
Pagi hari Hana dan Revan sudah selesai berpakaian dan akan bersiap-siap untuk berbelanja oleh-oleh untuk dibawa pulang.
Setelah selesai melakukan sarapan, mereka berdua pun diantar dengan mobil yang khusus digunakan untuk mengantar para tamu yang ingin berkeliling.
Tujuan pertama mereka adalah pasar seni sukawati. Pasar tradisional yang sangat recommended untuk para turis yang ingin membeli barang-barang dari yang modern sampai barang-barang tradisional.
Revan mengukuti kemana arah istrinya berjalan. Hana singgah di depan toko baju batik. Hana mengajak suaminya untuk masuk dan memilah-milih baju untuk mereka kenakan. Setelah lama memilih, akhirnya ia pun mendapatkan baju batik yang sesuai dengan keinginannya.
Hana menginginkan baju dengan model yang sama untuk suami dan anaknya. Untung saja masih ada stoknya. Batik dengan corak khas bali berwarna cream dan coklat. Hana juga membelikan baju batik untuk kedua mertuanya, Ibu Suri dan untuk Ana. Setelah semua sudah ia dapatkan, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka membeli beberapa pernak-pernik untuk mereka bawa sebagai oleh-oleh nantinya.
Revan mengajak istrinya menuju ke toko guci. Ada satu guci yang menarik perhatiannya. Guci berwarna gold dengan bentuk yang sangat unik. Ia berniat membelikannya untuk Mamanya, karena Mamanya itu sangat suka mengoleksi guci antik.
Hana dan Revan juga membelikan Jihan boneka beruang yang sangat lucu. Boneka beruang itu menggunakan baju batik dengan corak yang sangat cantik. Anaknya pasti akan sangat suka dengan hadiah yang akan mereka berikan.
Setelah puas berkeliling pasar tradisional, mereka pun kembali pulang menuju resort. Mereka sampai pada saat matahari sudah berada diatas kepala. Hana dan Revan yang sudah kecapean setelah berbelanja tadi akhirnya memesan makan siang untuk diantarkan ke kamar mereka. Sambil menunggu makan siang mereka datang, mereka gunakan waktu mereka dengan melaksanakan sholat dzuhur.
Karena kelelahan dan setelah makan siang membuat mereka menjadi sangat mengantuk. Akhirnya mereka bersama-sama berlabuh dialam mimpi.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Kali ini yang bangun duluan adalah Revan. Revan membuka matanya saat mendengar notifikasi adzan dari ponsel istrinya. Matanya pun manatap wanita yang ada dipelukannya. Wajah cantik tanpa riasan make up tak mengurangi kecantikan dan keanggunan istrinya. Bulu mata yang lentik, hidung yang mancung, pipi yang tembem dan bibir tipis merah muda istrinya.
Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya dan mendaratkan ciuman di bibir istrinya. Awalnya hanya saling menempel hingga lama kelamaan ia pun mulai me****t bibir tipis istrinya. Hana membuka matanya karena merasakan sentuhan suaminya. Hana membiarkannya sampai suaminya melepaskan pagutannya dibibirnya.
"Mas." Ucapnya saat Revan sudah menjauhkan kepalanya namun masih memandang lekat wajah istrinya.
Revan tersenyum dan membelai wajah istrinya sembari menyingkirkan rambut yang menutupi wajah istrinya ke belakang telinga.
"Sudah bangun?"
"Heem. Kan, Mas yang bangunin Hana."
Revan tersenyum karena ulahnya tadi.
"Maaf, maaf. Aku khilaf"
Hana yang mendengarnya seketika tersenyum.
Mereka kembali melakukan obrolan ringan di atas ranjang dengan posisi saling hadap-hadapan hingga Hana memutus tatapannya dan beranjak duduk.
"Mau kemana, sayang?"
"Aku haus, Mas. Aku mau ambil minum dulu." Hana turun dari ranjang dan berjalan untuk mengambil air minum di kulkas. Revan juga ikut turun dari ranjang dan mengikuti istrinya yang sudah duduk di sofa.
"Mau?" Tawar Hana memberi gelas berisi air putih yang sudah ia isi penuh.
Revan menganggukkan kepalanya dan meminum air putih tadi sampai tandas dan menyimpan gelas tadi di meja.
"Ayo!"
"Ayo, apaan, Mas?"
"Bikin adek untuk, Jihan!" Ucapnya sambil mengedipkan satu matanya menggoda istrinya.
"Ish, Mas Revan, apaan sih." Ucap Hana
malu-malu dengan wajah yang sudah bersemu merah. Revan tertawa melihat respon istrinya yang masih terlihat malu-malu saat membahas hal itu.
"Bercanda. Kamu kenapa sih, setiap bahas hal itu selalu malu-malu. Padahal kalau di ranjang kamu, Awww..." Revan meringis karena mendapat cubitan di perutnya.
"Mas Revan, apaan sih. Hana kan jadi malu. Bahas itu lagi, Hana bakalan ngambek dan enggak akan kasih Mas Revan jatah!"
Revan yang mendengarnya seketika membulatkan matanya. Ia dengan cepat menggelengkan kepalanya tak mau cari masalah dengan membuat istrinya ngambek. Bisa-bisa adik kecilnya tidak akan dapat jatah.
"Maaf, sayang. Gitu aja ngambek. Nanti cantiknya hilang loh!" Ucap Revan membujuk istrinya dengan menoel-noel pipinya.
