Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
35


"Benarkah?" Jim bertanya sambil menatap mata Rachel. Rachel mengangguk.


"Apa kamu tidak percaya?" tanya Rachel saat melihat Jim membuang pandangannya sambil membuang napasnya dengan kasar.


"Kamu tidak yakin denganku?" tanya Rachel.


"Aku...tidak tahu harus mengatakan apa," ucap Jim. Seketika dada Rachel berdenyut. Perih. Jim melukainya disaat ia mengatakan yang sejujurnya. Memang terlihat tidak mungkin tapi ia benar-benar menyukai pria itu. Dan air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa dicegah.


"Aku mengerti!" ujar Rachel mati-matian berusaha menghentikan air matanya tapi usaha itu gagal.


"Apa maksudmu mengerti?" Jim mendongak dan menatap Rachel yang bersimbah air mata. Jim kaget, ia tidak tahu bahwa ia menyakiti Rachel. Tapi ia merasa tidak melakukan apapun, tapi kenapa gadis itu menangis.


"Rachel... maksudku bukan..."


"Aku mengerti Jim! Bagimu aku hanyalah teman kan? Teman yang kebetulan melihatmu menari, teman yang kebetulan terpesona dengan tarianmu lalu kau hanya menganggapku penonton yang hanya sekedar menikmati latihan tarimu!"


"Bukan begitu maksudku!"


"Lalu apa?"


"Aku... Aku tidak yakin, aku.."


"Sudah kuduga! Sudahlah! Aku pulang!" Rachel berbalik dan berjalan meninggalkan Jim.


Jim masih ragu akankah dia mengejar Rachel atau membiarkan dia dengan kesalahpahaman dan membiarkan gadis itu terluka. Jim akhirnya memutuskan menarik lengan Rachel, membuat gadis itu berdiri di hadapannya dan Jim mencium bibir gadis itu dengan lembut.


Rachel tidak mampu berkata-kata. Kini air matanya mengalir kembali bersamaan dengan deras hujan yang membasahi mereka berdua, payung yang digunakannya terbang terbawa angin dan hujan. Jim ******* lembut bibirnya, merangkul pinggangnya dan Rachel menautkan tangannya di leher belakang Jim. Tak perlu berkata-kata, hanya dengan begini Rachel mengerti.


Tak dipedulikannya tubuhnya yang basah dan kedinginan, bahkan bibir Jim yang dingin tak mampu ia hentikan. Rachel terlalu larut dengan perlakuan Jim.


"Aku hanya tidak tahu harus berkata apa, aku hanya berharap kamu mengerti," kata Jim menangkup kedua pipi Rachel. Rachel mengangguk tanda mengerti. Lalu ia memeluk Jim. Ia mengerti Jim juga menyukainya tapi entah kenapa setelah tahu kebenarannya kini hati Rachel merasa sakit dan rasanya sulit digambarkan dengan kata-kata. Lagi-lagi air matanya mengalir deras.


"Jangan menangis! Tetaplah kuat, mungkin besok kita tidak bertemu tapi percayalah bahwa aku juga mencintaimu," Jim mengusap air mata Rachel.


"Kenapa Jim? Ada apa sebenarnya? Seolah-olah kamu akan pergi?" tanya Rachel.


"Tidak! Aku tidak akan pergi! Aku akan menemanimu setiap hari,"


"Aku tidak percaya Jim! Jangan membuat janji bila tidak bisa kamu tepati!"


"Tidak akan," Jim memeluk Rachel erat. Keduanya tak ingin berpisah.


Setelah sekian lama, Rachel melepas rangkulannya dan kembali mencium bibir Jim.


"Tidak Hel! Jangan lakukan itu!" disela ciumannya Jim bergumam tapi tak kuasa menolaknya. Jadi ia melanjutkan permainan mereka dibawah derai hujan.


"Terimakasih Jim!" ucap Rachel.


"Untuk?"


"Semuanya," Rachel tersenyum.


"Aku yang seharusnya berterima kasih bisa dicintai oleh wanita sebaik kamu, dan jangan membenciku,"


"Bagaimana mungkin aku membencimu jika aku mencintaimu!" kata Rachel.


"Ya, aku mengerti. Ayo, kuantar pulang. Astaga, kita melupakan payungnya dan kamu kebasahan!" kata Jim.


"Tak masalah, kamu tidak perlu mengantarku,"


"Tidak apa, aku ingin berjalan bersamamu," kata Jim. Ia meraih tangan Rachel dan mereka berjalan sambil saling menggenggam tangan.


"Besok, jika aku tampil. Maukah kamu menonton?"


"Tentu! Aku tidak akan melewatkannya," jawab Rachel sambil tersenyum.


"Dan jangan berpaling dariku,"


"Iyaaa... Hanya kamu yang aku lihat!" kata Rachel.


