
"Jim... Dia sedang keadaan kritis!" ucap ibu Jim sambil mendekap mulutnya dan ia menangis.
"Kritis? Kenapa tante? Apa sesuatu terjadi kemarin?" tanya Rachel.
"Kemarin? Tidak... Tidak... Bukan kemarin. Sesuatu telah terjadi pada Jim sejak hampir setahun belakangan ini. Dia... Dia... Koma karena sesuatu. Kami belum mendapat informasi yang jelas dari kepolisian,"
"Setahun? Koma? Tante bohong kan? Kepolisian? Apa ini semua? Apa aku bermimpi?"
"Itu benar, Jim sudah lama koma dan tadi malam, sekitar jam 1 dini hari mendadak Jim bergerak lalu tak lama ķemudian jantungnya berhenti," ucap ayah Jim mengelus lengan istrinya.
"Apaaa?"
"Ya, Jim sempat mengalami henti jantung. Dan dokter dengan cepat mengatasinya dengan alat pacu jantung. Ia selamat namun kini kritis," ucap ayahnya, air mata pria itu menetes mengingat kejadian tadi malam dan kini istrinya juga harus terbaring dengan selang infus.
"Tidak mungkin!" kata Rachel.
"Lalu kalian siapa sebenarnya?" tanya ayahnya menatap tajam kedua gadis itu.
"Kami temannya,"
"Tidak mungkin! Temannya sudah lama tidak berkunjung hanya beberapa. Dan kami mengenal mereka, sedangkan kalian, kami sama sekali belum pernah melihat,"
"Maafkan kami tapi benar saya dan Jim sudah saling mengenal beberapa bulan yang lalu," kata Rachel nyaris putus asa.
"Ayo kemari!" ayah Jim menarik tangan Rachel dengan kuat keluar ruangan lalu menuju lorong rumah sakit lain. Sementara itu, Noey terpaksa meninggalkan ibu Jim dan melihat Rachel yang berjalan sambil terseok karena ditarik oleh ayah Jim. Mereka berjalan sangat cepat. Lalu berhenti di ruang ICU. Rachel meneguk ludahnya sesaat setelah ayah Jim membukakan pintu.
Ayah Jim menunggu Rachel masuk. Perlahan Rachel masuk, mereka masih harus memakai pakaian khusus sebelum ke ruangan Jim. Ayah Jim mengajak Rachel ke suatu ruangan dengan bunyi detik monitor.
Di dalam ruangan itu terlihat Jim terbaring dengan mata terpejam. Rambut keperakannya tertutup perban, berbagai selang tersambung ke mulut dan hidungnya, belum lagi selang infus. Di sampingnya monitor bergerak seirama dengn detak jantungnya.
Rachel berjalan mendekat seolah tak percaya dengan ini semua.
"Bagaimana..."
"Dia korban tabrak lari saat pulang dari kelasnya, tepat di depan sanggarnya,"
"Dia... Sejak kapan?" tanya Rachel.
"Sudah sangat lama, berbulan-bulan. Rasanya kami menyerah. Sampai tadi malam dia bergerak lalu perlahan badannya mengejang dan sekarang seperti yang kamu lihat,"
"Boleh saya disini berdua?" tanya Rachel. Ayah Jim mengangguk lalu keluar meninggalkan Rachel yang semakin mendekat kearah Jim. Gadis itu mengelus tangan putih Jim. Ia tak habis pikir dengan apa yang terjadi. Bagaimana mungkin Jim sedang koma sementara itu mereka hampir setiap malam bertemu.
Rachel duduk di kursi tepat di samping Jim.
"Jim... Benarkah ini semua? Tapi kenapa?" Rachel tak sanggup menahan air matanya. Rachel menelungkupkan wajahnya dan menangis.
Setelah puas menangis, Rachel mengusap air matanya dan menatap wajah damai Jim.
"Inikah kenyataannya? Aku harus menemuimu di rumah sakit? Aku benci kamu!" kata Rachel. Ia ingin memaki, memarahi Jim, memukulnya atau memeluk pria itu.
"Kenapa jadi begini? Bukankah kemarin kita bertemu? Kita ke rumahmu?" Rachel masih berbicara sendiri.
