
Mood Rachel buruk sekali hari ini. Sejak bertemu dengan Jim dan Nae yang menggelendot manja di lengan Jim membuatnya kesal sendiri. Ditambah pagi itu ia kesiangan ke kantor karena baru bisa tidur setelah lewat tengah malam.
Sesampainya di kantor, ia harus menyelesaikan beberapa tugasnya diantara kekalutan pikirannya. Beberapa kali ia harus revisi laporannya. Beberapa kali ia harus mengulang membaca dan menulis kembali laporannya.
Bahkan di siang hari, tanpa sengaja ia juga menumpahkan minuman ke baju Andre yang saat itu sedang duduk makan siang. Saat itu sedang ramai dan Rachel tersandung kakinya sendiri. Untunglah ia tidak jatuh tapi pakaian Andre lumayan basah karena ulahnya.
"Maaf! Maaf! Aku tidak sengaja!" kata Rachel. Andre hanya menatapnya diam lalu berlalu dari meja makannya. Rachel semakin bersalah karena Andre baru sedikit memakan makanannya.
Rachel menarik napasnya dan kembali ke stand meminta dibungkuskan makanannya dalam dua porsi dan juga minuman dingin dua porsi. Ia juga memesan salad buah dan puding. Ia lalu membawa makanannya ke samping kantor, di sana ada teras dengan beberapa kursi tunggu. Dulunya itu sebuah kantin tapi kini kantin pindah ke belakang dan pihak kantor membiarkan bangunan bekas kantin tersebut untuk bersantai. Siang itu sepi, hanya ada beberapa orang yang sama seperti dirinya menghindari keramaian untuk makan siang.
Rachel menelpon Andre agar bergabung dengannya makan siang. Meski awalnya Andre menolak namun akhirnya ia setuju untuk menghampiri Rachel.
"Ada sesuatu yang mau dibicarakan?" tanya Andre yang duduk di hadapan Rachel, mereka dibatasi oleh meja makan.
"Aku mau minta maaf soal tadi, aku bener-bener nggak sengaja," Rachel melirik pada baju Andre yang kini sudah berganti. Syukurlah ternyata Andre memiliki beberapa baju cadangan di mobilnya.
"Gak apa," balas Andre singkat.
"Kamu masih marah? Maaf, aku benar-benar tidak sengaja. Aku lihat kamu belum memakan makan siangmu. Ini aku bawakan," Rachel menyodorkan bungkusan makanan yang dibawanya ke arah Andre. Andre hanya melirik diam.
"Ndree...."
"Kenapa lagi Hel?"
"Makan ya, sebagai permintaan maaf. Aku udah akui itu kesalahan aku. Please maafin aku, jangan diam aja," kata Rachel. Andre meraih bungkusan makanan dan minumannya. Lalu ia pergi dari hadapan Rachel tanpa mengatakan apapun. Rachel hanya menatapnya lalu ia meraih makanannya dan membukanya dengan perlahan.
Baru saja Rachel akan menyuap, Andre duduk di hadapannya. Ia dengan tenang membuka bungkusan makanannya dan mulai makan.
"Ndre... Kamu..."
"Makan! Bentar lagi masuk!" perintah Andre. Rachel mengangguk dan segera makan. Andre selesai makan lebih dahulu. Ia memperhatikan Rachel yang penuh perjuangan menghabiskan makanannya.
Setelah makanan Rachel habis, ia menyodorkan minuman untuk Rachel.
"Thanks..." bisik Rachel pelan, lalu menenggak minumannya.
"Hel...!" panggil Andre.
"Hmmm? Ada apa? Kamu belum maafin aku?" tanya Rachel. Andre menggeleng cepat.
"Aku nggak mau nambah beban kamu. Aku perhatiin hari ini kamu kacau. Ada apa?" tanya Andre.
"Nggak ada apa-apa,"
"Jangan bohong Hel... Aku dengar Andini tadi mengomel dan membanting buku laporan di mejanya," kata Andre. Rachel memejamkan matanya sejenak.
"Iya, hanya sedikit kesalahan," jawab Rachel.
"Jangan bohong. Ini bukan kayak kamu yang biasanya. Pasti ada yang mengganggu pikiranmu," kata Andre.
"Sedikit sih..."
"Kenapa? Cerita aja, mungkin aku bisa sedikit membantu," kata Andre.
