Hati yang Patah

Hati yang Patah
SAH lah


Setelah perbincangan malam itu dan mendapatkan jalan keluar untuk semuanya, kini Jihan pun setiap hari weekend selalu dijemput oleh Ayahnya dan menginap di rumah Ayah dan Ibu tirinya selama dua hari.


Setelah mendapat jalan keluar malam itu, keesokan harinya, Revan mengajak Arlan bertemu dan membahas perihal pembicaraannya dengan istrinya malam itu untuk mengizinkan Jihan setiap hari libur untuk nginap di rumahnya.


Arlan yang mendengarnya pun merasa sangat bahagia mendengar kabar yang sangat dinanti-nantikannya itu. Dengan penuh haru, Arlan memeluk dan mengucapkan terima kasih pada Revan.


🍁🍁🍁


Sebulan adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh kedua keluarga untuk melangsungkan acara akad dan resepsi Vano serta Ana.


Tepat pada hari ini, acara nikahan akan dilangsungkan di kediaman Wiratama. Pukul 10 nanti rencananya acara akad akan dilaksanakan di depan kedua keluarga besar mempelai dan juga para tamu undangan.


Di dalam kamar, Ana telah selesai di rias oleh MUA terbaik pilihan calon mertua nya. Memakai kebaya pengantin berwarna putih dengan hijab berwarna senada, membuat kecantikan Ana semakin terpancar.


Saat sedang memperhatikan pantulan dirinya di depan cermin, suara ketukan dari luar kamar membuyarkan fokus Ana mengagumi hasil karya dari MUA tadi.


Setelah memberi izin pada orang yang tadi mengetuk pintu, perlahan pintu pun terbuka dan nampaklah sosok calon kakak ipar nya berdiri di sana dengan menggunakan kebaya berwarna sama dengannya sedang tersenyum indah padanya.


"Boleh, mbak masuk?" Izinnya pada calon adik iparnya itu.


"Masuklah, mbak." Ucapnya dengan tersenyum membalas.


"Cantik sekali kamu, An. Adik aku pasti terpana melihat bidadarinya dirias secantik ini." Pujinya sungguh-sungguh.


Sontak ucapan Hana membuat wajahnya memerah. Pipi nya semakin memerah dengan rona alami yang terpancar karena pujian calon kakak iparnya.


"Ah, mbak bikin aku malu tahu." Ucapnya malu-malu membayangkan saat nanti akan bertemu dengan calon imamnya. Setelah sebulan tidak bertemu, Ana semakin deg degan mendekati prosesi ijab kabul dan bertemu dengan lelaki yang insya Allah akan menjadi imamnya. Ah, kira-kira bagaimana rupa dari calon suaminya nanti. Karena sudah sebulan ia tidak melihatnya. Membayangkannya saja sudah membuatnya sangat malu.


Setelah cukup lama saling berbincang-bincang, suara dari Ibu Ana menginterupsi pembicaraan mereka.


"Sudah siap, nak?" Tanya ibu Ana


"Insya Allah, bu, Ana, siap!" Jawabnya dengan degub jantung yang semakin kencang.


Hana yang mengetahui rasa gugup dari calon adik iparnya itu berusaha memberinya kekuatan dengan menggenggam tangannya.


"Bismillah, An!"


Ana menganggukkan kepalanya dan mengucapkan bismillah dalam hati untuk memulai babak baru dalam hidupnya.


Kini Ana di apit oleh Ibu dan juga Hana di samping kiri dan kanannya.


Mereka berjalan menuruni tangga dengan langkah pelan. Sontak semua mata menatap kearah mereka saat menuruni anak tangga selangkah demi selangkah. Melihat ratu sehari yang sangat cantik dengan wajah yang bercahaya, membuat semua orang menatap kagum padanya. Tak ketinggalan sang calon suami yang tak berkedip melihat calon istri yang terlihat sangan cantik dan anggun yang kini berjalan semakin mendekat.


Ana duduk dipisah dengan calon suaminya. Setelah melihat semua telah berkumpul, MC pun memulai acara satu demi satu. Setelah membaca ayat suci Al-qur'an, sang penghulu pun memulai memberikan wejangan-wejangan pernikahan untuk kedua calon pengantin. Setelah selesai melakukan itu, acara inti pun dimulai.


" Saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Devano athala Wiratama bin Wiratama dengan ananda Ana Althafunnisa binti Abdul Manaf dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."


