
"Rachel! Rachel! Bangun sayang," bunda menepuk-nepuk pipi Rachel hingga ia tersadar dari tidurnya.
"Kamu kenapa?" tanya bunda. Rachel melihat ke jendela, terlihat masih rapi. Ternyata ia bermimpi.
"Mimpi buruk bun," kata Rachel menyugar rambutnya.
"Makanya sebelum tidur baca doa dulu," omel bunda. Ia membuka tirai jendela Rachel. Matahari sudah muncul hingga cahayanya masuk ke kamar. Rachel bangun dan melihat jendela, semua masih terlihat rapi.
"Lihat apa sih?" tanya bunda yang ikut melongokkan kepalanya ke luar jendela.
"Iih bunda ngagetin!" kata Rachel. Lalu ia berjalan ke kamar mandi, bunda kembali ke dapur menyiapkan sarapan.
Setelah mandi Rachel memakai pakaiannya, mengoleskan make up tipis dan memakai parfum lalu menyambar tasnya.
"Mau kerja hari ini?" tanya Cecil yang baru duduk di meja makan.
"Iya, kerjaan aku udah numpuk kayaknya," jawab Rachel.
"Emang kamu udah kuat? Kan masih ada jatah libur dua hari istirahat dari dokter," kata bunda meletakkan nasi goreng buatannya di tengah meja lalu ikut duduk bersama Rachel dan Cecil.
"Iya sih bun," kata Rachel.
"Ya udah istirahat, nanti kalau drop lagi di kantor gimana? Udah nggak usah kerja dulu, itung-itung nemenin bunda," kata bunda, Rachel mengangguk pasrah.
"Ya udah, aku berangkat dulu. Mau salam sama pak Andre nggak?" goda Cecil.
"Yeeee, nggak!" balas Rachel. Cecil tertawa senang.
"Terimakasih sarapanya bun, Cecil berangkat dulu," pamitnya pada bunda tak lupa meraih tangan bunda dan menyalaminya.
"Iya, hati-hati di jalan," kata bunda mengantar Cecil hingga depan pintu.
Seharian itu Rachel menghabiskan banyak waktu dengan bunda. Mumpung bunda masih di rumahnya ia curhat tentang berbagai hal. Hingga sampailah masalah percintaan.
"Bunda kira kamu pacaran sama Bram, eh taunya Bram sudah ada pacar," kata bunda.
"Nggaklah bun, Bram itu udah kayak kakak aku sendiri. Lagian tipe Bram kan bunda liat sendiri," kata Rachel.
"Memangnya kamu nggak pernah ada rasa sedikitpun ke Bram?" tanya bunda.
"Dulu sih ada, Bun. Sekarang udah nggak lagi. Cinta monyet doang," Rachel mengakuinya.
"Kalau kalian pacaran bunda seneng,"
"Loh? Kok seneng bun?"
"Iya dulu tuh bunda iseng dengan mama Bram kalau anak kami bakal di jodohin,"
"Uhukk.... uhuk...!" Rachel menyemburkan air di mulutnya dan terbatuk mendengar penuturan bundanya.
"Pelan-pelan makannya, kaget ya? Dulu iseng aja sih tapi kami kembalikan ke kalian lagi. Kalau nggak cinta masa dipaksa," bunda tersenyum ke arah Rachel.
"Syukurlah, Rachel nggak mau ah di jodohin. Ntar makin besar kepala tu si Bram,"
"Siapa yang besar kepala?" tanya Bram yang baru masuk.
"Iih masuk pake salam kek, ini udah kayak jelangkung aja!" omel Rachel.
"Yeee situ sewot banget,"
"Ngapain sih ke sini? Kerja sana!" usir Rachel.
"Kok ngusir? Bunda aja nggak apa kok, ya kan bun?" tanya Bram. Bunda hanya tersenyum melihat mereka.
"Nyari Cecil? Kerja tauk!" komentar Rachel sambil memainkan ponselnya.
"Siapa tau ikut libur juga dia,"
"Playboy cap kadal!" kata Rachel.
"Biarin!"
"Tania mau di kemanain?" tanya Rachel.
"Di simpen. Udah ah, bawel. Buuuun, bunda masak apa?" Bram berjalan ke dapur menemui bunda.
"Makasih bun," Bram tersenyum ke bunda yang memberikan piring untuk Bram makan.
"Bun, kangen banget loh masakan bunda," kata Bram sambil penuh semangat ia menyuap nasi ke mulutnya.
