Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
75


Dalam hati ia menghitung...


Satu...


Dua...


Tiga!


"Aaarrrrrrrrggghhhhhh!!!" Rachel berteriak kencang sambil memukuli badan Jim.


"Aduh! Aduh! Ampuuuunnnn! Hel! Udah! Udah!" teriak Jim kesakitan.


"Kamu mau macam-macam?" tanya Rachel sambil terus memukul.


"Nggak! Aku cuma mau meihat rambutmu! Ada serangga!"


"Apa!"


"Makanya stop memukuliku!" keluh Jim. Rachel menghentikan gerakan memukulnya dan Jim membuka matanya sambil melihat rambut Rachel. Ia meraih sesuatu dan membuangnya melalui jendela yang berada tepat di belakang Rachel. Membuat Rachel menahan nalas sejenak karena wajah Jim melewatinya.


"Kejam sekali!" keluh Jim mengusap tubuhnya yang sakit.


"Maaf! Habisnya kamu mendadak deket-deket!" jawab Rachel sambil mmbuang wajahnya keluar, malu.


"Kan cuma mau ambil serangga itu," ucap Jim sambil tersenyum melihat Rachel yang terlihat malu.


Rachel yang gugup merapikan rambutnya dan memperbaiki posisi duduknya. Jim tersenyum dan kembali duduk menghadap kemudi.


"Maaf," ucapnya pelan sambil melajukan mobilnya kembali.


"Kita mau kemana?" tanya Rachel.


"Ke suatu tempat," ucap Jim sambil tersenyum. Lima belas menit kemudian mereka sampai di pinggiran pantai. Cuaca panas dan panas matahari tak begitu menyengat karena sudah mulai beranjak senja.


"Kenapa mengajakku kemari?" tanya Rachel yang mengikuti lngkah Jim menuju tepian pantai, mendekati garis ombak.


"Hanya ingin menghabiskan waktu denganmu," jawab Jim. Ia merentangkan tangannya sambil memejamkan mata menghadap ke laut.


"Kenapa harus ke sini,"


"Hanya mencari ketenangan. Aku ingin bicara. Ayo kesana!" tunjuknya pada beberapa rumah kecil tanpa dinding yang memang disediakan oleh pengelola pantai untuk para pengunjung beristirahat. Jim menarik tangan Rachel dan berjalan santai. Rachel menatap tangannya yang kini digenggam oleh Jim. Rindu dan haru. Itu yang dia rasakan.


Jim duduk sambil menikmati angin yang berhembus dari arah laut.


"Kamu mau ngomongin apa?" tanya Rachel yang tak sabar melihat Jim yang sangat menikmati pemandangan daripada obrolan mereka.


"Kenapa kamu menghindariku terus?" tanya Jim menatap Rachel sambil tersenyum.


"Sudah dibilang berkali-kali, aku nggak menghindar!" jawab Rachel tak berani menatap Jim.


"Benarkah?" tanyanya. Rachel hanya diam masih menghindar dari tatapan Jim.


"Apa kamu nggak penasaran kenapa aku mencarimu?" tanyanya.


"Kenapa?" tanya Rachel.


"Apa karena Nae? Aku lihat sejak pertemuan kita di mall, kamu mulai berubah dan menghindar terus," jawab Jim.


"Aku tidak berubah!"


"Ayolah Hel, bicara jujur!" pinta Jim.


"Nggak, kamu aja yang ngerasa gitu," jawab Rachel.


"Ck! Masih nggak mau jujur? Aku cium nih!" goda Jim sambil memajukan badannya, reflek Rachel memundurkan tubuhnya.


"Jangan macam-macam!" ancam Rachel.


"Satu macam aja Hel!" Jim terkekeh dengan candaannya.


"Iiih apaan sih!"


"Apa itu penting sekarang Jim?" tanya Rachel.


"Sangat. Aku selalu merasa aneh belakangan ini," ucap Jim sambil menyugar rambutnya.


"Aneh kenapa? Apa kamu kelelahan?" tanya Rachel.


"Tidak! Aku merasa aneh. Kenapa aku merasa sangat nyaman didekatmu? Padahal saat ini hanya Nae yang dekat denganku, dan dia adalah kekasihku, aneh bukan?" tanya Jim. Rachel hanya diam, tidak tahu harus menanggapinya bagaimana.


"Aku selalu merasa tawamu, senyummu bahkan suaramu tidak asing, aku mohon jelasin semua," pinta Jim.


"Apa kamu sudah mulai mengingat sedikit saja tentang ingatanmu?" tanya Rachel.


