Hati yang Patah

Hati yang Patah
Bulan madu


Tibalah saatnya, Hana dan Revan akan berangkat menuju bandara dengan diantar oleh kedua orang tuanya, Jihan dan Ana yang nantinya juga ikut ke rumah Papa Surya.


Sepanjang perjalanan diisi dengan perbincangan hangat antara mereka. 30 menit kemudian mereka pun sampai di bandara Soekarno Hatta. Hana dan Revan diantar sampai ke dalam oleh semua orang yang mengantar.


Revan dan Hana pamit kepada kedua orang tua mereka secara bergantian dengan menyalami dan memeluk mereka satu per satu.


Hana menatap dengan nanar anaknya yang harus ia titipkan kepada kedua mertuanya. Berat rasanya harus meninggalkan anaknya lagi dalam beberapa hari ke depan. Nanti pasti ia akan sangat rindu pada anaknya. Melihat tatapan sedih Hana membuat Revan beralih menggendong anaknya.


"Selama Ayah dan Bunda pergi jangan nakal yah. Harus selalu nurut sama kakek dan nenek."


Jihan menampakkan senyumnya dan menganggukkan kepalanya mengerti.


"Ayah tenang saja. Jihan kan anak pintar, jadi tidak akan membuat kakek dan nenek kesusahan."


Mendengar jawaban anaknya membuat Revan membalas senyuman anaknya dan beralih mencium gemas pipinya.


Hati Hana menghangat menyaksikan interaksi antara suami dan anaknya. Hana mengelus lembut rambut anaknya dan kembali berbicara.


"Bunda dan Ayah hanya beberapa hari di sana dan janji akan cepat pulang. Pulang nanti Bunda bakalan bawain Jihan oleh-oleh yang banyak. Bunda janji!"


"Janji yah, Bunda! Jihan bakalan tungguin loh."


"Iya, sayang. Bunda, janji. Asalkan selama Bunda pergi Jihan jangan rewel sama kakek nenek. Awas saja kalau sampai Bunda denger Jihan nyusahin kakek, nenek selama Bunda dan Ayah pergi. Oleh-olehnya di batalin!"


"Jangan dong, Bunda. Jihan kan udah bilang enggak akan nyusahin kakek dan nenek. Gimana sih, Bunda." Ucap Jihan bersedekap di gendongan Ayahnya dan mengerucutkan bibirnya.


Semua orang yang melihat Jihan seperti itu hanya bisa menertawainya. Revan dan Hana gemas dengan tingkah ngambek ala anaknya.


"Yasudah, Bunda dan Ayah sudah mau pergi. Sini, Bunda peluk dulu sebelum berangkat."


Hana merentangkan kedua tangannya agar anaknya berpindah memeluknya. Revan segera menyerahkan Jihan kepada istrinya. Dengan cepat Hana memeluk anaknya dan mencium pipinya berulang kali. Setelah puas melakukan itu, Hana pun menurunkan anaknya.


Setelah berpamitan kepada semua orang yang mengantar mereka akhirnya mereka pun berjalan masuk. Lambaian tangan tak henti-hentinya Jihan lakukan kepada kedua orang tuanya yang semakin tak terlihat. Setelah sudah tak lagi terlihat, kedua orang tua Revan, Jihan dan Ana pun kembali pulang.


Dua jam kemudian akhirnya mereka sampai di bandara Ngurah Rai, Bali. Di depan bandara sudah ada terparkir mobil jasa pengantar yang akan mengantar mereka menuju penginapan. 25 menit kemudian mereka sampai di depan penginapan mereka yaitu Four Season Resort.


Setelah sampai mereka diantar menuju kamar mereka.


kamar mereka sangat indah dengan pemandangan belakang kamar yang langsung menyuguhkan keindahan pantai. Kasur berukuran king size dan kelambu putih yang tergantung di bagian samping kanan dan kiri tiang kasur. Sofa lebar dan meja kayu di bagian pojok kamar serta kamar mandi yang luas dilengkapi dengan bathup besar. Sedangkan di bagian belakang kamar mereka terdapat kolam renang dan kursi sandaran panjang khusus untuk dua orang.


