!" gumamku saat melihat penampilannya.
" Beruntungnya babang Hamish bisa menikah denganmu mbak." Gumamku saat itu yang dapat di dengar oleh Mas Revan.
Mas Revan hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkahku yang terlihat sangat mengidolakan Raisa.
Saat mbak cantik Raisa telah selesai, MC kembali membuat seisi acara heboh karena menyebutkan nama band ternama Indonesia yang akan tampil. Dia adalah band Noah si babang karismatik. Seisi acara mendadak heboh terutama para karyawan cewek melihat penampilan si babang ariel.
Riuh tepuk tangan sangat meriah saat kedua artis telah tampil. Tibalah saat yang paling menegangkan di dalam hidupku. Aku tak tahu kalau ternyata semuanya telah di rencanakan matang oleh Mas Revan. Mulai dari Kotak besar, artis idolaku sampai lamaran romantisnya.
Semua bertepuk tangan saat nama direktur di sebut. Aku pun ikut bertepuk tangan kala itu. Mas Revan sejenak melihatku dan mengatakan sesuatu.
" Kamu harus lihat penampilan aku Hana. Dari awal sampai akhir. ok!"
Aku menanggapinya dengan senyum dan anggukan kepala. Setelah itu, Mas Revan berjalan dengan gagahnya naik ke atas panggung. Sorak sorai tepuk tangan dan teriakan pujian terlontar dari para pengagumnya Mas Revan.
" Selamat malam semuanya. Lagu ini saya persembahkan untuk seseorang yang sangat spesial di hati saya. Lagu ini saya tujukan untuk dia dan lagu ini mewakili isi hati saya saat ini." Itu katanya.
Mendengar itu membuat wajahku memerah. Apakah yang di maksud oleh Mas Revan itu adalah aku?.
Musik pun mengalun. Semua orang tampak terhipnotis melihat penampilan Mas Revan tak terkecuali aku yang melihatnya malam itu sangat... menawan.
Mas Revan menyanyikan lagu dari (Badai romantic projek). Selama Mas Revan bernyanyi di atas sana matanya tak pernah memandang ke arah lain, ia selalu menatap ke arahku membuat wajah ini merona karena tatapannya dan juga lagunya yang sangat dalam.
Entah mengapa aku sangat tersentuh dengan lagunya. Air mata ini keluar tanpa permisi. Segera aku menyekanya jangan sampai di lihat oleh Mas Revan.
Saat telah selesai menyeka air mataku, tiba-tiba Mas Revan turun dari panggung dan berjalan ke arahku. Sorot kamera yang menampilkan aktivitas acara di layar besar otomatis fokus ke arah Mas Revan, sehingga dapat terpampang jelas di sana apa yang terjadi.
Mas Revan semakin dekat dengan pandangan matanya tak pernah lepas menatapku. Ia semakin dekat dan terlihat berhenti di depanku. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya dan dapat kulihat sebuah kotak merah kecil di tangannya.
Yang membuatku syok dan tak bisa berkata-kata adalah saat ia bersimpuh di hadapanku dan membuka kotak merah itu. Aku hanya bisa menutup mulutku tak percaya dengan yang di lakukannya.
" Farhana Almeera anak dari almarhum Bapak Agung Suryo dan almarhumah Ibu Putri Larasati. Saya, Revandra Bramana malam ini di hadapan semua orang yang hadir disini, ingin meminangmu menjadi Istriku dan menjadikanmu Ibu dari Anak-anakku kelak. Aku ingin saat membuka mata, orang pertama yang aku lihat di sampingku itu adalah kamu. Maukah kamu menerima lamaran dari seorang Revandra Bramana, Farhana Almeera?"
Air mata ini kembali menetes mendengar lamarannya. Aku meyakinkan diriku untuk menetapkan hati kali ini. Selama ini aku telah melihat kesungguhannya dan keikhlasannya yang selalu berada di sampingku di saat aku terpuruk hanya dia yang setia menemaniku.
Bismillah, kuyakinkan hatiku dan pilihanku kali ini. Aku dan Jihan berhak bahagia dengan ketulusan dan cinta dari Mas Revan. Aku berusaha menjawabnya walaupun rasanya badan ini bergetar.
" Revandra Bramana, aku... aku menerima lamaranmu." Saat selesai mengatakan itu ada rasa lega di dalam hati ini. Ternyata aku juga mencintai lelaki ini, namun karena rasa tak pantas dan merasa tak sepadan dengannya membuatku menutupinya.
" Alhamdulillah Ya Allah." Itu kata yang di ucapkan oleh Mas Revan dengan menengadahkan telapak tangannya keatas dan mengusap ke wajahnya. Mas Revan segera berdiri dan menghapus air mata di wajahku.
