
Rachel dan Bram sampai dikediaman orangtua Rachel. Bram membangunkan gadis di sampingnya. Rachel mengerjapkan matanya dan melihat ke sekeliling. Mereka sudah sampai. Rachel meraih tasnya dan turun. Dilihatnya bunda Mel sedang memeluk Bram dan menepuk pundaknya. Sedikit rasa kesal merasuki hatinya. Siapa sih anaknya?
Rachel menyalami bundanya dan memeluknya erat. Ia merindukan sosok yang disayanginya tersebut.
"Gimana kabar kamu? Pulang kok nggak ngabarin!" protes bunda Mel.
"Hehehe sengaja dadakan, biar bunda nggak repot," kata Rachel. Mereka bertiga masuk ke rumah.
Rachel merindukan rumah yang lama ia tinggalkan. Rachel masuk ke kamarnya dan membuka jendela kamarnya. Sinar matahari sore menerobos masuk. Kamarnya masih sama seperti yang ia tinggalkan. Lemari di sudut ruangan, disampingnya ada meja rias dengan beberapa fotonya bersama Noey dan Bram. Lalu ranjangnya yang nyaman seolah memanggilnya untuk berbaring. Aaah rasanya sudah sangat lama, padahal setiap tahun ia pulang. Memang rumah orangtua menjadi tempat yang paling dirindukan.
Pintu diketuk, Rachel membuka pintu kamarnya dan melihat bunda Mel berdiri di depan pintu.
"Kamu mau istirahat?" tanya bunda.
"Nanti aja, Bram mana?" tanya Rachel.
"Istirahat. Kayaknya capek banget dia. Kalo kamu nggak istirahat ayo kita minum teh di belakang," ajak bunda. Rachel berjalan ke belakang rumahnya. Di belakang rumah ada teras sedikit untuk duduk santai menghadap kolam renang.
"Kolamnya kering bun," kata Rachel sambil duduk.
"Iya, baru dikuras dan dibersihkan. Besok mungkin sudah bisa digunakan," kata bunda.
"Sepi bun, pada kemana?" tanya Rachel.
"Ada, bibi lagi di dapur,"
"Sepi ya bun?" tanya Rachel.
"Kadang-kadang memang sepi, tapi kan bunda ditemenin sama bibi. Sekali-sekali kakak kamu juga datang sama anak-anaknya,"
"Maafiin Rachel ya bun,"
"Minta maaf kenapa?" tanya bunda.
"Nggak nemenin bunda di sini,"
"Bunda nggak minta temenin loh, yang penting kalian jaga diri, nikmati hidup, bunda cuma bisa doain supaya kalian sukses, hidup bahagia, sehat-sehat saat jauh dari bunda itu udah bikin bunda senang," bunda berkata sambil tersenyum, membuat sedikit hati Rachel berdenyut.
"Aamiin, maafin Rachel yang belum bisa bahagiain bunda,"
"Kamu jenguk bunda sekali-sekali udah bikin bahagia bunda, kamu nelpon ngabarin bunda itu juga bahagianya bunda. Yang penting pandai-pandai jaga diri,"
"Siaaaap bun!" jawab Rachel sambil memberi hormat pada bunda.
"Ngomong-ngomong, gimana kabar Andre?" tanya bunda.
"Baik, tumben nanyain. Ada apa bun?" tanya Rachel.
"Emang nggak boleh bunda nanya? Sekalian bunda mau memastikan hubungan kalian,"
"Rachel nggak ada hubungan apa-apa dengan Andre, bun. Cuma temen. Emang kami dekat tapi Rachel nggak ada rasa apa-apa,"
"Terus? Jangan sampai kamu itu ngasih harapan ke cowok," kata bunda. Rachel menoleh ke arah bunda Mel sambil mengernyitkan keningnya.
"Bun, Rachel nggak ada ngasih harapan kok. Rachel deket sama dia juga karena dia kan temen sekolah dulu,"
"Iya, bunda cuma mengingatkan. Kalo memang tidak ya jaga jarak. Kalo mau ya perjuangin sama-sama," ucap bunda. Rachel hanya diam. Belum saatnya ia menjelaskan tentang Jim. Karena dirinya sendiri pun belum bisa bertemu dengan Jim. Takut bundanya akan bertanya macam-macam dan menyuruhnya membawa Jim ke rumah. Bila bicara jujur, tentu bundanya akan semakin kepikiran. Diam adalah hal terbaik saat ini. Suatu saat akan ada waktunya ia veritakan semua ke bunda.
