
Semakin dekat dengan ujung minggu, semakin membuat Rachel gugup dan berdebar bila mengingat akan bertemu dengan Jim. Pekerjaan yang dilakukannya juga sedikit molor dari biasanya hingga dapat teguran dari Andini. Untunglah teman-temannya mau membantu hingga ia bisa menyelesaikan semuanya dengan tepat waktu.
Rachel juga mulai menjaga jarak dengan Andre. Ia takut bila Andre mendekatinya untuk alasan lain. Ia juga merasa tak enak dengan Andini. Selama ini ia menutup mata saat melihat bagaimana Andini sangat sinis menatapnya saat dekat dengan Andre.
Akhirnya hari yang ditunggu telah tiba, dari sore Rachel sudah mempersiapkan diri dan juga outfit yang akan ia kenakan. Ia juga menyiapkan peralatan make up, tas dan juga sepatu yang akan ia pakai. Setelah mandi, ia merias diri sebaik mungkin. Ia dibantu Noey.
Berbeda dengan Rachel, Bram justru terlihat santai melihat kedua gadis itu sangat sibuk da mengabaikan Bram. Seolah Bram tidak ada disana. Menyebalkan memang tapi mau bagaimana lagi.
Pukul 07.00 Rachel sudah siap. Memakai gaun berwarna navy selutut, dilengkapi dengan tas dan wedges. Juga riasan tipis. Rambutnya ia biarkan tergerai dengan sedikit bergelombang. Membuat kecantikannya semakin terpancar. Bahkan Bram agak takjub melihat sahabatnya berdandan total untuk sebuah acara reuni.
"Gimana? Oke?" tanya Rachel.
"Yaaa lumayan!" jawab Bram sambil melangkah meninggalkan Rachel dan Noey.
"Tenang kak, aku jamin kakaklah bintangnya! Jangan lewatkan kesempatan untuk berdekatan dengan Jim, kalau dia sampai tidak terpesona berarti otaknya sedikit korslet!" kata Noey sambil mendorong Rachel agar berjalan mengikuti Bram ke mobilnya.
"Thanks untuk semuanya Noey, doakan lancar ya!" ucap Rachel saat sudah masuk ke mobil.
"Pasti! Good luck ya! Kak jagain kak Rachel ya!" kata Noey pada Bram.
"Dia udah gede juga!" balas Bram. Membuat Noey kesal, Rachel hanya menanggapi dengan tersenyum.
Mobil Bram membelah jalanan malam itu. Kalau orang yang tidak tahu akan menyangka mereka pasangan yang serasi. Apalagi Bram juga menyesuaikan pakaiannya dengan Rachel. Ia menggunakan kemeja berwarna navy dengan lengan yang digulung hingga ke siku. Sebuah jam tangan menghiasi tangan kirinya, celana hitam juga sepatu. Terasa sempurna.
Tidak sampai setengah jam mereka sudah sampai di lokasi acara. Bram menggandeng Rachel saat masuk. Rachel terlihat gugup saat suara musik terdengar dari dalam ruangan. Bram menepuk punggung tangan Rachel untuk memberikan ketenangan.
Mereka disambut oleh panitia reuni. Bukan teman sekelas Rachel, tapi Rachel tahu mereka dulunya aktif di kegiatan OSIS. Mereka memasuki ruangan utama, dimana sudah banyak yang hadir dan saling menyapa. Rachel mencari beberapa teman yang ia kenal. Lalu bergabung dan mengenalkan Bram pada mereka.
Mereka duduk di salah satu meja. Banyak yang melirik ke arah Rachel dan Bram. Rachel menjadi sedikit gugup.
"Rileks, santai sedikit!" ucap Bram. Rachel mengangguk dan mencoba sedikit minuman yang disediakan. Beberapa teman sekelasnya menyapa dan ikut bergabung di meja mereka. Lalu terlibat obrolan seru.
Saat MC memanggil salah satu grup boyband di puncak acara, jantung Rachel berdegup kencang. Ia menunggu sambil matanya mengawasi beberapa penari latar yang masuk mengisi panggung.
