
Kata-kata Tania membuat Rachel berpikir banyak. Entah bagaimana hatinya saat ini. Ia sedang dalam zona nyaman tapi kalau terlalu nyaman dengan lingkungan umurnya akan semakin bertambah dan ia tak lagi memikirkan pernikahan. Sebuah pernikahan pastilah di dambakan oleh kalangan wanita, begitu juga dengan Rachel. Tapi masalahnya hingga saat ini hatinya belum bisa menentukan siapa yang ia sukai.
Setelah pertemuannya dengan Tania, Rachel memutuskan tidak jadi masuk ke kantor dan memilih untuk pulang ke rumah. Ia mengabaikan telepon dan pesan dari Andre. Ia sedang tidak ingin bertemu siapa pun.
Rachel masuk ke rumah lalu segera membersihkan diri. Setelah itu ia menuju lantai atas. Ruang kerjanya adalah tempat ternyamannya saat ini. Ponselnya berdering berkali-kali. Hampir semua dari Andre. Rachel mengabaikannya dan memilih bersantai menatap langit sore dari ruang kerjanya.
Disaat seperti ini dia malah merindukan Jim. Pria itu sedikit mengisi kepalanya saat ini. Ia mengingat dengan jelas bagaimana wajah dan tarian Jim.
Rachel bergegas kembali ke kamar, meraih buku dan pensil lalu ia mulai menggoreskan siluet yang sudah dihapalnya dalam kepala. Sosok siluet Jim sedang melakukan tarian berputar mulai terlihat. Rachel memberikan garis tegas pada beberapa bagian mata agar terlihat lebih hidup. Rachel tersenyum sambil melukis.
"Hel?"
"Ya?" jawabnya sambil melihat ke arah pintu. Cecil berdiri di sana mengajaknya turun. Rachel membereskan pekerjaannya dan menyusul Cecil.
Di bawah ada Andre sedang memainkan ponselnya, minuman di depannya masih utuh tak tersentuh.
"Andre? udah lama?" tanya Rachel.
"Nggak terlalu, kamu sibuk?" tanyanya.
"Nggak juga, ada apa?"
"Aku mau ngajak kamu jalan," jawabnya sambil menatap Rachel.
"Aku..."
"Please, g ada penolakan. Dan sejujurnya aku masih marah," omel Andre dengan wajah tertekuk.
"Kenapa?" tanya Rachel.
"Kamu masih nanya kenapa? Kamu nggak ngabarin aku kalau nggak ke kantor,"
"Maaf, tadi memang agak sibuk," kata Rachel merasa tak enak.
"Lalu sekarang?" tuntut Andre.
"Oke, aku siap-siap dulu," kata Rachel membuat senyum terkembang di wajah Andre.
Tak butuh waktu lama, mereka sudah menaiki mobil Andre dan menikmati malam sambil bercerita banyak hal. Andre memang teman yang baik dan tidak ada perasaan lebih untuknya.
"Kita kemana?" tanya Rachel sedikit cemas saat mereka berjalan melewati jalanan yang belum dikenal Rachel.
"Kamu bakal suka,"
"Tapi kemana? kamu nggak berniat culik aku kan?" kata Rachel membuat tawa Andre memenuhi mobil.
"Hahaha ya nggak mungkinlah!" jawabnya.
"Terus?"
"Udah ah, aman kok. Aku jamin kamu suka," Andre menatapnya sambil tersenyum. Rachel membuang pandangan keluar dan melihat jalanan yang sepi menjadi ramai.
"Apa ada acara disini?" tanya Rachel.
"Yups, ayo kita kesana," Andre menunjuk arah tak jauh dari mobil mereka di parkir.
"Ini...?" Rachel tak bisa berkata-kata melihat keramaian yang ada di depan matanya.
"Seingatku dulu kamu suka acara berisik nggak jelas kayak gini," kata Andre sedikit berteriak membuat beberapa orang menatapnya sinis.
"Hahaha... iya, seru tau!" jawab Rachel melihat di lapangan beberapa orang melakukan tarian. Ya mereka adalah sekumpulan penari yang memiliki bakat dan berlatih juga bertanding di jalanan. Mereka sering disebut street dancer.
Rachel menikmati acara yang hanya dilakukan seminggu sekali di jalanan yang jarang dilewati kendaraan. Mereka menikmati berbagai jenis tarian dan juga fashion yang terbilang unik dan keren menurut Rachel.
