Gadis Kecil Milik Tuan CEO

Gadis Kecil Milik Tuan CEO
Bab 63.Habisi dia


Bianca keluar dari ruang kerja Max dengan wajah masam.Kesal bercampur emosi menjadi satu.Bagaimana pun itu bukan seperti yang dia rencanakan tetapi semua yag telah dia rencanakan bersama Jeremy gagal total bahkan mereka belum mendapatkan apa apa.


Bianca meraih tas nya lalu segera keluar lagi dari rumah mengabaikan sapaan Marry yang sedang membawa teh seperti permintaan nya. Rasanya sesak didadanya karena marah.Dengan kecepatan maksimal Bianca melajukan mobil nya membelah jalanan kembali ke rumah Jeremy mungkin dia akan menginap disana.


Decit mobil terdengar mengoyak telinga,Jeremy dan Rebeca segera keluar untuk melihat siapa pelaku nya.Wajah mereka kebingungan melihat ternyata pelakunya adalah Bianca ,keduanya saling pandang.


Braakk....


Bianca menutup pintu mobil dengan sangat keras,jika bisa bicara mungkin pintu itu akan berteriak kesakitan.


Jeremy dan Rebeca sampai kaget melihat perbuatan Bianca yang menurut mereka aneh.Tapi mereka mulai mengerti jika Bianca pasti sedang marah atau sedang dalam masalah.


''Ada apa,kenapa kau marah marah seperti itu?''Tanya Jeremy mengeryitkan alisnya heran.Sementara Rebeca mengangguk setuju dengan pertanyaan papanya.


Netra Bianca masih tampak memerah,deru nafasnya naik turun.Emosi masih menguasai hatinya bahkan saat ini dia juga merasa kesal melihat Jeremy dan Rebeca padahal mereka tidak tahu apa apa.


''Gagal,gagal semua rencana kita.Kita harus bergerak dengan cepat jika tidak maka usaha kita selama ini akan sia sia!"Teriak Bianca frustasi setelah mereka bertiga masuk ke dalam rumah,membanting tas nya ke sofa lalu meraup wajah nya sendiri dengan kesal.


''Maksud mama,rencana kita menjebak Joya si wanita kampung itu gagal?Oh Tuhan,apa yang salah atau mungkin mama kurang waspada hingga rencana kita gagal?''Rebeca semakin menambah kebingungan Bianca.Seakan kegagalan rencana mereka adalah salah Bianca yang tidak hati hati.


''Hei,jaga ucapan mu!Mama sudah memeperkirakan nya dengan baik tapi entah bagaimana bisa gagal.''Bianca mengusap wajahnya frustasi sampai wajahnya terlihat merah.


''Bagaimana mungkin?''Tanya Jeremy heran.


"Aku tidak tahu yang jelas tadi Max memanggilku ke ruang kerja nya dan mengatakan semua nya bahkan dia mengatakan jika aku yang sudah menjebak Joya walau aku sempat berkilah tapi ku rasa dia tetap curiga padaku karen aku yang membawa Joya keluar dari rumah.''Bianca benar benar kehabisan akal sekarang.


"Sudahlah jangan pikirkan yang sudah terjadi dan kita tidak perlu bertengkar karena ini sekarang yang harus kita lakukan adalah habisi dia.Jika satu orang sulit untuk di habisi maka habisi mereka berdua sekaligus!''Jeremy menatap Bianca dan Rebeca bergantian,dia juga sudah mulai jengah mengatur rencana yang tidak pernah berhasil.


''Bagaimana dengan kakek tua itu?Jika Max dan Joya habis tentu dia akan menarik semua apa yang telah dia berikan dan itu akan semakin menyulitkan kita.''Tanya Bianca.Segala kemungkinan seperti nya tertutup bagi mereka jadi serba salah.


''Aku rasa tambah satu orang lagi tidak masalah,kita habisi kedua orang itu terlebih dahulu lalu buat kakek tua itu mati seakan kena serangan janting karena tidak kuat mendengar kabar kematian cucu kesayangan nya.''Timpal Rebeca.


''Ya benar,mulai sekarang kita harus mengawasi mereka dan langsung habisi saja jika ada kesempatan jangan membuang waktu!''Kata Bianca yang sedikit tenang setelah mendengar rencana jahat Rebeca dan juga Jeremy.


Jeremy mulai menghubungi pembunuh bayaran profesional dan rencana nya mereka akan menabrak Max dan Joya saat mereka sedang berdua.


Di ruang kerja Max.


Hans menatap ipad yang ada di tangan nya,setelah menghubungi anak buah nya dia kembali lagi ke ruan kerja Max.


"Tuan,Nyonya kembali ke rumah Jeremy!''Lapor Hans pada Max.


Max menghentikan kegiatan nya memutar mutar bola dunia yang ada di hadapan nya"Cari tahu ada hubungan apa antara mereka,aku rasa itu bukan hanya sekedar keinginan menjadikan Beca menantu pasti ada yang lain dari itu!''Perintah Max yang mulai mencufigai hubungan mamanya dan Jeremy dalam pikiran nya apa mungkin kematian papanya ada kaitan nya dengan mereka berdua.


"Hans tangkap orang yang sudah mengehentikan papa sebekum kecelakaan itu terjadi jika perlu hubungi semau klien papa saat itu.Kita harus bertindak cepat jika memang ini kasus pembunuhan maka pembunuhnya sudah cukup bersenang senang''Kata Max lagi.


Hans sedikit berkeringat tugasnya semakin banyak,padahal kemarin kemarin tidak sesibuk ini tapi kali ini dia harus bekerja ekstra walau tidak dirinya langsung yang terjun ke lapangan namun itu cukup membuat lelah di tambah lagi dengan pekerjaan Max yang sering terbengkalai di perusahaan semua harua Hans yang menghendel.


''Baik Tuan,secepatnya saya akan mengabari anda!''Jawab Hans.Bagaimana pun dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan pekerjaan yang Max berikan padanya.


"Baiklah kau bisa pergi!''


Hans mengangguk dan meninggalkan Max.


Max sendiri kembali ke kamar untuk menemui Joya,rasanya semua masalah nya menghilang saat dia membayangkan wajah Joya yang tersipu malu apalagi jika mengingat tanda merah yang ada di tubuh Max membuat dirinya tidak sabar.


''Apa tadi Hans melihat ini?''Gumam Max sambil memeganga lehernya tepat dimana Joya memberikan tanda kepemilikan nya.Senyum mengembang sempurna.


"Semoga Hans melihat ini,dengan begitu dia akan iri dengan ku!''Gumam Max lagi semakin semangat mengarahkan kaki nya menuju ke kamarnya.