
Mereka memasuki restoran yang ramai oleh pengunjung karena memang waktunya makan siang.
"Andre?" tanya seseorang di belakang mereka. Andre dan Rachel berputar untuk melihat siapa dia.
Seorang gadis cantik dengan rambut ikal dan dress coklat selutut menatap mereka berdua bergantian.
"Oh hai, Tasya. Apa kabarmu?" tanya Andre.
"Baik, kenapa kamu menghindariku? semua telponku kamu abaikan," protesnya menggelayut manja di lengan Andre. Rachel mengernyit dan berusaha menghindari dua orang disampingnya. Tapi Andre menahan tangannya dan memaksa tetap di sampingnya.
"Maafkan aku, sekarang aku sibuk dan yah kamu tahu sendiri. Oh ya kenalkan ini tunanganku," Andre mendorong kedua bahu Rachel dan sedikit menekannya. Rachel tersenyum dan ia mencoba ramah tamah dengan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Tapi gadis bernama Tasya itu mendengus dan membuang mukanya. Rachel menarik tangannya lagi dan salah tingkah.
"Kamu bertunangan tanpa mengundangku?" tanya Tasya mengabaikan Rachel.
"Hanya keluarga saja," jawab Andre.
"Tega kamu! terus hubungan kita gimana?" tanya Tasya yang matanya mulai berair.
"Kan dari awal kita memang hanya jalan bareng. Aku nggak pernah memintamu menjadi pacarku," jawab Andre enteng.
"Tega kamu! breng**k!" maki Tasya memukul dada Andre lalu pergi menjauh.
"Hmmh emang nggak ada hubungan. Kok baper akut. Hel? Rachel?" Andre mencari Rachel yang ternyata sudah duduk manis meminum pesanannya.
"Tega banget ninggalin aku," kata Andre.
"Yeee masak aku harus jadi kambing ompong liatin drama kamu. Lagian kamu nggak ada kapoknya yah, semua cewek di deketin," kata Rachel.
"Kan mereka yang mau," kata Andre. Rachel berpindah tempat duduk menjauhi Andre.
"Lah? kok kamu malah pindah?" tanya Andre mengikuti Rachel berpindah tempat duduk.
"Aku nggak sama dengan semua cewek yang kamu deketin," kata Rachel.
"Cieeee baper," goda Andre. Rachel mencebik lalu meminum minumannya.
"Hel?" seseorang berdiri di samping mejanya.
"Bram?" kata Rachel.
"Kamu di sini juga? gabung sekalian deh," kata Bram duduk di bangku samping Rachel.
"Boleh banget, tumben ketemu di sini," kata Rachel.
"Lagi mumet di kantor, ayo makan," ia mengajak Rachel makan dan berbasa-basi seperlunya pada Andre.
"Besok malam aku sama Noey baru bisa nginep di sana, kamu nggak apa-apa?" tanya Bram.
"Hu'um. Aman," kata Rachel dengan mulut penuh.
"Ck... makan pelan-pelan. Tuh celemotan," kata Bram sambil melap sudut bibir Rachel.
"Laper banget soalnya," Rachel nyengir ke arah Bram.
"Kalian tinggal bareng?" tanya Andre. Mereka berdua menggeleng.
"Nggak sih tapi sering aja dia nginep di rumahku," kata Rachel santai. Di bawah meja Bram menendang kakinya. 'Apaan sih?' begitulah tatapan Rachel pada Bram. Bram memutar bola matanya.
"Hmmm... begitu," Andre tersenyum kalem menanggapi.
Mereka melanjutkan makan dalam diam. Andre selalu tersenyum sedang Bram menatap Andre dengan tatapan tajam. Rachel merasa hawa panas di sekelilingnya dan pamit ke toilet.
Sementara itu dua pria tadi malah bersitegang.
"Jangan coba-coba dekati Rachel," ancam Bram.
"Dia fine-fine aja. Jangan ikut campur," balas Andre.
"Lalu kenapa? bukankah kita sama? kamu justru lebih dulu dengan dia. Sudahlah, kita sama-sama laki-laki. Toh kamu bukan pacarnya. Kalau kamu bisa tidur di rumahnya aku juga bisa,"
"Breng**k!" Bram berdiri dan menarik kerah Andre lalu meninjunya. Andre yang tersenyum membalas perlakuan Bram. Perkelahian tak terhindar. Beberapa meja tumbang dan semua yang di atas meja pecah berhamburan. Beberapa pengunjung keluar menjauhkan diri, yang lain sibuk merekam melalui ponsel. Tak ada yang berani melerai sebelum pekikan Rachel bergema diantara bunyi pecahan piring.
