Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
17


Rachel pulang tanpa semangat. Hari ini benar-benar menguras energinya. Ia ingin cepat-cepat beristirahat di kasurnya. Begitu sampai di rumah ia segera mandi dan membaringkan tubuhnya di kasur. Kepala sedikit berdenyut.


"Hel? aku masuk ya," kata Cecil.


"Masuk aja," kata Rachel yang berbaring bersandar di kepala tempat tidur.


"Kamu kenapa? sakit?" tanya Cecil.


"Nggak kok, cuma sedikit pusing. Ada apa?" tanya Rachel.


"Aku mau keluar sebentar, kamu nggak apa ditinggal?" tanya Cecil.


"Nggak apa, kamu pergi dengan siapa?" tanya Rachel.


"Bram, nanti dia ke sini. Kamu makan dulu, itu makanan sudah ada," kata Cecil.


"Nanti aku makan," kata Rachel.


"Jangan ditunda-tunda. Ayo makan dulu nanti minum obat. Jangan dibiarin sakitnya," kata Cecil.


"Ntar aja aku makan, badanku beneran nggak kuat. Pengen baring dulu sebentar aja," kata Rachel.


"Ya udah istirahat. Jangan lupa makan. Kamu mau nitip sesuatu?" tanya Cecil.


"Nggak deh, hati-hati di jalan," kata Rachel.


"Iya, kamu juga hati-hati di rumah. Makan ya," Cecil mengingatkan kembali, Rachel. mengangguk dan kembali berbaring. Cecil keluar dan menemui Bram yang baru saja sampai.


"Yuk makan dulu," ajak Cecil mengambil dua buah piring.


"Loh? Rachel mana?" tanyanya.


"Lagi istirahat, capek banget kayaknya. Nanti pulangnya kita belikan sesuatu," kata Cecil. Bram mengangguk lalu menyuapkan nasi ke mulutnya.


Setelah menyelesaikan makan malam, Bram memutuskan melihat Rachel sebentar ke kamarnya. Ia sedikit khawatir dengan kondisi Rachel.


"Rachel, kamu sakit?" tanya Bram menempelkan punggung tangannya di kening Rachel, sedikit panas.


"Aku nggak apa-apa. Pengen tidur aja," kata Rachel.


"Badan kamu anget, berobat dulu yuk, aku anter," kata Bram.


"Aku nggak apa, kalian nggak jadi pergi?" tanya Rachel membuka matanya sedikit.


"Ini mau pergi, tapi kalau kamu kayak gini aku tunda aja dulu," kata Bram.


"Jangan! Kalian pergi aja. Ntar kalau udah enakan aku makan dan minum obat kok, udah sana!" usir Rachel.


"Noooo, aku nggak apa. Please aku mau tidur. Sebentaaaaaar aja," pinta Rachel.


"Ya udah, kalau ada apa-apa telpon kami ya. Pintu aku kunci aja," kata Bram. Rachel mengangguk lalu kembali memejamkan matanya.


***


Rachel bangun saat jam menunjukkan pukul 20.00 kepalanya masih sedikit pusing. Tenggorokannya kering. Ia melirik meja makan dan tidak ada yang menarik hatinya. Biasanya ia akan tergoda melihat tumisan kangkung dan sambal udang. Kini selera itu menguap entah kemana.


Rachel duduk di meja makan tanpa berniat untuk makan, ia hanya meraih sebuah roti dan memakannya. Lalu dengan cepat meminum obatnya. Tubuhnya kembali terasa berat, yang ia inginkan hanyalah tidur nyaman.


Rachel ingin beranjak namun lagi-lagi ia mencium aroma parfum itu lagi. Rachel memijit keningnya yang terasa semakin berat.


"Please, jangan ganggu. Siapapun kamu, aku ingin istirahat dan jangan coba-coba menakutiku," gumam Rachel pelan. Dan ajaib, wangi itu segera hilang dari penciumannya. Rachel bersyukur dalam hati lalu kembali ke kamarnya dan tidur pulas. Bahkan ia tak tahu pukul berapa Cecil dan Bram kembali.


Pukul 23.06 Rachel kembali terbangun karena tenggorokannya kering. Ia beranjak ke dapur dan meminum segelas air putih. Ia juga mengisi botol air untuk berjaga-jaga bila ia kembali haus.


Udara di kamarnya terasa gerah. Rachel memutuskan untuk tidur di ruang kerjanya. Saat melewati dapur ia melihat buah, mungkin Bram dan Cecil yang membawa. Ia mengambil dua buah apel dan jeruk lalu membawanya ke lantai atas.


