
Jeny di buat terkejut dengan penampilan Miranda dan Briyan saat memasuki rumah,keadaan mereka yang hanya menganakan kain di bagian sensitif mereka membuat Jeny merasa cemburu tapi saat Jeny melihat raut wajah kedua nya Jeny yakin sesuatu yang terjadi bukan lah seperti apa yang dia bayangkan.
''Ada apa ini bu?Kenapa kalian pulang dalam keadaan seperti ini?Apa kalian di rampok?''Tanya Jeny yang tidak sabar ingin mengetahui apa yang terjadi.
''Jangan banyak tanya,cepat kau buatkan kami teh hangat tubuh kami sudah sangat kedinginan!''Bentak Miranda yang bukan nya menjawab justru memberi perintah pada Jeny.
Briyan mengedipkan kedua matanya memberi isyarat.
''Baik bu!''Jawab Jeny segera berlalu.
Miranda segera pergi untuk mengganti pakaian nya meninggalkan Briyan begitu saja.
''Jika saja Briyan lebih hati hati dan tidak mudah percaya maka semua ini tidak akan terjadi.Anak bau kencur itu tidak akan mempermalukan aku seperti ini.Awas saja!''Geram Miranda sangat kesal.
Sementara Briyan bukan nya menyusul Miranda dia justru pergi ke dapur menyusul Jeny yang sedang menyiapkan teh seperti permintaan Miranda tadi.
''Akhhh''
''Shuuttt jangan berisik sayang.Aku sangat kedinginan sekarang,jadi biarkan aku memelukmu!''Briyan melingkarkan tangan nya di pinggang Jeny dan menyembunyikan wajah nya di ceruk leher Jeny merasakan kehangatan tubuh wanita yang kini berstatus keksaih merangkap pembantunya itu.
''Kau membuatku kaget sayang.Tapi apa sebenarnya yang terjadi kenapa kalian pulang tanpa pakaian seperti itu?Kau tahu aku cemburu!''Rengek Jeny manja.
''Kau tidak perlu cemburu.Apa yang terjadi tidak lah seperti apa yang kau bayangkan sayang.Semua ini terjadi karena anak mantan pembantu Miranda.Dia sudah mempermalukan kami di pesta nya.''Jawab Briyan yang semakin mempererat pelukan nya.
''Kok bisa?Bagaimana ceritanya?''Tanya Jeny semakin penasaran.
''Lain kali saja aku akan ceritakan,sekarang cepat selesaikan tugas mu atau nenek tua itu akan memarahi mu nanti!''Kata Briyan.
''Bagaimana aku bisa bekerja jika kau memeluk ku seperti ini huh?''
''Haha kau benar,padahal aku ingin terus memeluk mu sampai pagi.Tapi baiklah aku akan melepaskan mu tapi janji malam nanti peluk aku ya!''
''Iya..jangan khawatir aku akan membuat mu hangat sepanjang malam hihihi...''ucap Jeny mengerlingkan mata nya.
''Baiklah aku pakai baju dulu ya.Sampai jumpa tengah malam nanti,love you!''Goda Briyan sambil berlalu dari dapur.
''Bu, pak ini teh nya!''Jeny mengetuk pintu kamar Miranda dengan satu tangan nya sementara tangan yang lain memegang nampan teh hangat permintaan Miranda.
Ceklek...
Pintu terbuka wajah Briyan yang menyambut Jeny membuat nya sedikit menyunggingkan senyum nya.
''Permisi pak..''Kata Jeny
''Masuklah Jen..''jawab Briyan mundur memberikan ruang untuk Jeny masuk ke kamar.
Jeny meletak kan teh di atas meja dan meninggalkan Miranda dan Briyan berdua di kamar nya.
Mirand ayang masih sibuk dengan rambut nya hanya melirik sekilas apa yang Jeny kerjakan dan dia tidak terlalu peduli selama Jeny tidak menggoda Briyan.
''Ini teh mu sayang,minumlah selagi hangat!'' Briyan menyodorkan secangkir teh pada Miranda yang menyambutnya dengan senyum manis nya.Walau hatinya masih menyimpan perasaan jengkel namun Miranda tidak akan mengungkapkan nya secara terus terang karena takut kehilangan Briyan.
''Terima kasih!''Jawab Miranda meraih teh dari tangan Briyan dan meminumnya dua teguk.
''Sudah?''Tanya Briyan saat tangan Miranda terlulur memberikan teh itu padanya.
''Hemm,terima kasih!''Miranda menjawab masih dengan senyum di bibir nya.
''Oh ya sayang,bukan kah gadis itu berasal dari kampung bagaimana dia bisa menikah dengan pria kaya seperti Maxim?Apa bi Minah pernah bercerita sesuatu?''Tanya Briyan sambil meletak kan teh itu kembali ke meja.
Wajah Miranda menegang dia harus merangkai kebohongan lagi agar Briyan tidak tahu jika Joya adalah putri nya.
''Entahlah,bi Minah tidak pernah mengatakan sesuatu,bisa saja gadis itu yang kurang ajar menggoda tuan Maxim atau memang sengaja menjual tubuh nya pada lelaki kaya itu.Aku tidak tahu apa apa lagi pula itu bukan urusan kita jangan membahasnya lagi!''Kata Miranda berharap Briyan mau berhenti membahas Joya.
''Tapi seperti ada sesuatu,dimata nya seperti menyimpan dendam.Aku bisa melihat tatapan nya yang penuh amarah,apa kau pernah menyakiti nya?''Tanya Briyan mengerutkan alisnya.
Wajah Miranda semakin memucat,tebakan Briyan membuat nya seperti sedang di sidang''Tidak,kau bicara apa?bahkan gadis itu hanya sekali di rumah ini bagaimana mungkin aku menyakiti nya?Sudah lah ini sudah malam aku sudah mengantuk!''Miranda melangkah kan kaki nya ke ranjang bersiap tidur,rasanya setiap malam dia selalu mengantuk padahal dulu dia tahan jika harus begadang tapi sekarang tidak.
Briyan melengkungkan bibir nya.''Baiklah ayo tidur!''Briyan menyusul Miranda ke ranjang tanpa protes sama sekali baginya semakin cepat Miranda tidur maka akan semakin baik untuk dirinya dan Jeny.
Bersambung....