Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
15


Braakkk!


Pintu belakang terhempas karena angin. Cecil segera ke belakang dan menutup pintunya.


"Kamu pucat banget, kamu nggak apa-apa?" tanya Cecil.


"Nggak apa-apa, cuma kaget aja," kata Rachel. menarik napas, menetralisir degup jantungnya. Hembusan angin mengagetkannya. Setelah itu Rachel masuk ke kamarnya dan berbaring menatap langit-langit kamarnya.


Andre menelponnya dan mengajaknya jalan yang di tolak oleh Rachel. Ia tak mungkin meninggalkan Cecil di rumah sendiri. Dan kalau diajak dia menolak. Rachel memutuskan untuk tidur siang, mumpung bisa beristirahat.


Rasanya baru beberapa menit ia tertidur, Cecil mengetuk pintu kamarnya dan membangunkannya. Rachel mengucek mata dan menggeliat sebentar sebelum membukakan pintu kamar.


"Ada apa?" tanya Rachel.


"Dicariin sama pak Andre," bisik Cecil.


"Suruh tunggu aja, aku ke kamar mandi sebentar," pesan Rachel. Cecil mengangguk sebelum menutup pintu kamar Rachel.


Entah kenapa Andre lagi-lagi muncul di rumahnya. Rachel segera ke kamar mandi, membasuh wajahnya dan segera menemui Andre yang sedang duduk santai di ruang tamu memainkan ponselnya.


"Pak Andre, mendadak banget ke sini," sapa Rachel.


"Ini di luar kantor, santai aja. Kita sebaya loh," kata Andre sambil tersenyum.


"Iya, ada apa ke sini?" tanya Rachel.


"Nggak boleh nih?"


"Boleh sih, tapi nggak ngabarin," kata Rachel.


"Maaf, aku bosan seharian di rumah. Iseng jalan-jalan terus kepikiran kamu. Mampir deh, aku ganggu kamu?" tanyanya. Sebenarnya iya, tapi tak mungkin Rachel mengatakannya.


"Nggak juga kok," kata Rachel. Mereka terdiam cukup lama.


"Temani aku jalan yuk," ajak Andre tiba-tiba.


"Uhm maaf, aku lelah. Lain kali giman?" tanya Rachel menjanjikan saat melihat Andre terlihat sedih.


"Lain kali, janji?" tanyanya. Rachel mengangguk.


"Janji," kata Rachel. Lalu mereka mengobrol lama sampai akhirnya Bram pulang dan langsung masuk.


"Hel, aku ada perlu," kata Bram.


"Apaan?" tanya Rachel.


"Kita harus pergi, ini darurat! Maaf tapi kita harus pergi, kamu nggak keberatan untuk pulang dulu?" tanya Bram pada Andre.


"Kalian mau kemana? Biar aku yang antar," tawar Andre.


"Nggak perlu, ini tentang keluarga, maaf dan kami harus buru-buru!" kata Bram mendorong tubuh Andre keluar.


"Maaf Ndre!" kata Rachel. Andre hanya diam dan memasuki mobilnya lalu pergi.


"Ada apa sih? kita mau kemana?" cecar Rachel yang mengikuti Bram masuk dan malah duduk di sofa empuk miliknya.


"Emang mau kemana?" tanya Bram.


"Iiih tadi kan kamu yang buru-buru ngajak sampe ngusir Andre!" kata Rachel kesal.


"Oooh itu, hanya sebuah alasan biar dia pergi dari sini,"


"Biarin, yang dosa aku. Lagian aku udah bilang jangan terima tamu sembarangan apalagi model Andre begitu," kata Bram.


"Apa yang salah dengan Andre?" tantang Rachel.


"Banyak! kamu aja yang nggak liat. Udah ah, pokoknya jangan deket-deket Andre," ancam Bram.


"Hmmh, nggak janji,"


"Lapor bunda?" tanya Bram sambil menimang ponselnya.


"Ihhh rese'!" Rachel menghentakkan kakinya dan kembali masuk ke kamar.


"Kamu usil banget sih," kata Cecil.


"Emang aku udah di tugasin buat jaga dia. Dia itu polos, gampang di tipu. Ceroboh. Dia bisa tinggal sendiri gini juga karena aku," kata Bram bangga.


