Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
48


De Javu...


Ini benar-benar de javu. Jim melihat diantara tetesan air hujan istrinya tergeletak di jalanan dengan bersimbah darah. Kepala Jim kembali berdenyut kuat. Jim memaksa bangkit dan berjalan mendekati istrinya dengan sempoyongan karena sakit di kepala. Kesadarannya semakin tipis.


"Sayang... Bangun! Ku mohon!" pinta Jim sambil meraih kepala Rachel dan di letakkan di pangkuannya. Di saat yang sama, sebuah mobil hitam yang sangat dikenali Jim melintas meninggalkan mereka. Jim berteriak menyumpahi si pengemudi yang menabrak dan meninggalkan mereka begitu saja.


"Rachel... Banguuuun... bangun sayang!" air matanya kini kembali mengalir. Petir menyambar disertai kilat. Air yang mengalir berubah menjadi merah. Jim menepuk-nepuk pipi Rachel berharap ada sedikit kesadaran.


"Jim..."


"Rachel... Apa itu sakit? Tetaplah sadar! Jangan tinggalkan aku, please..." pinta Jim.


"Sss... Sakit Jim... Jim, jangan lupakan aku," kata Rachel. Jim tercekat. Ini benar-benar waktunya! Jim memeluk Rachel, kepalanya kembali berdenyut kuat.


"Rachel... Jangan pergi. Jangan lupakan aku. Berjanjilah," pinta Jim.


"Jim...aku... sayang... kamu..."


"Aku juga sayang kamu, aku akan membawamu ke rumah sakit. Bertahanlah! Aku akan mencari bantuan!" Jim meletakkan kepala Rachel perlahan. Jim bangkit perlahan. Suara petir kembali menyambar, kilat masih terus berkelip.


Saat Jim berdiri, sebuah kilat yang sangat terang terpancar di depannya.


"Jim... Waktumu habis, ayo ikut denganku," Brielle dengan gaun panjangnya berdiri di hadapan Jim dengan tangan terulur. Jim menggeleng pelan.


"Tidak! Berikan aku waktu... atau... atau... Hentikan waktunya kumohon," Jim menepis air dari wajahnya.


"Aku bosan mendengarmu memohon. Ini sudah perjanjian. Tepati janjimu atau akan selamanya kamu tidak ingat apapun!" kata Brielle berjalan mendekat.


"Tapi dia sekarat!" kata Jim menunjuk sosok Rachel yang kini sudah terpejam. "Tidaaak! Rachel... Tetaplah sadar! Buka matamu!" Jim kembali berlutut di samping Rachel. Jim kembali mengumpat karena tidak ada satupun kendaraan lewat yang bisa dimintai pertolongan.


"Biarkan dia," kata Brielle, seolah melihat Rachel bersimbah darah itu hal biasa.


"Tidak! Dimana rasa simpatimu. Aku akan ikut denganmu tapi tolong dia! Aku mohon! Permintaan terakhirku, tolong selamatkan dia!" pinta Jim.


"Aku bukan tuhan yang bisa menyelamatkannya!" Brielle berkata gusar dan melambaikan sebelah tangannya hingga angin cukup kencang menyapu mereka.


"Brielle... Kali ini. Setidaknya dia dibawa ke rumah sakit! Jangan sampai terlambat! Aku tidak meminta apa-apa lagi, tolong bawa dia ke rumah sakit. Lalu aku akan ikut denganmu," kata Jim.


"Kamu manusia yang paling menyebalkan!" bentak Brielle. Dengan sekali sentak, semua bayangan berkelebat seperti film yang dipercepat di mata Jim. Membuat matanya sakit tapi ia terus memperhatikan apa yang ditampilkan.


Sebuah pick up berhenti saat melihat Rachel tergeletak di pinggir jalan. Klip.


Gambar berganti menjadi motor ringsek, hancur. Klip.


Jim terbaring tak jauh dari Rachel. Klip.


Sebuah cincin di jari manis Rachel. Klip.


IGD ramai. Klip.


Rachel di rawat dengan selang infus. Klip.


Lalu pusaran angin sangat kencang menggulung Jim dengan kuat. Tak ada yang bisa dilihat di sekitarnya. Semua berputar sangat cepat. Jim memejamkan matanya.


"Briellleeeeeee! Kauuuuuu...Aaaarrrrggghhhhhhhh!" sebuah kekuatan besar membuat kepalanya mendongak.Brielle berdiri di atas sambil menarik rambutnya agar ia mendongak. Ia melihat awan hitam di belakang Brielle, sangat menakutkan. Brielle tersenyum.


