
Rachel menjadi seorang yang workaholic. Sejak Jim tak lagi bisa ditemui bahkan orangtuanya memindahkan Jim ke rumah sakit lain agar Rachel tak selalu mencarinya. Rasa penasaran membuatnya ingin menemui Jim, mendengar penjelasannya atau mwmastikan kondisi Jim baik-baik saja kecuali amnesianya. Rachel hanya ingin bertemu dan mlepas rindu dengan hanya melihat wajahnya. Tapi semua sia-sia.
Untuk mengubur rasa sakit dan rindu, Rachel memilih mengambil banyak pekerjaan. Itu mengalihkan pikirannya dari seorang Jim. Bahkan malam hari ia masih melanjutkan membuat mini komik di kantornya. Bukan di kamar kerjanya karena itu akan membuatnya mengingat Jim.
"Rachel... bisa ganggu sebentar?" Andre tiba-tiba duduk di hadapannya.
"Ada apa pak?" tanya Rachel.
"Hel?" panggil Andre sekali lagi, karena Rachel tetap melanjutkan pekerjaannya. Rachel mengalihkan wajahnya dan melihat Andre yang duduk gelisah di depannya.
"Ada sesuatu pak?" tanya Rachel.
"Tidak tapi saya mau kamu ikut saya nanti siang. Melihat bagian penerbit juga beberapa event komikus,"
"Kenapa nggak ngajak bawahan bapak? Saya masih di..."
"Saya sudah ijin dengan Bu Andini," Andre memotong pembicaraan Rachel. Hingga gadis itu terdiam. Sebenarnya ia malas pergi ke keramaian, berpura-pura hatinya baik-baik saja dan tersenyum pada banyak orang. Sulit untuk merasa biasa-biasa saja.
"Tapi..."
"Ayolah, kamu butuh udara segar. Kamu tidak harus bekerja terus-terusan di ruangan. Banyak hl yang bisa kamu lihat dan berikan kulitmu sedikit sinar matahari. Kulitmu sangat pucat," komentar Andre. Rachel memicingkan mata dan menggelengkan kepalanya. Kulit pucat mengingatkannya pada Jim.
"Maaf tapi saya sibuk," kata Rachel, Andre tersenyum dan memaklumi.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau ikut perintah," Andre akan beranjak tapi dilihatnya wajah Rachel berpaling dari komputer di depannya dan menatap Andre.
"Maaf, oke saya ikut," kata Rachel merasa tak enak. Andre tersenyum lebar lalu menunggu Rachel bersiap.
Di salah satu ruangan sepasang mata menatap kedua orang itu berbicara. Tatapan tajam dan penuh kebencian.
Rachel akhirnya duduk di samping Andre yang mengendarai mobilnya dengan perlahan. Mereka mampir ke percetakan sebentar lalu mereka mengunjungi tempat diadakan lomba mencari bakat, di sana mereka langsung mnuju ke stand penjualan buku-buku. Setelah mengantar beberapa pesanan, Rachel masih harus mengikuti Andre yang melihat pihak penyelenggara. Mereka berbasa-basi sebentar lalu Andre menarik tangan Rachel berkeliling lapangan.
Di sekeliling lapangan dipenuhi oleh stand-stand yang menjual aneka aksesoris, makanan dan minuman, pakaian, poster-poster. Karena memang acara ini untuk anak-anak muda.
Rachel memasuki stand buku, sementara Andre harus menemui beberapa orang disana. Stand sepi pengunjung, Rachel masuk dan melihat buku-buku yang menarik perhatiannya lalu membaca sinopsisnya. Siapa tahu ia tertarik dan akan membeli beberapa buah buku.
Tak terasa waktu bergulir. Rachel meraih ponselnya yang berdering saat ia sedang di meja kasir membayar tiga buah buku yang menarik perhatiannya. Salah satunya komik.
"Ya?"
"...."
"Baiklah, aku di stand buku. Sebentar lagi selesai,"
"...."
"Oke, aku ke sana saja. Ini sudah selesai," Rachel menekan tombol merah pada ponselnya. Ia membayar bukunya dan berlalu dari sana. Ia menemui Andre yang menunggunya di parkiran.
"Ini sudah jam 2, kita belum makan siang. Aku lapar sekali," kata Andre sambil memegang perutnya.