Mereka mulai bernyanyi dan menari dengan lincah. Mata Rachel kesana kemari mencari sosok Jim. Ternyata dia tidak ada di panggung. Rachel merasa sedikit kecewa. Ia meminta ijin pada Bram untuk ke toilet.
Setelah dari toilet, Rachel berjalan menuju ruangan utama tapi ia melihat dua orang sedang berdebat di sebuah lorong. Bukannya ia mau ikut campur tapi mereka menyebut nama Jim. Ternyata mereka berdebat karena Jim yang masih belum hadir. Padahal setelah dua lagu, penari akan diganti.
Saat Rachel sedang berdiri, ia ragu antara kembali ke ruangan utama atau bertahan disana sambil menunggu kedatangan Jim. Tapi keberuntungan berpihak padanya, sebuah rombongan kecil berjalan tergesa-gesa kearahnya. Belum sempat Rachel menghindar, seseorang menabraknya hingga ia membentur dinding dan merasa kakinya terkilir. Rachel sedikit mengaduh karena kakinya. Tapi beberapa orang hanya melewatinya, tak peduli ia yang kesakitan.
Rachel memegang kakinya yang sakit dan tidak menyadari bahwa suara berisik tadi sudah berhenti. Dan saat ia mendongak, barulah ia menyadari bahwa Jim menatapnya. Rombongan Jim juga ikut berhenti, menatap Rachel dan Jim bergantian.
Sejenak Rachel ingin berlari ke arah Jim namun yang terjadi Jim berbalik dan masuk ke ruangan khusus dengan dua orang temannya. Rupanya yang mengikutinya tadi hanyalah fans. Karena hanya mereka yang berisik tinggal di luar ruangan.
Dengan sedikit kesal, Rachel berbalik dan akan kembali ke ruangan utama. Ia yakin ia tak akan bisa masuk ke ruangan tersebut. Rachel berpegangan pada dinding dan mulai melangkahkan kakinya. Rasanya seketika berdenyut dan sakit.
Pintu kembali terbuka dan dua orang dengan berpakaian hitam menghampiri Rachel.
"Sakit nona? Maaf tapi beberapa orang kami melihat nona terluka. Jika tidak keberatan kami akan membawa nona ke ruangan dan mengobati kaki nona. Sepertinya beberapa orang terlalu antusias karena penampilan grup kami," ucap salah seorang dari mereka. Rachel tertegun sejenak dan berusaha mencerna apa yang mereka katakan.
"Nona? Mau ikut dengan kami?" tanya yang satunya.
"Ya, tolong!" ucap Rachel, sepertinya inilah kesempatannya untuk masuk ke ruangan khusus tersebut. Di sanalah Jim sedang bersiap untuk penampilannya. Kedua orang tersebut meminta maaf pada Rachel sebelum membantunya memapah dan berjalan memasuki ruangan yang mereka maksud.
Mereka berjalan perlahan karena Rachel yang selalu mengernyit saat mencoba melangkahkan kakinya. Rachel sedikit memaksa berjalan meski rasanya sangat sakit. Tiba-tiba suara teriakan di luar sana bergema memekakkan telinga. Sepertinya grup band tersebut melakukan beberapa dance yang memancing teriakan. Apakah Jim ada diantara dancer tersebut? Rachel penasaran ingin melihat ke panggung tapi kedua orang tersebut membawanya ke belakang panggung. Ke ruangan khusus yang baru disadari Rachel ruangan tersebut terletak dua pintu setelah dari ruangan khusus yang dimasuki oleh Jim!
Rachel sedikit panik dan ingin kembali. Tapi kedua orang tersebut memaksanya membawa ke ruangan lain. Meski Rachel berteriak meminta untuk kembali tapi kedua orang tersebut tidak menggubrisnya dan membawa Rachel ke ruangan lain. Rachel berteriak tapi tak ada yang mendengar, karena teriakannya tenggelam oleh suara musik dan suara teriakan dari ruangan utama.
Rachel yang panik berkali-kali memberontak dan menjerit. Kedua orang tersebut memegang kedua tangan Rachel dan memaksanya memasuki ruangan yang mereka maksud. Tapi rasa sakit di kakinya membuat Rachel tak berdaya.
"Tolong...! Jim...!" teriak Rachel sesaat sebelum ia masuk ke ruangan tersebut.