Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
50


"Maaf, kalian siapa?" Jim mengernyitkan dahinya melihat dua gadis asing di ruangannya. Kedua gadis itu berdiri kaku lalu saling menatap dan kembali melihat Jim.


"Jim..." bisik Ibunya.


"Siapa? Siapa mereka?" tanya Jim menunjuk kedua gadis itu.


"Jim... Mereka temanmu. Rachel dan Noey! Apa kamu lupa?" tanya ibu Jim.


"Tidak! Aku tidak punya teman dengan nama itu!" kata Jim menatap kedua gadis itu tak suka.


"Jim... Apa kamu lupa? Kamu menari di taman? Bahkan hampir setiap malam kamu menari di sana, memanggilku dan..."


"Tidak... Tidak.. Aku tidak pernah... Di taman? Aaarrrghhhhhh...kepalaku...menjauh kalian!" sebelah tangan Jim memegangi kepalanya a sebelah lagi menyuruh kedua gadis itu menjaga jarak darinya. Seolah mereka kuman yang menjijikkan.


"Kalian keluar dulu! Jim butuh istirahat. Dia baru saja sadar!" perintah ibu Jim yang cemas melihat keadaan anaknya dan menyuruh kedua gadis itu keluar. Ia juga memencet tombol darurat memanggil perawat jaga.


"Tapi..." Rachel bertahan saat melihat Jim kesakitan.


"Udah! Ayo keluar dulu!" Noey menarik paksa tangan Rachel dan membawanya keluar bertepatan dengan tim dokter yang baru saja akan masuk.


"Kenapa dengan Jim?" tanya Rachel seperti orang linglung.


"Kita tunggu penjelasan dokter ya," kata Noey, ia mengajak Rachel duduk di kursi tunggu di lorong rumah sakit. Pikiran Rachel tak tenang, sesuatu terjadi pada Jim. Ia yakin itu.


Tak lama kemudian dokter dan perawat keluar dari ruangan Jim, mereka lewat begitu saja.


"Ayo kita masuk!" ajak Rachel.


"Tunggu sebentar!" Noey masih menahannya.


"Tapi..."


Belum sempat Rachel membantah, seorang dokter dan dua perawat berjalan melewati mereka dan masuk kembali ke kamar Jim. Cukup lama mereka di dalam.


Rachel bosan menunggu sesuatu yang tak pasti. Ia sangat ingin bertemu dengan Jim. Lalu bertanya banyak hal. Ternyata selama ini Jim dalam keadaan koma, tapi bagaimana ia bisa menari, berkenalan bahkan bercerita banyak hal dengan Rachel. Bagaimana bisa mereka berinteraksi sementara itu tubuh Jim masih terbaring koma? Kepala Rachel kembali berdenyut.


Dokter dan perawat kembali keluar ditemani oleh kedua orangtua Jim. Setelah dokter pergi, Rachel mendekat dan bertanya pada orangtua Jim.


"Bagaimana kondisi Jim, tante?" tanya Rachel.


"Semua baik-baik saja. Tapi... Sepertinya Jim kehilangan banyak memori dalam hidupnya," jawab ibu Jim.


"Hilang ingatan?" tanya Rachel, ibu Jim mengangguk.


"Sepertinya kecelakaan sekaligus kehilangan orang terdekatnya membuat traumanya semakin buruk,"


"Lalu, Jim sama sekali tidak ingat apapun?" tanya Rachel.


"Sepertinya kami mau bicara hal ini dengan kalian," ibu Jim mengajak kedua gadis di depannya untuk masuk ke ruangan Jim. Di sana Jim sedang tidur pulas.


"Dia diberikan obat penenang dan pereda rasa sakit. Kepalanya sangat sakit dan ia terus berontak. Terpaksa ia harus ditenangkan," kata ibu Jim. Kedua gadis itu saling pandang lalu kembali menatap ibu Jim.


"Kami ingin tahu hubungan kalian. Semua tentang temannya dia ingat, tapi kalian? Dia sama sekali tidak ingat apapun. Dan kami semakin curiga saat kalian kenal Jim disaat ia sedang koma," kata ayah Jim.


"Saya sudah jelaskan bahwa saya mengenal Jim beberapa bulan yang lalu, ia sedang latihan dance di taman persis di hadapan rumah saya," Rachel menjelaskan.


"Omong kosong! Bagaimana mungkin Jim latihan sementara tubuhnya di sini hidup bagaikan mati. Tidak ada respon sama sekali. Kalian membohongi kami?" tanya ayah Jim dengan suara agak keras. Membuat Rachel dan Noey sedikit takut.


