
Pagi itu suasana di rumah Noey sudah kembali normal. Bram yang cuek dan Rachel yang ceria membuat mereka terlihat biasa saja menanggapi kejadian semalam. Bahkan Noey jadi ikutan santai meski masih ada sedikit rasa tak enak terhadap Rachel.
Ponsel Rachel berdenting saat mereka sedang sarapan. Ternyata dari Jim. Rachel tertawa senang membaca pesan dari Jim. Noey hanya menatap Bram, yang disambut gelengan kepala oleh kakaknya.
Mereka lanjut makan dan Bram mengantar Noey terlebih dahulu. Setelah Noey berpamitan, Bram segera memutar arah menuju kantor Rachel.
"Bolak balik Bram," komentar Rachel.
"Sedikit, tapi abis anter kamu aku ke lapangan kok, searah ini," jawab Bram.
"Oooh...gitu. Oke deh," kata Rachel.
"So, gimana Jim? Ada progres maju nih!" kata Bram.
"Uhmm... Ya begitulah. Seneng akhirnya bisa nanyain kabar meski statusnya terlihat kayak ABG pedekate!" kata Rachel.
"Pelan-pelan aja, namanya juga nggak inget apa-apa," kata Bram.
"Iya sih! Doain ya biar dia inget. Nggak sabar rasanya," ungkap Rachel.
"Emang kalo dia inget, kamu yakin kalian tuh beneran pacaran? Soalnya aku dan Noey nggak pernah liat kalian jalan loh! Udah berapa lama kalian pacaran?" cecar Bram.
"Ituuuuu... aku nggak bisa jelasin Bram. Aku kan sering nemenin dia latihan dance setiap malam dulunya," kata Rachel.
"Masa? Kok aku nggak pernah tau?"
"Yaaa emang nggak! Kalian dah pada molor!" kata Rachel.
"Tu cowok bener-bener baik nggak sih?" tanya Bram.
"Kok jadi curigaan?"
"Ya kan biasanya cowok yang baik nggak akan ngebiarin ceweknya nemenin sampe larut Hel... Aku jadi curiga, dia sama sifatnya dengan Andre!" kata Bram.
"Tuh kan, bahas Andre lagi! Kalo nggak ada penjelasan masuk akal, skip jelek-jelekin orang lain!" kata Rachel, moodnya kembali turun.
"Siapa yang jelek-jelekin? Kenyataannya begitu! Pokoknya selagi cowok-cowok itu belum bisa dipastikan, tetap jagain kamu buat bunda. Jadi jangan macam-macam!" ancam Bram. Rachel hanya mendengus kesal. Tak lama mobil Bram memasuki halaman kantor Rachel. Rachel buru-buru turun, malas mendengar ocehan Bram.
Ia berjalan memasuki kantornya dengan tergesa-gesa tanpa melihat kanan kiri.
"Mukamu bisa buat kantor punya aura gelap!" komentar Andre.
"Bapaaak! Saya..."
"Dah, saya masuk dulu!" ia berjalan mendahului Rachel. Sebenarnya ada rasa sedikit kaku ia mendekati Rachel tapi ia ingin menggoda gadis itu. Bram menatap Rachel dari kaca kantor, melihat gadis itu kesal membuatnya sedikit tersenyum. Ia bertekad akan menaklukkan Rachel, bagaimanapun caranya. Ia tahu, Rachel sudah menolaknya tapi itu bukan segalanya. Ia harus mendapatkan Rachel.
Sementara itu, Rachel kembali melanjutkan perjalanan ke mejanya dan mulai menghidupkan komputernya.
Ia akan memulai bekerja, tapi sebelum itu dia melihat jadwal hari ini. Ternyata setelah jam makan siang ia bisa keluar.
Jam makan siang ia manfaatkan untuk makan di luar seorang diri. Saat ia memasuki resto, ponselnya berbunyi. Jim menelponnya, Rachel segera menekan tombol hijau.
"Jim?"
"Hai... Kamu sibuk?" tanyanya.
"Uhmm nggak sih, cuma nanti setelah jam makan siang ada urus kontrak sedikit,"
"Kamu dengan teman kantor?" tanyanya.
"Nggak, aku sendiri,"
"Ya udah, shareloc yah... Aku susul!"
"Okeh!" kata Rachel sambil tersenyum. Ia masuk ke resto sambil mengirim lokasinya. Sepuluh menit kemudian Jim sampai. Ia menggunakan jaket kulit dan celana sobek. Membuatnya seperti badboy. Rachel menggelengkan kepalanya.
