
Sudah beberapa minggu sejak pertemuan terakhir mereka di rumah Rachel. Setelah itu Rachel tak pernah bertemu lagi dengan Jim. Jujur saja Rachel rindu tapi ia malu untuk mengutarakannya. Pernah sekali waktu ia mengirim pesan pada Jim. Hanya dibaca dan tak ada balasan apapun. Rachel merasa hidup tidak adil, semua pria yang dekat dengannya selalu berakhir dengan kehilangan.
Rachel ingat ratusan pesan yang ia kirim pda Hans tak ada yang dibalas satupun. Mungkin sekolah di luar negeri sangat sibuk dan menyita pikiran. Ingin sekali Rachel tau kegiatan Hans di sana atau sekedar kabarnya. Tapi semua nihil.
Sekarang hal yang sama terjadi pada Jim. Ia merasa sangat lelah bila berjuang sendiri. Bila seperti ini, ia menyerah mencari jodoh. Setiap dirasa bertemu ternyata mereka menghilang. Rachel cukup sadar diri, berulang kali terjadi itu tandanya ia harus merelakan dan membiarkan semuanya berlalu. Tidak harus diperjuangkan. Cukup hanya sampai disini.
Rachel ingin merilekskan tubuh dan pikirannya. Maka sore itu ia mengajak Noey ke mall sekedar menghabiskan waktu, memanjakan diri.
Mereka memanjakan diri dengan ke salon. Mencuci rambut, perawatan wajah dan tubuh. Setelah selesai, wajah Rachelnterlihat lebih cerah. Ia tersenyum senang, begitu juga dengan Noey.
Setelah dari salon mereka akan mampir ke salah satu tempat makan, masih di dalam mall. Ekor mata Rachel menangkap seseorang yang dia kenal sedang berjalan di tangga eskalator.
"Itu Jim kan?" tunjuk Rachel.
"Bener kak! Sama siapa dia?" tanya Noey. Ternyata dia bersama Nae. Akhirnya Rachel sadar mengapa Jim hilang kabarnya dan dengan melihat apa yang dia lihat sekarang, Rachel jadi mengerti. Dia bukan siapa-siapa bagi Jim. Hanya orang baru yang terlihat menarik, hanya sebatas itu. Rachel hanya terlalu berharap.
"Yuk kita makan aja!" ajak Rachel.
Setelah makan, mereka beranjak keluar dan ternyata bertemu dengan Jim dan tepat di pintu masuk.
"Kamu di sini? Apa kabar?" tanya Jim dengan penuh senyuman.
"Baik Jim, kami permisi dulu ya... Buru-buru!" ucap Rachel lalu ia menarik tangan Noey untuk segera pergi dari sana.
"Rachel! Tunggu!" teriak Jim yang berlari mengejar mereka. Rachel pura-pura tidak mendengar dan ia berjalan dengan cepat sambil menyeret Noey.
"Kak! Dipanggil!" kata Noey yang sudah ngos-ngosan mengikuti langkah Rachel.
"Hel...! Tunggu! Bisa bicara sebentar?" tanya Jim.
"Tapi aku buru-buru!" jawab Rachel. Kali ini dia tak bisa lagi membendung perasaannya. Cemburu? Ya... Kesal? Ya... Rindu? Tentu saja. Tapi hanya sepihak. Jim pasti belum mengingat banyak hal.
"Sebentar! Aku mau bicara berdua, sebentar aja!" pinta Jim.
"Aku buru-buru Jim!"
"Please Hel!" pinta Jim sambil menarik Rachel menjauh dari Nae dan Noey.
"Ada apa sih! Narik-narik!"
"Hel... Maaf, sakit? Aku mau bicara sebentar aja. Apa kamu marah?" tanya Jim.
"Kenapa aku harus marah Jim?" tanya Rachel.
"Apa maksudmu? siapa yang bilang begitu?" tanya Rachel. Jim hanya tersenyum.
"Aku hanya memastikan. Dan aku ingin mengajakmu jalan-jalan..."
"Hmm aku sibuk Jim!" Rachel memotong pembicaraan Jim sambil melirik Nae di kejauhan. Bisa-bisanya Jim mengajaknya jalan sementara ia pergi bersama Nae. Kasihan gadis itu.
"Tidak sekarang, tapi besok gimana?" tanya Jim.
"Aku sibuk Jim, jadwalku penuh," tolak Rachel.
"Ya sudah, aku tidak memaksa. Tapi kalau ada jadwalmu yang kosong kabari aku. Aku mau bicara banyak sambil bersantai, Oke?" tanya Jim memastikan. Rachel hanya membuang napas kasar dan berbalik. Berjalan meninggalkan Jim dengan langkah bergegas. Ia meraih tangan Noey dan menariknya menjauhi Nae dan Jim.
"Ada apa kak?" tanya Noey keheranan. Rachel hanya menggeleng pelan. Sulit menjelaskan keadaan dan perasaannya saat ini. Cemburu, kesal, rindu, jadi satu. Andai saja semua ini hanyalah mimpi tentu Rachel dengan mudah melupakan Jim. Tapi ini semua kenyataan yang harus dialaminya.
Mereka segera keluar dari mall, memesan taksi online dan pulang. Rachel hanya diam membuat Noey bingung harus memulai pembicaraan atau sekedar meringankan beban Rachel.
Sampai di rumah, Rachel menghempaskan tubuhnya di sofa dan memejamkan mata. Ia harus belajar menerima kenyataan dan melupakan semua mimpinya bersama Jim. Tidak lagi berharap pada pria itu, tidak lagi berharap bahwa Jim akan pulih dan mengingat semuanya. Rasanya cukup sudah perjuangannya yang terbatas itu.
"Kak? Are you ok?" tanya Noey yang duduk di sampingnya.
"Oke, Noey kayaknya aku nyerah perjuangin hubunganku dengan Jim," ucap Rachel.
"Kenapa kak? Tapi ini kan kalian udah dekat, tinggal sedikit usaha lagi Noey rasa pasti bisa,"
"Susah Noey, kakak nggak punya akses untuk dekat dengan Jim,"
"Kakak aja kurang usaha, coba deh buka komunikasi lagi. Kan kalian udah tukaran nomor ponsel. Sekarang jaman udah enak, mau ngobrol atau tanya kabar tinggal ketik-ketik selesai," kata Noey. Rachel mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Iya sih tapi..."
"Gengsi? Hari gini gengsi, Noey rasa Jim juga nggak penganut yang apa-apa musti cowok duluan. Orangnya open mind pasti," kata Noey.
"Kamu nggak liat kalo cewek tadi cocok dengan Jim, mereka serasi,"
"Hmmmh biasa aja sih, perjuangin dong!" kata Noey.
"Huaaahhhmmmm... Males, dah ah yuk istirahat aja. Pusing mikirin dia mulu," kata Rachel. Lalu ia segera masuk ke kamar meninggalkan Noey yang menggaruk kepalanya.
Rachel bukannya tak ingin berjuang, kesibukannya dan kesibukan Jim membuatnya kesulitan untuk mendekatkan diri, ditambah lagi adanya Nae. Gadis Jepang itu selalu ada di dekat Jim. Dimana ada Jim selalu ada dia. Haruskah Rachel menyerah saat ini?