"Kami tidak percaya! Sampai nanti memang terbukti kalian teman Jim. Saat ini kami sangat menjaga Jim, karena situasi sepertinya membuat hidupnya berbahaya,"


"Tidak mungkin kalian menuduh saya berbuat jahat pada Jim!" kata Rachel.


"Kami akan melindungi Jim sampai keadaannya pulih! Dan sebelum itu, kami tidak mau kalian ada di sekitar sini,"


"Tapi..."


"Udah Hel, ayo kita pergi aja!" Noey menarik tangan Rachel untuk segera berpamitan. Tapi Rachel bersikeras bertahan.


"Saya mohon, ijinkan saya bertemu sekali saja bila Jim sadar," pinta Rachel.


"Tidak, sampai ingatan Jim kembali baru temui dia," titah ibu Jim. Lalu mereka berdua masuk ke ruangan Jim dan menutup pintunya.


Rachel menitikkan air mata. Bagaimana mungkin Jim melupakannya. Kemarin baru saja Jim memeluknya dan memintanya menjadi seseorang yang spesial. Bahkan rasa manis ciuman kemarin masih terasa di bibirnya. Kenapa sekarang Jim malah melupakan semuanya?


Rachel berbalik dan bergegas ke ruangan dokter meminta penjelasan tapi dengan tegas dokter juga tidak mau menjelaskan apapun pada Rachel yang statusnya hanyalah pacar.


Dengan lesu Rachel mengikuti Noey menaiki mobil dan pulang. Sepanjang perjalanan Noey mengajak Rachel bicara tapi Rachel hanya menjawab singkat. Akhirnya Noey menyerah dan membiarkan Rachel sementara mencerna apa yang terjadi.


Sesampainya di rumah, Bram menunggu kedua gadis itu di teras rumah.


"Sudah boleh pulang?" tanya Bram basa-basi. Rachel hanya mengangguk dan segera pamit ke kamarnya.


"Dia kenapa?" tanya Bram mengikuti Noey ke dapur.


"Kayaknya shock, kakak tau dia punya pacar nggak sih?" Noey balik bertanya sambil berbisik padahal tak akan ada yang mendengar mereka. Bram mengangkat bahu.


"Nggak tahu juga, kenapa dia? Diputusin?" tanya Bram.


"Nggak, pacarnya kecelakaan. Terus ilang ingatan,"


"Beneran? Kapan kecelakaannya?" tanya Bram.


"Nah itu dia masalahnya!" Noey berkata sambil menjentikkan jari telunjuk dan jempolnya hingga berbunyi lalu ia berjalan ke meja makan dan duduk di sana. Begitu juga dengan Bram.


"Apa? Coba cerita!" pinta Bram.


"Bukannya kalian lagi berantem? Ngapain kepo?" kata Noey sambil melotot ke arah kakaknya.


"Nggak juga sih, kakak baik-baik aja kok sama Rachel," elak Bram


"Yakin? Bukannya pacar kakak lagi nggak teguran? Bukannya bantuin biar damai, malah ikut-ikutan nggak negur!"


"Nggak gitu Noey! Emang kakak nggak ada ketemu Rachel, jarang banget akhir-akhir ini!"


"Yaa.... Ya... Yaaaa percayaaaaa," Noey segera menghabiskan air minumnya lalu beranjak ke kamar yang biasa ia tempati.


"Noey! Dek! Yaaah... Belum cerita loh! Kok malah pergi?" Bram menggedor pintu kamar Noey. Tapi Noey cuek malah mengunci pintu kamar dari dalam. Sengaja mengerjai kakaknya biar jera. Dia berharap Bram peka dan menjaga Rachel tapi ternyata kakaknya malah sibuk dengan pacarnya. Noey tidak sepenuhnya menyalahkan kakaknya, mungkin dia juga menjaga perasaan pacarnya tapi...


"Aaarrrrggghhh... Serba salah. Kasihan kak Rachel. Mudah-mudahan dia baik-baik aja," kata Noey sesaat sebelum ia tidur dan memejamkan matanya.


Lalu apa yang terjadi pada Rachel? Ia merasa ada sesuatu yang janggal, ia berharap ini semua mimpi dan ia bisa kembali melihat Jim di taman sambil menari. Ia akan menemani Jim dan menceritakan semuanya kejadian hari ini. Ia tidur di kamar kerjanya, lalu membuka jendela. Semilir angin memainkan rambutnya. Ia menatap ke arah taman. Taman itu kosong. Sunyi.