"Tidak, hanya sesekali aku terbayang beberapa tempat. Tapi lebih banyak suara-suara yang mengisi kepalaku. Sakit rasanya bila itu terjadi," ucap Jim.


"Seandainya aku bukan orang sama diingatan kamu, gimana?" tanya Rachel.


"Ijinkan aku untuk memulai pertemanan kita," ucap Jim.


"Seandainya memang kita memang kenal, kamu mau gimana?" tanya Rachel.


"Apa kita pacaran?" tanya Jim penuh semangat. Rachel memukul paha Jim dengan keras. Jim mengaduh sambil mengusap pahanya yang sedikit perih.


"Seandainya hanya kenal, gimana?" tanya Rachel.


"Tidak tahu, tapi aku berharap kita memang punya hubungan sangat dekat. Rasanya sangat berbeda bila dekat dengan kamu," ucap Jim sambil memandang Rachel.


"Gombal! Lalu Nae gimana?" tanya Rachel.


"Gimana apanya?"


"Hubungan kalian?" tanya Rachel.


"Kamu cemburu? Bener kamu pacar aku?" tanya Jim semangat. Lagi-lagi Rachel memukul paha Jim.


"Serius ah!" kata Rachel.


"Aku serius Hel hehehe... Oke, hubunganku dengan Nae ya berjalan begitu saja. Dan semakin hari aku merasa aneh dan jauh. Dia seperti orang asing yang selalu ingin dekat denganku,"


"Kamu aja yang kepedean!" kata Rachel sambil tertawa. Jim tersenyum, meski kepalanya kini berdenyut mendengar suara tawa Rachel. Tertimpa suara jeritan dan tangisan. Lalu suara orang-orang yang sibuk. Jim memegangi kepalanya.


"Jim! Kamu nggak apa-apa?" tanya Rachel cemas saat melihat Jim.


"Sakit sekali," keluh Jim.


Rachel yang tak tega melihat Jim segera mengulurkan tangannya dan memijit kepala Jim.


"Apa masih sakit?" tanya Rachel.


"Lebih baik. Bisa pijitin kepalaku?" tanya Jim sambil merebahkan diri dengan kepalanya berada di paha Rachel.


"Heiiii!" protes Rachel.


"Sebentar saja! Please..." pinta Jim.


Tanpa berkata-kata lagi, Rachel memijit kepala Jim. Mulai dari pelipisnya lalu ke keningnya. Begitu terus berulang-ulang. Lalu Rachel beralih ke kepala Jim, memijitnya perlahan. Ia dapat merasakan beberapa bekas luka jahitan di kulit kepala Jim. Lama-lama Rachel tidak lagi memijit, tapi hanya mengelus rambut tebal Jim yang berwarna hitam.


Terdengar suara dengkuran halus Jim. Ternyata pria itu tertidur karena usapan yang dilakukan Rachel. Setelah itu, Rachel berhenti dan memandangi wajah Jim sepuas hatinya. Karena selama ini ia takut, Jim tahu jika ia mencintai pria itu.


Rachel memandangi wajah Jim lalu membuang pandangannya ke arah laut. Entah bagaimana ia bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Bahagia tentunya. Tapi ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa mereka masih belum memiliki hubungan pasti selain berteman. Jim dan dirinya seperti dua orang yang baru bertemu dan berkenalan. Seperti dua orang yang memiliki sekat. Sekat itu adalah kenangan Jim yang belum kembali.


Rachel berdoa, semoga Jim bisa cepat kembali pulih ingatannya. Lalu ia bisa menjalin hubungannya kembali dengan Jim. Terdegar egois tapi Rachel sangat lelah bila Jim masih seperti ini. Sulit untuk tidak cemburu. Sulit untuk mengatakan bahwa hatinya baik-baik saja.


Dan ia tak tahu harus menanggapi apa soal Nae. Gadis keturunan Jepang yang mengaku bahwa dia adalah pacar Jim sebelum kecelakaan. Apa benar begitu? Rachel tidak berani menduga banyak hal tentang gadis itu. Karena memang ia tak pernah melihat apalagi mengenal gadis itu.


Rachel mengangkat kepala Jim perlahan. Ia membuka cardigannya, menggumpalnya sehingga bisa menjadi tumpukan pengganti bantal. Perlahan ia meletakkan kepala Jim dengan hati-hati agar tidak membangunkan tidurnya.


Setelah itu, Rachel beranjak meninggalkan Jim yang tertidur.


Bersambung...