
Setiap hari tak henti Jim mengirim pesan dan menelpon. Semua diabaikan oleh Rachel. Godaan terasa kuat ingin membalas pesan Jim dan mengangkat telepon dari pria itu. Tapi Rachel mengingatkan dirinya sendiri untuk bertahan karena dia tak lebih dari orang yang baru dikenal Jim.
Jim juga tidak pernah putus asa untuk menelpon gadis itu. Gadis yang akhir-akhir ini menghantui mimpinya. Perasaannya semakin kuat bahwa mereka memang dekat. Jim menduga mereka pasti memiliki hubungan yang spesial. Sayangnya gadis itu selalu menjauh darinya.
Beberapa kali Jim datang ke rumah Rachel. Tapi gadis itu bertahan untuk tidak membuka pintu da membiarkan Jim berjam-jam menunggunya. Rachel memang merasa dia sedikit kelewatan. Tapi semakin ia membuka akses untuk Jim dekat dengannya semakin membuat Rachel tersiksa. Tersiksa karena keinginan kuatnya untuk mengungkapkan siapa dirinya dan hubungannya dengan Jim.
Akhirnya setelah sekian lama, Jim akhirnya nekad ke kantor Rachel. Membuat kantornya heboh dengan kedatangan pria ganteng mencari Rachel yang baru saja kembali ke kantor karena harus mengantar beberapa berkas.
Rachel mematung di depan pintu kantor saat melihat Jim duduk di kursi kerjanya sambil tersenyum kearah teman-temannya sambil bercerita. Entah apa yang diceritakannya hingga mereka tertawa-tawa tanpa menyadari Rachel sudah kembali.
Dan yang mebuatnya kesal, kenapa Andre atau ibu Andini membiarkan pria itu masuk dan duduk santai di mejanya. Apakah semudah itu bagi Jim untuk mendapatkan ijin masuk ke ruang kerjanya?
"Jim! Ngapain di sini?" tanya Rachel. Semua mata kini tertuju ke arahnya.
Jim memutar kursinya dan menghadap Rachel. Ia tersenyum senang dan bangkit dari kursi lalu menghampiri Rachel yang masih di depan pintu.
"Rachel... Kenapa lama sekali?" tanyanya, ia lalu berbalik dan menghadap teman sekantor Rachel lalu bertanya, "Boleh kupinjam Rachel sebentar?" tanyanya sambil tersenyum. Rachel mendelik kesal kearahnya, tapi Jim cuek. Semua temannya memgangguk dan mengacungkan jempol tanda setuju.
Jim berbalik lalu dengan cepat memutar bahu Rachel dan mendorongnya menuju luar kantor.
"Tenang aja, aku udah ijin dengan ibu Andini dan pak Andre. Ayo!" Jim mengarahkan Rachel menuju mobilnya. Setelah memastikan Rachel masuk, Jim berputar dan masuk. Ia menjalankan mobilnya sambil tersenyum senang. Ia juga bersenandung lirih. Rachel tidak berniat membuka pembicaraan lebih dulu, ia masih kesal. Tapi entah alasan apa yang membuatnya kesal terhadap pria disampingnya itu.
"Kamu marah?" tanyanya.
"Tidak!" jawab Rachel cepat sambil membuang pandangannya keluar jendela.
"Apa aku ada menyinggung kamu?" tanyanya lagi.
"Tidak ada!" jawab Rachel, dengan masih menatap keluar.
"Apa aku hrus berhenti dan berdiri di luar supaya kamu bisa ngeliat aku?" tanya Jim kali ini dengan intonasi tegas. Rachel memalingkan wajahnya dan menatap Jim.
"Ada apa?" tanya Rachel sedikit melunak.
"Nah gitu kan enak!" kata Jim sambil tersenyum. Rachel kembali menjatuhkan pandangan keluar jendela.
"Hel... Kamu marah?" tanya Jim.
"Tidak Jim, kamu mau ngomong apa? Aku nggak enak dengan orang kantor,"
"Kan aku udah bilang, aku udah ijin dengan mereka. Bahkan dengan teman-teman kamu," kata Jim. Ia memasukkan persneling gigi dan kembali melaju semakin menjauhi arah kantor dan rumahnya.
"Ini kita mau kemana?" tanya Rachel.
"Ke tempat yang nyaman, aku mau bicara!" ucap Jim serius. Kali ini sukses membuat Rachel menatap Jim kembali.
