
Dalam keadaan belum sadarkan diri Max di gotong dua bodygurad Jeremy.Didudukkan di sebuah kursi kayu berhadapan dengan Jihan yang juga belum sadarkan diri.
"Ikat dia dengan sangat kuat!Aku tidak mau jika dia sampai kabur dan menghabisi kita semua."Jeremy melemparkan tali yamg cukup panjang pada anak buah nya,tentu saja tidak ada perlawanan karena Maxim belum sadarkan diri.
"Selesai Tuan..!"Ucap seorang bodygurad setelah menyimpul tali terakhir.Jeremy mengamati kerja anak buah nya kini tidak hanya tangan dan kaki Max bahkan bagian dadanya juga terikat tali yang sangat kuat,sangat mustahil untuk bisa lolos.
"Baiklah,kerja bagus.Sekarang jaga mereka dan beritahu aku jika salah satu dari mereka sadar nanti!"
Tanpa menunggu jawaban dari anak buah nya Jeremy meninggalkan Jihan dan Max disana.
"Bagaimana apa Max sudah di pindahkan?"Tanya Bianca.
"Tentu saja sayang,tapi..apa kau tidak ingin mengatakan pada wanita itu siapa Max yang sebenar nya?"Tanya Jeremy serius.
Bianca diam nampak sedang berpikir"Aku akan mengatakan nya nanti,ku harap dengan begitu kita akan lebih mudah mendapatkan semua nya.Harta Max dan semua bagian Jihan.Hahahaha...Bukan kah itu lebih baik?"
Jeremy terkekeh"Kau terlalu serakah sayang!!Tapi aku suka.Jadi bagaimana jika sambil menunggu mereka sadar,kita menghabiskan waktu berdua dulu?Rasanya sudah sangat lama dan aku sudah sangat merindukan mu!!"Jeremy menaik turunkan alisnya menggoda Bianca.
Bianca hanya menggeleng lalu melangkah menuju ranjang di sebelah nya"Siapa takut!"
Jeremy yang tidak ingin membuang buang waktunya pun segera menyerang Bianca yang juga tak mau kalah.Mereka berdua saling menyerang,pakaian yang mereka kenakan pun sudah berserakan di lantai entah siapa yang memulai tapi mereka sudah pada hidangan inti.Hasrat sudah di ubun ubun dan siap untuk melesakkan senjata nya namun...
Tokk Tokk
"Oh ****....!"Umpat Jeremy ketika terdengar suara ketukan pintu yang sangat tidak sopan itu.Menghancurkan segala hasrat dan membuat sang kebanggaan pun mengkeret loyo.Kepala?Tentu terasa pusing tujuh keliling tidak hanya Jeremy,Bianca juga merasakan hal yng sama.
"Aku akan membunuh anak buah bodoh ini!!"Jeremy menarik diri lalu berjalan meraih celana dan memakainya dengan kasar,mood nya benar benar berantakan sementara Bianca menarik selimut lalu membungkus dirinya hingga sebatas leher.
Ceklek..
"Kurang ajar,katakan ada apa?"Bentak Jeremy.
Anak buah nya yang inhin melapor pun menjadi bingung,bukankah dia di perintahkan untuk memberi tahu jika salah seorang dari mereka sudah sadarkan diri tapi sekarang.
"Maaf Tuan,tapi Tuan Max sudah sadar!"Lapor sang anak buah takut.
"Dia bukan Tuan mu bodoh!!"Maki Jeremy lagi.
Tubuh sang bodyguard pun gemetar,Dia menunduk menyesali kesalahan namun saat akan berbalik dia melihat di dalam sana ada rambut seorang wanita yang menyembul dari dalam selimut,menyadari jika sang Tuan sedang sangat kesal akhirnya bodyguard itu memilih pergi.
"Max sudah sadar?Cepat sekali."Gumam Bianca.
"Rasanya aku ingin membunuh orang saja sekarang!"Omel Jeremy.
Bianca terkekeh"Sudahlah,rencana kita juga sama penting nya.Kita bisa melanjutkan nya lain kali tapi masalah ini harus kita selesaikan terlebih dahulu.
Max berusaha keras melepaskan tali yang mengikat tubuh,tangan beserta kaki nya.Walau tangan nya sudah sangat merah tapi Max tidak peduli .Saking fokus nya Max tidak menyadari jika di depan nya ada Jihan bibinya yang belum sadarkan diri.