Hana berjalan ke depan dan memperhatikan pemandangan indah di dekat kolam renang. pemandangan pantai Jimbaran, Bali yang kala itu senja sudah menampakkan dirinya. Langit jingga dan matahari yang mulai tenggelam. Sangat indah cipataan tuhan. Hana melafadzkan sholawat nabi sambil mengangumi keindahan ciptaan Tuhan di depannya.


Tangan kekar tiba-tiba melingkar di pinggangnya dan memeluknya dari belakang seraya kepalanya ia tumpukan di kepala istrinya. Hana memegang tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya.


"Indahnya ciptaan Tuhan." Gumam Revan pelan sambil masih memeluk istrinya dari belakang.


"Heem. Sangat indah ciptaan Tuhan, Mas." Sahut Hana menanggapi ucapan suaminya.


Lama mereka melakukan itu hingga Revan membalikkan badan istrinya dan memegang pundaknya.


"Kita belum sholat ashar, sayang. Kita sholat dulu yuk lalu kita makan. Aku udah laper."


Hana tersenyum merekah kearah suaminya dan mengelus pipi suaminya lembut.


"Ayo. Lebih cepat lebih baik. Hana juga udah laper." Ucapnya sambil tersenyum.


Mereka pun bergantian masuk kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan setelah itu melaksanakan sholat azhar dengan hati yang tenang dan khusyuk. Setelah selesai melaksanakan sholat azhar, Hana mencium punggung tangan suaminya dan setelah itu giliran Revan yang mengecup kening istrinya penuh sayang.


Hana membereskan peralatan sholat mereka setelah itu ia memoles bedak putih di wajahnya dan lipstick warna nude di bibirnya. Mereka bergendengan tangan menuju restoran yang di sediakan di resort itu dan memesan makanan. Mereka memesan aneka masakan seafood bakar dan goreng tak lupa sambel bumbu hijau dan nasi putih. Sedangkan minuman mereka memesan orange jus dan jus alpukat.


Mereka makan dengan lahap, setelah selesai makan mereka kembali menuju kamar mereka. Sore itu pemandangan pantai sangat indah dan banyak sekali turis yang berada di sana sekedar bermain air dan memandangi indahnya matahari tenggelam.


Namun pasangan pengantin baru itu tak akan menikmati matahari tenggelam untuk sekarang karena mereka masih sangat lelah dan butuh istirahat. Rencananya besok mereka akan menghabiskan seharian penuh untuk jalan-jalan di luar.


Saat sudah sampai di kamar Revan mengajak istrinya untuk duduk di kursi sandaran panjang di dekat kolam renang sambil bersantai.


Mereka menyandarkan badan mereka di kursi dengan menyelonjorkan kaki mereka. Mereka bersantai sambil berbincang-bincang ringan.


"Besok kamu mau kita jalan kemana?" Tanya Revan memastikan


"Aku terserah Mas saja. Kemanapun Mas pergi aku akan ikut." Jawabnya sambil tersenyum menoleh ke samping menatap suaminya.


"Kemanapun aku pergi?" Tanyanya lagi memastikan.


"Kalau aku mau ke kamar mandi berarti kamu juga bakalan ikut dong." Ucapnya berusaha menggoda istrinya dan menaik turunkan alisnya.


"Ya... ma-maksud Hana tuh kalau besok kita pergi. Tapi enggak ngekor ke kamar mandi juga." Ucap Hana gugup dan malu mendengar ucapan suaminya. Masa iya, ke kamar mandi juga berdua, batinnya mengatakan.


"Tadi bilang kemanapun aku pergi. Gimana sih, sayang."


