Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
76


"Hel...!" panggil Jim sambil meraba disekitarnya. Tapi tak ada siapapun. Jim membuka matanya dan merasa silau. Dia masih di pantai tapi ia tidak melihat Rachel dimanapun. Dengan sedikit panik Jim duduk dan pergi mencari Rachel sambil membawa cardigan milik Rachel.


Jim mencari ke sekitar area pantai tapi tidak ada Rachel, bahkan pengunjung pun sepi karena ini bukan hujung minggu. Jim berlari ke arah tempat ia tertidur tadi, lalu melirik beberapa warung di belakangnya. Terlihat Rachel kembali ke tempat mereka duduk.


"Kamu sudah bangun?" tanya Rachel sambil tersenyum.


"Kamu darimana?" tanya Jim tak mengindahkan pertanyaan Rachel.


"Dari warung itu, aku pesan cemilan dan air kelapa muda. Kayaknya seger. Gimana kepala kamu? Masih sakit?" tanya Rachel sambil meletakkan punggung tangannya di dahi Jim. Jim meraihnya dan menggenggam tangan Rachel.


"Udah nggak lagi, aku udah oke," jawab Jim. Rachel terlalu nyaman dengan genggaman tangan Jim. Ia membiarkan tangannya ditangkup oleh kedua tangan Jim.


"Kamu lapar? Aku hanya pesan cemilan. Mau makanan berat?" tanya Rachel.


"Nggak, aku nggak lapar. Aku tadi nyariin kamu, aku kira kamu ninggalin aku," kata jim.


"Maaf, aku nggak tega bangunin orang ngorok!" ucap Rachel.


"Iiih serius, Hel... Jangan tinggalin aku sendiri lagi ya," pinta Jim.


'Justru kamu yang ninggalin aku' batin Rachel.


"Nggak kok, tadi nggak tega aja bangunin kamu. Pasti capek kan? Nah tuh datang cemilannya," kata Rachel saat melihat seorang bapak mengantar makanan dan minuman pesanannya.


"Thanks Hel..." kata Jim sambil meminum air kelapa.


"Yups... Eeh kamu udah cek ponselmu? Tadi beberapa kali bunyi, ada telpon penting kayaknya," kata Rachel. Jim merogoh sakunya dan melihat tiga panggilan dari Nae.


"Hmmh..." Jim menarik napas dan memasukkan kembali ponselnya, wajahnya terlihat kesal.


"Everything Ok?" tanya Rachel.


"Ok... Makan dulu cemilannya," kata Jim. Rachel mengangguk patuh dan menikmati cemilannya.


Mereka menikmati senja dengan bermain di pinggir pantai. Suasana pantai yang sendu ditambah sepi pengunjung membuat mereka seolah pemiliknya.


"Indah banget ya," komentar Rachel saat melihat matahari yang sedikit demi sedikit seperti tenggelam ke dalam lautan.


"Iya, kamu suka?" tanya Jim. Rachel mengangguk.


"Makasih udah nyulik aku kesini," kata Rachel.


"No problemo, nyulik kamu ternyata gampang banget," Jim terbahak mengingat ia harus menyogok teman-teman Rachel dan meminta ijin pada atasannya. Pengorbanan yang dirasa aneh, karena dia dan Rachel baru beberapa kali bertemu. Dan dia dengan mudahnya ke kantor gadis itu, meminta ijin kerja. Jim jadi tersenyum geli.


"Hmmmh besok-besok jangan lagi. Nggak enak aku sama orang kantor,"


"Makanya jangan kabur-kaburan dari aku," kata Jim.


Matahari benar-benar tenggelam. Akhirnya mereka beranjak dari sana dan kembali ke mobil hendak pulang. Namun, ditengah perjalanan ban mobil yang dikendarai Jim pecah. Jim memeriksa bannya, ternyata cukup parah.


Jim mengumpat dan mencoba menelpon tapi sayangnya baterai ponselnya kehabisan daya. Untunglah ia sempat memberitahu seseorang untuk memperbaiki mobilnya.


Atas saran beberapa orang yang lewat, mereka memutuskan untuk menginap. Karena selain perjalanan yang jauh, tidak ada angkutan umum yang lewat di waktu malam. Bahkan taksi online juga tidak mau menempuh perjalanan sejauh itu.


"Ya udah, kita nginep aja," kata Rachel memutuskan setelah mempertimbangkan banyak hal. Jim mengangguk, mereka diantar hingga ke penginapan.