"Maaf kalau aku kelamaan," Rachel berkata sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Tidak apa-apa. Ayo!" Andre masuk ke mobilnya begitu juga dengan Rachel. Mereka memilih salah satu resto yang tidak begitu jauh dari tempat acara. Karena sudah sangat lapar.
"Aaah... Perutku kenyang sekali," Rachel berkata sambil mengelap bibirnya dengan tisu.
"Maafkan aku yang memaksamu ikut dan malah telat makan," kata Andre.
"Tidak apa-apa Ndre," jawab Rachel lalu menyesap minumannya.
"Akhir-akhir ini aku lihat kamu sangat tekun bekerja, ini tidak seperti biasanya. Apa ada sesuatu?" tanya Andre. Rachel menggeleng cepat. Ia tak mau menceritakan masalah pribadinya dengan Andre. Andre bukanlah orang yang dekat dengannya.
"Tidak ada apa-apa," jawab Rachel.
"Benarkah?"
Rachel mengangguk penuh semangat.
"Baiklah, kalau ada yang mu diceritakan jangan sungkan. Apa Andini menyuruhmu melakukan banyak pekerjaan?" tanya Andre.
"Uhm... Tidak Ndre. Tidak ada apa-apa. Hanya aku mau menyekesaikan banyak pekerjaan yang menumpuk. Kemarin-kemarin aku banyak izin dan sekarang aku menebusnya," kata Rachel memberikan penjelasan. Meskipun Andre tidak begitu yakin tapi ia tak mau memaksa gadis di depannya.
Setelah membayar makan siang, Andre dan Rachel kembali ke kantor.
"Kenapa lama sekali?" sebuah teguran menghentikan langkah Rachel dan Andre.
"Bu Andini? Maaf tadi saya..."
"Saya mengijinkan kamu membawanya bukan berarti harus selama ini! Dia punya pekerjaan juga di sini,"
"Andini, jangan terlalu keras dengan bawahanmu,"
"Jangan mendikteku! Rachel kembali ke mejamu!" perintah Andini, Rachel mengangguk dan berlalu dari dua orang yang selama ia bekerja di sini tak pernah akur.
Andre dan Andini di kenal saling menjaga jarak. Terutama Andini. Entah ada alasan apa hingga ia terang-terangan tidak menyukai Andre. Sementara itu Andre menyikapinya dengan santai apapun yang dipermasalahkan oleh Andini.
"Lain kali kalau mau membawa anak-anak bagianku jangan lama-lama!" Andini berkata lalu berbalik. Tapi dengan cepat Andre meraih tangan Andini.
"Sebentar!"
"Apa lagi!" bentak Andini. Untunglah di sekitar mereka tidak ada orang.
"Aku penasaran, kenapa kamu tidak suka denganku. Selalu marah-marah. Apa aku ada salah?" tanya Andre. Andini menyentakkan tangannya dan berlalu dari sana.
"Ku kira kamu PMS sepanjang masa!" Andre sedikit berteriak di belakang Andini dengan nada menggoda. Andini tak menggubrisnya dan masuk ke ruangannya.
Andini menghempaskan tubuhnya di kursi lalu memijit kepalanya. Terlalu banyak beban pikirannya saat ini. Ia ingin sebentar saja merasa tenang tapi mengingat wajah Andre membuatnya muak. Andre begitu menikmati harinya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
Nanti suatu saat ia akan membalaskan dendamnya pada Andre. Hanya tunggu menghitung hari sampai saat itu datang. Maka semua yang ingin diketahui Andre akan ia bongkar. Sambil menunggu saat itu, ia akan membuat Andre terpancing marah.
Andini bersandar di kursinya dan menatap langit-langit kantornya. Semua yang terjadi harus ada yang bertanggung jawab. Dan semua itu ada di Andre. Tak sia-sia selama ini ia mencari tahu semua kejadian yang terjadi di keluarganya. Ia akan membalaskan dendam adiknya terhadap laki-laki itu.
Mulai sekarang ia harus menjauhkan Rachel dari Andre. Ia tak mau Andre mendekati Rachel. Ia tahu akhir-akhir ini Andre mulai mendekati Rachel. Ia akan menggagalkan itu semua.