"Enak ya jadi Rachel, selalu ada yang melindungi," kata Cecil.


"Aku siap melindungi kamu sampai kapan pun kalau kamu mau," kata Bram mendekat ke arah Cecil. Cecil mendorong tubuh Bram sambil menggeleng.


"Ingat! jaga hati seseorang," kata Cecil lalu ia masuk ke kamar. Bram hanya terdiam. Mereka tak tahu hubungan apa yang ia jalani saat ini. Ingin rasanya ia kembali pada Cecil menikmati kebebasan dan bisa mencintai gadis yang benar-benar ia suka.


***


Malam itu Rachel tak bisa tidur. Ia membuka tirai jendela dan melihat ke luar. Cahaya bulan sangat terang. Ini bulan purnama, gelap malam bisa dikalahkan oleh cahaya bulan. Indah sekali. Rachel meraih sweaternya dan berjalan keluar. Langkah kakinya membawa ke taman di seberang rumahnya.


Rachel duduk di salah satu ayunan besi. Malam sudah beranjak, anak-anak sudah kembali pulang. Biasanya ada beberapa anak yang bermain di malam hari. Saat ini taman itu sepi meskipun cuaca sedang baik dan bulan bersinar terang.


Rachel menatap bulan. Sinarnya sangat terang. Dulu Rachel sangat suka bermain di luar saat purnama. Bersama teman masa kecilnya juga Bram, mereka membawa makanan dan duduk di luar beralaskan tikar. Sambil mengobrol tentang banyak hal.


Kini ia menikmati keindahan bulan sendiri. Entah bagaimana kabar teman-teman masa kecil lainnya. Rachel menarik napas dan menatap bulan.


"Indah bukan?" tanya seseorang yang berdiri tak jauh darinya yang menatap bulan. Rachel kaget dan menoleh ke arahnya. Rachel takut bila orang itu bukan orang baik. Ia bersiap lari ke rumah.


"Tenanglah, aku bukan orang jahat. Aku hanya menikmati malam sama sepertimu," ia berkata sambil kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku. Rachel melihatnya dan terpana.


Dia seorang pria tinggi dengan rambut lurus keperakan. Wajah putih dengan hidung mancung juga beberapa anting di telinganya. Menurut Rachel pria ini salah menikmati malam dengan menggunakan jas putih. Semua serba terlihat putih di mata Rachel. Kecuali matanya, mata pria itu berwarna coklat.


"Kamu siapa?" tanya Rachel.


"Aku bukan siapa-siapa, hanya sering di sini. Apa kamu orang baru di rumah itu?" ia mengedikkan dagu ke arah rumah Rachel.


"Ya, baru seminggu. Aku tak pernah melihatmu. Apa kamu tinggal di sekitar sini juga?" tanya Rachel


"Ya," ia menjawab dengan tegas dan waspada. Tatapannya tajam ke arah Rachel.


Setelah itu mereka terdiam. Tak ada yang berbicara, pria itu menatapnya. Rachel menjadi takut, ia mengalihkan pandangan ke arah bulan lagi. Pria itu tetap berdiri tak jauh darinya, hanya diam namun kali ini tatapannya hanya pada Rachel. Membuat gadis itu sedikit canggung.


"Aku pulang dulu," pamit Rachel menatap pria itu. Mereka bertatapan. Rachel seketika terpesona dengan wajahnya yang tertimpa cahaya bulan. Wajah itu perpaduan antara bule dan wajah asia lebih tepatnya Korea. Warna mata coklat dan sipit, bibir merah basah, hidung sedikit mancung, tubuh proporsional yang berbalut jaz putih dengan kemeja hitam. Semua serba pakaian putih. Antingnya, ia memakai anting yang sesekali memantulkan cahaya saat ia bergerak.


"Silahkan," ia tersenyum dengan matanya semakin sipit dengan bibir merah indah.


"Oh ya, permisi," Rachel mengangguk sedikit sebelum melewati pria itu. Ia berjalan menuju rumahnya dan segera berbaring di kamar dan memejamkan matanya.


Saat ia memejamkan matanya kembali wajah pria tadi terbayang. Senyumnya bahkan suaranya masih terngiang di telinganya.


"Astagaaaa... aku mau tidur!" gerutu Rachel sambil menarik bantal menutupi wajahnya.