Ia mengambil cincin di dalam kotak merah itu dan beralih memegang tanganku. Ia memandangku untuk sejenak dengan mata yang berkaca-kaca lalu setelah itu, ia menyematkan cincin di jari manisku.
Aku tersenyum memandangi cincin di jariku dan beralih menatap Mas Revan. Mas Revan membalas senyumanku dan mengangkat tangannya mengelus kepalaku.
Sorak sorai dan siulan dari semua orang membuatku semakin tersipu malu. Kami kembali duduk dan menikmati acara. Mas Revan mengambil tanganku dan menggenggamnya erat.
" *Yah, gagal deh bisa jadi calonnya pak Revan."
" Sakit hati adek, bang."
" Mulai hari ini auto patah hati massal dah."
" Pak dir, kok tega sih sama kita huhuhu."
Dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan patah hati dari para fans Revan. Revan hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar kelebayan para karyawannya.
Tak jauh dari meja mereka, ada Arlan yang sudah memerah karena menahan amarah melihat pertunjukan itu. Tangannya ia kepal di bawah meja melihat Hana menerima lamaran dari rekan bisnisnya.
Hana pamit ingin ke kamar kecil karena sudah sangat kebelet. Ia pun berdiri dari sana dan berjalan menuju toilet. Nama Hana di panggil oleh seserang. Hana pun menoleh ke sumber suara, ternyata yang memanggilnya adalah Andin.
" Ada apa ndin?. Aku kebelet nih. Nanti aja yah, kalau mau bicara." Katanya dengan cepat.
" Aku ikut kamu ke toilet."
Hana menganggukkan kepalanya.
" Ya udah, buruan. Aku udah kebelet nih."
Mereka pun bersama-sama menuju toilet. Hana segera menutup pintu dan buang air kecil. Saat telah selesai, ia keluar dan berdiri di samping Andin sambil cuci tangan. Hana melihat Andin di cermin yang tampak senyum-senyum tidak jelas.
" Kamu kenapa sih? senyum-senyum sendiri. Nanti orang kira kamu gila lagi, kalau terus begitu."
" Aku tuh bahagia banget Hana. Akhirnya kamu di lamar juga sama pak Revan." Setelah mengatakan itu, Andin memeluk Hana.
" Selamat yah!. Akhirnya sahabat gue sold out juga." Katanya sambil melepaskan pelukannya.
" Ye, lo kira gue ini barang apa. sold out, apaan."
Namun Andin hanya membalasnya dengan cengengesan.
Tiba- tiba ada suara seorang wanita dari arah samping mereka.
" Selamat yah, sebentar lagi bakalan jadi Nyonya Bramana." Kata Indah dengan nada sarkasme.
" Terima kasih." Katanya singkat. Setelah itu Hana kembali melihat dirinya di pantulan cermin sambil memperbaiki model hijabnya.
Indah kembali berbicara
" Ngomong-ngomong kamu kasih apa sehingga dia bisa melamar kamu. Atau jangan- jangan kamu..." Ia tak melanjutkan pembicaraannya namun menatapku dengan pandangan yang menilai dari atas sampai bawah.
Tiba-tiba Andin maju selangkah mengangkat dagunya dan berkacak pinggang.
" Jangan-jangan apa hah? Anda kalau bicara itu mulutnya kalau bisa di jaga. Jangan bisanya cuma sampah yang keluar dari mulut Anda."
Indah seketika melototkan matanya mendengar penuturan Andin.
" Kamu berani sama saya hah! Kamu tidak tahu kalau saya ini orang berpengaruh. Jangan sampai saya membuat karir Anda hancur."
" Memang Anda fikir saya bakalan takut sama ancaman Anda. Denger yah, saya tidak takut sama sekali, walaupun Anda mengatakan kalau Anda ini orang berpengaruh sekalipun, saya tidak perduli. Di sini Anda yang salah jadi kenapa harus takut hmm?
Andin bicara dengan lantangnya melawan Indah. Sahabatnya ini memang wanita kuat. Ia tak punya rasa takut sama sekali apabila memang benar.
" Andin udah. Mending kita balik yuk. Nggak usah ladenin dia." Hana menarik tangan sahabatnya keluar dari sana. Ia tak mau terjadi adegan jambak-jambakan kayak di drama-drama kalau sampai mereka masih meladeni Indah.
Hana dan Indah pun berlalu dari sana. Dari arah belakang, Indah yang tak terima di katakan seperti itu oleh orang seperti Andin segera berteriak.
" Awas saja kamu. Lihat saja, saya akan membuat karirmu hancur."
Indah keluar dari sana dengan perasaan dongkol. Bisa-bisanya orang seperti mereka menginjak-injak dirinya. Ia sungguh tak terima.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Happy reading guys nya😘
Jangan lupa like, komen dan kalau berkenan vote nya juga yah kk😊
Salam story from By_me