Gadis Kecil Milik Tuan CEO

Gadis Kecil Milik Tuan CEO
Bab 77.Maxim sadar


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi tapi mata Nathan enggan terpejam,karena masih merasa bersalah dengan Jihan.Wanita itu tidak pernah marah atau pun membuat Nathan kecewa tapi kali ini Nathan tahu jika istrinya tengah meragukan nya dan hal itu membuat nya tidak bisa tidur,di pandangainya wajah istrinya yang tengah terlelap sangat damai berbanding terbalik dengan nya yang matanya masih segar.


"Aku bersumpah demi pernikahan kita jika aku tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi sayang,tapi aku benar benar tidak berselingkub dan kau harus percaya padaku jika cintaku padamu sanagtlah besar,bahkan aku rela meninggalkan dunia hitamku hanya untuk mu!!"Nathan terus mengucapkan kata kata yang tidak mungkin di dengan Jihan karena sudah tidur tapi rasa takut kehilangan membuat Nathn yang mantan seorang mafia itu seperti orang yang kehilangan akal nya.


Kembali Nathan bangun dari ranjang dan membuka amplop pembawa masalah itu,di baca nya seklai lagi mungkin saja ada yang salah atau terlewat atau bisa saja Leo mengerjai nya tapi rasanya tidak mungkin karena Leo juga terlihat marah dan kecewa padanya.


"**** kenapa bisa seperti ini,apa yang sebenarnya terjadi saat ini!Kepala ku hampir pecah karena masalah DNA ini!!"Liirh Nathan yang ebali menatap wajah istrinya.


Sementara Leo kembali ke rumah sakit,sepanjang hari dia terus menemani Maxim disana sekalipun dia sangat marah tapi Leo sadar kalau pun papa nya berselingkuh tapi Maxim tidak bersalah dalam hal ini dan munhkin Max juga akan snagat kecewa dengan mama dan papa nya.


Leo menarik kursi dan duduk di sebelah Max,menatap nya dengan teliti"Aku benci mengakui jika ternyata kita memiliki ayah yang sama.Tapi aku tidak membencimu hanya saja aku kecewa dengan papa yang tega mengkhianati mama ku!!Saat kau bangun nanti kau harus mendukung ku untuk memberi pelajaran pada papa!!"Omel Leo pada Max yang masih setia memejamkan matanya.Entahlah mungkin pepatah yang mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohon nya itu memang benar adanya nyatanya kini Leo melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan papanya berbicara dengan orang yang sedang menutup mata.


Deertttt Derrttttt


Ponsel.Leo berdering,alisnya berkerut karena ini buaknlah jam yang benar untuk menghubungi seseorang.Di tatap nya layar ponselnya yang menampilkan nama anak buah nya yang sednag di tugaskan mengawasi Bianca.


"Ada apa??"Tanya Leo datar san tanpa basa basi sedikit pun,hatinya sednag kesal lagi pula itu hanya telpon dari anak buah nya dan bukan dari kekasih nya.


"Saya sudah menjalankan apa yang Tuan perintahkan.Saya melihat Nyonya Bianca kemabli ke rumah Nona Rebeca,disana juga ada papanya Nona Rebeca tuan Jeremi."Kata anak buah Leo memberi informasi padanya.


Kepala Leo berdenyut dia tidak bisa menebak apa yang ada dalam pikiran bibi nya itu,kenapa dia harus kerumah Rebeca sementara dia punya rumah sendiri.Bukan kah sangat aneh terlebih papa nya Rebeca adalah seornag duda tengu tidak pantas jika bibi nya menginap disana.


"Baiklah!!"Jawab Leo lalu mematikan sambungan telepon nya.


Leo kembali duduk di kursinya menatap Max "Aku yakin kau akan senang mendengar jika aku hampir menemjkan istrimu yang cantik itu dan aku rasa dia juga tidak keberatan jika aku mengajak nya pergi ajuh dari kota ini,bahkan kami akan pergi meninggalkan negara ini dan membuat dunia kami sendiri.Bukankah itu lenih baik baginya dari pada dia harus menemani pria lemah sepertimu yang bahkan tidak bisa membuka matanya sendiri jadi lebih baik dia hiduo dengan ku saja,menikah dan punya banyak anak."Kekeh Leo memancing reaksi Maxim.


Dan usaha Leo ternyata tidak sia sia,Leo melihat ujung jari Max yang bergerak membuat Leo semangat.Leo berdiri dari kursinya mengamati jari Max sambil terus mengatakan kata kata yang membuat Max terpropokasi.


"Astaga ya ampun!!!"Leo mundur dua langkah dengan memegangi dadanya yang sangat terkejut,mata nya juga melotot saking kagetnya saat dia melihat ke wajah Max yang ternyata Max sudah melotot ke arahnya karena sejak tadi Leo hanya fokus ke jari Max saja.


"Kau kenapa membuat ku kaget,apa kau mau aku pingsan dan terkena serangan jantung heh??Setidak nya saat kau bangun kau bisa mengatakan sesuatu dulu padaku agar aku tahu kau sudah sa....dar..Kau sudah sadar Max??Ya ampun."Leo sendiri tersadar dari rasa terkejutnya dan berlari keluar ingin memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Maxim.


"Dokter.... Dokter....!!"Leo berteriak heboh di pagi buta.Rasa panik membuat nya menjadi bodoh padahal dia bisa menekan tombol darurat yang ada di dekat ranjang Maxim tapi Leo justru berlari dan berteriak membuat keributan.


Maxim yang baru sadar justru merasakan pusing di kepalanya karena tingkah konyol Leo.


Terlihat beberapa ornag berpakaian putih sednag berlari di lorong,mereka seorang dokter dan beberapa perawat.


"Ada apa tuan??"Tanya sang Dokter yang terlihat wajahnya agak kusut mungkin dia lelah.


"Max sudah sadar,cepat periksa dia!!"


Dokter dan perawat yang mendengarnya segera masuk dan langsung memeriksa Max dengan teliti.


"Keadaan nya cukup baik tapi pagi nanti kita akan melakukan pemeriksaan lagi dan emm maaf tuan.!"Sang Dokter melihat Leo "Jika ada sesuatu yolong tekan saja tombol itu,kami akan datang dan tidak perlu membuat keributan kasihan pasien yang lain!!"Kata sang Dokter agak takut.


Leo menggaruk kepala nya yang tidak gatal merasa bodoh sendiri"Maaf,tadi aku panik!!"Jawab Leo sementara Max hanya menggelengkan kepalanya saja.


Dokter dan perawat juga undur diri meninggalkan Max dan Leo berdua di ruangan.Keadaan justru semakin mencekam bagi Leo karena Max terus saja menatap nya seakan ingin berkata sesuatu.


"Dimana Joya??"


Bersambung...