Gadis Kecil Milik Tuan CEO

Gadis Kecil Milik Tuan CEO
Bab 79.Habisi wanita itu.


Pandangan mata yang tajam menyala sedang menatap penuh dendam pada pasangan yang kini sedang menghabiskan waktu di sebuah restorant mewah.Dua insan yang sedang menikmati waktu mereka tidak menyadari jika ada seseorang yang terus mengawasi mereka.Panas mata itu tidak bisa di padamkan,dendam sudah membakar hingga ingin menghancurkan apa saja yang di lihat nya.


Pandangan mata itu turun ke perut sang wanita yang mulai tampak membuncit,pandangan nya semakin memanas.


Klik


send.


"Habisi wanita itu!!"Aura gelap sangat terasa walau hanya mendengar suara Miranda,ya wanita itu adalah Miranda yang tanpa sengaja melihat Briyan dan Jeny di sebuah restoran,dengan sabar dia menunggu dua manusia laknat itu sampai selesai.


Miranda ingin menghabisi kedua nya tapi ada sedikit rasa tidak tega pada Briyan.Brondong nya yang pernah memberi kehangatan padanya beberapa tahun terakhir dan mungkin setelah kepergian Jeny untuk selama nya Briyan akan kembali padanya lagi.Itulah apa yang ada dalam pikiran Miranda saat ini.


Brakkk


Miranda keluar menuju supermarket di depan nya,dengan santai dan anggun wanita cantik di usia nya ini ingin membeli sesuatu yang dia butuh kan.


Ckiiittt


Bruugggkk


Akkhhhhh


Brummm


Decit suara ban yang beradu dengan jalanan serta suara teriakan seorang wanita membuat suasana yang awalnya tenang berubah mencekam.Miranda berbalik melihat ke asal suara,kening nya berkerut bingung tidak mungkin orang suruhan nya bergerak secepat itu tapi siapa?Ah rasanya dia tidak peduli toh siapa pun pelakunya yang penting target nya sama akan lebih baik karena dia tidak akan mengotori tangan nya sendiri.


"Jenyyy....!!"Teriakan panik Briyan membuat hati Miranda kembali sakit,pria yang pernah menjadi kekasih nya kini sedang memeluk seorang wanita yang tergeletak lemah di jalanan.


Huffttt


Tak ingin terlibat lagi Miranda segera kembali mengayunkan langkah nya memasuki supermarket seperti tujuan nya semula.


Ekor mata Briyan menangkap siluet Miranda yang berjalan santai,degupan jantung nya bertalu cepat.Marah Briyan yakin jika Miranda adalah dalang dari kecelakaan itu.


"Sayang bertahanlah!!"Lirih Briyan menatap wajah Jeny yang lemah.Dengan gerakan cepat Briyan membopong kekasih nya bergegas ke rumah sakit demi menyelamatkan kekasih serta calon bayi mereka.


Sementara Miranda keluar dengan menenteng beberapa kantong di tangan nya,bola matanya kembali menatap di mana keramian tadi terjadi tapi tidak terlihat lagi Briyan dan Jeny di sana.Seringaian Miranda membuat siapa saja ngeri hanya sekilas lalu Miranda kembali ke rumah nya tanpa berniat membatalkan niat nya untuk menghabisi Jeny.


Di rumah sakit Briyan mondar mandir di depan pintu IGD wajah nya jelas menyirat kan banyak beban,ingin segera menghampiri Miranda tapi dia tidak bisa meninggalkan Jeny sendirian disana.


Akhhh


Briyan menyugar rambutnya kasar,sesekali memukul dinding dingin rumah sakit"Aku akan membuat perhitungan dengan mu jika sampai terjadi sesuatu pada Jeny dan calon bayi ku!!Kau harus bertanggung jawab Miranda!!!"Gumam Briyam marah.Dia yakin Miranda adalah pelaku nya karena hanya dia yang punya alasan kuat untuk mencelakai dirinya dan Jeny.


Briyan menatap pintu yang terbuka dan langsung menyerbu saat matanya menangkap seorang pria berpakaian putih keluar dan melepas masker nya.


"Dokter bagaimana ke adaan nya?"Tanya Briyan tak sabar.


"Tenanglah Tuan.Istri anda baik baik saja begitu pula dengan calon bayi kalian!!"Tak ada luka serius namun kedepan nya anda harus lebih hati hati lagi menjaga istri dan calon anak anda!!"


Briyan menghela nafasnya lega"Baik Dok.Terimakasih!!"


Briyan mengekor suster yang mendorong brangkar Jeny untuk di pindahkan ke ruang rawat.Mata Jeny masih tertutup namun karena sang Dokter mengatakan jika semua baik baik saja maka Briyan akan percaya.


Tiga puluh menit sudah Briyan menunggu sang kekasih membuka matanya hingga getar di kantongnya membuyarkan tatapan mata nya dari sang kekasih.


"Katakan!!"Jawab Briyan pendek namun penuh aura gelap.


______________


"Baik,awasi dia dan beri aku kabar.Aku akan kesana sekarang!!'Briyan mematikan ponselnya lalu membawa langkah nya menuju ke ranjang dimana Jeny terpejam.


"Tunggula,Aku akan pergi sebentàr!!"Setelah memberi kecupan singkat di kening Jeny,Briyan langsung menemui suster untuk meminta nya menjaga Jeny karena dia akan pergi.


Tangan Briyan mengepal kuat di stir hingga memutih,dirinya sudah tidàk sabar ingin memberi pelajaran pada Miranda karena menjadi penyebab Jeny terbaring di rumah sakit.


Sebelum nya Briyan memang sempat menghubungi anak buah nya untuk mengikuti kemana pergi nya Miranda sementara dia membawa Jeny ke rumah sakit.


"Kau yakin wanita itu tinggal disini?"Tanya Briyan tanpa mengalihkan pada bangunan yang terakhir kali dilihat anak buah nya dimasuki Miranda.


"Benar tuan,Wanita itu masuk ke dalam rumah ini!!"


Tanpa membuang waktu lagi Briyan segera memasuki halaman rumah Miranda yang tidak ada penjaga nya,Gemuruh di dadanya semakin menjadi kencang.


Dughh Dugghhh


Tanpa menunggu Briyan langsung turun dari mobil nya dan menggedor pintu rumah Miranda tanpa perasaan sama sekali bahkan Briyan tidak berpikir jika seandainya anak buah nya salah memberi informasi padanya.


"Sebentar!!Siapa sih yang mengetuk pintu rumah orang seperti itu??"


Briyan mendengar suara seorang wanita yang mengomel dari dalam sana dan dia semakin yakin jika pemilik suara itu adalah Miranda.


Ceklek...


Bersambung...