"Bersiaplah... Ini akan sedikit sakit, jika kamu bertahan sesuatu yang bahagia dan tak terduga akan menjadi takdirmu!" Brielle menarik rambut Jim.


Seketika rasa panas, sakit, berdenyut semua dirasa Jim dalam waktu bersamaan di kepalanya. Seolah nyawanya dicabut secara paksa. Matanya melotot seolah akan keluar, sakit dan panas. Lehernya ikut memanas. Tubuhnya serasa tercabut semua dari tulang dan sendinya. Jim melampiaskannya dengan berteriak tapi suaranya tidak ada.


Sebuah sinar diantara awan hitam menyedot tubuhnya dan Brielle. Yang Jim rasakan saat itu kulit yang melepuh. Ia berkelojotan karena panas. Tapi tidak ada api disekitar mereka. Akhirnyaaaa... Klip. Hilang tak berbekas.


Apakah ini akhir segalanya? Semua pengorbanannya akan sia-sia? Akankah semua akan berakhir bahagia seperti dunia dongen anak-anak? Atau berakhir dengan kesedihan? Atau kisahnya tidak pernah berakhir dan ia terperangkap di dalam kegelapan ini.


Dunia gelapnya. Benar-benar hitam. Tidak ada cahaya, tidak ada angin bahkan deru napaspun tidak terdengar. Apakah ini memang di dunia? Atau dunia lain yang tak terjamah manusia ataupun makhluk lainnya?


Aura ketakutan, kesendirian dan keputusasaan meruak di udara. Hanya itu yang terhirup. Harapanpun saat itu seolah tidak ada. Dunia ini hanya kosong. Apakah kamu bisa membayangkannya?


Sesak di dada, tapi kita tidak bisa bergerak. Kita hanya bisa mematung. Diam. Seperti hampa udara. Bahkan kita tidak merasakan apapun di sekitar kita.


Sulit sekali mengetahui tempat atau apa yang terjadi. Apakah ini salah satu rahasia Tuhan? Ataukah ini hukuman yang diberikan Tuhan? Kita makhluk lemah dan kecil bisa apa selain pasrah? Tapi pasrahpun rasanya sangat sulit. Tidak ada apapun yang terjadi. Hanya kelam. Gelap. Dan hitam.


Satu suara akhirnya terdengar di kepala. Sepertinya Tuhan masih memberikan sedikit mukjizatnya. Kita bisa berbicara di dalam hati, mencari jawaban dengan kemungkinan-kemungkinan yang mustahil terjadi. Tapi hanya otak yang bekerja. Sementara seluruh tubuh tak lagi merespon, tak lagi bisa digerakan. Kembali rasa putus asa menyeruak di dalam kepala. Memberontak sekuat tenaga agar kita tahu bahwa ini bukanlah hampa. Bahwa jiwa kita masih menyatu dengan roh. Bahwa kita bisa melakukan hal sekecil apapun.


Satu tubuh merasa menghangat dan merasakan sesuatu mengalir di pipi, aaaah itu air mata. Pertanda bahwa itu adalah respon terbaik. Hangatnya air mata yang mengalir bisa dirasakan tapi mengapa tubuh tetap sulit digerakkan? Sekuat tenaga melakukan pun rasanya percuma.


Perlahan terdengar pelan deru angin dan sebuah suara berbisik di belakang Jim.


"Waktumu telah tiba... Kamu tak akan mengingat banyak hal. Cuma ada sepenggal kenangan yang tertinggal,"


Siapa kamu?


Jim hanya bisa merespon dari dalam hati.


"Aku adalah secuil kenanganmu. Tebus rasa bersalahmu dan kamu tuai apa yang sudah kamu lakukan selama ini,"


Tunggu! Aku mau bertanya!


"Tidak ada waktu lagi!"


Sebentar saja!


"Pergilaaaaaaah!"


Tubuh Jim terdorong sesuatu membuatnya tersentak. Udara di dadanya yang kosong mendadak dipenuhi udara. Seolah dadanya menggelembung. Sesak. Di paru-parunya ada udara tapi sulit keluar.


Apa ini? Apakah ini kematian? Sakit sekali... Sesak... Mengapa sesakit ini? Aku tidak kuat... Toloooong... Tolooooong... Adakah yang mendengarku?


Satu suara yang sangat dikenalinya memasuki telinga. Tapi tubuhnya menegang. Sesuatu terjadi pada tubuhnya! Tubuhnya menolak udara yang masuk.


Tuhan, kali ini tolong aku. Pinta Jim sesaat sebelum....


Bersembeng...


Sesuai janji, aku up 2 yaaaa... Terimakasih banyak buat yang udah mau baca