"Bicara apa? Kenapa tidak sekarang aja? Kenapa harus jauh-jauh?" tanya Rachel.
"Itu pertanyaan yang aku tunggu-tunggu!" ucap Jim sambil tersenyum.
"Maksud kamu?"
"Apa kamu nggak sadar kamu diemin aku dan menolak bertemu denganku? Bahkan semua pesan dan telponku kamu abaikan?" tanya Jim sambil tersenyum sinis, membuat Rachel takut. Karena baru ini ia melihat bagaimana Jim saat marah.
"Aku nggak gitu, emang lagi banyak kerjaan aja!" jawab Rachel.
"Kalo banyak kerjaan, nggak mungkin bisa hangout sama temen-temen kantormu. Atau pergi jalan bareng temen kamu yang kita pernah ketemu di mall, siapa namanya?" tanya Jim.
"Noey..."
"Iya! Dia!" kata Jim.
"Aku nggak tahu salahku dimana, tapi jelas kamu emang sengaja menjauhi aku. Sekarang aku menuntut penjelasan!" kata Jim menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi. Bahkan Rachel tidak tahu mereka ada dimana.
"Penjelasan apa?" tanya Rachel takut.
"Ya itu! Kenapa kamu jauhi aku? Nggak angkt telepon aku, nggak balas pesanku. Dan bahkan aku ke rumahmu tapi kamu diam aja,"
"Aku nggak di rumah!" kata Rachel.
"Nggak di rumah tapi kamu ngintip aku lewat jendela kamarmu yang di atas!" kata Jim. Rachel hanya diam dan menatap Jim. Otaknya kehabisan ide untuk menjawab dan menyangkal semua. Karena memang itu yang terjadi saat itu.
"Te... Terusss...?" tanya Rachel gugup saat Jim diam saja menatapnya seolah mempertimbangkan sesuatu.
"Aku butuh sesuatu," ucap Jim sambil berpikir.
"A... A...apa?" tanya Rachel.
"Ya kamu! Emang aku butuh penjelasan lewat tetangga kamu?" kata Jim sambil terkekeh.
"Ish...! Serius napa!" ucap Rachel sambil menepuk pundak Jim. Jim menatapnya diam tanpa kedip.
'Salah lagi nih!' batin Rachel.
"Kamu mau yang serius? Beneran? Boleh? Aku seriusan ini!" kata Jim menatap Rachel sambil mengetukkan jarinya ke stir mobil.
"Apanya?" tanya Rachel kembali. Jim memperbaiki duduknya dan menatap Rachel dalam. Ia memajukan badannya mendekati wajah Rachel.
Rachel memundurkan badannya hingga ke pintu mobil, menjauhi tubuh Jim yang semakin maju mendekatkan dirinya. Jim tidak berkedip sama sekali tapi bibirnya dipenuhi senyuman. Hal itu membuat Rachel menjadi takut. Ia takut Jim akan berbuat macam-macam.
Rachel meraba pintu mobil dan berusaha membukanya tapi pintu itu terkunci. Rachel semakin panik. Jim menarik tangan Rachel yang berusaha membuka pintu.
"Jangan macam-macam!" ancam Rachel.
"Aaah... Manis sekali!" goda Jim dengan senyumannya.
"Mau apa kamu?" tanya Rachel.
"Mau kamu!" jawabnya. Andai Jim bertanya saat mereka sedang di kantor tadi, tentu jawaban itu membuatnya melayang. Sedangkan saat ini rasanya ia ingin melayangkan kepalan tangannya ke wajah Jim tapi ia tak berani.
Jim semakin meringsek maju bahkan melepasan seat belt nya. Rachel gugup sekali. Perasaannya saat ini campur aduk.
Jim semakin mendekatkan wajahnya, Rachel yang takut malah memejamkan matanya. Dan berusaha untuk tidak membayangkan wajah Jim saat ini. Terasa olehnya deru napas Jim di pipinya. Mau apa pria itu?
Rachel meraba tas dipangkuannya dan menemukan sebuah botol kecil terselip di dasar tas. Ia meraihnya dan menggenggamnya dengan erat. Ia bersiap akan menyemprotkan cairan itu ke mata Jim jika pria itu berbuat macam-macam.
Kembali ia mendengar deru napas Jim di wajahnya. Rachel masih takut untuk membuka matanya.
Dalam hati ia menghitung...
Satu...
Dua...
Tiga!
"Aaarrrrrrrrggghhhhhh!!!"
Bersyambuuuung