"Bukan soal kerjaan,"
"Lalu?" tanya Andre.
Rachel jadi ragu. Haruskah ia menceritakan kisahnya? Kisah yang bagi Bram saja aneh, apalagi bagi Andre yang mengenalnya hanya sebatas teman sekolah dan teman kerja. Mereka juga tak pernah dekat sebelumnya.
"Aku... Sebenarnya..."
"Kenapa?" desak Andre lagi.
"Nggak ada apa-apa kok. Cuma lagi berantem aja sama Bram!" kata Rachel berbohong.
"Kamu dan Bram pacaran?" tanya Andre.
"Haaaa? Ya nggaklah...!" bantah Rachel.
Rachel menepuk-nepuk kedua pipinya agar kembali bersemangat. Andre meraih kedua tangan Rachel dan menggenggamnya. Andre menatapnya dalam, sementara itu Rachel sudah seperti kehilangan akal mencoba menghindari tatapan Andre. Ia menarik tangannya tapi tertahan oleh Andre.
"Kenapa kamu akhir-akhir ini menghindar terus?" tanya Andre.
"Siapa yang menghindar? Nggak ada kok!" bantah Rachel.
"Hel... Aku yang ngerasain kita udah nggak kayak kemarin-kemarin. Apa Bram melarang kita berteman?" tanya Andre.
"Nggak! Nggak kayak gitu. Ndre lepasin dulu!" pinta Rachel.
"Aku nggak akan lepasin sebelum kamu jujur ke aku," kata Andre yang semakin memegang erat kedua tangan Rachel.
"Ndre..." panggil Rachel pelan.
"Atau aku tidak akan memaafkan kamu soal baju tadi..." ancam Andre.
"Kok gitu?" protes Rachel.
"Jujur aja, ini nggak enak buat aku. Aku hanya mau penjelasan aja kok," kata Andre.
"Nggak ada yang ngelarang kita kok, cuma aku harus menjaga jarak. Karena ada seseorang..."
"Oooh aku ngerti...!" Andre memotong pembicaraan dan melepaskan tangan Rachel.
"Maksudku..."
"Udah Hel... Nggak apa-apa. Aku harus menjaga jarak karena ada seseorang? Bram? Kenapa nggak jujur dari awal kalo kamu dan Bram.."
"Nggak! Bukan Bram..."
"Tapi aku nggak peduli, kalau itu Bram. Mungkin kamu emang jaga sikap kamu ke aku. Aku suka kamu Hel..."
"Haaa? Maksudnya?"
"Aku suka kamu, dan aku mau kita menjalin hubungan yang lebih dekat. Aku perjuangin kamu,"
"Ndre... Tapi ini bukan soal Bram atau..."
"Iya aku tahu, mungkin aku telat. Tapi aku hanya mau ungkapin semua yang ada di hati. Itu aja. Dan aku akan buktikan kalau aku bisa dapatin kamu,"
"Ndre! Bisa dengerin aku nggak?"
"Apa?"
"Aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Bram. Dan aku rasa kita berteman aja," ucap Rachel tegas.
"Lalu siapa laki-laki itu?" tanya Andre menatapnya tajam.
"Ada, seseorang,"
"Kamu nggak bisa nyebut orangnya?" tanya Andre lagi. Rachel hanya diam, sulit menjelaskan keadaannya saat ini karena Jim sedang lupa ingatannya.
"Ndre... Aku mau privasi. Boleh kan?" tanya Rachel.
"Nggak masalah kok, tapi juga jangan larang aku buat deketin kamu..."
"Ndre!" panggil Rachel saat Andre pergi begitu saja meninggalkannya.
Sulit sekali menjelaskan pada Andre yang beranggapan semaunya. Rachel meraih saladnya dan memakannya dalam diam sambil memikirkan nasibnya.
Satu pria yang dicintainya lupa ingatan, satu pria sahabatnya dikira kekasihnya, sementara itu pria lainnya hanya teman tapi menginginkannya jadi kekasihnya. Menjadi dewasa bisa serumit ini.
Rachel buru-buru menghabiskan makanannya dan segera kembali ke kantor. Semoga semua kembali baik-baik saja. Rachel butuh sesuatu untuk menenangkan pikirannya sejenak. Kepergiannya ke rumah bunda berharap semua baik-baik saja tapi yang terjadi diluar pemikirannya.
Rachel akan kembali ke kantornya tapi di lobi kantor ada...