"Kamu tahu dari siapa tempat ini?" tanya Rachel.
"Adik sepupuku ikutan acara ini, tuh dia di sana! Ayo!" Andre menarik tangan Rachel mendekati sepupunya yang hanya mengenakan kaus putih kebesaran dan celana hitam.
"Hai Bro!" Andre menepuk punggung lelaki itu pelan.
"Dia menyukai acara kalian," Andre menjelaskan.
"Tidak begitu meyakinkan tapi yah welcome girl! nikmati semua ini. Ini dunia kita," pria itu tersenyum menatap Rachel.
"Ini sepupuku, namanya Erik dan ini temanku, Rachel!"
"Hai! Rachel!"
"Erik" jawabnya singkat.
"Ayo duduk di sana!" ajak Andre menunjuk ke salah satu trotoar. Mereka duduk di sana menikmati tarian dari Erik dan teman-temannya. Rachel berharap ia menemukan Jim di sini. Siapa tahu Jim latihan di tempat ini atau ikut komunitas ini. Rachel sangat berharap.
"Kamu mikirin apa?" tanya Andre.
"Nggak kok, aku cuma mikir siapa tau ada salah satu dari mereka yang aku kenal,"
"Kamu punya temen dancer?" tanyanya.
"Temen yang baru aku kenal, tapi kayaknya nggak ada di sini. Aku juga nggak tahu dia ikutan di street dancer ini atau nggak,"
"Coba aja tanya, siapa tau Erik kenal,"
"Iya juga yah, nanti aku tanya," kata Rachel.
Semakin malam acara semakin panas, semakin banyak yang turun di sepanjang jalan. Mereka menari, meliukkan badan, salto dan sebagainya mengikuti irama lagu. Tepat pukul 23.00 Rachel pamit pulang dan ia menanyakan penari yang bernama Jim. Sesaat suasana hening di sekitar mereka tapi mereka diam. Suasana yang canggung membuat Rachel undur diri dan pamit. Ia takut nama Jim adalah nama yang tabu di komunitas ini.
Rachel dan Andre berjalan menjauhi kerumunan dan berjalan menuju parkiran. Saat akan membuka pintu, tangannya terhenti di cekal oleh Erik.
"Bisa minta waktunya?" tanyanya. Rachel menatap Andre dan ia mengangguk. Erik membawanya sedikit menjauh dari Andre.
"Ada apa?" tanya Rachel.
"Kamu kenal Jim?" tanyanya.
"Ya, apa dia di komunitas ini? dia temanmu?" tanya Rachel.
"Seperti apa dia?" tanya Erik yang tak mengindahkan pertanyaan Rachel.
Rachel menyebutkan ciri-ciri Jim pada Erik. Sesaat Erik mengangguk seolah percaya.
"Kamu kenal Jim dimana?" tanyanya lagi.
"Aku baru mengenalnya, aku baru pindah rumah dan melihatnya menari di taman. Lalu perkenalan terjadi begitu saja. Apa dia tidak ikut malam ini? tanpa memberitahumu?" tanya Rachel.
"Sebentar! kamu baru mengenalnya?"
"Ya, memangnya kenapa?"
"Apa aku tidak salah dengar?" tanyanya lagi.
"Tidak! baru beberapa minggu ini aku melihatnya dan menemaninya latihan," jawab Rachel.
"Bagaimana mungkin! kamu membohongiku!" mata Erik sedikit menyipit.
"Tidak! buat apa aku berbohong dengan orang yang baru ku kenal!" Rachel tidak terima tuduhan yang dilontarkan Erik.
"Apa ini Jim yang kamu maksud?" tanyanya menyodorkan ponselnya dengan gambar sosok Jim yang sangat dikenalinya. Sosok Jim yang tersenyum ke arah kamera. Meski warna rambutnya saat itu hitam ia tak mungkin salah mengenali orang.
"Benar! itu Jim dan foto kapan itu? Sekarang rambutnya berwarna putih, keperakan bukan?" tanya Rachel.
Erik menatapnya tak percaya dengan mulut sedikit terbuka.
"Tidak mungkin.... " jawabnya menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Membuat Rachel kebingungan.
Ada apa sebenarnya? Siapa Jim? Dan mengapa Erik tak mempercayainya bahwa mereka berteman? Hal ini seperti teka-teki yang baru saja dimulai. Rachel semakin penasaran dengan sosok Jim. Ia akan bertanya pada Jim saat mereka bertemu kembali.