"Kalian apa-apaan sih?!?" bentak Rachel menarik tangan kedua pria itu dan menyeretnya keluar. Di pintu depan mereka di hadang pemilik restoran dan satpam meminta ganti rugi.
Lagi-lagi mereka berdua berebut ingin membayar semua kerugian. Akhirnya Rachel merampas kedua kartu mereka dan menyerahkan pada pemilik restoran agar membagi dua pembayaran kerugiannya. Setelah membayar mereka berjalan menjauhi restoran tersebut.
"Kalian kenapa sih? kayak anak kecil tau nggak! Malu-maluin aja!" bentak Rachel diantara kedua pria yang tinggi menjulang sementara dirinya terlihat sangat kecil. Tapi keberaniannya mengalahkan itu semua.
"Dia mulai duluan!" tunjuk Bram.
"Ngadu bocah?" goda Andre.
"Sudaaaah! kalau masih gini aku duluan!" Rachel berbalik dan meninggalkan kedua pria itu.
Rachel sampai di kantor dengan muka kusut, tak jauh berbeda dengan Cecilia yang kini wajah dan rambutnya berantakan.
"Ada tornado di sini?" tanya Rachel.
"Hmmmm..." Cecil hanya menggumam lalu meletakkan wajahnya di meja kerja. Ia lelah. Rachel tak mau mengganggunya. Sebagian besar teman-temannya sudah kembali dari makan siang dengan obrolan seru.
"Eeh gosip gaessss, pak Andre berantem! pukul-pukulan ama cowok cakep! Gemes liatnya, pengen macarin keduanya," Boy si cowok cantik di ruangan itu membuka wacana gibah di siang hari. Rachel berputar di kursinya dan berharap mereka tak mengetahui ada dirinya di sana.
"Serius? dimana?" tanya beberapa orang yang mengerumuni Boy.
"Resto, lihat niih videonya," kata Boy. Mereka semua melihat ke ponsel Boy dan dengan serius melihat tayangan tersebut.
"Stop! Coba ulangi, di mundurkan!" kata Gea.
"Wuaw! Seriusly?" kata Boy mengangkat wajahnya dari tayangan yang ada di ponsel. Dan serentak semua wajah mereka menghadap Rachel yang duduk kaku.
'Mamp*s! jawab apa nih!' batin Rachel melihat ke arah mereka yang semua wajahnya penuh tanda tanya.
Mereka melihat diantara banyak orang ada Rachel. Meski sepintas tapi jelas itu terlihat seperti Rachel meski wajahnya tak begitu jelas. Tapi melihat pakaian dan warnanya memang benar itu dirinya.
Mereka berjalan mendekat ke arahnya. Waktu seolah terhenti dan pengadilan sedang menghampiri. Rachel tak bisa memikirkan alasan yang tepat. Mereka adalah orang-orang kritis yang pasti aja menemukan celahnya untuk mencari tahu informasi tentang dirinya yang ada di sana bersama Andre. Andre! pemuda itu belum datang. Rachel harus berpikir sendiri.
Rachel menggelengkan kepalanya, teman-temannya telah mendekatinya dan mengerubungi mejanya. Bahkan Cecil yang seolah separuh nyawanya telah melayang kini kembali power. Ia melihat Rachel penuh tanya dan dengan mata membesar.
"Rachel, ini kamu kan?" tanya Gea menunjukkan video di ponsel Boy. Rachel menutup mata dan melihat ke ponsel tersebut. Rachel mengangguk.
"Kok bisa ada di sana? Bareng pak Andre lagi,"
"Kalian nggak lagi nge-date kan?"
"Kalian makan siang bareng?"
"Apa yang terjadi?"
"Jelasin Hel! Kamu ada hubungan apa dengan pak Andre!"
"Mereka berantem kenapa?"
"Ini cowok yang sering bareng kamu kan?" tanya Gea menunjuk foto Bram.
"Jadi dia cemburu atau pak Andre yang cemburu?"
"Hel, jelasin!"
Sebagian besar karyawan wanita pengagum Andre mendesaknya. Tapi pertanyaan bertubi-tubi membuatnya bingung harus menjawab apa. Tak satupun kata yang keluar dari bibirnya.
"Ehem! Siang!" Andre berdiri di belakangnya sambil berdehem. Rachel terlihat kaget dan semua mata tertuju pada Andre sekarang.