Setelah istrinya sudah kembali tersenyum, Revan pun menarik tangan istrinya untuk berjalan mengikutinya menuju kamar.
Mereka melaksanakan ibadah sholat azhar dengan tuma'ninah. Setelah selesai melaksanakan sholat, mereka kembali naik ke atas ranjang.
Revan dan Hana menyandarkan punggung mereka disandaran ranjang sambil menonton Tv menyaksikan drama korea yang sudah Hana sambungkan melalui ponselnya. Hana menitikan air mata menyaksikan drama korea tentang pelakor yang sedang hits itu ditayangkan di layar TV.
Revan hanya geleng-geleng kepala menyaksikan istrinya.
"Tisyu, Mas." Pinta Hana pada suaminya karena tisyu berada di samping suaminya. Segera Revan mengambil bungkusan tisyu itu dan memberikannya pada istrinya.
"Drama doang sampe ditangisin kayak gitu." Ucap Revan karena memang ia tak menonton drama itu dari awal.
"Dramanya sedih banget, Mas. Suaminya selingkuh dan menghianati istrinya. Pemeran wanitanya sampe nekat mau bunuh diri karena sudah putus asa, Mas. Keluarganya hancur dan anaknya mengatakan tidak mau melihat Ibu nya lagi. Kan, sedih akunya."
Revan tak lagi menjawab dan kembali menyaksikan drama korea itu.
Karena sudah bosan menonton drama korea tentang pelakor itu, akhirnya Revan berbaring dan menjadikan paha istrinya sebagai bantalnya.
Setelah hampir dua jam menonton akhirnya drama itu pun habis. Waktu sholat maghrib pun telah masuk. Mereka bergegas mandi bergantian dan setelah itu melaksanakan sholat maghrib secara berjamaah.
Revan memberikan dress berwarna merah maroon kepada istrinya untuk ia kenakan di makan malam mereka nanti.
Dengan patuh, Hana memakai baju itu dan memakai make up atas keinginan suaminya. Hana begitu cantik menggunakan dress berwarna merah maroon pemberian suaminya dengan memakai hijab pashmina berwarna hitam. Sedangkan Revan ia memakai setelan kemeja dengan jas hitam membalut badan kekarnya.
Revan membawa istrinya keluar dari resort dan berjalan menuju pantai. Revan dan Hana terus berjalan sampai di sebuah meja dengan ditutupi kelambu putih tembus pandang yang sudah tertata hidangan makan malam dengan lilip putih menerangi remang-remang di pinggir pantai.
Hana sangat terharu dengan setiap perlakuan manis suminya kepadanya dan juga makan malam romantis yang dulu sangat Hana idam-idamkan akhirnya terkabulnya baru sekarang.
Revan menarik kursi untuk istrinya, setelah itu barulah ia duduk.
Mereka mulai makan malam romantis mereka dengan saling pandang-pandangan. Tak ada pembicaraan diantara mereka. Hanya suara deru ombak dan dentingan sendok yang terdengar. Revan dan Hana saling pandang dengan senyum terukir di wajah mereka. Tempat yang Revan sewa tak ada satupun orang lalu lalang. Ia ingin menghabiskan makan malam romantis tanpa ada gangguan dari orang lain.
Setelah selesai menyantap makan malam mereka. Tak lama kemudian, datang pelayan membawakan makanan penutup.
Revan menghapus sisa cream saos yang ada di pinggir bibir istrinya menggunakan jarinya dan menjilatnya. Setelah melakukan itu, Revan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju istrinya.
"Mau dansa denganku?"
Hana menganggukkan kepalanya dan menerima uluran tangan suaminya. Revan menarik pinggang istrinya mendekat dan mengarahkan tangan istrinya mengalun di lehernya. Jarak mereka sangat dekat. Revan mengajak istrinya bergerak seirama dengan suara biola yang terdengar.
Mereka hanya saling pandang dan bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti irama biola.
"Kamu sangat cantik malam ini, sayang!" Ucap Revan di telinga istrinya yang berhasil membuat Hana merona.
Walaupun dengan pencahayaan yang remang-remang, Revan masih bisa melihat rona merah di wajah istrinya. Revan mengecup bibir istrinya dan melepaskannya.
"Bibir kamu manis." Ucapnya karena memang tadi istrinya belum sempat minum setelah menyantap hidangan penutup.
Mereka kembali saling pandang dengan tatapan saling mengagumi.
Tanpa Revan duga, istrinya mendekatkan bibirnya dan mulai mencium bibirnya mesra. Revan tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan membalas ciuman istrinya tak kalah mesra.
Mereka berciuman cukup lama dan tanpa Hana duga, Revan melepaskan ciumannya dengan nafas yang sama-sama memburu. Revan segera menarik tangan istrinya dan membawanya menuju resort untuk melanjutkan kegiatan yang tertunda. Saat sudah sampai di dalam kamar, Revan segera mengunci pintu kamar dan menghampiri istrinya yang sedang berdiri lalu melepaskan hijab yang istrinya kenakan.
Adegan di skip...
Aksi selanjutnya mereka lakukan di atas kasur untuk beberapa lama sampai erangan keluar dari mulut keduanya dan Revan menumpahkan benihnya di dalam rahim istrinya.
"Semoga saja benih cinta kita akan tumbuh di sini." Ucap Revan membelai perut istrinya setelah kegitan panas mereka.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Udah dulu yak readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak, di like, komen dan paling penting itu vote readers yang membaca. Selalu tinggalkan jejak saat selesai membaca setiap karya.
Salam story from By_me