
Max meninggalkan Mamanya dan juga istrinya di rumah kakek Marco setelah melihat foto foto itu hati Max menjadi bingung jika papa nya meninggal karena di bunuh kenapa kakek nya sangat takut mengungkap semua nya padahal kakek nya bukan lah orang yang mudah di gertak.
Mobil Max berhenti di depan gedung kantor nya langkah lebar dan tegas nya membuat semua karyawan nya hanya diam menunduk tanpa berani menegur dirinya sama sekali.
''Hans keruangan ku sekarang!''Kata Max setelah mendaratkan bokong nya di kursi kebesaran nya.
Tak lama Hans pun sudha berdiri di hadapan nya tapi Max masih diam padahal sudah lewat beberapa detik.
''Ada apa Tuan?''Tanya Hans untuk yang kedua kalinya.
''Aku ingin kau menyelidiki kematian papa ku.Ada yang tidak beres dengan kecelakaan nya dan aku ingin kau merahasiakan ini dari mama!Kerjakan dengan sehalus mungkin Hans jangan sampai ada yang curiga jita menggali kematian itu!''
Hans sedikit mengeryitkan dahinya''Bukan kah kematian itu di nyatakan kecelakaan dan sudah terjadi beberapa tahun lalu?''Tanya Hans.
''Ya dan tadi kakek mengatakan nya dan memberikan beberapa petunjuk jika kematian nya adalah sebuah rekayasa. Kau juga harus menyelidiki papanya Rebeca seperti nya ada sesuatu yang berhubungan.''
Hans mengangguk mengerti''Baiklah akan saya kerjakan Tuan.''
''Ingat waktu mu tidak lebih dari satu minggu,jangan buang buang waktu!''
Hans meninggalkan ruangan Max setelah mengangguk mengerti,tugas nya sedikit berat karena Max hanya memberinya waktu kurang dari satu minggu tapi Hans akan berusaha sebaik mungkin.
Beberapa orang sudah Hans hubungi agar semua bisa terlihat dengan jelas apakah itu pembunuhan atau memang kecelakaan.
Max juga tidak tinggal diam,dirinya juga membuka laptop nya dan mencari berita tentang kematian papanya beberapa tahun lalu.Semua hanya menampilkan jika papanya mengalami kecelakaan akibat mabuk sehingga mobil yang di kendarainya tidak terkendali.
Max menyugar rambut nya tampak nya belum ada petunjuk apapun,mungkin dia akan menanyakan nanti pada kakek nya dan menunggu hasil dari penyelidikan Hans.
Tok..tok...
''Masuk!''
Max tidak terlalu peduli dengan siapa yang mengetuk pintu ruangan nya karena masih berkutat dengan laptop dan beberapa artikel trntang kematian papanya.
''Max,apa kau sibuk?''Suara merdu seorang wanita seketika membuat Max memamlingkan pandangan nya.
''Untuk apa kau kemari?''Tanya Max datar dan dingin.
''Oh ayolah jangan bersikap seolah olah kau tidak pernah mencintaiku Max,Aku tahu kau marah padaku tetapi ingat lah masa masa indah kita berdua dan sekarang aku juga sudah siap jika kau meminta ku menikah dengan mu.''Rebeca kembali melancarkan rayuan nya,awalnya dia enggan menemui Max tetapi setelah Bianca terus memaksa akhirnya dia menyetujuinya dan berusaha .emvuat Max mencintainya lagi.
Rebeca langsung duduk di pangkuan Max tanpa permisi dengan gata sensualnya Rebeca membelai wajah Max,menyusuri rahang tegas Max.
''Jangan menguji kesabaran ku Beca.Turun atau ku lempar kau dari sini!''Max menggeram marah tapi Beca tidak juga turun dari pangkuan nya.
Ceklek..
Mata Joya melebar melihat apa yang sednag terjadi di hadapan nya,suaminya sedang bermesraan dengan wanita yang telah menampar pipinya.
''M Ma..Maaf!''Lirih Joya.
Mata Max melebar,seketika otak nya seakan berhenti berpikir,sementara Joya sendiri juga bingung harus bagaimana.
''Mi mi?''Ucap Max terbata dia bibgung harus bagaimana sekarang dia merasa sedang kedapatan sedang berselingkuh dari istrinya.
''A aku akan keluar dan menunggu!''Kata Joya sebelumkeluar dengan menutup pintu ruangan Max.Jantung nya berdebar kencang ada rasa sakit disana entah apa yang membuat tiba tiba air mataengintip dari sudut matanya.
''Tunggu..!Max berdiri dan hal itu membuat Beca jatuh tersungkur.
''Max!''Jerit Rebeca seraya mengusap bokong nya yang sakit.Sementara Max sama sekali tidak peduli.
''Shiitt bagaimana dia bisa datang.Siapa yang membawanya kemari?Astaga kenapa aku jadi panik seperti ini?''Max terus saja mengumpat tetapi kaki nya terus melangkah mencari keberadaan Joya yang menurut Max sangat cepat pergi nya.
Joya sudah duduk di bangku taman di sekitaran kantor Max,hatinya benar benar gelisah sekarang, apa yang di lihat nya tadi harus nya tidak mempengaruhinya karena Mama nya Max sudah mengatakan jika Rebeca adalah penggantinya jika kontrak mereka sudah selesai.
Joya menatap jauh kedepan matanya terasa panas tetapi sekuat hati dia berusaha untuk tidak menangis,tidak ada yang harus dia tangisi tapi hatinya sakit kata kata Max yang mengatakan bahwa Max tidak ingin berpisah dari nya sudah mempengaruhinya.
''Kau disini?''Tanya Max.
Joya tidak melihat ke arah Max''Ya..''Jawab nya singkat.
Max menghembuskan nafasnya lalu mengambil tempat duduk di sebelah Joya sekilas Max menatap Joya yang wajah nya terlihat sangat tenang.
''Jangan salah paham!''
Joya melirik sekilas pada Max''Tidak,aku tidak salah paham.Aku ..''
''Ada apa datang?siapa yang membawamu?''Tanya Max memotong ucapan Joya.
''Kakek memintaku datang dan tadi supir yang mengantarku.Maaf!''Kata Joya selanjutnya.
Obrolan mereka terasa canggung,Joya yang merasa tidak berhak marah dan Max yang merasa bersalah.Mereka sama sama belum mengerti dengan perasaan mereka berdua akhirnya hanya diam saja tanpa mengatakan apapun lagi bahkan untuk mengatakan atau menjelaskan saja lidah mereka terasa kelu.
Bersambung..