
Rachel akan kembali ke kantornya tapi di lobi kantor ada Jim! Entah bagaimana Tuhan menggariskan semuanya. Semua diluar perkiraan. Rachel melihat Jim dan seseorang berjalan menuju lobi kantornya.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatannya, Rachel buru-buru berjalan menuju lobi dan menyapa Jim.
"Hai! Kamu disini?" kata Rachel menepuk bahu Jim.
"Ohhh hai, iya. Mau antar sesuatu untuk tim redaksi, kamu ngapain di sini?" tanyanya.
"Aku kerja di sini,"
"oooh baru tahu, bisa temankan aku ketemu bapak ini?" tanya Jim menyodorkan sebuah kartu nama.
"Andre? Bisa banget, ayo!" Rachel mengajak Jim dan temannya menuju ruangan Andre.
Rachel mengetuk pintu dan melihat Andre sedang sibuk membolak-balik laporan di tangannya. Entah memang sibuk atau pura-pura sibuk di depan Rachel.
"Pak, ada tamu..."
"Suruh masuk!" perintah Andre tanpa melihat Rachel. Rachel berbalik dan mengajak Jim masuk lalu ia keluar setelah Jim masuk.
Rachel bolak balik melirik ke arah ruangan Andre berharap Jim segera menyelesaikan urusannya dan segera keluar.
"Nungguin cowok itu ya?" bisik Boy di telinga Rachel.
"Ish...! Ngagetin! Iya loh, kok lama ya dia di dalam," ucap Rachel.
"Tau deh! Nggak hanya kamu yang nungguin dia, noh pada celingukan semua liat pangeran itu. Denger-denger dia dancer ya? Ada keperluan apa ya dancer kemari?" kata Boy.
"Nggak tau!" jawab Rachel.
"Emang kalian nggak ngobrol?" tanya Boy.
"Nggak ada, eeeh ada sih! Dikit doang," jawab Rachel. Boy mengangguk lalu kembali ke mejanya dan melanjutkan pekerjaannya. Setengah jam kemudian pintu ruangan Andre terbuka dan mereka semua keluar dari sana. Jim berpamitan.
"Boleh ku pinjam dia dulu?" tanya Jim menunjuk ke arah Rachel. Andre mengangguk. Jim mengajak Rachel ke tempat lain, sedikit lebih jauh dari keramaian.
"Ada apa?" tanya Rachel.
"Berikan ponselmu!" pinta Jim sambil menadahkan tangannya. Rachel menyerahkan ponselnya. Lalu Jim mulai mengetik-ngetik sesuatu dan mengembalikan ponselnya.
"Itu sudah ada nomorku dan aku udah save nomor kamu," kata Jim tersenyum ke arah Rachel membuat jantung Rachel seolah berlompatan keluar. Setelah sekian lama akhirnya ia mendapatkan nomor ponsel Jim.
"Oh... Thanks," kata Rachel. Setelah itu Jim pamit.
Rachel kembali ke mejanya disertai dengungan suara teman-temannya yang bertanya tentang Jim. Rachel hanya tersenyum tanpa menjawab sedikitpun. Ia tak mau bicara banyak, karena hubungannya saat ini dengan Jim belum bisa dikatakan sangat dekat.
Sore itu sepulang dari kerjaan kantor, Rachel membeli beberapa persediaan stok buah dan camilannya di salah satu market tak jauh dari kantornya. Saat ia mengantri di kasir, Bram menelponnya dan mengatakan akan menjemput. Rachel sangat bersyukur karena belanjaannya saat itu sangat banyak.
"Banyak banget belanjaannya," komentar Bram saat melihat dua buah kantong dikedua tangan Rachel.
"Buat stok!" jawab Rachel memasukkan belanjaan ke bagasi.
"Hai Kaak!" sapa Noey dari dalam mobil.
"Waaah hai! Sebentar!" Rachel bergegas masuk ke mobil dan menyapa Noey yang duduk di depan bersama Bram.
"Apa kabar kak?" tanyanya sambil tersenyum.
"Hmmmm more better today, kalian darimana? Udah lama banget nggak nginep di rumah. Malam ini nginep yah!" kata Rachel.
"Hahaha iya iya, ini Noey mau nginep. Kak Bram rese'..." adu Noey.
"Hmmm kenapa dia?" tanya Rachel.
"Aaaah banyak banget peraturan! Sampe sakit kepala Noey," gadis itu menggaruk kepalanya.
"Lagian kamu itu masih kecil juga!" ucap Bram sambil menstarter mobilnya lalu meluncur keuar pelataran parkir.