Rachel berdiri lalu mengusap wajah Jim. Perlahan ia membelai kepala Jim dan mencium kening pria itu.
"Apa yang kamu inginkan Jim?" bisiknya si telinga pria itu. Tapi Jim tetap diam bergeming.
Satu jam Rachel menenangkan diri dan melontarkan banyak pertanyaan. Meski ia tahu Im tidak akan menjawab tapi Rachel yakin Jim mendengarkannya. Rachel percaya, takdir menghubungkan dirinya dan Jim. Ia baru sadar sekarang, bahwa Jim yang misterius ia tahu penyebabnya.
Tapi Rachel masih belum percaya sepenuhnya. Jika memang Jim koma lalu siapa yang menemuinya setiap malam?
"Jim, aku datang sesuai permintaan kamu. Sekarang aku harus apa? Kamu berbaring diam, bangun Jim!" Rachel mengusap lengan Jim.
"Jim... Aku yakin kamu denger aku. Bangun Jim! Jangan bercanda kayak gini!" bisik Rachel. Jim masih tetap diam.
Sayangnya saat sampai di depan rumah sakit, Rachel pingsan karena flu dan kondisi badan yang tidak fit. Noey segera memanggil perawat dan membawa Rachel ke ruang pemeriksaan.
Ternyata Rachel demam dan flu karena malam itu ia hujan-hujanan. Tubuh Rachel menggigil.
"Kak, bertahan ya..." kata Noey. Lalu ia menelpon Bram yang segera datang.
Bram berjalan melewati beberapa mobil yang terparkir lalu masuk ke ruang IGD, ia memindai sejenak lalu Noey melambai di ujung lorong. Bram mendekat dan meletakkan aneka makanan juga perlengkapan Rachel lainnya.
"Kenapa dia?" tanya Bram sesampainya di tempat tidur Rachel, mata gadis itu terpejam.
"Demam,"
"Ck! Lagian aneh-aneh aja tidur di teras. Udah tau ujan lebat gitu!"
"Udah ah kak, ngomel terus!" Noey cemberut dan duduk agak jauh dari Bram. Bram meletakkan punggung tangannya pada kening Rachel. Panas.
Bram bingung harus bagaimana, jadi ia duduk di samping tempat tidur Rachel dan melirik gadis itu. Meskipun akhir-akhir ini mereka tak saling bertegur sapa tapi saat Bram tahu Rachel sakit ia cemas dan segera datang. Ada rasa menyesal karena ia tak begitu peduli dengan Rachel. Waktunya untuk Cecil lebih dominan.
Tak lama Rachel menggumam, Bram mendekat dan memeriksa keningnya. Panasnya belum turun karena obatnya baru masuk dan belum bereaksi.
"Kak..." panggil Noey.
"Ya?"
"Perasaan kakak ke kak Rachel gimana sih?" tanya Noey.
"Sekarang bukan waktu yang tepat Noey,"
"Sekedar pengen tahu," kata Noey duduk di samping kakaknya.
"Dulu kakak nganggap dia sama kayak kakak ke kamu. Kayak adik,"
"Sekarang?"
"Kepo!"
"Is kakak! Serius kak, masa sekian lama bareng nggak ada rasa gimana-gimana gitu sama kak Rachel. Kurang apa sih dia,"
"Terus maksud kamu apa nanyain gitu?"
"Gak apa-apa sih, cuma Noey berharap kakak dan kak Rachel tu bisa barengan. Ya lebih dari sekedar kakak adik tapi..."
"Kenapa? Kamu nggak suka dengan Cecil?"
"Bukan gitu tapi Noey lebih suka kak Rachel aja, mungkin karena Noey dari dulu barengan terus,"
"Lalu pendapat kamu tentang Cecil?"
"Nggak tau deh!"
"Loh? Kenapa? Kakak juga harus tahu alasannya dong,"
"Kalo kakak tau apa kakak mau ninggalin kak Cecil? Nggak kan?"
"Kamu ngomong apa sih?" tanya Bram. Noey tak menjawab pertanyaan kakaknya namun ia membaringkan kepalanya di pundak kakaknya.
"Nggak kenapa-kenapa sih, andai kakak tau..."
Rachel bergerak dalam tidurnya dan menyebut satu nama. Dia....