Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
28


Rachel menajamkan penglihatannya saat sesuatu bergerak di taman. Apa itu Jim yang akan memulai latihannya? Ternyata mereka adalah beberapa orang anak tanggung yang sedang lewat dan duduk sebentar di taman. Membuat Rachel sedikit kecewa lalu duduk bersama Noey dan kembali bercerita banyak hal. Meski Noey yang lebih dominan.


"Kayaknya temen yang kakak bilang itu dia nggak latihan deh malam ini," kata Noey yang akhirnya mengantuk dan lelah melihat Rachel. berulang kali melongokkan kepalanya dan melihat ke arah taman. Selain serombongan anak-anak tadi tidak ada lagi yang ke taman. Taman itu sunyi ditambah malam yang semakin larut.


"Kamu bener, mungkin dia tidak latihan. Ya udah kita tidur aja yuk," ajak Rachel. Mereka mengemas karpet lalu mengunci jendela dan pintu. Rachel dan Noey segera masuk ke kamar dan tidur. Kali ini Noey tidur sekamar dengan Rachel.


***


Pagi hari angin dingin berhembus di kamar Rachel membuat gadis itu terbangun dan melihat sekeliling. Ia menaikkan suhu AC dan ia segera ke kamar mandi.


Setelah dari kamar mandi ia baru memperhatikan meja di samping tempat tidurnya. Buku itu! Buku yang selama ini ia lupakan kini tergeletak di atas meja. Ia segera mendekat dan membuka halaman demi halaman. Sampai ia menemukan sebuah tulisan baru.


Aku rindu.


Siapakah yang menulis dan meletakkan buku itu di kamarnya? Rachel menjadi sedikit takut. Noey bergerak dalam tidurnya membuat Rachel terkejut. Apa mungkin yang menulis ini Noey atau Bram? Keisengan mereka untuk menakutinya?


Rachel menyimpan buku itu kembali ke laci mejanya. Dan ia segera naik ke tempat tidur dan berusaha melanjutkan tidurnya. Meski matanya tak mau diajak kompromi tapi ia takut untuk keluar kamar.


Rachel keluar kamar setelah beranjak siang, setelah rumah ramai oleh suara Noey dan Cecil.


"Baru bangun? Nggak kerja?" tanya Cecil saat Rachel duduk di meja makan dengan rambut sedikit berantakan.


"Hmmm... aku nggak bisa tidur. Aku ijin datang siang ya," kata Rachel.


"Oke, mandi dulu baru sarapan!" kata Cecil saat melihat tangan Rachel akan meraih setangkup roti bakar. Ia urungkan lalu ke kamar mandi.


Setelah sarapan, Noey dan Cecil berangkat kerja tinggal Rachel yang di rumah masih sedikit pusing karena kurang tidur. Ia baru saja akan beranjak ke kamar saat ia mendengar mobil masuk ke pekarangan rumahnya. Rachel membuka pintu dan melihat Andre yang melambai dari jendela mobil yang terbuka.


"Ayo kerja!" teriaknya.


"Aku datang agak siangan aja, pusing,"


"Kenapa?" ia berjalan mendekat dan meraba kening Rachel.


"Aku nggak apa-apa cuma sedikit pusing karena kurang tidur," Rachel segera menjauh.


"Hmmm... ya udah aku temenin kamu,"


"Eeeh nggak usah! Ehm maksudkuuuu... kamu harus kerja dulu. Aku mau sendiri, nanti kalau udah enakan aku ke kantor, please?" pinta Rachel tak enak seolah mengusir Andre.


"Gak apa, cepat sembuh. Aku tunggu di kantor. Kalau sampai jam makan siang kamu belum nongol, aku cari," katanya sesaat sebelum berbalik dan masuk ke mobilnya.


"Tenang aja, aku pasti ke kantor," Rachel melambaikan tangannya.


Rachel mengistirahatkan tubuhnya sejenak setelah Andre berlalu dari rumahnya. Lalu ia mengerjakan sebagian tugasnya dari rumah dan mengirim beberapa file ke kantornya.