"Heiiii! Aku udah gede!"
"Terserah!" jawab Bram cuek. Rachel ingin bertanya tapi sepertinya Noey sedang kesal jadi Rachel diam saja dan memainkan ponselnya. Saat itu ponselnya berdering.
"Hai Jim...!" sapa Rachel saat ponselnya berdering langsung diangkat.
"Hai, cepat banget angkatnya. Kamu nungguin telpon dari aku?" tanyanya.
"Eeeh... Nggak eh iya eeeh... Aku pas lagi megang ponsel. Ada apa Jim?" tanya Rachel.
"Kurang kerjaan banget sih!" komentar Rachel. Jim tertawa di ujung sana.
"By the way, kamu udah pulang kantor?" tanyanya.
"Udah, ini lgi di jalan,"
"Oooh ya udah hati-hati ya, aku tutup telponnya,!"
"Oke Jim, bye!"
"Bye!"
Rachel menekan tombol merah pada ponselnya dan kaget melihat Noey menatap ke arahnya dari kursi depan sambil tersenyum-senyum.
"What?" tanya Rachel.
"Cieeee... Jadi dia udah inget semua?" tanya Noey.
"Hmmm... Belum,"
"Tapi..."
"Tadi dia ke kantor, ada urusan gitu. Nggak sengaja ketemu terus tukeran nomor ponsel,"
"Cieee... Syukurlah kalau gitu. Mudah-mudahan nanti dipermudah deket ama Jim dan bisa pelan-pelan terbuka ingatannya,"
"Mudah-mudahan!" jawab Rachel sambil tersenyum malu.
"Asal jangan cengeng aja!" celetuk Bram.
"Apaan sih!" balas Rachel. Bram hanya mengangkat bahunya.
Mereka bertiga sampai di rumah Rachel. Bram membantu memasukkan barang belanjaan Rachel ke rumah sementara itu Noey langsung bersantai di sofa.
Setelah membersihkan diri, mereka menunggu waktu makan malam. Rachel memasak dibantu Bram. Sedangkan Noey asyik bertelpon ria dengan teman dekatnya sambil sesekali melirik Rachel dan Bram yang sedang memasak dengan keributan-keributan kecil.
Mereka makan sambil mengobrol banyak hal. Sesekali Noey melirik Bram yang menikmati makan malamnya.
"Kak!" Noey menyenggol siku Bram.
"Apaan?!" dengan gusar Bram menatap ke arah Noey. Noey melirik ke arah Rachel, Bram menggeleng.
"Ada apa sih?" tanya Rachel.
"Nggak ada apa-apa. Kayak nggak tau Noey aja, bocah rese'!" Bram berdiri lalu mencuci piring makannya sekalian.
"Siapa yang rese'!" balas Noey.
"Udah ah! Ini kenapa? Ada apa?" tanya Rachel.
"Nggak ada apa-apa kak," jawab Noey sambil cengengesan. Rachel mengangkat bahu lalu menyusul Bram mencuci piringnya.
"Napa tu anak?" tanya Rachel.
"Nggak tau! Kupasin buah Hel!" pinta Bram.
"Iyeeeh!" jawab Rachel, ia lalu beranjak menuju kulkas dan mengeluarkan buah jeruk dan apel. Rachel mengupas buah apel menggunakan pisau, lalu Bram datang mencomot jeruk sambil bercerita.
"Kalian berdua cocokloh, andai kita jadi keluarga!" ucap Noey.
"Hei!"
"Aduh!" Rachel mengaduh karena jarinya teriris pisau. Bram dengan cepat menarik Rachel ke westafel dan mencuci jarinya dibawah aliran air.
"Kak, sorry...!" kata Noey penuh penyesalan yang ikut ke westafel, melihat aliran air yang tadinya berwarna merah karena darah kini mulai sedikit bening.
"Gak apa-apa, tadi agak buru-buru!" jawab Rachel. Bram kembali ke arah mereka sambil membawa plaster. Ia membalut luka Rachel lalu mengambil alih memotong buah.
"Dah tunggu di depan aja! Biar aku potong!" perintah Bram tanpa melihat ke arah mereka. Rachel mengajak Noey ke ruang tengah untuk menonton televisi.
"Kaaak...!" panggil Noey.
"Udah nggak apa-apa ini,"
"Makanya mulut itu gasssnya kira-kira..." kata Bram meletakkan piring buah ke meja. Ia melirik Noey sekilas lalu cuek memainkan ponselnya.