"Udah lama?" tanyanya sambil duduk dihadapan Rachel. Aroma maskulin tercium samar dihidungnya.
"Nggak juga, mau pesan apa?" tanya Rachel.
"Samain aja!" jawabnya.
"Kamu makan siangnya salad doang?" tanyanya membelalakkan matanya tapi karena matanya yang sedikit sipit malah terlihat lucu. Rachel tertawa melihatnya.
"Kok malah ketawa?" tanya Jim sambil membenarkan rambutnya.
"Hehehe nggak apa-apa. Aku becanda doang soal salad. Ya udah aku pesenin," kata Rachel.
Tak lama pesanan mereka datang, lalu mereka menyantap makan siang sambil bercerita banyak. Jim banyak bercerita soal dance dan teman-temannya yang lucu, Rachel tak berhenti tertawa mendengarnya.
"Sudah Jim! Kram pipiku denger cerita kamu!" kata Rachel. Jim hanya tersenyum melihat pipi Rachel memerah.
"Kamu cantik! Aku jadi ingat seseorang,"
"Oh ya? Siapa?" tanya Rachel.
"Aku juga nggak ingat. Aku masih belum ingat semua," ucapnya sambil memainkan gelas ditangannya.
"Sabar yah! Aku doakan kamu cepat pulih ingatannya," doa Rachel tulus.
"Thanks... Setelah ini kamu mau kemana? Biar aku anter,"
"Nggak kemana-mana. Ntar orangnya kesini. Kita janjian diluar kantor biar enakan," kata Rachel.
"Oooh gitu..."
"Kenapa? Ada sesuatu?" tanya Rachel.
"Nggak, ntar balik ke kantor aku anter yah!" ucapnya.
"Okeh!" balas Rachel.
Setelah makan, Rachel mengajak Jim jalan melihat-lihat di dalam mall sambil menunggu jadwal kontrak di salah satu cafe di mall tersebut. Jim mengangguk dan menemani Rachel berkeliling.
"Hel... Apa aku mengganggu kamu?" tanya Jim.
"Nggak! Kenapa nanya begitu?"
"Nggak apa-apa. Aku cerita ini itu takut kamu bosen dan nganggap aku SKSD!"
"Hahaha Jim... Lucu banget sih! Ya nggaklah, aku seneng ada temennya. Daripada keliling begini sendirian, liat itu yuk!" ajak Rachel, ia refleks menarik tangan Jim dan menyeret pria itu ke sebuah toko boneka.
Rachel melihat-lihat boneka yang bisa dijadikan bantal.
"Buat apaan?" tanya Jim.
"Buat tidur, aku seneng aja beli bantal yang motif boneka. Multifungsi aja,"
"Oooh...!" tanpa Jim sadari Rachel sudah beranjak ke sini lain. Jim mengambil dua boneka berukuran sedang dan membawanya ke kasir tanpa sepengetahuan Rachel. Saat Rachel akan membayar di kasir dan melihat Jim disana ia menepuk keningnya. Dia baru ingat kalau masuk tadi bersama Jim dan melupakan pria itu karena asyik memilih-milih.
Ia melirik belanjaan Jim dan tersenyum.
"Kamu doyan boneka juga?" tanya Rachel.
"Nggak! Ini buat kamu!" katanya sambil membayar belanjaan.
"Buat aku?" tanya Rachel.
"Iya, kalo mau. Kalo nggak, ya aku kasih ke ponakan aja ntar!"
"Eeeh aku mau! Ini nggak jadi deh!" kata Rachel mengembalikan boneka yang di tangannya. Lalu kembali menemui Jim di luar toko.
Rachel memeluk boneka yang terbungkus itu dengan gemas. Seperti anak kecil, Jim ikutan gemas melihat wajah Rachel.
"Kamu suka?" tanyanya.
"Suka! Thanks ya Jim!" kata Rachel. Jim mengangguk.
"Aku anterin kamu buat kontrak, setelah itu aku antar ke kantor. Sini aku pegangin bonekanya!" pinta Jim saat mereka masuk ke cafe tempat Rachel membuat janji. Mereka duduk terpisah tidak terlalu jauh.
Dari tempat duduknya, Jim beberapa kali membidik kamera ponselnya ke arah Rachel. Ia tersenyum menatap foto Rachel. Senyum Rachel candu baginya dan mengingatkannya pada seseorang, tapi entah siapa.