Tak lama Bram bergabung bersama Rachel dan bunda. Mereka menikmati hari dengan bercanda dan bercerita. Sesekali bunda melirik ke arah Bram dan Rachel. Andainya...
Malam harinya, Rachel sedang duduk di teras rumah sambil membalas beberapa pesan dari temannya.
"Hel..."
"Ya?"
"Gimana kepalanya? Masih pusing?" tanya Bram.
"Nggak, udah enakan. Thanks ya udah nganter ke sini,"
"Jadilah, kenapa nggak? Jangan bilang kalo kamu nggak jadi nganterin aku!" kata Rachel.
"Siapa yang bilang nggak mau anter? Aku mau nanya, beneran mau ikut reuni?" tanya Bram.
"Yaaa siapa tahu kan, pokoknya jadi. Mungkin cuma itu kesempatan buat ketemu dia lagi,"
"Aku masih ragu, dia orangnya gimana?"
"Ragu kenapa? Dia baik kok, yakin aja ama aku,"
"Bukannya gitu, takutnya dia modelan temen kantor kamu tuh!"
"Hmmm Andre maksudnya? Kenapa sih kamu ngejudge dia nggak baik?" tamya Rachel.
"Yaaaa aku tahulah, dia nggak sebaik itu,"
"Terserah deh, lagian Andre itu cuma sebatas temen. Don't worry!" ucap Rachel.
"Yaa mudah-mudahan aja cowokmu emang lebih baik dari si Andre," kata Bram. Rachel hanya diam menatap kolam di depannya.
"Gimana kabar Cecil ya?" tanya Rachel tiba-tiba setelah sekian lama mereka terdiam.
"Aku juga belum dapat kabar dari dia," jawab Bram.
"Gimana perasaan kamu?" tanya Rachel.
"Biasa aja sih, dah ah... Malah bahas dia,"
"Cieee masih ada hati nih?" goda Rachel.
"Resek...!" balas Bram. Jadilah sore itu Rachel terus menggoda Bram hingga membuat pria itu kesal dan meninggalkan Rachel seorang diri di belakang. Rachel tersenyum melihatnya.
Denting ponsel mengalihkan pandangan Rachel. Ada pesan dari Andre. Rachel membalas pesan Andre dan mengakhiri pesan singkatnya. Ia tak mau terlalu dekat dengan Andre. Takutnya Andre salah tanggap dan menganggap ia memberi harapan untuk bisa didekati.
Rachel kini ingin benar-benar fokus pada Jim. Ia harus bertemu dan bercerita banyak. Entah bagaimana kesempatan itu akan datang nantinya, ia berharap di acara itu bisa membantunya bertemu Jim dan mengingatkan banyak hal padanya.
Rachel masuk ke rumah dan membersihkan diri lalu ikut membantu bunda menyiapkan makan malam mereka. Malam itu rumah bunda sedikit lebih ramai dari biasanya karena ada Rachel dan Bram yang selalu saling ejek tanpa henti. Membuat bunda tak lagi merasa sepi.
Setelah makan malam, bunda beristirahat sambil menonton televisi di ruang keluarga. Rachel dan Bram memutuskan untuk keluar membeli cemilan.
"Hel...!"
"Apa?"
"Kamu ada ketemu Tania?"
"Ada kemarin dan sempet nganter pulang. Kenapa?"
"Nanya doang," jawab Bram.
"Bilang aja kangen!"
"Emang!"
"Tuh kan! Tau rasa kamu! Semua cewek dipacarin, digombalin. Taunya semua nggak dapet. Nggak jera-jera juga nggak tau deh!" omel Rachel.
"Kamu kayak Noey!"
"Biarin! Emang begitu kenyataannya!" kata Rachel.
"Andai ada kesempatan, aku mau balik ke Tania lagi," kata Bram.
"Kalo ada Cecil ama Tania?" tanya Rachel.
"Keduanya bungkus!" jawab Bram dengan cepat. Rachel menjitak kepala Bram dengan keras tanda kesal. Bram hanya terkekeh.
Rachel menggelengkan kepalanya dengan keras. Susah untuk menyadarkan playboy cap karet seperti Bram. Semoga suatu saat dia sadar dan hanya macarin satu wanita. Pikiran Rachel berkelana, bagaimana dengan Jim? Pria itu sangat tampan dan memiliki talenta. Bukan tak mungkin disekelilingnya juga banyak wanita yang mendekat. Rachel merasa kesal sendiri bila mengingat itu semua.