"Dan jangan mendadak menciumku," kata Jim


"Kenapa? Apa kamu tak suka?" tanya Rachel.


"Karena itu tugasku!" ia nyengir sambil menggaruk rambut pirangnya.


"Terserah aku dong,"


"Hahaha tidak apa-apa. Nanti akan terbiasa," kata Rachel.


"Kamu memang spesial," kata Jim.


"Seperti martabak!"


"Dengan selai,"


"Spesial tambah keju," mereka berdua tertawa sepanjang jalan. Ada saja yang mereka bicarakan. Tak peduli hujan yang semakin lebat, juga kilat yang menyambar. Sesekali ada petir meski tidak begitu kuat.


Mereka bergegas menuju rumah Rachel. Tidak jauh dari gerbang rumahnya tiba-tiba Jim berteriak. Ia menunduk dan kedua lututnya tertekuk di tanah. Ia meremas kepalanya.


"JIM! Astaga, kamu kenapa?" tanya Rachel cemas.


"Aku... Aaaaarrrrrgggghhhhh," lagi-lagi Jim berteriak kesakitan hingga tidak mampu berkata-kata.


"Jim! Jangan membuatku takut, ayo istirahat di rumahku. Di sini kita akan basah," Rachel berkata sambil menangis. Jim menggelengkan kepalanya.


"Tidak! Kamu.... Masuk..."


"Tidak! Ayo aku antarkan ke rumah sakit!" kata Rachel memegang pundak Jim.


"Biar! Tinggalkan aku..." kini napas pemuda itu sesak. Ia kesulitan bernapas.


"Jim! Aku tidak akan meninggalkanmu,"


"Pergi!"


"Tidak! Ayo ke rumah sakit! Toloooooong!" teriak Rachel. Tapi ini tengah malam ditambah hujan deras, tentu tidak akan ada orang yang mendengar atau melihat mereka.


Jim kembali memegang kedua sisi kepalanya. Rachel hanya bisa menangis dan memeluk pria itu. Andai ia bisa menggantikan rasa sakit itu, ia akan melakukannya. Tapi ini di luar kuasanya. Ia hanya berdoa di dalam hati agar Jim bertahan dan rasa sakit itu segera hilang.


Tetapi bukannya hilang, justru Jim semakin kesakitan dan kini ia berguling di antara jalanan yang becek di penuhi air hujan yang mengalir. Ia berguling ke kiri dan ke kanan.


"Jim! Hentikan! Aku mohon!" Rachel menangis melihat Jim.


"Pergi!" usir Jim.


"Tidak! Aku akan membawamu ke rumah sakit!" Rachel berdiri dan mencoba memapah Jim. Ia akan membawa Jim ke rumah sakit dengan mobilnya.


Tapi baru dua langkah, kini mereka jatuh kembali. Jim sudah tidak tahan. Sakit di kepalanya terasa sangat luar biasa. Rasanya kepala itu akan meledak, kedua matanya seolah ingin berlompatan keluar.


"Jim, bertahanlah. Ayo kita ke rumah sakit,"


"Tidak! Dengarkan aku!" disela rasa sakitnya, Jim mengumpulkan semua kesadarannya.


"Jim..."


"Ingat janjimu... Temui ibuku... di... Rumah sssss sakit... Aaaarrrrrggghhhhh... Di sana... Kamu akan tahu,"


"Aku akan ke sana, jadi bertahanlah,"


Tak disangka, ada dua orang berjalan mendekati mereka. Kedua orang tersebut hanya diam menatap Jim. Salah satunya adalah wanita yang sangat cantik.


"Jim, bangunlah... Waktumu habis!"


"Tttidaaaaakkkk!"


"Apa maksudmu! Sebaiknya kita bawa Jim ke rumah sakit, jangan berdiam diri. Ayo bantu aku lakukan sesuatu!" kata Rachel sambil mengangkat tubuh Jim yang semakin lemah. Rachel sudah kehabisan tenaga.


"Kami akan membawa Jim, menýngkirlah!"


"Aku ikut! Kaian tidak bisa melarangku!"


"Pergilah, tugasmu selesai. Kini biarkan kami membawanya,"


"Tidak! Jangan! Kemana kalian akan membawa Jim? Aku ikut!" Rachel berusaha bangkit tapi pria yang bersama wanita itu menggendong Jim dengan mudah lalu berbalik meninggalkan Rachel.


"Tunggu!"


"Tidak! Kau di sini!" wanita tadi menahan tubuhnya agar tidak mengikuti Jim.


Seolah ada tali yang menahan kakinya, Rachel tak bisa bergerak meski ia berusaha sekuat tenaga. Ia hanya bisa menggapai-gapai lalu kedua orang tersebut bersama Jim hilang di telan gelap malam.


"Jiiiimmmmmm!"