"Ada maunya tuh!" komentar Rachel sambil berlalu ke lantai atas, ke ruang kerjanya. Bram cuek.
"Kalau kangen makan yang banyak, nggak usah dengerin Rachel," kata bunda. Bram tersenyum sambil mengacungkan jempol.
"Kamu nggak kerja?"
"Kerja bun, ntar abis makan siang ke kantor. Tadi harus keluar liat lapangan,"
"Buru-buru?"
"Nggak juga sih bun, ada apa?" tanya Bram meletakkan sendoknya.
"Bunda mau ngomong penting, tapi kalau kamu sibuk ya gak apa, lain kali aja,"
"Nggak kok bun, masih bisa santai. Sebentar," Bram beranjak dari meja makan dan mencuci piringnya sekalian lalu keluar mengikuti bunda duduk di halaman belakang.
Mereka duduk di halaman belakang tepat di bawah pohon jambu yang rindang. Bunda mengupas buah, Bram duduk di samping bunda sambil memperhatikan bunda.
"Apa ada hal serius bun?" tanya Bram. Bunda menghentikan sejenak kegiatannya dan menatap Bram.
"Dibilang serius sih nggak juga tapi nggak serius tapi penting juga," kata bunda sambil melanjutkan mengupas buah mangga lalu memotongnya menjadi potongan lebih kecil.
"Apa itu?"
"Bunda dan mama kamu dulu pernah ingin menjodohkan kalian,"
"Bun..!" panggil Bram memotong pembicaraan bunda.
"Sebentar! Kayaknya kamu nggak setuju," bunda menatapnya serius.
"Ya gimana ya bun, Rachel-Bram itu sepaket anak bunda. Bagi Bram Rachel udah kayak adik sendiri,"
"Kamu nggak ada nyimpan rasa sedikitpun dengan anak bunda?"
"Bun, maaf bukannya Bram nolak atau gimana. Rachel menarik, dia ceria, siapa yang nggak suka dengan Rachel? Tapi Bram sudah punya pacar bun. Bram menganggap Rachel udah kayak sodara sendiri,"
"Begitu,"
"Maaf bun, kalau bunda dan mama sedang mengatur soal perjodohan, Bram minta maaf. Bram nggak bisa," wajah Bram penuh penyesalan.
"Yang mau jodohin kalian siapa?" kata bunda.
"Lah? tapi tadi kan bunda bilang..."
"Bunda kan cuma nanya, baper banget kamu!" bunda tertawa lalu beranjak ke keran yang terdapat di dinding luar dapur. Bunda mencuci tangannya dan kembali duduk dekat Bram sambil memakan buah yang telah ia kupas.
"Apa ada yang ganggu pikiran bunda?" tanya Bram melihat bunda duduk diam.
"Nggak ada, bunda kepikiran aja. Rachel masih sendiri, kamu sudah punya pacar. Kamu tau sendiri Rachel itu kalau sendiri selalu buat bunda khawatir,"
"Bun, maaf kalau Bram belum bisa jaga Rachel dengan baik,"
"Nggak kok, seharusnya ini tugas bunda sebagai orangtua. Tapi Rachel maunya sendiri dan bunda nggak bisa larang keinginannya. Tapi kalau kejadiannya begini bunda ngerasa bersalah,"
"Nggak kok bun, justru Rachel bisa membuktikan kalau dia bisa mandiri. Cuma Bram aja yang masih belum bisa jaga Rachel sampai dia sakit, maaf bun,"
"Kamu nggak salah kok. Sekarang kamu sudah punya pacar. Nggak mungkin juga kamu mengawasi Rachel. Kamu juga butuh waktu bersama pacar kamu,"
"Tania nggak keberatan bun. Dan sekarang ada Cecil juga yang nemenin Rachel. Bram juga sebisa mungkin selalu ke sini,"
"Iya, bunda tau kamu laki-laki yang bertanggung jawab. Tapi nggak selamanya juga kamu bertanggung jawab dengan Rachel. Apa Rachel nggak punya pacar?"
"Setahu Bram nggak ada bun, tapi yang naksir ada,"
"Oh ya? siapa? bisa kenalin ke bunda?" bunda bertanya penuh harap.
'Waduh! Nggak mungkin si bren***k itu mau fikenalin ke bunda, aku harus bilang apa?' Bram bermonolog dalam hati. Siapa lagi kalau bukan Andre!