Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
31


Kontrak kerja sama yang dilakukan sudah selesai dan saatnya ke kantor pusat. Rachel mengendarai mobil kantor untunglah ia bisa menyetir, membuatnya mudah bepergian. Ia harus memikirkan sebagian penghasilannya untuk membeli kendaraan.


Sampai di kantor pusat ia buru-buru masuk dan menabrak seseorang yang juga terburu-buru.


"Aww....! Jalan liat-liat dong!"


"Kamu yang harusnya liat, aku lebih dulu masuk di pintu ini!" Rachel langsung terdiam melihat seorang yang dikenalnya berseragam kurir menepiskan pakaiannya yang kotor. Ia mengangkat wajahnya dan dengan kesal menyambar paket yang terjatuh tak jauh dari kaki Rachel.


"Lain kali hati-hati!" ia berkata dengan sinis lalu masuk ke lobi kantor.


"Tunggu! Kamu! Kamu Erik kan?" tanya Rachel menarik siku pria itu.


"Ck! Bukan!" ia berjalan lagi menuju lobi dan menanyakan si pemilik paket kiriman.


"Sebentar, kami panggilkan," kata si penerima tamu.


"Erik! Kamu Erik kan?" tanya Rachel.


"Ck! Bukan! kamu bener-bener nggak bisa lihat? Tadi kamu nabrak aku, sekarang malah bilang aku Erik!" ia masih marah.


"Tapi kamu mirip dengannya, apa kamu sengaja menyamar? dan mengganti warna rambutmu?" tanya Rachel.


"Berisik!"


"Astaga! Aku yakin kamu Erik! kita baru ketemu tadi malam!"


"Kamu mabuk di siang bolong nona!"


"Tapi... "


"Mbak Rachel, silahkan. Sudah ditunggu bapak di dalam," kata si resepsionis. Rachel mengangguk lalu melirik ke arah sosok yang mirip Erik. Pria itu cuek dan seperti orang yang tak dikenalnya.


Rachel melihat pria itu sebentar lalu ikut masuk ke dalam lift. Setelah ngobrol dan basa-basi sejenak, Rachel pamit pulang. Saat sampai di lobi kurir itu sudah tak ada.


"Tentu saja, dia kurir. Pasti sudah pergi dari tadi," gumam Rachel. Ia melintasi halaman kantor menuju parkiran. Ia segera kembali ke kantornya.


***


Rachel kembali ke kantor dan bersantai sejenak sebelum membuat sedikit laporan sebelum pulang. Rasanya jenuh, ditambah sikap Cecil yang agak kaku saat bertemu dengan Rachel. Rachel pun merasa kaku tapi berusaha bersikap cuek toh dirinya tak merasa berbuat salah.


"Uhmmm... Hel, dipanggil pak Andre," kata Cecil sore itu yang mau tak mau harus menyampaikan pesan tersebut pada Rachel.


"Thanks," jawab Rachel tanpa melihat Cecil. Bukannya ia tak menghargai, tapi laporan yang tinggal sedikit lagi rampung berkejaran dengan jam pulang kantor membuatnya tak bisa melepaskan pandangan dari layar komputer di depannya. Bahkan saat Cecil pamit kembali ke mejanya ia hanya mengangguk.


Setelah selesai, ia menyimpan laporan tersebut lalu beranjak menuju ruangan Andre yang letaknya bersebelahan dengan ruangan Andini. Rachel mengetuk pintu lalu masuk setelah dieprsilahkan.


"Ada apa pak Andre?" tanya Rachel.


"Aku mau nanya kamu bisa buat ilustrasi komik?" tanyanya.


"Tidak, memangnya kenapa?"


"Ada tawaran, siapa tahu kamu mau,"


"Sebaiknya memang ke bagian ilustrator,"


"Tapi kamu kan juga bisa buat komik,"


"Nggak bisa, pak!" jawab Rachel lalu terdiam saat selembar kertas jatuh dihadapannya.


"Itu?" tanya Andre bersandar di kursinya sambil melipat tangan.


"Ini dari mana bapak dapat?" tanya Rachel meraih kertas itu. Siluet Jim sedang tersenyum seolah pada kamera sambil menopang dagunya.


"Kamu nggak perlu tau,"


"Dari mana? saya tidak suka ada yang membongkar barang pribadi saya," Rachel merasa kesal.