''Bajingan lepaskan aku!!"Teriak Max pada bodyguard yang berdiri tak jauh darinya.
Mata Max sudah melotot marah,urat urat nya menonjol untung saja pengaruh obat yang di berikan Rebeca sudah hilang berkat bantuan Dokter jika tidak maka sudah pasti dia akan mati sungguhan.
"Eughhh...''
Max menghentikan aksinya yang ingin melepaskan diri saat telinga nya mendengar lenguhan seorang wanita.Mata nya langsung menatapn ke depan.
"Akhh..Astaga Max..!''Jihan ingin berlari menghampiri Maxim namun tertahan karena kaki dan tangan nya juga terikat.Seketika air matanya turun tanpa di komando,dia lemah melihat anak nya di perlakukan seperti itu.
''Siapa kalian,apa mau kalian kenapa kalian menculik kami?"Tanya Jihan dengan deraian airmata yang sudah membasahi pipinya.Dirinya mengingat apa yang terjadi sebelum dia tak sadarkan diri.
"Max,kakek.."Jihan semakin menangis saat mengingat bagaimana kondisi Papa nya saat terjadi penyerangan di mansion mereka.
"Apa yang terjadi?''Tanya Max.
''Mereka...Mereka..menembak kakek Max!"
Rahang Max mengeras,buku tangan nya terlihat memutih.Dia marah sekarang tapi tidak bisa melakukan apapun bahkan hanya untuk mendekati Bibi nya yang tengah menangis.
'"Wah..wah ..wah..Sepertinya aku melewatkam sesuatu."Suara bariton seornag pria mengagetkan Jihan dan Maxim.Kedua nya spontan melihat ke arah suara.
"Hai Max,apa kabar?Oh pasti tidak baik baik saja.Hahahaha....."Ejek Jeremy tertawa lepas.
"Bajingan apa mau mu.Lepaskan aku brengsek!!"
Jeremy mendekati Jihan dan mengusap air matanya dengan ujung jarinya.Sementara Jihan terus menghindar karena merasa jijik."Jangan sentuh aku,cabul!!'Maki Jihan.
"Hahahhaa..Kau lucu juga,cantik lagi walau kau sudah berumur!. Manis...!"Ucap Jerwmy menghisap jarinya yang terkena air mata Jihan.
"Jauhkan tangan busuk mu dari bibiku.Aku akan mematahkan tangan mu nanti Jeremy!Lihat saja!!"Sekuat tenaga Max berusaha mselepaskan tali di tangan nya namun belum juga membuahkan hasil.
.."Apa aku terlambat...???"
Semua orang menoleh ke asal suara,mata Jihan dan Max nyaris keluar dari sarang nya.Bagaimana tidak sekarang Bianca berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang cantik dan senyum yang sangat manis.
"Mom..!!"Lirih Max yang masih belum mengerti dengan apa yang tengah terjadi,apakah Mommy nya ikut menjadi dalang dari penculikan Bibi dan juga dirinya?
"Ya anak ku sayang..!!"Jawab Bianca menghampiri Maxim yang masih bingung.
"Jadi kau juga dalang dari semua ini Bianca.Dasar wanita busuk!!"Jihan berteriak marah menatap Bianca,seandainya saja tangan dan kaki nya terikat pasti Jihan sudah menhajar Bianca.
"Mom.Kau...??"Max tidak tahu inhin berkata apa.Tidak mungkin seorang ibu menculik anak nya sendiri.
Prookk Prookkk
"Kejutan untuk mu Max..!Hahahha......Drama keluarga yang sangat lucu.Hahhaha.. Perutku sampai keram.Oh astaga...!!"Jeremy menghapus sudut matanya yang basah karena terlalu banyak tertawa.
Max mengerutkan alisnya,mencoba untuk mengurai semua nya tapi dia tidak mendapat pentunjuk apapun.
"Bagaimana kabar mu nak?Oh apakah ini sakit??"Tanya Bianca,menekan luka di bahu Max akibat pecahan kaca tadi.
Max meringis menahan sakit.
"Jauhkan tangan kotor mu dari putraku Bianca!!"Marah Jihan,gigi nya bergemeletuk saking emosinya.
"Apa..?"
Bersambung....