" Saya terima nikah dan kawinnya Ana Althafunnisa binti Abdul Manaf dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat dibayar tunai." Vano berbicara dengan satu kali tarikan nafas dan dengan suara yang lantang.


" Bagaimana para saksi, Sah!" Kata penghulu diakhir akad.


Serentak semua orang berteriak dengan satu kata, " SAH!"


Semua orang memanjatkan doa tulus kepada kedua mempelai agar nantinya menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah.


Kini Ana telah di tuntun berjalan mendekati suaminya. Dengan malu-malu Ana menatap wajah tampan suaminya yang kini telah resmi menyandang status sebagai imamnya.


Mereka menandatangani buku nikah, setelah itu prosesi pemasangan cincin di kedua jari mempelai dilakukan.


Setelah memasangkan cincin di tangan suaminya, Ana pun perlahan menundukkan kepalanya dan mencium punggung tangan suaminya. Vano menyentuh kening istrinya dan membacakan doa, setelah itu barulah ia mendekatkan dirinya dan mencium kening kekasih halalnya.


Sontak semua orang bersorak kegirangan dan mengabadikan momen indah pasangan pengantin baru itu.


Akhirnya acara akad pun selesai dilaksanakan. Tinggal acara resepsi yang nantinya akan dilaksanakan setelah pukul 12 siang nanti.


Setelah sejam menunggu, akhirnya acara resepsi pun di gelar di kediaman Wiratama. Para tamu undangan pun berdatangan. Mulai dari kolega bisnis, rekan kerja, sahabat dan teman dari pemilik acara.


🍁🍁🍁


Pukul 11 malam barulah acara resepsi usai. Ana tidak menyangka jikalau tamu undangan yang datang akan sebanyak itu. Kaki nya sampai-sampai di buat pegal karena tidak ada jeda nya tamu undangan yang hadir di acara bahagian mereka.


Kamar pengantin pun telah di rias dengan sedemikian rupa. Lilin-lilin putih di sekitar kamar dan tak lupa kelopak bungan mawar merah berbentuk cinta bertaburan di atas kasur. Sangat lebay memang. Namun semua itu yang melakukan atas ide dari Mama Faradilla.


Dengan kikuk Ana berjalan keluar dari kamar mandi setelah tadi setengah jam membersihkan badan dan mempersiapkan diri untuk menghadapi suaminya yang telah berada di luar.


Pakaian tipis pemberian dari Mama mertuanya yang telah disiapkan untuknya. Jujur saja, Ana sangat malu harus berpakaian seminim ini di depan seorang lelaki. Walaupun lelaki itu kini telah menjadi suaminya, namun tetap saja ia tidak terbiasa dan sangat malu di depan suaminya.


Dengan pelan Ana berjalan keluar dari kamar mandi sambil kedua tangannya menutupi area dada.


Dengan tatapan yang lain dari biasanya suaminya itu tampakkan, perlahan Vano berjalan mendekati istrinya yang berjalan dengan sangat lambat kearahnya.


Ana hanya bisa menundukkan wajah menutupi rasa malu dan gugupnya dipandangi seperti itu oleh suaminya.


Vano berhenti tetap di depannya berdiri. Dengan perlahan, Vano memegang dagu istrinya dan mengangkatnya ke atas agar ia bisa lebih leluasa menatap wajah cantik istrinya.


Walau dengan keadaan kamar yang remang-remang dan dengan cahaya sinar rembulan yang masuk melalui gorden putih, dapat Vano lihat wajah istrinya yang merona karena malu dan gugup saat ini.


Mata mereka kini saling bertemu mengunci untuk waktu yang lama.


"Kamu sangat cantik, sayang!" Bisik Vano pelan di telinga istrinya.


Bisikan yang penuh sensual di telinganya membuat bulu kuduknya meremang.


Ana tidak mampu menjawab akan ucapan suaminya. Ia hanya bisa berdiri dengan tegang di sana.


Perlahan tapi pasti Vano mengikis jarak diantara mereka. Kini bibirnya telah berlabu di kening istrinya. Dikecupnya dengan lama di sana, meresapi dan membacakan doa untuk memulai ibadah bersama. Perlahan bibir itu turun di hidung, kedua pipi, dagu dan terakhir pada bibir manis sang istri.


🍁🍁🍁


Besok dilanjut yah😁😁


Udah tengah malam masalahnya. Besok aku jg harus bangun pagi untuk kerja. So, aku usahain besok aku tamati yak... oceee😄😚😚


Salam story from By_me