"Bohong!"


"Buat apa? Nggak ada gunanya aku bohong. Aku hanya tertarik dengan goresan pensil kamu. Aku pikir kamu ada minat ikut tim komik,"


"Tidak, cukup satu bagian saja," tolak Rachel.


"Oke, saya tidak memaksa tapi kalau kamu berminat saya sampaikan pada penanggung jawab,"


"Terimakasih, tapi jawaban saya tetap tidak. Saya pamit, permisi," Rachel segera keluar ruangan dan kembali ke mejanya dengan wajah murung.


Tak lama ia mengikuti yang lain berkemas merapikan meja, mematikan komputer bersiap untuk pulang. Dilihatnya Cecil buru-buru pulang dijemput oleh Bram dengan motornya. Rachel menarik napas. Dia merasa tak bersalah tapi seolah Cecil dan Bram menjauhinya. Entah apa penyebabnya.


Rachel segera naik ke taksi online pesanannya lalu pulang. Ia tak menghiraukan panggilan dari Andre di ponselnya. Ia ingin sendiri dulu.


Sesampainya di depan rumah sudah ada Tania yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya.


"Tania? sudah lama?" sapa Rachel.


"Oh.. hai. Nggak kok, barusan aja. Baru pulang?"


"Iya nih, maaf ya kamu nungguin Bram?" tanya Rachel. Gadis itu hanya diam dan sedikit murung.


"Aku... Iya sih. Udah lama banget aku nggak ketemu Bram. Komunikasi juga udah nggak kayak dulu. Makanya aku kesini, siapa tau Bram di sini atau sedang sakit. Aku bawain buah kesukaan Bram," ia menunjuk keranjang buah di sampingnya. Rachel tersenyum, merasa tak enak hati melihat kebaikan Tania. Sementara itu Bram dan Cecil malah menusuknya dari belakang.


"Masuk dulu yuk, nunggu di dalam aja. Aku mandi dulu sebentar,"


"Oke!"


Mereka masuk ke dalam dan Rachel memberikan minuman ringan untuk Tania lalu ia segera mandi. Setelah mandi ia duduk bersama Tania.


Gadis itu sepertinya sedang mengalami banyak pikiran. Ia menceritakan kembali bagaimana hubungannya kini dengan Bram. Semakin tidak tahu arah dan tujuan bahkan komunikasi semakin sedikit. Bila diajak bertemu Bram punya seribu alasan untuk menolak.


"Kamu beneran masih berharap dengan Bram?" tanya Rachel.


"Entahlah, yang jelas sekarang aku kangen. Pengen ketemu. Gimana nantinya biar aku pikir lagi,"


"Gimana kalau ternyata dia minta putus?" tanya Rachel.


"Apa dia dekat dengan cewek lain lagi?" tanya Tania dengan wajah sedih.


"Uhm... nanti kamu tanya aja dengan orangnya langsung ya," jawab Rachel.


Mereka ngobrol hingga suara motor di halaman membuat mereka melihat serempak. Bram sedang membonceng Cecil dan Cecil memeluk dengan mesra. Mereka terdiam saat melihat Tania berdiri menyambut Bram dengan senyum yang dipaksakan.


"Sudah lama?" tanya Bram sambil meletakkan helm di meja.


"Lumayan, kamu dari mana?" tanyanya sambil mencoba untuk tersenyum.


"Aku dari toko baju, uhm... duduklah!" kata Bram.


Cecil berjalan ke arah mereka dan tersenyum ke arah Tania yang dibalas dengan anggukan oleh gadis itu. Topeng yang luar biasa.


Mereka duduk berdua dan Rachel dengan cepat menarik tangan Cecil ke dalam saat dilihatnya Cecil juga ingin duduk.


"Ada apa?" tanya Cecil saat dia melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Rachel.


"Biarkan mereka berdua dulu,"


"Tapi kan... "


"Kenapa?"


"Aku... "


"Kamu dan Bram pacaran? Biarkan mereka selesaikan urusan mereka berdua dulu. Toh, mereka lebih dulu pacaran dibanding kamu," Rachel menjelaskan dengan sedikit menekankan suaranya. Cecil menunduk lalu masuk ke kamarnya. Rachel menghela napas dan masuk ke kamarnya juga. Dia membiarkan Cecil berpikir dan tau posisinya saat ini.