Rachel memakan buahnya, perutnya terasa lapar tapi lidah dan tenggorokannya terasa pahit. Ia paksa menghabiskan sebuah apel lalu berbaring di lantai beralaskan karpet tebal. Ia tak bisa tidur lagi.


Rachel memutuskan melihat bintang di luar. Bulan masih seterang kemarin malam. Rachel memainkan ponselnya melihat banyak pesan dari Bram, Cecil dan Andre. Rachel malas membalasnya. Ia berselancar di dunia maya berwarna biru hanya sekedar menuliskan perasaannya saat itu.


Gerakan di seberang membuatnya menyipitkan mata. Seseorang bermain di taman itu. Sepertinya pria kemarin. Ia memakai pakaian olahraga dan ia meliuk-liukkan badannya. Apa yang ia lakukan di sana malam hari?


Rachel tertarik dengan apa yang dilakukan pria itu. Ia memulai gerakan berputar, meliukkan badannya, jarinya yang panjang dan putih terangkat ke atas. Lalu ia melompat dan mendarat dengan sebelah kaki tertekuk. Ia menatap langit dan memejamkan matanya lalu bangkit berdiri dan memainkan sebuah selendang di tangannya hingga selendang itu meliuk ke atas lalu mendarat di bahunya. Ia kembali melempar selendang itu lalu berputar dan menari terus menari.


Rachel terpana melihatnya. Ia melihat pria itu menari dengan perasaan terharu. Tarian yang sungguh indah namun ia tak mendengar suara musik sedikitpun. Rachel memperhatikan bagaimana pria itu menari, rambutnya yang keperakan memantulkan cahaya bulan. Semakin terlihat indah.


Lama-lama Rachel tersenyum melihatnya, namun di saat Rachel menikmatinya tiba-tiba pria itu menghentikan tariannya dan duduk di ayunan memainkan selendang di tangannya. Apakah yang ia pikirkan?


Rachel masih memperhatikan pria itu. Ia sepertinya sedang bersedih, tapi mengapa ia malah menari di malam hari? Apa ada sesuatu yang membuatnya sedih? Rachel ingin tahu apa yang dilakukannya, tapi itu tak mungkin. Ia tak mengenal pria itu dan bukan urusannya juga untuk tahu hal pribadi pria itu.


Pria itu mendongak dan menatap bulan lalu tersenyum. Rachel melakukan hal yang sama. Apa yang membuat pria itu tersenyum ke arah bulan? Apakah ada sesuatu yang membuatnya tersenyum? Atau ia sudah menemukan jawaban dari masalahnya? Semoga saja.


Rachel menurunkan pandangannya ke bawah, kembali ke taman itu. Tapi pria itu menghilang dari pandangan. Padahal tadi ia menikmati sinar bulan. Mengapa cepat sekali perginya? Rachel melihat ke sekeliling, tak ada tanda-tanda keberadaan pria itu bahkan sedikit gerakan pun tak ada. Rachel menghela napas. Mengapa ia merasa sedikit kecewa?


Rachel memutuskan masuk kembali ke kamar dan berbaring. Tubuhnya terasa dingin dan seperti ribuan beban kembali mendera tubuhnya. Ia sangat lelah lalu terjatuh di karpet lembut di lantai ruang kerjanya. Kepalanya kembali berputar. Rachel memejamkan matanya dan mencoba tidur kembali. Semoga besok tubuhnya bisa kuat seperti biasa. Obat yang ia minum mulai bereaksi dan ia merasa mengantuk dan dalam hitungan detik ia jatuh tertidur dengan tubuh menggigil.


Ia merasa sangat dingin padahal sebelumnya ia merasa panas. Udara yang berhembus di sekitarnya bagai air es yang menyelimuti tubuhnya. Rachel kembali menggigil, giginya bergemeletuk ia mencoba meraih selimut tapi tak sampai. Ia mencoba menyeret tubuhnya dan menjulurkan tangannya tapi seolah selimut itu sangat jauh sementara itu matanya semakin berat


Seseorang masuk melalui jendela ruang kerjanya dan berjalan mendekat. Ia meraih selimut itu dan menyelimuti Rachel. Rachel mencoba membuka matanya namun sulit sekali. Samar ia melihat sesuatu yang berkilau.


"Tidurlah," bisiknya. Rachel langsung jatuh tertidur bahkan sebelum melihat siapa yang menyelimutinya.