"Bukan itu maksud aku, Mas. Maksud aku tuh..."


Ucapan Hana terpotong karena Revan menaruh tangannya di depan bibir istrinya.


"Iya, iya. Aku ngerti." Hening sesaat Revan memandangi istrinya sebentar dan di detik selanjutnya ia langsung mengangkat tubuh istrinya ala bridal style. Refleks Hana mengalungkan tangannya di leher suaminya karena takut terjatuh.


"Mas, kamu ngagetin aku tahu."


"Maaf, maaf. Bagaimana kalau kita berenang. Kayaknya enak sore-sore gini."


"Tapi kan dingin, Mas."


"Enggak apa-apa. Ada aku yang nanti ngehangatin kamu." Ucapnya sambil mengedipkan satu matanya.


Wajah Hana seketika merona mendengarnya. Revan berjalan menuju kolam renang masih menggendong istrinya.


"Aku hitung sampai tiga. 1...2..."


"Mas, aku bisa turun sendiri." Hana sangat takut jangan sampai suaminya benar-benar melemparnya ke dalam kolam renang. Namun Harapan hanya tinggal harapan, detik berikutnya Revan melompat ke dalam kolam renang bersama istrinya.


Hana yang belum siap langsung naik ke permukaan dan menarik nafas sebanyak-banyaknya di susul oleh suaminya setelahnya.


Revan mengusap wajahnya dan tersenyum melihat istrinya yang tampak kesal kepadanya. Revan mendekat namun Hana langsung memukul dada suaminya karena sudah membuatnya hampir jantungan.


"Kalau aku mati bagaimana. Mas mau jadi duda?"


Revan terkekeh mendengarnya.


"Maaf, maaf."


"Ish, Mas Revan."


Hana masih kesal oleh perbuatan suaminya dan masih memukul-mukul dada bidang suaminya. Revan menerima setiap pukulan istrinya yang tidak sakit sama sekali. Dengan sekali gerakan Revan menghentikan kegiatan istrinya dengan memegang kedua tangannya. Kedua mata mereka saling bertemu. Selanjutnya Revan memeluk pinggang istrinya dan menariknya semakin mendekat. Jarak mereka sekarang tinggal 5 cm.


Dengan irama jantung yang semakin kencang berada sedekat ini Revan mendekatkan kepalanya dan mengecup kening istrinya. Revan menelusuri wajah istrinya menggunakan jari telunjuknya mulai dari kening, hidung dan berakhir di bibir merah istrinya. Hana menutup matanya merasakan setiap sentuhan suaminya. Revan memandangi bibir merah milik istrinya dengan tatapan mata dalam.


Perlahan ia mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya hingga bibir mereka saling bertemu. Lama mereka melakukan itu hingga Revan mengakhiri ciumannya dengan dada yang naik turun.


"Udahan yah, mandinya. Kita ke kamar!" Bisiknya di telinga istrinya.


Dengan wajah memerah Hana pun menganggukkan kepalanya dan mengikuti suaminya masuk menuju kamar mandi dan melanjutkan aksi mereka di ranjang setelah baju mereka sudah mereka tanggalkan di dalam kamar mandi.


Author kasih bonus pict babang Revan buat para readers tercinta



Yang kedua pict babang Raga si lelaki dingin



Yang terakhir untuk mengobati rindu kalean pada babang Arlan. Tapi kayaknya enggak ada deh. Tapi tenang aja Author tetep kasih bonus pict nya kok.



^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Udah dulu yah sesi bulan madunya...


Author udah kasih bonus picture buat kalean para readers. Author harap kalean juga kasih bonus vote nya, like dan komen. Kalau vote nya banyak besok bakalan diuangkap rahasianya deh, janji!


Sampai disini saja yah. Soalnya author amatir kalau masalah ranjang-ranjangan jadi enggak bisa terlalu mendetail. Maafkan author yang masih kecil ini.


Salam story from By_me