Rachel dan Jim pisah kamar, kamar Jim tepat di depan kamar Rachel.


"Istirahatlah, bersih-bersih dulu. Aku ngecharge ponsel. Nanti biar ku telpon temen buat cek mobil," ucap Jim sesaat sebelum memasuki kamarnya. Rachel mengangguk. Ia segera membersihkan diri, untunglah di kamar mandi tersedia bathrobe. Setelah mandi, pakaian Rachel dianginkan-anginkan. Karena esok saat pulang akan dipakai kembali.


Setelah mandi, Rachel berbaring di kamarnya. Lelah tapi perutnya juga lapar. Ia ragu mau menelpon Jim. Ia memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Jim.


"Astaga... Hel! Masuk sini!" Jim menarik Rachel yang hanya menggunakan bathrobe keluar dari kamarnya. Meski sebenarnya ia juga sedikit malu.


"Maaf, aku lapar. Bisakah kita memesan sesuatu?" tanya Rachel pada Jim yang membelakanginya.


"Hmmm yah... Kamu sebaiknya tunggu di kamar. Aku akan memesan makanan ke bawah. Kenapa nggak nelpon aja sih?" sungut Jim.


"Ehhh iya, aku sampai lupa! Ya sudah aku kembali ke kamar kalau gitu. Sorry!" ucapnya berbalik dan keluar kamar.


Jim berbalik menatap pintu yang sudah tertutup karena Rachel kembali ke kamarnya. Ia sedikit kesal dengan Rachel yang keluar dengan bathrobe. Bukannya apa, bathrobe itu hanya sebatas lutut Rachel, menampilkan kaki jenjangnya yang putih. Belum lagi rambut Rachel yang masih basah. Jim jadi menebak-nebak apa Rachel tidak memakai pakaian dalam? Ia menyugar rambutnya. Menghilangkan pikiran kotor dari kepalanya.


"Apa yang kupikirkan!" kata Jim sambil menggelengkan kepalanya.


Ia memakai pakaiannya kembali dan turun ke bawah memesan makanan sekalian melihat jika ada penjual pakaian. Tidak mungkin semalaman Rachel akan menggunakan bathrobe. Tak jauh dari penginapan ternyata memang ada toko pakaian. Ia membeli beberapa pakaian dan makanan di sekitar penginapan.


"Nih! Makanan dan pakaian. Maaf aku tidak tahu ukuranmu!" ucap Jim sambil menyerahkan bungkusan di tangannya saat Rachel membuka pintu dengan celah kecil.


"Makasih ya Jim!" ucapnya sambil meraih beberapa bungkusan di tangan Jim. Sementara itu Jim kembali ke kamarnya dengan wajah sedikit memerah.


"Kenapa sih dia? Aneh banget!" kata Rachel setelah menutup pintu. Rachel menyingkirkan bungkusan lain, ia akan memeriksa bungkusan itu nanti. Saat ini ia sangat lapar. Ia menyuap makanan ke mulutnya. Hingga tak terasa, makanan itu habis dalam sekejap.


Jim juga menikmati makan malamnya dari kamar. Meski pikirannya kemana-mana hingga makanan itu tersisa. Dia tidak bisa menghilangkan bayangan Rachel dari kepalanya, juga apa yang sudah dia berikan untuk gadis itu. Semoga ia tidak marah.


Rachel menenggak minumannya dan melirik bungkusan di atas tempat tidurnya. Penasaran, apa yang dibelikan Jim. Apakah itu cemilan? Rachel mendekat dan akan membongkar bungkusan tersebut. Tapi panggilan diponselnya membuat Jim melupakan bungkusan itu sejenak. Rupanya Noey mengirimnya pesan menanyakan ia dimana. Setelah membalas pesan Noey, Rachel kembali teringat bungkusan tadi.


Ia duduk di ranjang dan meraih bungkusan tersebut. Ia membuka satu per satu. Ternyata pakaian tidur dan baju kaos. Jim bisa memikirkan dirinya dan Rachel. Tapi Rachel malah tidak bisa memikirkan apapun untuk mereka. Ia lalu membongkar bungkusan lainnya, ia mengguncangnya sesaat lalu menuang isi bungkusan tersebut ke atas kasur. Dan bergulinglah isi bungkusan tersebut diatas kasur.


"Ahhhhh! Pantesan..." Rachel menutup wajahnya malu. Wajah Rachel memerah.


Bersambung...