Rachel meregangkan tubuhnya yang terasa pegal. Ia berjalan menuju jendela ruang kerjanya dan menyingkap tirainya. Ia berharap di taman ada Jim. Tapi ternyata taman itu kosong. Mungkin karena hari sudah beranjak siang dan anak-anak masih sekolah.


Rachel menikmati hembusan angin dari jendela. Angin menerbangkan rambut coklatnya membuat gadis itu nyaman dan mengantuk. Ia segera menepuk kedua pipinya. Ia harus ke kantor sebenarnya tapi ia akan ke kantor setelah menemui Tania.


Gadis itu beberapa hari ini selalu mengiriminya pesan. Selalu bertanya tentang Bram. Rachel sedikit risih tapi juga kasihan dengan Tania. Bukan maksudnya untuk ikut campur urusan percintaan Bram dan Tania tapi ia kasihan. Bram masih suka berpacaran dengan banyak gadis. Rasanya Rachel sudah lelah mengingatkan tentang hal itu, tapi Bram masih begitu saja.


Rachel segera bersiap dan menyambar tasnya lalu pergi ke salah satu cafe yang dijanjikan oleh Tania. Rachel datang belakangan karena Tania sudah duduk menikmati segelas capucino.


"Sudah lama?" tanya Rachel yang ber-cipika cipiki dengan Tania.


"Belum lama juga, ayo pesan dulu," kata Tania. Rachel lalu duduk dan memesan segelas minuman dingin.


"Ada yang mau aku tanyakan, nggak apa kok Hel. Aku lebih nyaman aja di sini," kata Tania.


"Apa ini ada hubungannya dengan Bram?" selidik Rachel.


"Benar, maaf kalau aku sedikit merepotkan kamu. Tapi sebelum itu aku mau nanya sesuatu,"


"Apa itu?" tanya Rachel sambil menyeruput minumannya.


"Apa Bram selalu di rumah?" tanya Tania.


"Nggak juga sih, kadang juga dia keluar dengan Cecil, eeeh!" Rachel menggigit bibirnya karena keceplosan.


"Jadi benar mereka sering jalan berdua?" tanya Tania.


"Sering atau nggaknya sih aku nggak tau, tapi beberapa kali memang keluar berdua. Ada apa?" tanya Rachel.


"Hubunganku semakin terasa menjauh. Apa benar Cecil itu mantan Bram?" tanya Tania


"Iya sih katanya. Apa kamu cemburu?"


"Iya, siapa sih yang nggak cemburu pacar sendiri di cuekin taunya dia jalan bareng mantannya," jawab Tania.


"Maaf nih sebelumnya, sebenarnya aku nggak mau ikut campur urusan kalian berdua. Tapi aku kasihan dengan kamu, Bram memang keterlaluan. Nggak berubah sejak dulu,"


"Oh ya? Apa dia sering begitu?" tanya Tania. Rachel mengangguk.


"Nggak ada kapoknya,"


"Aku harus gimana ya? Apa aku lepas aja? Toh kami cuma dijodohkan,"


"Perasaan kamu sendiri gimana?" tanya Rachel.


"Aku... bohong sih kalau dibilang nggak sakit hati. Aku juga sudah menyukai Bram tapi kalau semakin lama nanti bakal semakin sakit,"


"Terus kamu mau udahan?"


"Sebenarnya aku belum sanggup,"


"Jadi?"


"Entahlah, kekanakan kalau aku memarahi temen kamu," Tania terkekeh.


"Ya nggak gitu juga sih,"


"Santai aja, aku hanya mau cerita ke kamu yang lebih tau Bram gimana. Maaf ya kalau aku bikin nggak nyaman,"


"Nggak kok, santai aja. Aku cuma bisa dengarin aja. Untuk solusi aku nggak bisa ngasih saran apa-apa, yang jalani kalian dan yang ngerasain juga kalian. Yang penting jangan biarkan orang-orang di sekeliling membuat kita sakit," kata Rachel.


"Bener! Makasih ya Hel... Oh ya, gimana dengan kamu?" tanya Tania.


"Aku?" Rachel menunjuk dirinya.


"Iya, gimana dengan kamu? udah punya belum?" tanya Tania.


Rachel terdiam... Benar kata Tania. Bagaimana dengan dirinya? Hatinya masih bimbang antara Andre atau....?